Thursday, December 17, 2009

Another Walk in the Cloud (Part 2)

Candi Cetho dan kebun teh

Seorang ibu yang kami tanya memberi petunjuk: terus aja,nanti sampai pasar kemuning belok kiri. Dari pasar Kemuning ini,jarak tempuh kecandi cetha cuma 5 km. Pemandangannya…? Waaa..kebun the yang membentang di seluruh perbukitan! Tapi pengemudi harus waspada betul, jalan sempit, curam menanjak dan bahkan di beberapa titik,kelokan terjal berbentuk nyaris U dengan lebar jalan yang passs untuk 2 mobil. Tiga tahun lalu,ketika kantorku mengadakan ladies’ trip..whaa..seisi mobil berteriak2 ngeri..Aku malah sesekali merem saking takutnya. Hiiyy..horror banget deh. Sowan ke Cetho untuk kali kedua, napas tetap belum bisa normal ketika mobil mulai dihadang tikungan2 tajam. Keringet dingin membanjir deeeehh..Di pinggir jalan yang sempit banget tuh, kok ya anak2 muda tuh berani bergerombolan nongkrong diatas motor, ato pacaran, ato makan bakso pikulan sembari menikmati indahnya hamparan tanaman teh…. Jangan pacaran disini ah. Asik sih,tapi..hah. Serem.


Setelah tanjakan tegaklurus yang terakhir..tadaaaa….gapura bentar penanda area masuk kompleks candi muncul begitu saja dihadapan kita. Tiket Rp. 2500 saja, dan siap mendaki. Menurut satu2nya papan keterangan yang ada, candi Cetho diperkirakan dibangun abad 14-15, dan keberadaannya dilaporkan ilmuwan Belanda di tahun 1842. Secara keseluruhan, ada 13 teras yang bersusun semakin tinggi ke belakang. Kompleks candi inimenghadap barat. Hmm…berarti menghadap gunung merapi dong; karena beby tinggal di delanggu- dimana matahari terbit dari balik Lawu dan tenggelam di balik Merapi Merbabu.


Berada di ketinggian 1400 dpl, bukit-bukit dengan kebun teh dibawah menyuguhkan pemandangan yang sungguh spektakuler. Indaaaahhh banget. Ga sia-sia deh sport jantung di sepanjang jalan mendaki kalo di puncaknya kita temukan tempat secantik ini.


Ketika aku berkunjung 3 tahun lalu, pengunjung masih di perbolehkan masuk tempat pemujaan tertinggi. Bisa jadi juga karena kami berkunjung pas dihari Nyepi 2006, maka gerbang dibuka sepanjang hari. Ketika itu umat hindu seputaran candi duduk atau tiduran bergerombol di pendopo2 kecil, berdiam di hari suci. Namun ketika kami berkunjung kemarin, teras tertinggi di kunci.


Dibelakang candi, ada sendang atau mata air kecil yang juga di sucikanoleh umat Hindu. Sayang, tempat ini kotor penuh lumut dan rumput, meski tetap saja digunakan. Taburan bunga mawar dibak air berpinggiran batu, sesaji, dan sebaran uang koin mestinya memiliki makna khusus. Tapi lagi2, tidak ada keterangan apaun tentang mata air yang bernama sendang Pundi sari tersebut.


Kondisi sendang tampak sangat kontras dengan kebersihan taman saraswati di sampingnya. Patung Saraswati yang cantik berwarna kuning berdiri ditengah pelataran. Pengunjung diharuskan melepas sepatu.


Candi Sukuh


Tak terasa waktu sudah bergulir ke pukul setengah satu siang. Kami bergegas balik ke parkiran dan mengarahkan kemudi ke candi Sukuh. Tidak ada petunjuk sama sekali dimana arah candi sukuh jika kita turun dari Cetho. Jadi ikutin aja jalan utama.Ketika sampai pertigaan yang sama besarnya, nah loh..bingung lagi. Terpaksa kembali bertanya kepada penduduk.


Mendung menggelayut ketika kami sampai si candi yang beken dengan ikon porno-nya. Rupanya gerbang pertama untuk memasuki candi juga dikunci. Namun pengunjung bisa melihat relief lingga dan yoni di lantai gerbang. Seorang pemandu wisata terlihat bersemangat sekali menceritakan seluk beluk candi. Tapi baru saja kami menapaki bagian luar, eeh…hujan turun deras. Berhamburanlah semua ke bawah pohon untuk berlindung. Ketika baju nyaris kuyup dan tidak ada tanda akan segera reda, dengan sedih kami tinggalkan candi sukuh. Ngga ada payung juga…


Sebelum pulang, kami mampir di Sukuh Cottage, yang hanya beberapa ratus meter di bawah candi. Menyeruput susu jahe dan cappuccino dan menyantap tempe tahu goreng sambil menatap jauh lembah dan bukit dibalik tirai air hujan….adakah yang lebih indah? Sayang, ketika matahari semakin condong kebarat, kami pun harus beranjak…


Shall return! Bersama orang tercinta melewatkan senja disini…haduh..merinding deh ngebayanginnya. Tante Anif bilang: yang mo honeymoon..cepet booking cottage ini…!!!

Foto lainnya bisa dilihat di lihat di address berikut:

http://www.facebook.com/album.php?aid=170479

Another Walk in the Cloud: Candi Cetho-Sukuh (Part 1)

Desember tahun ini kita ‘diberkahi’ dengan 3 long weekend. Asyiikk….!! Tapi long weekend hampir selalu menghasilkan jalanan yang sesak dengan kendaraan berplat luar kota, tempat wisata yang penuh dijejali pengunjung, dan suasana hiruk pikuk dimana-mana.

Ketimbang emosi meninggi karena padatnya wisatawan, kami bertiga sepakat untuk luangkan hari Minggu 13 December kemarin meluncur ke kaki gunung Lawu aja deh. Ke Tawangmangu yang kondang dengan air terjun serta sate kelinci dan landaknya itu? Yee..tetooottt..tebakan anda salah! Kita mo ke candi! Klo candi yang lain macem Borobudur dan Prambanan mah…panas! Tapi kita mo ke candi Cetho dan Sukuh yang dibangun di pinggang gunung Lawu. Beda juga dengan kompleks Candi Pandawa di Dieng yang terletak di cekungan, sehingga pandangan ‘terbentur’ bebukitan, candi jagoan kita ni terletak di ketinggian; dengan duduk-duduk diteras candi aja, pemandangan yang sungguh mengagumkan terhampar seluas cakrawala..Adeem, sunyi, sepi.


Eeeng iiing eeenngg…jam 9.30 kita tinggalin Yogya yang mulai gerah. Dibutuhkan 2 jam untuk menempuh jarak Solo-Yogya, dan 1 jam untuk ‘mendaki’ wilayah Karanganyar, arah T awangmangu. Sengaja kita skip makan pagi karena lewat Klaten nanti, ada pilihan pengisi perut yang ngebayanginnya aja udah bikin jakun naik turun: sop ayam Barokah di sisi alun2, nasi tumpang koyor, ayam bakar Pak Widodo, ato sop ayam Pak Min yang beken dengan gecok brutu-nya. Pak Min ini belakangan gencar buka cabang di Yogya. Nantinya, kami ternyata juga menemukan cabang Pak Min di Kartosuro (ato Solo, ya?).


Karena alun-alun kota ‘padat merayap’ dengan pegawai Pemda yang berolahraga menyambut HUT Kab. Klaten, kami putuskan untuk makan di warung Pak Min samping stadion Trikoyo, dekat SMA 1 . Dedengkot lemak dan kolesterol semua ditawarkan oleh Pak Min. Wah..kita kudu waspada nihh. Jadilah,kita pesen 2 mangkok sop jeroan uritan (baca: ga ngaruh…!!) dan 1 sop daging. Sop disajikan dengan cepat. Isian berupa potongan jeroan dan telur muda yang dibelah jelas bikin Beby dan tante ngeces-ngeces tak tertahan lagi. Sedikit taburan daun bawang dan seledri meruapkan harum soto. Cicipin..hmm..mengejutkan: rasanya ga terlalu istimewa; cenderung plain ajah. Kok bisa ya? Padahal warung ini penuh pengunjung, termasuk peserta olahraga dari alun2 tadi. Psstt, jangan bilang siapa2...aku lebih jagoin Barokah !! Soal harga, Klaten memang raja murah. 3 mangkok sop dan nasi pisah, 2 tahu goreng, 1 tempe, 3 the panas dan 2 kerupuk kampung, cuma 32 ribu..!!!


Lanjuttt…meluncur ke Solo.


Bosen lewat main road yang itu2 aja, mobil kita belokkan lewat jalan desa Pakis dan Baki,yang nantinya akan tembus kawasan Solo Baru. Kita lewatin aja plang resto Bale Padi yang diceritain Arie di www.ariep.multiply.com dan kita hanya sempat dadah-dadah aja dengan Tengkleng Mbak Diah, Es Masuk dikanan jalan, pusat serabi Notosuman serta restoran Kusuma Sari dikiri jalan jelang masuk pusat kota Solo. Hehehe…semua jajanan enak,nuwun sewu, dadah dulu nggih…


Jalanan di kota Solo lumayan nyaman karena pas hari libur, pertokoan di daerah Coyudan dan sekitarnya yang sering jadi titik macet, pada tutup. Bagoesss….!! Lancar deh kita melaju sepanjang jalan utama yang membentang lurus sepanjang 10an kilometer dari Kartasura sampai bundaran Gladag,belok kiri dan serong kanan melewati Pasar Gede dan terus melewati Bengawan Solo,masuk Karanganyar. Nah, mulai disini kami hanya mengandalkan plang penunjuk jalan arah Tawangmangu.


Berkendara dengan mengandalkan plang penunjuk arah merupakan hal yang tricky. Setidaknya ada 3 perkara yang bikin kami senewen berurusan dengan plang ini.

Pertama, plang biasanya dipasang tinggiii di atas jalan. Bener..dari jauh udah keliatan akan ada penunjuk di depan. Tapi plang itu keciiill…dan tulisannya imyuuut kayak semyuutt dan ngga bisa dilihat sekilas, apalagi dari kejauhan!! Huadohh..pengendara bermata sehat aja mesti sampe memicing,apalagi Beby yang rabun jauh gini…alhasil sepanjang jalan Beby dan tante melotot habis2an kayak mata bagong deh. Sebeel…

Kedua, plang penunjuk arah hanya difungsi kan di satu sisi. Ketika kami melewati beberapa persimpangan otw naik ke cetho,ada plang penunjuk arah; tapi ketika kami turun danmelewati persimpangan yang sama, kami ngga selalu ingat apakah harus belok kanan, kiri atau lurus, padahal tidak ada penanda yang mudah diingat…hayoo..gimana dong? Plang kemana? Lupain aja dehhh..

Ketiga, plang penunjuk jalan kok minim banget yaa? Banyak persimpangan ga pake penunjuk lagi..hahah..dan kami memang kesasar hingga harus nanya penduduk. Bayar TPR pun mesti berkali2. Huuuu….gimana sih,hukumnya pemungutan TPR tu..karena kami kesasar jalan ke arah air terjun, padahal kami cuma cari jalan keluar untuk bisa ke candi. Dan harus bayar TPR yang ke air terjun! Piye to, iki? Huufffttt….


Untungnya…duka nestapa karena salah jalan itu terobati dengan indahnya panorama di kaki gunung Lawu. Selepas kota Solo, jalanan sungguh rapijali dan bersih berseri. Berbelok kiri dari jalan utama pas di pertigaan Karangpandan berbentuk huruf Y yang memisahkan arah Cetho-Sukuh-air terjun Jumog dengan serongan ke kanan arah Tawangmangu, jarak tempuh ke candi dan ke tawangmangu sebanding: tertera 12 km.

lanjut ke Part 2 yahh....

Monday, November 2, 2009

Oleh oleh made in Australia dong...

“Mbak, hari ini jadwalnya cari oleh2 ke CBD,” seorang teman yang juga mau mudik 3 minggu lagi mengirim pesan singkat di ponsel.

“Ngga ah, trims. Aku bawain pesenan chips, coklat dan keju aja. Dari Coles.” Coles adalah salah satu swalayan besar di Australia yang sering memberikan harga murah untuk produk-produk tertentu.

Ketika mengetik jawaban ini, terbayang wajah sumringah teman yang Juni lalu, waktu aku mudik, bilang “Smoked cheese-nya enaak banget. Di Yogya ga ada yang jual.”

“Yee..masa oleh2 kok kayak gitu sih?” Makanan, maksudnya. Kok bukan souvenir ato t-shirt.

Urusan oleh2 ini ternyata memang cukup bikin ribet, terutama buat aku. Gimana ngga ribet kalo tiap kali ketemu teman selalu yang di ucap “Eh, pulang ya? Mana oleh2nya?” Mungkin sekedar basa-basi, tapi juga ada sedikit harapan bahwa dia pengin di anggap special sehingga berhak untuk saya pikirkan ketika membeli oleh-oleh. Tapi karena ketika saya berangkat saja mereka bahkan tidak mengucap salam, ketika pulang kok ada yang serius memaksa minta oleh-oleh ya? Jadi untuk golongan teman yang ini saya cukup ucapkan “Oleh-olehnya slamet..!!”

Hmm..siapa sih yang ngga seneng terima oleh-oleh? Aku pun suka. Dapat barang gratisan (ih..sadis), apalagi kalo kebetulan dapat yang special syukur-syukur dapat yang mahal. Kan rejeki nomplok. Tapi kalau aku dikasih oleh-oleh beli kodian..yahh..bukannya itu hal yang mubadzir buat pemberi dan penerima? Perhitungannya, ngga cucuk deh antara uang yang dibelanjakan dengan kepuasan batiniah yang diharapkan menyertai transaksi oleh-oleh. Salah-salah malah bikin bĂȘte. Apalagi kalo yang diberikan berupa oleh-oleh semilyard umat: tasbih, gantungan kunci, gunting kuku..haahh..jari kita cuma ada 20 dan punya gunting kuku lebih dari 10 dan aku bukan kolektor, hmm..buat apa ya?

Frankly speaking, aku sulit menempatkan souvenir kecil-kecil itu sebagai pengingat kegembiraan bertemu teman lagi. Seneng nerimanya karena dapat gratisan tapi tidak pernah seterusnya berpikir, misalnya, “Wah, ini gunting kuku istimewa sekali karena dibawa dari Belanda.” Gunting kuku, ya kembali ke fungsi orisinilnya sebagai penggunting kuku biasa saja. Tapi kalo oleh-olehnya mahal, parfum, lukisan, poster…hmm..nilai memorinya dibawa dong. Kan barang istimewa tuh..

Asyiknya berperkara dengan oleh-oleh adalah ketika si pemberi dan penerima sama-sama senang melakukannya. Tapi kalau sudah terasa membebani , waah..aku juga ngga mau memaksakan diri deh. Kebetulan saja keluargaku bukanlah tipe yang senang dengan keributan oleh-oleh. “Sampai dirumah selamat. Itu yang paling bagus,” begitu selalu Ibu bilang. Bener..hehehe. Jadilah untuk tetangga, setiap habis bepergian, kita belikan saja beberapa kilo buah dan kue untuk dibagi sebagai tanda syukur “Mas Slamet” itu.

Tetapi buat sebagian teman lain, berburu oleh-oleh ini justru menjadi kegembiraan yang luar biasa. Memberikan oleh-oleh ke semua orang yang dikenal adalah kewajiban, sebagai tanda syukur dan perwujudan semangat berbagi pada orang lain yang ngga seberuntung dia. Tak heran ketika ada seorang kerabat jauh, sepulang dari mengikuti kunjungan kerja suaminya ke Malaysia, dengan suka cita bagi-bagi belasan miniature Petronas Tower setinggi 20 centi yang minta ampun beratnya itu. Bagus sih. Tapi aku juga terbengong-bengong berpikir berapa biaya excess-bagagge yang mesti dia bayarkan, ya?

Pernah melihat belanjaan teman, aku jadi geli sendiri. Belum lagi berpikir berapa banyak dollar yang mesti dikuras dari kantong untuk setumpuk t-shirt, topi, sandal, baju anak, gantungan kunci, dompet kulit, boneka kanguru dan koala, tas motif aborigin, tatakan gelas, jam pajangan, nampan, serbet motif bunga, tempat pena…haduuuuhh..bisa kelebihan bagasi juga nih.

Dan oleh-oleh yang aku beli..? Ini dia.

Gambar apa yang anda lihat? Yaakkk..kalo kamu belum minum bir, beginilah kamu ngeliat wajah wanita tua...

Tapii..setelah 6 botol bir menggelontor kerongkongan, haaahhh...pandangan jadi terang benderang deh. Semua keliatan bening cling....



Ngomong-ngomong tentang oleh-oleh, banyak teman keukeuh bilang beigin:
“Aku ngga mau beli yang made in China Mbak. Harus yang asli made in Australia.”

Hmmm…masih tentang oleh-oleh produk lokal yang ASLI, Phil, teman yang sudah mukim di Australia selama hampir 50 tahun pun di lain kesempatan nyeletuk “Made in Australia? Are you kidding? I was made in Britain!”

Heheheh..

Monday, October 26, 2009

Kees' school reunion

“How do you see yourself in 10 years of time?”
That’s one of the questions the interviewers asked me some 4 years ago when I attended an interview session for AusAid scholarship; a typical question frequently raised to dig out a candidate’s vision and future plan.

The same question was offered to the students of Coomberdale Primary School, somewhere around 250 kms to the North of Perth, in 1989.
Coomberdale, a very small village in the wheat belt-rural area that is surrounded by large wheat fields and cattle paddocks, owned its first primary school in 1909 and received the honor of the Minister of Education of the era who then placed the foundation stone. In this primary school 40 years ago, 1969 – 1970 was Kees Vermey, UMY’s dearest friend designated to be its only teacher and school principal with 30 students to take care of. And in his early days of assignment, Kees managed to collect all the memorable properties of the school community – pictures, photos, bus map, students’ handwriting, school’s sport costume and many others-in a lead capsule (now PVC tube is preferable) and buried the ‘time capsule’ in the school yard.
Attended by the ex-students, parents and teachers, the capsule was excavated 20 years later and all those lovely things of the past time were displayed for the community in a reunion function before they are gathered again, some of the new notes were added, and the same capsule was buried again for the following 20 years.



Yesterday, 25 October 2009, me and Bulan joined Kees’ and Wendy who were invited by his old fellow students and friends to celebrate the second ‘excavation day’. The school was gone – closed at the end of 1980. A small cafĂ© named ‘The Magpie’ stands right on the spot where the house in which Kees, his wife and kids lived 40 years ago. The big tree that gave a shade to the front yard of the school was cut down. The only shed remains until today is the garage.

I was not sure what Kees felt to see all those stuff, but the night before he has attempted to write down the names of the students he could remember. It must be pretty hard, yet he could manage to write 20 out of 30. A middle aged lady approached us when we had our lunch and she, affectionately recalling her parents, said “Kees, is it you? My parents kept talking about you...”



It was a really wonderful day. The only thing that we really hate was the flies!! Yeah, millions and millions of yaakss-so-annoying-summertime-flies swarmed over our faces. The attack a bit subsided if we stayed under the shade. What happened was that everybody kept on swishing hands to get the flies away. Wendy said “It is Australian salute!”

Tuesday, September 29, 2009

BBQ, Burswood and King's Park

Tumben2nya 26 September Perth panas, setelah berhari2 nyaris beku. 2 hari sebelumnya malah temperatur drop ke 2.5 derajat, jam 1-3 dinihari. brrr..untung ada selimut tebal seharga enam digit rupiah (mantabh!! wong sugih kok) menyelamatkan tidurku..hihihi.Hari cerah, parks pasti penuh dengan orang BBQ. Bener aja. BBQ selalu jadi the most awaited event bagi Indonesian students.



Dari hari2 sebelumnya, milis udah dibanjiri email relawan yang mo bawa masakan, mulai dari ayam bakar madu, urab, es campur, tahu isi, baso dll. Secara aku mengandalkan Transperth, dan emoh ribet masak, upeti yang aku bawa krupuk puli dan emping manis deehh..

Tetep ribet, ternyata. Jam 9 pagi mulai goreng2. Jam 11 siang udah siap, dan Mbak Bulan berbaik hati mo nyamperin dengan pre-owned car nya (baca: bekas..!!) hahahah..dasar marketing Oz, istilah amelioratifnya manis..Hari itu rupanya si mobil kecil ngambek. Ngadat di start meski akhirnya kita sampe juga di Burswood Park, yang merupakan entertainment center terbesar di Perth. Burswood ada di sisi (selatan?) Swan River yang biru jernih. Buat orang Indonesia, Burswood selalu diingat dengan hiburan casino-nya meski juga ada hotel, dome, golf court, dan tentu saja taman dan patung serta arena permainan anak yang cantik dan teduh.


Holiday Inn, Burswood Complex
Status: nunggu James Bond muncul dari Casino

Tiap minggu jam 11.30 siang ada tur keililing Burswood ini. Blom pernah ikut sih, jadi ngga ngerti apa aja yang dikunjungi. Seorang teman Aussie cerita, dulu Mas Tommy, iya..Tommy kaya raya yang nasir aku tapi tak tolak itu..(!!) suka jadi tamu rutin disono. Entah maen gaple, ato remi, main gasing, ato cuma main kelereng di golf court-nya. (Nah, sekarang jadi tau kan alesannya kenapa aku nolak Mas Tommy...? *ngawur alarm:..nguuiiiiiinnnggg..!!!*)

Halal bihalal dimana2 selalu riuh. Tapi aku ngga kenal banyak dengan teman2 AIPSSA, dan memang kami terlambat datang. Cukup menyenangkan juga ngobrol dengan beberapa teman dengan suasana Indo-Australi banget: teman Indo, makanan Indo, setting luar ruang dan kegiatan bakar2 yang Ostraliii..banget. Aussie memang tergila2 dengan outdoor activities. Habis, park-nya juga cantik2 sih..

Usai acara makan memakan, dengan mbak Bulan, kita mulai deh narsis. jepret sana-sini sambil ngebayangin si Mas Tommy, ato Mas Bambang Tri, ato Mas James Bond tiba2 loncat dari helikopter yag sibuk naik turun di helipad taman. heheh..rupanya banyak juga ya, wisatawan yang pada liat Perth dari udara.Jam 3 ato 4 sore, kita berdua meluncur ke King's Park at Mount Eliza. Pengin ngeliat Perth dari atas, meski ngga setinggi kalo naik heli.


Aerial view of Perth, diliat dari King's Park

King's Park sebenarnya sih masih di tengah kota, tapi...haduh, jalan kesana gimana ya? Aku ngga bisa baca map sama sekali, sedang Bulan harus nyetir. Mana bisa ngelirak lirik map? Pusing deehh...tapi perjuangan belio membawa navigator bodo ni akhirnya berbuah manis. King's Parknya ketemu...tapi obelisk penanda Botanical garden yang udah kita incer dari bawah tetap jadi misteri yang belum terpecahkan. Hmmm..sebelah mana, ya?Mungkin urusan cari obelisk ini harus melibatkan Robert Langdon yang memang jawaranya cari obelisk. Yo wis, karena udah capek cari2, kita glundang glundung ikutan orang2 lain di park aja deh.




Tamannya bersssiihh..rumputnya hijau, empuk dan rapi betul. Banyak juga cewek cowok yang pada gulang guling pelukan..hahahah. buset deh, bikin kepingin azzahh...!!!Sisa sore di abisin dengan jeprat jepret bunga wae.



Malah aku lupa ngga nge-jepret the legendary Boab Tree yang guedeee banget. Si Boab ini dulunya tumbuh di ujung utara Autralia. Embuh dimana, aku lupa ceritane. Karena pembangunan jalan Great Northern Highway ternyata kan menerjang si Boab, maka trus doi di bedhol...dan diangkut dengan truk buesssaaarrr ke Perth. Kisah perjalanan di Boab ki ditulis dan di foto detil. Kalo dibikin lagu, pasti deh Boab..eh..Bob Tutupoly mau nyanyiinnnya..Lha maklum, si Boab usianya minimal 750 tahun!!! Lha kan hampir setua Nabi2 jaman dulu yaa...? Bayangin ada berapa generasi jin dan roh2 yang menghuninya, ya? Aku belum explore kemungkinan apakah hutan kota King's Park itu juga punya cerita2 horror kayak Kebun Raya Bogor.

Sebelum petang, kita jalan pulang, alhamdulillah..ujian map terlewati. Hihihi..soalnya aku udah apal jalan pulang. Itu mah, sama plek plek dengan jalur 21 yang aku tumpangi tiap hari..Keciiill.....

SalamBaby-Perth

Wednesday, September 23, 2009

Popo Salad a la Thuy

Punya pepaya mentah and mengkal tapi ngga tahu gimana masaknya?

Eh, tahu ngga, pepaya muda tuh ternyata bisa dibikin salad yang endang bambang! Bener.
Ini aku kasih contekan dari Thuy, yang orang Vietnam, dan resep ni disadap dari Wendy, yang orang Thailand. Jadi..ngga tahu, ini benernya resep otentik Thai atokah udah diadaptasi dengan taste Vietnam. Yang penting enak deh..

Bahan:

2 buah pepaya muda/mengkal putih
4 buah wortel
0,5 kilo udang rebus, kupas, iris tipis

Saus:

5-10 sdm saus ikan
4 butir bawang putih
1 buah bawang bombai, iris tipis
4 sdt gula pasir
1 sdt garam halus
5-10 buah cabe rawit merah
3 butir tomat merah, potong kasar
2 jeruk peras

Taburan:
2 ons kacang tanah, sangrai, tumbuk kasar
1 genggam cilantro/daun ketumbar

Method:

1. Serut pepaya dan wortel tipis memanjang dengan serutan kelapa muda. Cuci bersih dan tiriskan
2. Haluskan bawang putih, gula dan garam. Masukkan cabai, irisan bawang bombay dan tomat. Tumbuk sedikit
3. Campur dengan serutan pepaya muda dan wortel, boleh juga ditumbuk sedikit
4. Masukkan saus ikan dan aduk rata. Tambahkan air jeruk. Cicipi
5. Taburkan kacang sangrai dan daun ketumbar. Sajikan

Ini resep untuk umum, boww..jangan di patent-kan yee..

Monday, September 21, 2009

Lebaran bersama kanguru dan koala…

“Gawat, nih,” pikirku rada panic ketika satu per satu anggota ‘gank’ benar2 mudik sebelum Lebaran. Di Perth, aku mo Lebaran sama siapaa…?

Puluhan tahun menjalani ritual Lebaran yang sama - hanya terinterupsi 2x ketika tengah mengikuti overseas training, dan sekarang yang ke-3 kalinya Lebaran jauh dari rumah- membuat aku merasa sedikit gamang. Ditambah lagi, hanya ada sedikit bus umum Transperth, yang beroperasi di hari Minggu, membuat rencana mengunjungi teman terpaksa dibatalkan. Dan dari sinilah “kecelakaan” berawal. Karena aku sudah ketinggalan bis menuju kota, dan bis berikutnya baru akan lewat 1,5 jam lagi, maka aku merubah destinasi: ngga jadi ikut teman berlebaran ala Mesir, tapi ke Caversham aja deehh..

Entrance gate

Caversham Wildlife Park, 15 km diutara Perth, mudah dijangkau dengan naik bus umum dari Morley station deket rumah. Bermula dari park seluas 2 hektar yang dikelola David dan Pat beserta 2 anak mereka ditahun 1987, Caversham wild life park kini menjadi rumah bagi lebih dari 200 spesies dan 2000 ekor hewan, burung dan reptile, dan menjadi bagian dari kawasan Whiteman Park. WP sendiri luasnya mencapai 10 kali luasnya King’s Park, yakni 4300 hektar! Dan hebatnya, Caversham park yang masih dikelola keluarga ini, menangkarkan sendiri beberapa hewan seperti wombat, Tasmanian devils, koala, grass owl (ternyata burung hantu tuh banyak macemnya, ya), dan juga kasuari. Untuk urusan penambahan dan penangkaran populasi , David suka tukar menukar hewan dan burung dengan park ataupun kebun binatang yang lain.

Maka, setelah berkendara 40 menit dengan bis Transperth, sampailah aku di gerbang Whiteman. Jarak antara gerbang dengan ‘desa wisata’ yang 1,8km sebenarnya ngga apa2 sih, ngga akan bikin kaki gempor. Tapi hujan dan angin dinginlah yang bikin aku urungkan niat jalan kaki. Sesuai petunjuk yang tertera, aku tekan intercom untuk menanyakan courtesy car.

“Will be coming in 30 minutes, mam,” jawab petugas diujung kabel.


Hmm..ga papalah, sambil putar2 sekitar gerbang. Hujan masih on off, kadang bresss deres selama 5 menit, trus terang 10 menit, dan bress lagi, terang lagi, bress lagi…duhh..
35 menit kemudian, loh, kok mobil jemputan belum datang. Tekan intercom lagi aah.

“In 15 minutes, mam.” Walah..piye toohh

Mo jalan kaki kok langit udah mendung banget. Dan bener..bressss yang kesekian kali selama aku ngongkrong di gate. Eh, sampe 20 menit kemudian, aku tekan intercom yang ketiga kalinya.

“You might have missed the bus, mam.”

Whoaaattt…??? Lah aku kan udah bengang bengong dari tadiiii….!! Mo marah juga ngga ada pantesnya, wong hari Lebaran. Jadi nekat aja aku hentikan satu mobil dan minta tumpangan . Ternyata si penolong ni suami istri muda dengan balita lucu bernama Angus yang datang dari Brunei.

Information Center selalu jadi jujugan pertamayang paling tepat. Sederet jadwal dan peta udah ditangan, hmm..kemana dulu neh? Aha, ada printing shop yang memamerkan seluk beluk pencetakan berbagai brosur, kalender, leaflet, kartu sampai undangan pernikahan yang cantik2. Uh..jadi pengin..hihihi. Kartu dan poster di jual dengan harga bervariasi antara satu hingga belasan dollar.

Sudut di Printing shop

Disebelah printing shop ini ada pottery dan handcraft shop yang menjual berbagai kerajinan termasuk vas-vas kaca berlukis bunga, handuk dan serbet bordir bermotif bunga khas Australia hingga perhiasan kaca dan beads.

Warga Muslim WA yang juga merayakan Idul Fitri hari ini seolah ikut menyerbu Whiteman park. Dimana2 berkumpul keluarga – kebanyakan berwajah Timur Tengah dan Afrika – yang tengah menikmati piknik mereka dengan keluarga besar. Riuh. Tempat2 BBQ yang dioperasikan dengan koin 1 dollar-an untuk nyala pemanas selama 10 menit terlihat berasap.
Setelah puas berkeliling, aku ikut naik tram kuno bertenaga listrik. Dengan ongkos 5 dollar per penumpang untuk trayek pp selama sekitar 30 menit, tram membawa penumpang Whiteman park village dengan Mussel Pool, tempat show-nya rajawali. Ada juga museum motor dan museum traktor yang aku lewatkan. Ngga tertarik dg mesin ah.


Tram. Mirip yang di Hongkong, hijau kuning, tapi beda bukaan pintunya

Paling seru tentu saja melihat farm show-nya, dong. Atraksi utama nya adalah pencukuran biri2. Demo dimulai dengan memperkenalkan anjing gembala yang berumur 1 tahun. Si anjing ini yang akan bertugas menggiring biri2 ke ‘kandang’ yang sebenarnya merupakan panggung pertunjukan shearing alias pencukuran. Eh, pintar betul si doggy muda yang baru berusia 1 tahun itu. Menyalak dibelakang biri2, tentu saja semua terbirit dan berdempetan lari ke kandang. Kayaknya ga Cuma biri2 deh, aku juga kalo ada doggy nyalak dibelakang, pasti udah lari ngibrit..hehehe..

Biri2 yang mo dicukur bukan kelompok yang barusan di giring si doggy bernama Bill tadi. Bulu mereka belum cukup tebal. Nah, untuk demo, dibawalah 2 ekor biri2 yang endut banget. Kalo 100 tahun lalu, biri2 di cukur dengan semacam gunting besar, kini mereka digunduli dengan pencukur listrik, sehingga 1 shearer bisa menggunduli lebih dari 200 perhari! Dengan tariff 2.5 dollar per ekor, shearer bisa dapat uang jasa yang lumayan ya.

Udah 'setengah jalan'. Liat tuh bulu bagian dalam putih, yang luar coklat

Eh, tapi mencukur biri2 itu sepertinya juga sulit loh. Pertama, si korban dijegal dulu, terus dipiting dengan kaki shearer sehingga posisi perutnya menghadap depan. Pencukuran selalu dimulai dari perut, dilanjut ke paha kaki belakang bagian depan. Selanjutnya bulu dikelupas kearah punggung. Bagian yang paling sulit tentu saja leher yang berlipat2 dan kepala. Biri2 yang udah digunduli bersih kemudian ‘ditenangkan’ dengan digosok2 badannya. Minyak lanolin yang keluar di kulitnya terlihat mengkilap. Lanolin ini bagus untuk kulit manusia juga, kaann..? 1 lembar bulu utuh ini konon dihargai 20 dollar, padahal 1 lembar yang berkualitas bagus bisa untuk bikin 3 setelan pria. Hueheheheh…Untuk hiburan tambahan, ada atraksi membunyikan pecut, memerah susu sapi dan memberi susu pada bayi hewan.



Usai pertunjukan, nguber foto dengan kanguru dan koala dong.

Tapi saking koala ni hewan pemalas, tidur ulu selama 18-20 jam per hari, jadi dapetnya foto koala ngorok mulu. Kalo kanguru sih, lumayan gampang diajak bergaya.

Cuma karena aku ngga bawain makanannya, jadilah gambar yang aku beli di printing shop jadi sasaran gigitan. Eh, kanguru doyan kertas juga, ternyata….

Ini, Tazmanian Devil, yang jeleeekkk banget tampangnya. Lari terusss...dan teruss...dan terusss

Foto di http://www.facebook.com/album.php?aid=146998&id=657567159&l=3b0c57c1d1

Happy Eid Mubarak..!!
Baby-Perth
Reference: www.cavershamwildlife.com.au

Wednesday, September 16, 2009

Charger yang (nyaris) hilang...

Setelah berhari2 lembur baca jurnal2, yang 50% agak paham 50% wallahualam, akhirnya dapet juga deh 3000 kata yang disyaratkan untuk assignment. Tinggal poles sana sini dikit dan tulis referensi aja deh, dan itu bisa dikerjakan senin malam.

Hm..jadi jam 4.50 aku tutup laptop, gulung kabel charger, masukin buku dan charger ke tas jinjing pink, masukin laptop ke backpack, kembaliin beberapa buku di rak ECu dan turun ke bus stand, naik yg rute 20 di parkiran ECU. Sampai stasiun Morley jam 5.25 sore. Eh, bus rute 21 udah siap2 berangkat jam 5.26. Langsung aja aku lompat daan..nangkring di bus 21 yang lewat Irwin Rd deket rumah.

Begitu turun bus..eh..eh, ada yang salah neh. Hmm..tas jinjing-ku mana ya? Ampyuuunn...ketinggalan di bis 20! Gawat nih. Ntar malem kan masih ada tugas bikin reference list ituu..ga bisa kerja dong kalo ga ada charger and buku.

Balik ke Morley, operator cepet ngontak driver 20. tapi apa daya..beliau nya udah ganti bis. Meski tas pink-ku sudah diamankan, tapi dia setorin ke lost and found di bus depo Malaga, 30 mins driving dari Morley. Dan bus depo admin office tutup 50 menit lagi. Maaakkk....

Untuunggg..teman yang aku telpon mau anterin. Jadilah kita ngebut ke Malaga. Sampe sana..waduh, bus depo dimana ya? Nanya sana sini, kok ngga ada yang tahu. A lady bilang, mungkin ke Mirrabooka, yang ada bus station-nya. Ya udah, ngebutlah kita ke Mirrabooka.

Sampe Mirrabooka, loh..kok sepi? Ha, ada officer nongol. Dia bilang "Mam, tas kamu di taruh di bus depo Malaga.." Ouch..lha bus depo tu sebelah manaa...? Setelah telpon sana sini, dapet deh, no telpon admin office di Malaga. "Ok, mam. Kita tunggu sampe 7.20!"

Balik lagi ke Malaga. 7.15 ketemulah kita dengan bus depo, n tas pink kujinjing pulang... fiuuuhh..legaaa. Kita 'celebrate' ketemunya si tas pink dengan makan mie di Noodle box. hehehe..Maunya buka puasa cepet2, eh malah molor sampe 7.30. Dasar..!!

Saturday, September 12, 2009

Sederhana, dan secukupnya saja...

Gemas, dan bosan. Itu yang aku rasakan tiap kali pulang ke rumah dan mendapati sayur bening bayam, atau botok teri daun melinjo, oseng kacang panjang dan makanan ndeso lainnya. Bahkan awal minggu ketika lalu aku mengirim pesan singkat kerumah, rutin - meski ngga terlalu sering - menanyakan kabar dan iseng disertai tanya standar “dirumah masak apa neh untuk buka”, jawaban yang aku dapat masih ‘begitu aja’: Ibuk bikin sayur jantung pisang, perkedel kelapa, ta’jil tape dan pisang goreng. Ngga usah beli, semua dari kebun…Halaahh..

Semangat swadesi kecil-kecilan ini seperti sudah lebur dalam darah Bapak Ibuku. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan gaji Bapak yang guru SD, dengan 6 anak yang semua harus sekolah, kebun dan sedikit sawah menjadi tumpuan kedua dalam tambal menambal kebutuhan harian kala itu. Beras dan belut didapat dari sawah, sayur dari kebun, telur dari ayam piaraan sendiri.

Kini, alhamdulillah, semua anak sudah selesai sekolah dan mandiri. Bapak pun sudah 13 tahun pensiun mengajar di SDnya. Tapiii..kenapa mereka tetap saja tidak berubah, tetap super hemat? Ibuk masih dengan ‘hobi’ lamanya selama puluhan tahun: tanam bayam, kacang panjang, terong, cabai dan petik daun pisang untuk ditukar tempe. Bapak tetap sibuk dengan gali lubang sana sini untuk tanam pisang dan pohon melinjo. Tidak ada yang berubah meski tidak ada lagi yang ‘menggerogoti’ pendapatannya.

Bulan puasa pun tidak pernah menjadi istimewa dengan acara buka bersama yang serba enak dan banyak. Rupanya Bapak sudah cukup kenyang menonton tayangan wisata kuliner di TV saja, sehingga tidak perlu ikut berburu untuk mencicip. “Sudah bisa bayangkan rasanya”, selalu begitu komentar Bapak.

Meski sering kesal karena ‘capek’ makan sayuran dari kebun, tapi tak urung ada kagum yang sangat atas keteguhan hati mereka untuk selalu hidup sederhana. Secukupnya saja, kata Ibuk berulang kali. Sesekali sate kambing – kemewahan tertinggi mereka – boleh juga, hanya bila ada anak atau cucu pulang ke rumah.

Menengok kebiasaan buka bersama saya sendiri dengan teman-teman, ahh..ada sebersit rasa malu. Tidak afdol rasanya kalau tidak buk-ber dengan menu yang beragam, dan melimpah, di resto yang cozy atau rumah makan bersuasana kampung. Aku yang memang asli, tumbuh dan sekolah didesa, tiba-tiba menjelma jadi anak kota yang ikut heboh mencari 'resto bersuasana desa'. Sayur bening bayam dan tempe goreng yang aku benci di rumah, tiba-tiba jadi terasa enak sekali di rumah makan. Hahaha..

Aneh…kenapa ngga mending pulang aja, ya. Teman bilang, ngga apalah, puasa kan cuma setahun sekali. Bukber kan cuma sebulan empat kali..Toh ibuk pesan, apa-apa itu secukupnya saja. Jangan berlebihan. Cukup 4x sebulan…

Ramadhan-ku yang sepi...

Ramadhan kali ketiga yang aku terpaksa harus jalani dinegeri orang...
Ramadhan pertama, 7 tahun lalu ketika aku di Taipei. It was not that bad, karena aku tinggal serumah dengan 6 mahasiswa Indonesia, meski hanya kami bertiga yang berpuasa. Lebih menyenangkan lagi, kami bisa sering2 ke masjid karena Grand Mosque Taipei ngga jauh dari MMTC-NTNU, temapat kami kuliah waktu itu. Cukup jalan kaki 15 menit. Dan selama bulan Ramadhan, setiap sore selalu tersedia ta'jil dan buka bersama gratis..heheh...

Karena CD foto masjid Taipei ketinggalan dirumah, dipasang foto pas di Hongkong aja yach..masih di rentang waktu yang sama..

Meski kita ngga nge-fans banget dengan makanan-mostly sayuran ca dan kari daging dengan kentang halus yang bumbunya terlalu menyengat untuk ukuran kami - tapi berbuka bersama dengan peserta yang buanyak..membuat kerinduan pada acara bukber dirumah terobati. Tarawih pun terasa 'mendalam' dengan imam yang konon diimpor langsung dari Arab Saudi sono. Tartilnya yang terdengar indah mengalun ketika membaca ayat2 suci, selalu membuat aku merinding saat tarawih..malah sering pikiran 'melayang' saat sholat, membayangkan bukit2 batu yang mengitari tanah suci dan menggemakan lagu ayat suci. Subhanallah...


Ramadhan kedua, 2005, ketika aku dan Indah mengikuti training di IH, Sydney. Sempat puasa dirumah beberapa hari, sisanya terpaksa dijalani dengan tantangan yang lumayan berat di tengah jadwal training yang padat, tugas yang ketat, dan himpitan dingin musim semi yang basah dan berangin kencang. Brrr....Aku yang selalu melewatkan waktu sahur-saking ngga bisa bangun pagi-terpaksa harus 'disiksa' perut keroncongan dan aroma harum kopi dan toast yang..alamaak...sedap nian. Penyiksaaannn...!!! Training yang selalu berakhir jam 6 sore, pas buka puasa, membuat aku n indah terpaksa selalu buka dengan secangkir kopi instan pahit dan biskuit Marie di pantry IH. Meski perut sedikit mual karena asam lambung yang naik, tapi hangat kopi lumayan menghangatkan dan biskuit memberi sedikit tenaga sebelum kami harus bergegas ke bus stop yang berjarak 15 menit jaan to catch the bus home.

Dengan classmates di IH, celebrating the end of the week di Bowler' pub. Untuk buka puasanya, me and Indah minum Lemon Juice ajah..


Sesampai dirumah, sekitar jam 8 malam, barulah aku bisa berbuka, sekaligus sahur. hehe...Indah lumayan beruntung karena meski vegetarian, landlordnya pintar masak dengan rasa yang enak. sementara landlordku penganut pola makan yang sangat sehat, anti garam anti gula untuk jaga diet anak2 mereka yang terlalu aktif. Jadilah, perut kelaparan diisi dengan brokoli kukus atau sayuran panggang.

On the way to bus stop, Queen Victoria Building, tetanggaan dengan IH Training Center

Sekarang, Ramadhan ketiga tengah aku jalani di Perth. Rasanya sepiiii....Aku tinggal jauh dari komunitas tean2 Indover, dan hampir selalu sendirian dirumah. Housemate-ku kerja di mining, dan stay di dorm. Ngga ada problem dengan masak sih, karena aku bisa masak sendiri dan ada Chinese store yang cuma 15 menit naik bus. Tapi makan sendiri...duh..I have no appetite. Pengin ikutan buka bersama, tapi Konjen-nya jauuhhh..dan bis di weekend kayak gini, susah amat..Belum lagi tugas yang numpuk2..(huh.dasar tukang males). Kepaksa deh, excitement nya Ramadhan hanguss..


Tampang aq pas puasa..sedikit lemes

Kangen dengan acara buka bersama di Yogya.


Bukber Ramadhan 2008@Goebog dengan sahabat Sinology and Ben

my new glasses (2)

Ah, akhirnya dapat juga kacamata baru. Mata aku yang selama seminggu udah makin 'blereng' liat obyek jarak jauh, sore ini lumayan tertolong. Ngga perlu lagi sampe memicing, 'ngiyer' sampe mata tinggal segaris cuma untuk mastiin bahwa bus yang aku tunggu udah datang. Juga ngga perlu lagi ngucek berulang-ulang karena mata terasa bengkak dan berair...duh, sengsaranyaa..



Tapiii...ni kacamata berat amat ya. Dan lensanya reflects the light. Tambah parah lagi, kalo dipake, bulu mata aku sering gesek dengan lensa, jadi bikin kaca buram. butuh wiper nih..huhuhu...yo wis lah, what to expect if I could only pay 100 bucks? hihihi...


Gaya ah, pake kacamata baru di main library of ECU.
Btwbusway, kok aku malah keliatan mirip teh ninih yee...??? qiqiqiq...

Aku yang bertahun2 pake kacamata rimless dengan lensa mika, kali ini harus menyerah pada pilihan lensa kuno: gelas tebal dan berat dengan frame pink metalik..ughh..Dudukan hidung juga harus disetel ulang..hm..beli kacamata di negara orang2 berhidung mancung, aku yang pesek by default terpaksa nerima cobaan kacamata nyungsep..hihi. Untung shop attendant-nya sigap bantu betulkan posisi.Sabar dehh..ntar December tinggal ke Akur Optic aja, cari yang mika lagii...

Saturday, September 5, 2009

my new glasses (1)

It's been almost 20 years since the doctor advised me to have a pair of glasses. I did remember what I felt on the very first day of wearing a pair of square shaped black framed glasses: disliked the shape, hate the color. It was funny and not cool at all. Being such an awkward country girl who didnt know how to agree and disagree upon a friend' taste was terrible, and it was me, right on the time when I had to decide which one to purchase!

Ya sudah. Kacamata pertama bertahan beberapa tahun. But then I got bored of it. and I just discharged the spectatcle, pecah ato patah. Entah ga inget. Trus bertahun-tahun ga usah pake kacamata aja deh. Malah pake contact lens. Kacamata kedua, warna emas. Mulai pake yang rimless. Lumayan PD. tapii...hilang, jaruh dijalan beserta case-nya. Kacamata ketiga, rimless lagi. hmm...patah karena sering dipake sampe ketiduran...keempat, lama banget aku pake. Meski udah ga simetris lagi, tetep aja aq bertahan. Habis..dulu belinya lumayan mahal. Tapi...nasibnya juga harus berakhir tragis, jatuh dilantai dan keinjak. Hah..!! Jadi harus ganti lagi, kacamata kelima. Hampir setahun aq pakai ini. Cinta banget, jadi meski udah cuwil dikit, nekat aja aku pake..eh..4 hari yang lalu keinjak juga. hancur..

Heran..kenapa sih kakiku ini. Hobi banget injak2 kacamata..

Jadilah, rabu kemaren (2/09/09) ke optometrist. Terpaksa. Beda dengan Yogya, toko kacamata di Australia mengharuskan kita periksa mata di optometrist dulu. Kalo nggak, bisa juga bawa prescription yang terakhir, atau bawa lensa-nya untuk di cek ulang.

Karena ga punya prescription, juga lensa lama udah di tempat sampah, terpaksa deh periksa di optometrist. 64 dollar booowww...

Seperti biasanya kalo kita di toko, optometrist mulai dengan menge-set huruf yang menyala di panel di dinding yang berjarak, mm..berapa ya..5 ato 6 meter depan kita. 3 deret abjad diminta baca, dengan mata kanan, dan ganti dengan mata kiri. Lanjut dengan periksa apakah ada astigmatia. Cylindris ato nggak. Lirik pojok kanan atas, lirik pojok kiri atas, lihat lurus pada titik cahaya, dan lihat garis merah lurus yang tepat melewati tengah titik. "Is it above, under or through the circle?". Yaahh..jelas banget "through the circle" dong. Si optometrist angguk2 and bilang "good'. Hmm..mata aq ngga cylindris. Coba lensa 2 kali untuk masing2 mata..dah. ketemu deh. Mata kiri minus 3 dan mata kanan minus 2,5.

Keingat ketika 10 bulan lalu periksa di toko optik di Yogya. Mbak optometrist-nya (?) uh..galak banget. Cobain lensa berkali2..dari minus setengah sampe minus 3. Orang udah bilang aku mo coba antara 2,5 sampe 3, nekaadd aja dia paksain liat pake lensa minus 2. sebel...saking gonta ganti, malah binun yang mana yang lebih jelas.

kacamata udah jadi kemarin. tapi belum ambil. Ntar ah, aku ceritain lagi

Thursday, September 3, 2009

a question for myself

it was totally unexpected. thought of an ordinary private number calling, i just pressed the green button and there it was: a soft, shivering voice confirming whether it is the right ones dialed. a pause. followed by a brief sentence, unfinished. and that's the end. a dead silence. i found a protection. an unfair way to escape but i knew where i should start and where i have to stop.

outside wind blew quite violently, left me a very strange feeling. and i asked myself: is it a pain? am i injured? why didnt i feel it? why did i just feel that the world stop moving a moment, and i feel like flying.

no tears flowing, no anger arousing. and i kept asking myself: am i tough, or just too weak to seek the truth instead?

walking home last night, i ket wandering: who am i?

Saturday, August 29, 2009

Sahur, Baby?

This is the 7th day of fasting.

Well, it’s quite fortunate for me that the spring time is on its way. Started last week, Puasa was not that suffering though I never had any pre-dawn meal. Feeling hungry and badly need something sweet to boost the blood sugar level and revive me at one third part of the day? Feeling chilly – not coz of the wind and rain tapping the window but more of the metabolic system that starts processing the calorie saving into use? I definitely had it as well. But really I could survive a pleasant puasa.

I just got no idea about having pre-dawn meal. Waking up at 4.30 or 5 in such freezing dawn, making myself a cup of tea or coffee (not bad..), and prepare the stomach to digest a quite share amount of rice or any carbs source and protein in ‘three fourthly awaken mode’ while the palate could only detect the taste of hot and cold? C’mon…though to some people having a good sahur meal will be quite rewarding at the following hours to go, but I really prefer not to bother myself, and it means that I have to take the consequence: feeling a bit chilly at around 9 – 11.

Ps: barusan cemil2 ngabisin pangsit goreng, and it’s now a quarter to one. Bed time. Oahheemmm….
Btw, did I just tell you that I had my sahur..?

Sahur, Baby?

This is the 7th day of fasting.

Well, it’s quite fortunate for me that the spring time is on its way. Started last week, Puasa was not that suffering though I never had any pre-dawn meal. Feeling hungry and badly need something sweet to boost the blood sugar level and revive me at one third part of the day? Feeling chilly – not coz of the wind and rain tapping the window but more of the metabolic system that starts processing the calorie saving into use? I definitely had it as well. But really I could survive a pleasant puasa.

I just got no idea about having pre-dawn meal. Waking up at 4.30 or 5 in such freezing dawn, making myself a cup of tea or coffee (not bad..), and prepare the stomach to digest a quite share amount of rice or any carbs source and protein in ‘three fourthly awaken mode’ while the palate could only detect the taste of hot and cold? C’mon…though to some people having a good sahur meal will be quite rewarding at the following hours to go, but I really prefer not to bother myself, and it means that I have to take the consequence: feeling a bit chilly at around 9 – 11.
Ps: barusan cemil2 ngabisin pangsit goreng, and it’s now a quarter to one. Bed time.

Oahheemmm….
Btw, did I just tell you that I had my sahur..?

Friday, August 21, 2009

Menjelang puasa esok hari

21 Agustus 2009

Besok pagi, insya Allah, puasa. Malam ini pada tarawih.
Ada rindu yang menyesak
Ada nyeri yang menyeruak

Ramadhan
Betapa ingin aku mengubur semua kebencian
Tetapi, kenapa aku selalu ingin menuding ke langit
Kenapa selalu ujian pedih-Mu, selalu Kau berikan ketika orang lain tengah bergembira?
kenapa aku tidak berhak?

Astaghfirullahaladziim...
Aku ingin bersimpuh, dan memohon
dan memohon.....

Monday, July 20, 2009

Mudik Winter 09: Makan = Bukan Sekedar Membuat Perut Kenyang (Part 3)

Naik kendaraan, mobis, bus, kereta, pesawat…apapun, selalu membuat perut keroncongan. Aku ngga ngerti bagaimana hal ini bisa diterangkan, tapi sepertinya ada korelasi yang aneh. Bagaimana mungkin cuma duduk2 aja dalam kendaraan – atau melek setengah merem, ngelamun, baca buku, kegiatan yang nyaris tanpa mengeluarkan energy yang berarti itu - membuat perut bisa sedemikian lapar?

Dan ketika perut sudah terlalu capek berteriak minta diisi, giliran rasa mual memaksa aku menahan napas sesekali. Sabaar..bentar lagi nyampe. Dan begitu sepotong ayam goreng tepung, scrambled egg, nasi putih hangat dan segelas coca cola terhidang di depan mata..wuahh…serbuuu…!!

Tapi…apa sih enaknya makan sendirian? Lauk yang paling enak kan…teman makan! Jadilah suatu Sabtu siang aku dan Dheti mampir di food court Giant setelah Dheti lepas dari “uler keket” antrian nonton Transformer 2. Tadinya aq pengin Bakso Babat, tapi petugas bilang, babat belum matang. Pliss deehh..udah jam 1 siang, gitu lohh. Alhasil, pesanlah kita semangkok bakso komplit , semangkok sop Konro dan 2 botol teh dingin serta segelas air jeruk panas sebagai pengganjal perut sambil menunggu Transformer beraksi.

Bakso datang dengan aroma sedap yang khas. Sedikit cicip ahh…hmm. Ternyata ngga ada yang istimewa. Biasa banget. Ga apa. Tapi yang bikin kesel…sendok garpunya. Hiyaa…kenapa? Sendok dan garpu terbuat lempeng yang saaangat tipis, sehingga sisi pegangan sendok terasa mau melukai jari ketika digunakan untuk memotong bakso. Aku paksain dan..eh..sendoknya peyot..!! Tuingg…gw pikir gw udah bisa menyamai aksi Dedy Corbuzier yang bisa membuat sendok melengkung. Wah.. hebat banget nih. Heheh..tapi kalo sendoknya peyot, gimana makan bakso-nya? Jadi gw minta tukar sepasang yang baru dengan pesan khusus: minta yang bergagang tebal! Dan mereka ngga punya. Ouch…Ngga kebayang kalo yang makan disini anak2. Haduuh..bahaya!!

Pengalaman dengan foodcourt di Giant Bekasi membuat aq rada2 males ke foodcourt lagi. Nah, ketika nyampai di Yogya, dan jeng Indah berbaik hati meng-organize eating out ke Pondok Cabe, gw semangat banget.

Pondok Cabe 2 Jl. Simanjuntak Yogya

Siapa bilang wong Jogja cuma suka rasa manis? 3 atau 4 tahun terakhir, Yogya seolah di sesaki dengan warung pedas. Mulai dari oseng mercon dekat PKU yang melegenda hingga warung tenda dan non-tenda Serba Sambal yang kini sudah menggurita dimana-mana. Serba sambal tidak melaju sendirian, masih ada Cabe Nusantara, Dapur Sambal, Super Pedas sampai Penyetan Banyuwangi berlomba ‘menghajar’ pemangsa2 sambal yang kelaparan. Klik deh di http://www.ayojajan.com/ dan pilih pedas-pedasmu…!!



Pondok Cabe 2 dibalut interior kayu sederhana. Kehangatan ditebarkan lewat lampu bohlam kekuningan, dan bukan neon. Penataan ruangnya lumayan menyenangkan meski tidak terlalu artistik. Menuju ke meja dan bangku, di sebelah kanan di-display-kan menu yang berupa bahan yang siap bakar. Berbagai olahan ayam, ikan, pepes, juga jeroan sapi serta sambal dan lalapan di tata beralas daun pisang. Di seberang display, satu set peralatan music berjajar. Main hall berbentuk lingkaran dengan focal-point air mancur kecil yang dikelilingi beberapa set meja kursi. Main hall ini ‘dilingkari’ lantai kayu yang lebih tinggi untuk tatanan meja lesehan.

Untuk yang tidak mendapat tempat di bawah, pengunjung bisa menempati set meja kursi di lantai atas yang dihubungkan dengan tangga kayu. . Tapi buat aku..hm, ngga enak deh. Ngeliat ke bawah malah pusing…Wastafel dan toilet terhitung bersih meski cenderung basah. Handuk tangan di wastafel juga terasa lembab dan tidak diganti dengan yang kering.

Makanan? Menu cukup ekstensif, tapi untuk ber-8, kami ngga pesan terlalu banyak. Hanya nasi putih, 2 mie goreng untuk tante dan Arifah, sate empal, pepes jamur, garang asem ayam dan pepes ikan. Rasa masakan cukup STD, kecuali mi goreng..loh..kok lumayan enak, meski buat aku, mie-nya terlalu berair. Sambelnya…? Hoaahhhh…pedes! Colek dikit lagi ah…hoah-hoah. Tambah pedess banget. Tahu-tahu ada yang berbunyi ngiingg.. heheh, pedesnya bikin telinga berdenging..Dengan tambahan minum lemon tea dan jus-jus-an, total kerusakan Rp 98.000 sahaja. Sangat pocket-friendly.

Nasi Timbel Baraya Sunda, depan Merapi View Jakal

Usai contreng sana contreng sini..hmm..makan apa ya? Nyontreng kan butuh banyak tenaga, buat mikir, mana yaa..pasangan capres-cawapres paling tajir..Jadi laper, kan?! Maka, dengan kelingking masih belepotan tinta pemilu, aq ma tante ngaciir ke Jakal. Lumayan jauh lohh dari Karangkajen. Dalam hati aq berharap banyak: semoga ngga tutup pliss..daann…begitu nyampai di sana..horeee..bukaaa!!

Semangat deh tante order paket nasi timbel dengan ayam bakar dan es gedubrak (eh, bener ngga sih, ini..?). Aq pesan paket dengan pepes kembung, tahu dan tempe goreng. Sayang, ikan asinnya kosong.


Baraya Sunda sebenarnya lebih beken dengan Es Cendol Si Geboy-nya yang memang endaang banget. Mungkin ini signature-drink nya. Cuma karena aku ngga suka dengan minuman bersantan aja, maka es lemon tea selalu jadi andalanku.

Hidangan datang dengan beralaskan piring anyaman bamboo (ato rotan?) tipis berlapis daun pisang. Nasi digulung dalam daun pisang, harum dan hangat. Pepes ikan kembungnya empuk dan tasty, ayam bakarnya sedap. Meski semua enak, seperti biasanya, tapi aq rasa yang paling juara adalah tahu gorengnya yang kering diluar lembuut di dalam..hihi..kayak iklan wafer aja. Side dish favorit kami yang lain, empal daging yang empuk dan juicy. Pas buka puasa kantor, beberapa tahun lalu, kami pernah menyerahkan urusan bukber pada Baraya Sunda ini. Dengan harga paket, waktu itu @ Rp 22.000 teman2 bilang…enaaakk. Mau lagi doong..hahaha..

Kalo es cendol si Geboy gampang kita temukan nagkring di gerobak depan supermarket, es Gedubrak kayaknya Cuma disediakan di Baraya Sunda. Disajikan dalam “mangkok berkaki” ukuran sedang, beberapa potong buah, melon, semangka, juga jeli kenyal warna hijau kuning merah, dan tentu saja cendol, disiram kuah santan manis. Legit namun segar.

Total kerusakan..ngga tahu lah. Di bayarin ma tante. Tapi seingatku, paket nasi timbel ayam Rp 14.000 dan timbel dengan kembung Rp 8500 sahaja. Info tambahan, yang mo tahu no telp pemiliknya, Mbak Ita, kontak Bu Nina yaa..Nomor Bu Nina..hm, tanyain ke kantorku. Kalo nyari Beby, liwat hotline yee..pasti ketemu deh. Walah..ni mulai ngelantur lagi deh.

Cukup sekian review Baraya Sunda.

Tamansari Foodcourt, Ambarukmo Plaza

Indah, Erni dan aneka juice

Karena Mariska dan bu Mary missed acara “Mondok Cabe”, maka Minggu, 12 July kita sepakat reriungan lagi. Secara menyatukan selera tu susah, maka EO-nya (lagi2 Bu Indah turun tangan nih) bertitah via sms: Tamansari Amplaz, 12.30, ladies..!! Ngacir-lah gw kesana dengan perut yang setengah penuh. Paginya udah sarapan dengan botok buatan Buke, siihh…

Terkumpul ber 7, bener ajah..order makanan ngga pake pola banget deh. Andalan aq selalu Mie Ayam Nusantara: Mie Komplit porsi sedang. Selaluuuu…sama. Aq memang a loyalist. Setingkat di bawah bakmi GM (harganya juga beda booww..), mie-nus selalu jadi my first choice. Kaldu mie-nus yang ringan dan cenderung tawar, matching banget untuk di seruput mengiringi mie tipis dengan taburan ayam serta jamur merang yang tampil bersih dan gurih. Ini bedanya dengan mie pasar baru, yang di lidah aq, menimbulkan ‘tabrakan’ rasa kaldu dan mie yang terlalu kuat. Untuk mie-nus jamur, paling cocok disandingkan dengan pangsit rebus deh..Pangsit yang berisi udang terasa lembut dan selaras dengan tekstur mie. Kalo dengan bakso, baik goreng maupun rebus, hm…sepertinya terlalu kenyal untuk padanan. Daaannn…janganlah di rusak komposisi rasa yang ringan dan segar ini dengan saus tomat ato cabai. Haduuh..jatuh berdebam deh. Ga usah, lah.

Sayangnya, pas kita makan di foodcourt, mangkok mie-nus ngga boleh ikutan nangkring di foodcourt. Policy dari pengelola, mungkin, untuk melindungi tenant yang ada dalam foodcourt. Ya sudah, mi-nus ku terpaksa di nikmati dalam styro-box berlapis kertas lilin. Huhuhu…
Pesanan Indah dan Dewi, entah apa namanya, semacam nasi goreng dengan fillet ayam berlapis tepung roti yang digoreng kering dan disajikan di atas hotplate. Rasanya? Entahlah. Aq ga cicipi. Susah juga menebak enak enggak-nya. Lha wong enak ato ngga enak, Dewi and Indah selalu habisin makanannya sihh…hihihi. Mariska? Momon ini selalu punya pilihan yang lebih cerdas. Kali ini dia ngorder Cakwe yang di masak dengan paprika merah hijau serta potongan ayam. Enaakk…?? Pastinya, iya. Gw ngga cicip juga. Lain kali wae.

Best of all, semua makanan itu di nikmati bareng orang2 istimewa: sahabat. Dan rasanya..whuahh…ruarr biasa!!
Sebagian foto, credits to
http://www.ariep.multiply.com/ (pondok cabe), aprilia (bakso) dan http://www.tripod.com/ (nasi timbel)

Thursday, July 16, 2009

Mudik Winter 09: From Purwokerto With Mendoan (Part 2)

Naik kereta api..tuut..tuut..tuut…siapa hendak ikut….

Dari semua moda transportasi, kereta api memang meninggalkan kesan indah yang terpatri di benak gw. Masih inget ketika kecil, Bapak selalu menyebut sate dekat rel kereta, di stasiun Delanggu, yang paling joss..!! Lohh..apa hubungannya dengan naik kereta api, yaa…? Ngga ada..!! Kebetulan aja si cucu penjual sate ini dulu pindah ke sekolahku di SMP 2 Wonosari. Gw inget, anak cewek, bongsor, keriting n kulitnya putih..kesekolah naik vespa….haiyahhh..kok malah ngelantur. Apaan sih..

Ok. Gw suka naik kereta apai karena 2 alasan : pertama, gw ngga mabuk. Kedua, rute Jakarta – Yogya menyuguhkan pemandangan indah antara Brebes – Purwokerto. Kereta kan bisa nembus jalan2 yang sulit..dan kita tetap tenang didalamnya. Nggak banting2 kayak kalo dalam bus.
Jadilah gw, untuk ke sekian kalinya, seret kopor segede bagong ke Gambir, naik Taksaka pagi ke Yogya. Duduk di sebelah gw kali ini, cewek manis yang kuliah di UII. Yang mengejutkan, dia dulu juga pernah ikut student exchange ke Perth, dan sekolah di Stephen School…tempat ngajarnya Bu Wendy dan Bu Caroline!! Bu Caroline inilah yang pernah ajak gw muter2 ke King’s Park ketika awal2 gw di Perth dulu…hah. What a small world!!

Sudah jauh2 hari gw rencanain, kalo mudik nanti gw kudu ke Purwokerto. Silaturahim ke Permadi dan anak istri, ketemu Adit and Andy, dan niat gw mulia banget nih…berterima kasih. Hohoho..bener.

Etape 2: Yogya Purwokerto

Naik bis Efisensi yang resik. Another 4,5 hours on the road. Menjelang masuk Purwokerto, jalan agak menanjak. Kanan kiri tebing dengan pepohonan, dan lhoo..kok banyak orang berjajar – jongkok dan duduk di pinggir jalan? Si adik ABG yang duduk di sebelah bilang, mereka peminta-minta, yang menunggu pengguna jalan melemparkan uang. Kasihan, tapi kok gitu siihh…?
Purwokerto menjelang malam. Sedikit letih di jalan, dan Permadi jemput di terminal. Usai check in di Dinasti, bagus loh.., mandy dan makan malam dulu dong. Gurameh bakar, ca kangkung, mi goreng..dan mendoan panas. Maaakk…enak!! Malam ditutup dengan putar2 kota yang lumayan lengang, dengan jalan yang jauh lebih lebar ketimbang jalan2 di Yogya.

4 July 2009

Amerika sedang merayakan kemerdekaan. Gw ngga peduli n ngga nonton TV. Sabtu pagi di awali dengan kunjungan ke obyek wisata terbaru di Purwokerto: Rumah Mayangsari…hahahah…!!! Ngga mau di bilang ndesoo..(padahal pengin), gw lewati deh sesi foto disono, langsung tancap gas ke Baturraden.Meski udah dengar Baturaden (single r) sejak kecil, baru kali ini gw benar2 bisa menjejakkan kaki. Ternyata..cantik banget!! Bersih dan rapi. Gw ngga habis2 berdecak kagum. Karena bersih dan rapi menjadi hal yang langka di obyek wisata kita, melihat Baturraden yang tertata gw kayak orang kalap foto2 deh…

The happy family of Permadi

Tiket masuk seharga Rp 5000, wajar untuk ongkos pengelolaan kawasan. Teringat kecelakaan tragis di hari Lebaran kedua, beberapa tahun lalu, ketika serombongan pengunjung terpelanting ke dasar sungai yang berbatu saat mereka meniti jembatan gantung, maka dengan sedikit masygul gw menapaki tangga ke atas sungai. Untunglah di Ground Zero itu sekarang sudah dibangun jembatan beton bercat oranye, kontras dengan warna jernih air terjun kecil di depan dan hijau hutan yang membingkai belakangnya.
Ground Zero. Musibah menyedihkan di hari ke dua Lebaran.

Dari atas jembatan, batu2 dibawah sungai bawah sana terlihat mengerikan. Pantas saja, putusnya jembatan gantung 3 atau 4 tahun lalu menelan belasan korban tewas karena terhantam batu. Innalillahi…Disisi kanan sungai, dibawah jembatan, seorang laki2 duduk berjongkok. Dia akan melompat ke air terjun kalau ada yang melemparkan uang….hiiyyy..ngeri sekali.
Money-chaser-nya duduk di kanan, sambil maen handphone!

Mending pindah aja deh, naik ke Pancuran 3, yang berupa kolam air hangat dengan 3 pancaran air panas. Banyak bapak2 menawarkan jasa pijat refleksi, sambil duduk di pinggir kolam, bahu dan kaki di pijat. Tapi gw ngga mau karena kaki masih bengkak2. Jadi cukup celup2 dan foto2 aja deh..Untuk masuk ke kawasan ini, tiket Rp 5000 harus di beli lagi.
me and dani

Masih ada pancuran 7 kalo kita mau naik lagi ke atas. Tapi karena gw ada janji dengan Mia dan Aida, gw batal aja deh. Sepiring mendoan lagi, sate ayam dan es the menjadi pelengkap kunjungan ke Baturraden. Balik ke mobil, banyak pedagang menawarkan bonsai cemara dan agloanema merah. Bagi pengunjung, ada tulisan peringatan, untuk berhati2 agar tidak tertipu beli tanaman palsu. Hah…? Rupanya banyak beredar bonsai palsu dari plastic atau karet…juga Agloanema merah, yang daunnya bisa luntur…hahahah..ada2 aja.

Makan siang dengan Aida, Mia dan Unik. Memory Garden, Purwokerto. Resik dengan tanaman yang rimbun di sekitar gubug. Bandeng bakarnya enak. Tapi nila-nya berasa aneh dan ngga segar. Kaki ayam yang di tumis dengan sayuran dan jamur, juga ca kangkung..boleh juga. Trims buat Mia dan Aida yang traktir gw dengan rapelan gaji sebagai dosen baru Unsoed..!! Sedap bener deh.

Balik hotel, gw menghuni kamar deluxe, bow..luaasss..didepan kolam renang. Tapi apalah daya, wong gw ga bisa renang. Jadi..yaa..nonton Mr. Bean di kamar aja deh.

Malemnya, ketemu Adit and Andy. Haaha..meski udah sering YM-an, baru kali ini bener2 baru kopdar. Curhat ala YM lanjuutt..sambil muter kota Purwokerto yang mulai dijejali anak2 muda yang malam minggu-an. Mendarat di kafe..Meteor (duh..lupa namanya), 2 nasi goreng daging asap dan juice dibagi bertiga. Menyenangkan sekali. Ternyata menemukan kawan yang baik itu ngga sulit sama-sekali.

5 Juli 2009

Happy Birthday to me….!!! plok..plok..plokk...tepuk tangaann..Teringat Mr. Bean yang meloncat2 kegirangan di film-nya yang edisi Christmas. Tapi gw ga punya kaos kaki untuk di tengok. Ga punya box hadiah untuk di buka. Tapi punya teman2 yang saaangat baik untuk di syukuri. Sinterklas ga mungkin datang ..Jadi gw telpon Mia aja untuk temani gw sarapan di hotel.

Permadi dan anak dan mama-nya datang jelang siang. Hari ini ke Musem BRI deh. Museum BRI menyimpan koleksi uang kuno, alat2 perbankan dari jaman baheula, sampai dengan catatan sejarah perbangkan Indonesia yang di dirikan R. Wiryaatmaja. Pakaian beliau pun masih utuh tersimpan.

Museum BRI

Menurut Permadi, ketika museum ini akan didirikan, seluruh BRI cabang dikirimi surat himbauan untuk menghibahkan koleksi mereka masing2 untuk disatukan. Maka terkumpullah mesin hitung, mesin ketik, brankas besi, koin, uang kertas, catatan bersejarah dari seluruh pelosok, dan disatukan di museum ini. Hebatnya, uang kertas jaman Belanda, dan uang coin jaman majapahit juga masih ada lohh..

Mesin hitung uang koin

Mungkin yang Permadi bilang benar: Kita hanya mengunjungi museum 2x, pertama, ketika diajak Bapak ke museum. Kedua, ketika mengajak anak ke musem. That’s all…hahaha..


Waktu merambat cepat. Setelah belanja mendoan mentah, dan makan siang dengan soto Sokaraja, gw meninggalkan Purwokerto. Tapi, seperti Jenderal McArthur, gw juga bilang : I shall return….!!! Habis..gw blom sempat cicipi pecel dengan bunga kecombrang

Lanjut ke etape 3: Makan di Yogya
ini fotonya. Cerita nyusul yah..


Mudik Winter 09: Mimpi Yang Harus Usai (Part 1)

PULANG. Selalu membuat hormone endorphine melonjak, mengirimkan sinyal rasa senang ke seluruh sel tubuh. Karen Armstrong dalam Prophet Muhammad mendefinisikan perjalanan berhaji sebagai perjalanan pulang. Bahagia yang tak terlukiskan. Kecuali Harry Potter yang selalu suntuk setiap kali ada school break dan harus ke Pivot Drive, sepertinya ngga ada yang ngga girang ngebayangin pelukan sahabat dan kerabat serta keriuhan gosssiiippp..plus makanan enak yang bahkan baru dengar namanya aja udah membuat jakun naik turun..(eh, emang gw punya jakun..?).


Akhirnyiaahh…23 Juni 2009 bergulir juga. Jetstar JQ 114. Perth ETD 11.00. Jakarta ETA 14.30.


Ngobrol ngalor ngidul dengan Pak Kees and Bu Wendy di Perth airport ditemani 2 cangkir coklat panas dan teh cammomile cukup menjalarkan rasa hangat ditengah terpaan angin selatan yang dingin menggigit. Pening semalaman yang aku rasa sedikit terlupa. Perut kosong benar2 cuma terisi segelas kopi dan krim di rumah, dan secangkir teh di bandara. Sedikit lemas tapi legaa, aku melangkah dan memulai proses check in. Lancarr…hmm awal yang baik.


Kebaikan berikutnya, meski penumpang Jetstar berjubel-maklum banyak yang memanfaatkan tiket promo-ternyata kursi di sebelahku kosong!! Jadi ruang duduk pesawat A320 yang sempit terasa sedikit melegakan. Di sebelah gw seorang bapak muda denga istri dan 2 anak cowok usia dibawah 10 tahunan yang duduk di seberang lorong. Si Istri ini..haduh, tinggi dan cakeep banget. Taruhan, pasti dia seorang model. Cara dia meletakkan hand bag-nya yang Luis Vuitton asli bow..haduh. .manis sekalee.


Sedikit delay, akhirnya JQ 115 mengudara. Lebih pelit ketimbang LCC (Low Cost Carrier) kita yang masih memberikan sepotong roti bantal buat gigit2an, Jetstar bener2 cuma kasih sebotol air mineral 500 ml untuk penerbangan siang yang 4,5 jam itu. Sandwich, snack, permen..apapun..kalo kepingin, ya beli. Selimut, headphone, bantal, film..heheh..sewa! Layaknya anak Indonesia yang pinter berhemat, gw cuma siul2 ajah sepanjang jalan..heheh..dan sibuk membayangkan 2 hari kedepan, dimana gw udah reservasi hotel di Mangga Dua dan menetapkan niat untuk jadi wisatawan soliter di Jakarta.


Etape 1: Secuil Jakarta


Check in di hotel jam 4 sore, gw langsung menyantap nasi dan ayam goreng yang tadi dibeli di aiport. Lapaaarr banget. Tapi makan dikit ajaa, karena kudu nyisain ruang untuk mi ayam, ato soto babat, ato nasi goreng..apa ajalah malam nanti. Rakus-nya mulai membabi buta nih. Bahokay..!!


Maka, usai mandi, jam 7 petang gw mulai melipir jalan sekitar Ibis. Di seberang hotel ada pasar kagetan yang riuh rendah dengan pedagang CD bajakan, baju harian, gelang kalung batu dan beads, juga sate ayam…Walah, baru berapa meter aja, body gw yang harum mewangi (emang kuntilanak..?) udah berganti aroma asap panggangan sate ayam!!! Rugi deh gw tadi semprot2 EDT Hillary Duff ..


Didepan Mangga Dua mall ada gerobak..hahh..apa itu?? Gw kucek2 mata. Unmistakable sight..mi ayam kampung dengan botol saus gede cap Gentong!! Gw lewat depannya dan wuahh..harum kuah beraroma sawi hijau dan minyak bawang bikin bulu kuduk merinding..tapi ngga tega mo mampir krn penuh dengan tukang ojek. Agak takut juga..(wah, udah ketularan bule yang suka parno nih..). Ini menyiksa diri ..


Gw terus jalan ngider ga ngerti arah. Di ujung perempatan dekat stasiun Kota, ada warong tenda Lamongan. Ha..tandaslah semangkuk sop kaki sapi, secentong nasi dan 2 gelas es the (eh, gelas yang pertama kesenggol ga sengaja dan tumpah..!!). 4 bungkus kerupuk semi-udang gw jinjing pulang buat teman ngopi besok pagi.


Hari kedua gw bangun dengan kepala yang makin pening. Panadol terpaksa harus beraksi. Pilih hotel di Mangga Dua memang harus nanggung resiko bersedia melek semalaman, karena meski berada di lt.17, tapi berisiknya kereta di stasiun Kota cukup mengganggu. Sampe larut malam, lagi…


Hari ini gw asli jadi wisatawan neh. Sebelum jam 12 gw di jemput Pak Eddy Effendi, dan maksi di Bakmi Gadjah Mada. Akhirnya kesampain juga makan mi ayam..meski bukan kampung. Hihi..selera gw emang kampungan banget. Tapi bakmi GM memang endang gulindang. Pangsit rebus and gorengnya juga te-o-pe banget. Nih gw ngga cuma makan neh..tapi ngerampok pak Eddy..hahahah. Trims banyak, Pak Eddy.


Museum Nasional

Tertariknya gw ke museum ini sebenarnya bukan karena koleksinya sih..tapi lebih karena pilar2nya yang megah, yang sering muncul di halaman mode Femina. idiihh..Tapi agak memalukan juga, kalo ke negara lain aja kita kunjungin museum, kok di negara sendiri malah blom pernah. Okkidokki..jadi gw paksain kaki susuri ruangan satu persatu.


Tiket masuk Cuma Rp 750,00. Ampuuuunn…kenapa sih ga dibikin paling ngga 10xnya? Biaya perawatan musem kan mahal sekali..


Nah, bener kan. Atmosfir khas musem yang kusam dan lawas, meski tidak begitu berdebu, terasa agak menyesakkan dada. Meski langit2 tinggi, pintu besar dan ruang terasa lapang, namun sekat2 antar ruang membuat aliran jalan bagi pengunjung terasa membingungkan dan ruwet, sehingga pengunjung bisa saja “bertabrakan” ketika pindah dari satu ruang ke ruang lain. Tembok2 tebal dan tinggi bercat putih dengan pintu..seingatku..berwarna biru keabuan yang memudar serta lantai tegel polos abu dan kembang menegaskan keberadaan bangunan yang sudah melewati pergantian abad. Pilar besar yang dibagian bawahnya ditata dengan patung2 batu –sayang-tidak banyak keterangan tertulis disana-tetap kelihatan cantik, secantik gambar yang muncul diantara halaman mode Femina. Sayang aku ngga bisa ambil foto, karena tunduk pada peraturan baku yang berlaku: Dilarang Memotret.


4 anak usia TK dengan ibunya kelihatan bersemangat mendengar penjelasan dari petugas.
“Ada pertanyaan, adik2?”
Satu gadis kecil dengan poni menunjuk patung “Itu kenapa kepalanya hilang?”
Yang lainnya merapa plat kuningan yang bertulis huruf Jawa kuno “Ini bacanya apa?”


Begitu masuk..koleksinya banyaaakkk..banget. Pengelompokan koleksi musem sedang dibenahi karena saat ini juga sedang dilakukan pemindahan2 koleksi ke gedung baru yang terletak disamping musem lama. Meski arsitektur bangunan –dari luar- kelihatan serupa, tapi kondisi dan tata ruang dalam gedung baru jelas jauh lebih bagus.


Digedung lama ini, gw nyusuri sebagian besar koleksi, mulai dari koleksi artefak, patung dan gerabah kuno dan keramik Cina, koleksi sumbangan dari Thailand, koleksi kain dan perhiasan sangat tua dari seluruh Indonesia, miniatur rumah adat..entah apa lagi gw ngga ingat. Luar biasa..banyak dan sangat berharga. Pasti tidak cukup 1 hari untuk mengagumi seluruh kekayaan yang ada disini..Terpaksa musem baru ngga gw tengok. Cuma lewati selasarnya saja yang berdinding kaca.


Tapi haus dan panas membuat gw agak pening lagi. Celakanya, kantin sudah tutup jam 2 dan tidak ada air minum tersedia..Tidak ada jalan lain, gw harus meninggalkan museum, ketimbang pingsan karena dehidrasi.


Sebotol aqua dari penjual pinggir jalan menjadi penyegar. Usai ngobrol ngalor ngidul lagi (kok gw ngobrol terus sihh..?) dengan penjual air minum, seorang polisi muda, dan penjual rujak dan riuh menertawakan 2 truk polisi yang dikerjain komandannya, gw ayun langkah menuju Monas yang ada di seberang museum.


Monumen Nasional



Monas..akhirnya ku datang juga..

Panas terik. Gw jalan sendirian. Beberapa kelompok polisi sedang duduk istirahat. Ada yang ramah menyapa “Sore, Bu.” Truk dengan gulungan kawat berduri diparkir disana sini. This is the face of Jakarta. Mungkin harus selalu ada polisi yang standby disana untuk mengantisipasi keadaan yang bisa saja berubah tiba2.


Gulungan kawat berduri. Tiang lampunya bagus yaa..?

Jujur, aku agak berdebar mendekati Monas. Rasanya begitu jauh namun dekat. Gimana sih..? Anak sekolah selalu mengidentikkan Jakarta dengan Monas. Study tour di SD SMP SMA selalu mencantumkan Monas. Tapi aku blom pernah ikut study tour ke Jakarta. Why…?? Gw tukang mabok beraat. Mana mungkin naik bis dari Solo ke Jakarta?? Nah, sekarang, mumpung udah bisa mengongkosi diri dengan fasilitas yang lebih baik, gw bulatkan tekad: MONAS, HERE I COME…!!! Jalan kaki…jelas ngga mabok!



Motret Monas dengan my OWN camera loohhh..

Tiket terusan masuk Monas Rp 15 ribu. Tapi karena gw udah ngga bisa naik ke puncaknya (loket untuk tiket ke puncak tutp jam 3 sore), maka gw cuma beli tiket masuk ke cawan Monas plus naik kereta kelinci muterin kompleks. Tapi ngeliat antrian yang audzubillah..hah..lupain aja deh, si kelinci ini. Sekilas gw lihat antrian di depan lift ke puncak, juga sesak. Lift cuma muat untuk 11 orang.

Impian semasa sekolah: Foto dibawah Monas!! Gw di Jakarte!!

Ada apa dalam cawan? Dilantai bawah, 4 dindingnya berisi diorama sejarah Indonesia. Mulai dari jaman nenk moyangku yang orang pelaut..sampai pada perjuangan kemerdekaan. Bagian ini kurang lebih sama dengan diorama di museum angkatan udara Yogya. (udah kesana belom..? ayolah kesana..gw nangis liat potongan pesawat-nya Adi Sumarmo yang terbelah di Ngotho, sebelahnya Karangkajen..hiks..hikss..).

Dalam Monas

Balik ke Monas. Di cawan lengkungnya, hanya ada ruang kosong dengan “body” dasar tugu ditengah. 4 sisinya terpahat tulisan teks proklamasi, sisi lainnya gambar peta Indonesia, lambag Pancasila, dan ..apa ya, semacam hiasan serupa pintu. Sayang tidak ada penjelasan.
Selayaknya Jakarta berterima kasih pada Sutiyoso, karena di foto memperlihatkan betapa mengenaskan kondisi Monas sebelumnya, hingga baru di era Sutiyoso bangunan cantik ini di benahi. Sayang..sampah tetap bertebaran di tangga luar Monas. Sekelompok Bapak Ibu (guru..?) beristirahat di tangga, ngobrol sembari makan kacang tanah dan membuang kulitnya..bertebaran dimana-mana.

Monas .. dulu...
Sebelum petang merambat, gw udah berdiri berdesakan di Transjakarta dari depan museum, balik lagi ke hotel. Turun di halte stasiun Kota, gw jalan kaki lagi, dan mampir di warung nasi goreng. Bungkus 1 nasgor pedas special buat nanti malam.

Nashor superduper pedas, krupuk, pangsit GM. ga nyambung..

Usai mandi..hahah..si nasgor emang benar2 pedasss…huah huah. Ada pangsit GM sisa tadi siang. Tapi ternyata ngga nyambung banget deh dengan nasgor, yang jodonya memang dengan krupuk warna warni..

Dan mulailah malam panjang kedua..ditingkah deru kereta Stasiun Kota..lageee.. ku cendili..

loyo n blom mandy

Pasar Pagi Mangga Dua

Bangun pagi dengan kaki yang mulai bengkak. Wisata Jakarta diakhiri dengan kulakan scarf titipan bu Sulfah. Ketemu jodoh dengan penjual, xiao jie asal Pangkal pinang yang rame banget…yang pernah mukim juga di Taiwan. Klop lah. Diskon gila dikasih setelah nego yang heboh dengan bahasa Mandarin. Hahahahah…Alhamdulillah..

Penutup etape 1: Seret kopor ke stasiun dan berdiri sepanjang kereta ekonomi AC, tiket 4500, dari Kota sampai Bekasi…!!! Kaki bengkak gw udah segede gajah…!!

Lanjut ke etape 2: Purwokerto