Sumpee..gw bukan mo ngehina yang jual PKS alias Pempek Kapal Selam.
Pindah ke Perth, means kudu ikut adaptasi pola makan yang baru. Ngga sepenuhnya sulit sih, karena lidah gw benernya lumayan terlatih. Waktu di Yogya, karena hobi gw makan n dolan, ya..I let my tastebud being exposed to numerous different dishes. Mo versi Java Tengah, Timur, Barat, Sumatra dari Aceh sampe Bangka, Dari Bali sampe Manado..kalo ada resto atawa warung baru di Yogya..hayyuukk..Western meals pun aku suka. Hihi..tapi pasti udah diadaptasi dengan selera local duong..
Bukan jelek banget d Perth sih. Lagian gw kan tinggal denga Twee yang orang Vietnam. Deket dong ama selera gw. Meski selalu ada jarak..habis..semua masakan dia pake pork. Saking gw ga pernah sentuh, n gw udah bolak balik bilang gw ga bisa, dia ngomel2 mulu…Kenapa seeehh..ada agama yang melarang makan ini itu. I eat anything….!!! Rutuknya kesel…Hehehe. “ Loe either eat nothing or anything kan bukan masalah gw,” gw bales dengan sebel juga.
Tapi Persiapan gw dengan “westernizing my palate” ternyata did not work well untuk ngebantuin gw merasa happy dengan meal time. Yah..Meski Twee berbaik hati setiap hari bawain donat, ato cupcakes dar coffee shop tempat dia kerja, teuteup aja tenggorokan gw ogah2an nelan. Paling kalo bawa muffin ato cupcakes, gw makan bagian topinya doang. Kue-nya huu..ogaahh..
Tapi kenapa gw cuma turun 2 kilo dalam 3 bulan ya?
Ah, gw ngga pengin kekurusan n keriput dengan kulit layu. Premature aging. Penuaan dini..hihhh..(halah..dini apanya… J)
That’s why kemaren pesen PKS 6 pax buat pencegahan keriput n layu itu..
Gw udah ngeces2 ngebayangin empek2 rebus yang hangat, dibanjirin kuah cuka pedas.aih..aih..sexy-nya bow..mana suhu diluar 15an derajat..
Tok-tok…pintu di ketok. (aha..baru kepikiran untuk belikan bel..assalamualaikuummm…ntar kalo balik Yogya). Si Bapak kandidat Ph.D yang istrinya rela hati menyuplai PKS dikalangan Indo students muncul di ambang pintu. Dua container plastic dalam tas kresek menggelayut di genggam. Haduh..haduh..PKS pujaan datang. Setelah ngobras dikit, si PKS pindah tangan dengan penukar total 42 dollar, termasuk ongkos DO 3 dollar karena masih masuk Zone 1 Perth City.
Hm..setengah beku. Gw cepet taruh sebiji dimangkok, masukin microwave 30 detik, dan mmhh…gw gigit tanpa ampun. Kenyal. Kuahnya enak. Meski ngga sepekat pempek Ny. Kamto yang dibelakang Ramai Mall Yogya. Not bad at all.
Hari berikutnya, gw ambil satu lagi dari fridge. Potong2 kubus, aduk ma telur, bumbuin sedikit, trus di dadar..Rasanya sih tetep. Kenyal n gurih ikan. Tapi kok gw ga merasakan sensasi menyenangkan ato rasa bahagia, ya?? Malah ni terasa kayak makan gabus rasa ikan? Aneh…
Nha ini dia…gw baru sadarin..ternyata ini gara2 gw ga punya teman makan. Jadi kerasa tawaar aja. .Lurus. Plain.
Bener banget ternyata..makan paling enak tu..kalo ada temannya. Sekarang masih sisa 4 potong di kulkas. Ada yang mo temani gw makan…???
Saturday, April 25, 2009
Monday, April 13, 2009
Me and Doggy…
Eastern Monday. Hari Paskah. Senin.
Tadi pagi ada kejadian kecil yang mengharukan. Ketika aku menaiki escalator menuju Wellington bus station yang bersebelahan dengan Perth Main Station, terlihat di lantai bawah seorang opsir berjalan dengan semangat, bersama seorang wanita yang memeluk lengannya kirinya. Sementara tangan kiri sang wanita menghela tali yang melingkar pada leher anjing Labrador coklat muda.
Apa yang aneh? Tidak ada. Sampai aku sadari kedua orang itu berdiri di belakangku ketika aku sedang mengecek jadwal kedatangan bis yang akan aku tumpangi ke kampus. Aku bergeser sedikit. Si opsir mendekat ke arah jadwal, dan memastikan bahwa bis rute 889 akan datang jam 10 tepat. Beberapa menit lagi. “Aahh..you are a hero. Thank you so much”, wanita itu berucap kegirangan. Si opsir pun berlalu.
Dan aku baru menyadari ternyata wanita ini buta. Dan Labrador coklat itulah mitra-nya. Di belakang leher Labrador tergantung tulisan, terbaca jelas dari jarak 5 meter: Don’t distract me. I’m working. Sesaat kemudian, bis datang, dan si anjing sigap bangkit dari duduknya, dengan PD “menyeret” pemiliknya tepat ke depan pintu, berhenti sebentar di depan sopir agar si pemilik berbicara dan kemudian “menempatkan” tuannya di kursi yang lapang. Bukan main pintarnya.
Seperti warga barat lainnya, orang Australia memang tergila-gila dengan anjing. Hampir di setiap rumah memiliki seekor. Waduh, terus aku gimana, nih…kalo main ke rumah mereka? Sudah pasti si doggy akan menghadang di depan dan menyampaikan “salam.”
Secara pribadi, sebenarnya aku ngga keberatan untuk berdekatan dengan piaraan berkaki empat ini. Malah kadang kepingin punya seekor puppy yang berbulu lebat dan bermata jenaka. Namun karena aku tumbuh dikalangan yang muslim yang jelas mengharamkan air liur anjing, maka ketika tiba2 deketan dengan anjing beneran..eh..self-defence-ku langsung menyeruak..dan aku terbirit menjauh.
Tentu saja ini membuat kaget teman yang mengundangku kerumahnya. Bener, aku ngga bermaksud menyinggung perasaannya, dan dia pun tidak bermaksud membuatku “berdosa”. Anjing adalah anjing, just like other ordinary animal, dan dia bukan makhluk pendosa.Kini aku pun belajar lebih melonggarkan toleransi, meski ini mungkin tidak cocok dengan pendapat orang lain. Ketika ada teman mengundang, dan dia mengatakan punya anjing, maka aku pun membalas sikap manisnya dengan mengatakan bahwa aku ingin berkenalan dengan doggy-nya. Sungguh mereka senang.
Dan aku pun sudah menyiapkan diri dari rumah, dengan celana dan baju lengan panjang. Entah terkena air liur si doggy atau tidak, korbankan saja sedikit tenaga untuk membersihkan diri dan mencuci baju sesuai dengan syariatnya. Apalagi, bebersih yang extra kayak gini, toh tujuan akhirnya juga bagus. Makin bersih, makin bagus, kan? Dan itu juga berbonus “menyenangkan” hati teman yang berusaha menghormati kepercayaan kita.
Tadi pagi ada kejadian kecil yang mengharukan. Ketika aku menaiki escalator menuju Wellington bus station yang bersebelahan dengan Perth Main Station, terlihat di lantai bawah seorang opsir berjalan dengan semangat, bersama seorang wanita yang memeluk lengannya kirinya. Sementara tangan kiri sang wanita menghela tali yang melingkar pada leher anjing Labrador coklat muda.
Apa yang aneh? Tidak ada. Sampai aku sadari kedua orang itu berdiri di belakangku ketika aku sedang mengecek jadwal kedatangan bis yang akan aku tumpangi ke kampus. Aku bergeser sedikit. Si opsir mendekat ke arah jadwal, dan memastikan bahwa bis rute 889 akan datang jam 10 tepat. Beberapa menit lagi. “Aahh..you are a hero. Thank you so much”, wanita itu berucap kegirangan. Si opsir pun berlalu.
Dan aku baru menyadari ternyata wanita ini buta. Dan Labrador coklat itulah mitra-nya. Di belakang leher Labrador tergantung tulisan, terbaca jelas dari jarak 5 meter: Don’t distract me. I’m working. Sesaat kemudian, bis datang, dan si anjing sigap bangkit dari duduknya, dengan PD “menyeret” pemiliknya tepat ke depan pintu, berhenti sebentar di depan sopir agar si pemilik berbicara dan kemudian “menempatkan” tuannya di kursi yang lapang. Bukan main pintarnya.
Seperti warga barat lainnya, orang Australia memang tergila-gila dengan anjing. Hampir di setiap rumah memiliki seekor. Waduh, terus aku gimana, nih…kalo main ke rumah mereka? Sudah pasti si doggy akan menghadang di depan dan menyampaikan “salam.”
Secara pribadi, sebenarnya aku ngga keberatan untuk berdekatan dengan piaraan berkaki empat ini. Malah kadang kepingin punya seekor puppy yang berbulu lebat dan bermata jenaka. Namun karena aku tumbuh dikalangan yang muslim yang jelas mengharamkan air liur anjing, maka ketika tiba2 deketan dengan anjing beneran..eh..self-defence-ku langsung menyeruak..dan aku terbirit menjauh.
Tentu saja ini membuat kaget teman yang mengundangku kerumahnya. Bener, aku ngga bermaksud menyinggung perasaannya, dan dia pun tidak bermaksud membuatku “berdosa”. Anjing adalah anjing, just like other ordinary animal, dan dia bukan makhluk pendosa.Kini aku pun belajar lebih melonggarkan toleransi, meski ini mungkin tidak cocok dengan pendapat orang lain. Ketika ada teman mengundang, dan dia mengatakan punya anjing, maka aku pun membalas sikap manisnya dengan mengatakan bahwa aku ingin berkenalan dengan doggy-nya. Sungguh mereka senang.
Dan aku pun sudah menyiapkan diri dari rumah, dengan celana dan baju lengan panjang. Entah terkena air liur si doggy atau tidak, korbankan saja sedikit tenaga untuk membersihkan diri dan mencuci baju sesuai dengan syariatnya. Apalagi, bebersih yang extra kayak gini, toh tujuan akhirnya juga bagus. Makin bersih, makin bagus, kan? Dan itu juga berbonus “menyenangkan” hati teman yang berusaha menghormati kepercayaan kita.
Tuesday, April 7, 2009
Duka-ku untuk Korban Musibah Fokker 27 di Husein Sastranegara..
Innalillahi wa inna illaihi rajiuun…
Semoga para korban di ampuni dosa dan kesalahan semasa hidupnya, mendapatkan tempat terbaik disisi Allah, dan keluarga yang di tinggalkan tabah menerima musibah ini.
Kematian memang-lah sudah digariskan Gusti Allah. Tapi bolehkah kami, Gusti Allah, meminta kematian yang tidak harus menghancurkan hati mereka yang ditinggalkan?
Aku sendiri ngga sanggup membayangkan bila orang tercinta direnggut, dan tak kan pernah kita lihat lagi derai tawanya..sungguh pedih yang tak terperi. Dan tak seorangpun menginginkannya.
Aku ngga kenal mereka, tapi aku percaya, mereka telah menjadi orang-orang yang terbaik, kebanggaan keluarganya, permata bagi ayah ibunya. Terimalah mereka disisi-Mu, ya Allah.
Semoga para korban di ampuni dosa dan kesalahan semasa hidupnya, mendapatkan tempat terbaik disisi Allah, dan keluarga yang di tinggalkan tabah menerima musibah ini.
Kematian memang-lah sudah digariskan Gusti Allah. Tapi bolehkah kami, Gusti Allah, meminta kematian yang tidak harus menghancurkan hati mereka yang ditinggalkan?
Aku sendiri ngga sanggup membayangkan bila orang tercinta direnggut, dan tak kan pernah kita lihat lagi derai tawanya..sungguh pedih yang tak terperi. Dan tak seorangpun menginginkannya.
Aku ngga kenal mereka, tapi aku percaya, mereka telah menjadi orang-orang yang terbaik, kebanggaan keluarganya, permata bagi ayah ibunya. Terimalah mereka disisi-Mu, ya Allah.
Sunday, April 5, 2009
Yamaha Biru Bapakku
Bapak memang suka dolan, meski hanya dengan mengayuh sepeda, karena motor yang dibeli dalam kondisi gres – untuk pertama kalinya dalam sejarah keluargaku – baru masuk ke putaran perjalanan tanggal 31 Mei 1981. Senin Wage. Ini aku ingat betul, karena saking senengnya punya motor bebek baru, Yamaha V 81, aku menulis hari besar kedatangan sepeda motor itu dibalik pintu yang memisahkan rumah tinggal kami dengan kandang ayam dengan menggunakan kapur tulis putih! Tulisan itu tertinggal disana selama 26 tahun, sampai akhir 2007, saat pintu dibongkar karena dibangun dinding kamar mandi. Meski demikian, semua kakak adikku ingat catatan penting ini.
Aku ngga tahu berapa harga motor itu. Mestinya sangat mahal untuk bapak ibukku, karena mereka menjaganya bak benda pusaka. Itulah kenapa setiap sore menjelang malam, motor masuk peraduannya: dibelakang gebyok dalam rumah, dan rodanya di rantai. Membayangkan ada maling menyusup malam2, menidurkan seisi rumah dengan ilmu sirep, dan menggondol Yamaha V 81 adalah kengerian yang paling dahsyat! Membayangkan saja sudah bikin seluruh persendian ngilu, gemetar serasa mau copot!
Trus, apa saja yang sudah dijalani si motor pujaan hati? Multi fungsi! Jelas, motor itu mengantar Bapak ke tempat mengajarnya di SD Ngrombo 1 yang berjarak 20 kilo dari rumah. Biasanya, adikku yang saat itu masih kecil banget akan berlari keluar begitu mendengar suara derum motor bapak di kejauhan ketika siang hari Bapak pulang mengajar. Karena halaman cukup luas dan sudah diplester, maka adikku akan mencegat motor dihalaman, naik di boncengan, dan Bapak akan memutari pelataran sebelum membawa motor naik ke teras rumah.
Motor itu juga yang mengantar Bapak kesawah, mengunjungi keluarga, antar jemput siapa saja, bahkan sesekali dipinjam tetangga atau kerabat. Dan, setiap jumat sore motor itu dikendarai Bapak, dengan mengangkut accu besar dibelakang – dan aku yang memegangi accu – menuju kios yang melayani “stroom accu” di Delanggu, 15 menit perjalanan dari rumah. Kenapa? Yah, karena TV Sharp hitam putih di rumah Mbah kan hanya bisa menyala dengan tenaga accu – karena belum ada listrik - dan agar si Mbah dan tetangga bisa menikmati tontonan Ketoprak tradisional dengan jelas – tanpa gambar yang meliuk ataupun warna kelabu memudar, maka kekuatan accu harus terjamin. 2 hari setelah diantrikan untuk di stroom, accu dijemput pulang. Dengan Yamaha V 81 tentu saja, dan si Mbah sudah sumringah menunggu accu dirumah. Tetangga pun ikut bahagia dan tersenyum lega.
Ketika panen padi tiba, dan saat itu belum ada mesin perontok bulir padi, motor mengambil alih pekerjaan. Tangkai padi dikeluarkan dari karung-karung, diserakkan dihalaman membentuk lingkaran besar dan Yamaha V81 itulah yang menggilas lingkaran, menyisakan tumpukan merang batang padi yang sudah bersih dari bulirnya.
Sampai kini motor itu masih berfungsi, meski ibarat manusia, di usia renta dia didera banyak penyakit…mulai dari busi ngadat, starter macet, rantai patah, kabel gas putus, lampu mati, spion pecah ataupun bunyi kelotokan yang entah dimana sumbernya. Bapak tetap setia, namun semakin susah payah menggenjot pedal starternya, karena hampir tidak mungkin menghidupkan motor dengan 4 atau 5 hentakan starter. Itupun tangan harus sigap memutar handle gas. Alhasil, motor meraung hebat persis anak muda berkampanye..
ps: aku coba googling image Yamaha V81...ternyata ga ada! udah di-loakin semua kalee...
Aku ngga tahu berapa harga motor itu. Mestinya sangat mahal untuk bapak ibukku, karena mereka menjaganya bak benda pusaka. Itulah kenapa setiap sore menjelang malam, motor masuk peraduannya: dibelakang gebyok dalam rumah, dan rodanya di rantai. Membayangkan ada maling menyusup malam2, menidurkan seisi rumah dengan ilmu sirep, dan menggondol Yamaha V 81 adalah kengerian yang paling dahsyat! Membayangkan saja sudah bikin seluruh persendian ngilu, gemetar serasa mau copot!
Trus, apa saja yang sudah dijalani si motor pujaan hati? Multi fungsi! Jelas, motor itu mengantar Bapak ke tempat mengajarnya di SD Ngrombo 1 yang berjarak 20 kilo dari rumah. Biasanya, adikku yang saat itu masih kecil banget akan berlari keluar begitu mendengar suara derum motor bapak di kejauhan ketika siang hari Bapak pulang mengajar. Karena halaman cukup luas dan sudah diplester, maka adikku akan mencegat motor dihalaman, naik di boncengan, dan Bapak akan memutari pelataran sebelum membawa motor naik ke teras rumah.
Motor itu juga yang mengantar Bapak kesawah, mengunjungi keluarga, antar jemput siapa saja, bahkan sesekali dipinjam tetangga atau kerabat. Dan, setiap jumat sore motor itu dikendarai Bapak, dengan mengangkut accu besar dibelakang – dan aku yang memegangi accu – menuju kios yang melayani “stroom accu” di Delanggu, 15 menit perjalanan dari rumah. Kenapa? Yah, karena TV Sharp hitam putih di rumah Mbah kan hanya bisa menyala dengan tenaga accu – karena belum ada listrik - dan agar si Mbah dan tetangga bisa menikmati tontonan Ketoprak tradisional dengan jelas – tanpa gambar yang meliuk ataupun warna kelabu memudar, maka kekuatan accu harus terjamin. 2 hari setelah diantrikan untuk di stroom, accu dijemput pulang. Dengan Yamaha V 81 tentu saja, dan si Mbah sudah sumringah menunggu accu dirumah. Tetangga pun ikut bahagia dan tersenyum lega.
Ketika panen padi tiba, dan saat itu belum ada mesin perontok bulir padi, motor mengambil alih pekerjaan. Tangkai padi dikeluarkan dari karung-karung, diserakkan dihalaman membentuk lingkaran besar dan Yamaha V81 itulah yang menggilas lingkaran, menyisakan tumpukan merang batang padi yang sudah bersih dari bulirnya.
Sampai kini motor itu masih berfungsi, meski ibarat manusia, di usia renta dia didera banyak penyakit…mulai dari busi ngadat, starter macet, rantai patah, kabel gas putus, lampu mati, spion pecah ataupun bunyi kelotokan yang entah dimana sumbernya. Bapak tetap setia, namun semakin susah payah menggenjot pedal starternya, karena hampir tidak mungkin menghidupkan motor dengan 4 atau 5 hentakan starter. Itupun tangan harus sigap memutar handle gas. Alhasil, motor meraung hebat persis anak muda berkampanye..
ps: aku coba googling image Yamaha V81...ternyata ga ada! udah di-loakin semua kalee...
Friday, April 3, 2009
Elok nian Sindoro Sumbing..
Gara2 komporan teman tentang menawannya liku Kledung Pass Temanggung - Wonosobo maka saya menggeret Chong Nim, Chinese Language Consultant kampus, yang anak istri mertua kemenakannya ber-10 dari Singapore mau nggrudug Yogya Desember nanti.
Dengan mengucap basmallah, kita niatin deh naik ke Ketep dan Kledung-Temanggung dengan angkutan umum. Angkutan umum, boww...Itulah kenapa ga satu pun teman kantor yang melirik rencana saya. Sempat terpikir minta antar driver kampus aja..tapi, haiyah..mereka kan juga butuh libur.
Pikir saya, wah, paket 12 jam pp deh..mudah2an nyampe..ga nyampe tujuan pun, ga apa. Niat memang mo ajarin Chong Nim pake bis kok..hehehe..
Kabut masih pekat ketika jam 7 pagi kami melaju sepanjang ringroad barat menuju sub terminal Jombor diujung utara Yogya. Tak perlu lama menunggu, setelah menitip kendaraan, kondektur bis ekonomi jurusan Yogya Semarang sigap menggiring calon penumpang..wah, ga kalah dengan keneknya, si supir juga heboh nyetel Ari Lasso..(weh, jadi inget si mas mantan yang ngefans banget sama si Ari Lasso..)
Nuruti sms teman malam sebelumnya, kami punya 2 pilihan : turun terminal Muntilan, ganti angkudes arah Tlatar sejauh 10 km dan kemudian ganti lagi angkudes warna pink (pink...!! bener) untuk naik ke Ketep. Atau, dari jalan YK-Semarang turun stasiun Blabak, trus ambil angkudes kuning ke Tlatar, 11 km (nurut plang penunjuk jalan seh..), baru ganti dengan si miss pink ke Ketep. Tlatar Ketep sih cuma 5 km.
Secara Muntilan – Tlatar jalan lagi hancur (tahun lalu juga sudah babak belur ding..) maka saya maksa Chong Nim untuk pesan ke kondektur minta drop di Stasiun Blabak. Terbata-bata dia praktek Bahasa Indonesia dengan Pak Kondektur.
Hasilnya? Kami kebablasan berkil-kilo, sampe hampir nyampe kota Magelang. Bukan salah Chong Nim seh, tapi Kondekturnya kelupaan! Dan saya ngga ngerti stasiun Blabak tu dimana (stasiun kereta, ya?). Later on, meski saya celingukan, tetep aja si stasiun ga ketemu. Walhasil, balik deh kita naik angkot ke ”stasiun Blabak” yang ternyata ga jauh dari Pabrik Kertas Blabak yang namanya saya kenal waktu di SD dulu....
Sungguh menyenangkan naik angkudes ke Tlatar bersama ibu2 yang baru dari pasar. Seorang ibu membawa serinjing penuh belanjaan berisi sawi putih dan selada air yang seikatnya Rp 500 itu. Mereka menyebutnya ”jembak” dan biasa dipakai untuk pecel, urab ataupun lodeh. Chong Nim pun bercerita, dia biasa memasak water crest ini untuk soup. (oh..selada air bisa di sup, to?). Melihat muka saya yang napsu terhadap sayuran segar itu, maka si ibu sebelah pun menyarankan kita untuk mampir di wholesale market sayuran dipasar dekat Tlatar. Next time deh..
Ada juga ibu yang kasih saran agar kami mampir ke Kedungkayang, yang ada air terjun, dan terusin jalan ke Selo. Tapi kalo naik angkudes, harus estafet...hmm..layak dicoba juga suatu hari nanti.
Kira-kira setengah jam kemudian, kami sampai pertigaan Tlatar. Rindang karena ada pohon beringin ditengah jalan. Sudah ada satu Pinky yang nunggu, dan lagi dipel dan di lap sama drivernya. Namanya Mas Tris. Karena pagi cuma sempat ngopi, saya pun mampir ke toko kecil di samping kecamatan, cari coklat batangan sembari menunggu si Mas Tris bebersih dan nunggu penumpang laen. Perut dah mulai kukuruyukkk...Eh, liat rice crisp alias jipang rasa jeruk manis buatan Bu BANDINI Gadingan Banyubiru, saya langsung pindah haluan. Coklat ganti Jipang deh. 1 pak cuma Rp 3000 isi 16 potong dobel. Enam belas potong jipang tebel!!! Rasanya aduhai renyah betul. Dan sedikit manis. (sekarang nyesel deh..kok Cuma beli 1 pak..). Kayaknya produk ini terbatas deh peredarannya. Tapi jipang daerah Magelang Temanggung (ingat waktu KKN dulu) memang layak dipoedjiken. Buliran rice crisp-nya kecil-kecil , padat dan agak mengkilap. Beda dengan jipang warna warni yang sering dijajakakan di pasar malem alun-alun. Buliran berasnya tampak utuh. Tapi begitu digigit..eh..gembos. Rasanya pun ga ada. Sepa.
Berhubung nunggu 15 menit ga ada tanda2 penampakan penumpang lain, Mas Tris tawarkan untuk antar kami berdua dengan sedikit kompensasi: Rp 10.000. Tarif normal per person sih Rp 3000 sahaja. Okee....tariiikkk....si Pinky melaju tenang di aspal. Mas Tris tersenyum bangga penuh cinta pada si angkot yang saya puji ”mulus” ini. Ditengah jalan, seorang Bapak petani tetangga Mas Tris mencegat mobil dan menaikkan beberapa jerigen besar warna biru. Entah apa isinya. Seterusnya, dia asik bercerita dengan Chong Nim yang saya yakin..pasti ga paham. Saya sih asik duduk di depan ngobrolin anaknya Mas Tris yang kelas 4 SD dan tetangganya yang pada suka carter mobilnya ke airport Yogya untuk anterin sodara yang kerja diluar pulau ato luar negeri.
Dus, sampai lah di Ketep. Rame padet singset riuh rendah...yahh...kabut pun menutup seluruh cakrawala. Maka, usai melihat theater selama 20 menit yang berisik saking banyaknya penonton..kami pun meninggalkan Ketep. Catch another pink lady dan meluncur turun ke Tlatar lagi. Kali ini bareng 2 petani yang membawa cabai merah sekarung, tomat segar serinjing dan 2 ikat super besar sawi hijau. Sungguh segar bau sayuran ini. Tomat sekilo Rp 1400, dan sawi hijau Rp 900. Semua mau ke pasar whole sale yang disebut ibu tadi pagi.
Jarum jam pas berhimpit di angka 12 ketika kami sampai di stasiun Blabak lagi. Lunch time. Pas depan stasiun ada warung kecil: Tahu Kupat Blabak. 2 piring penuh tahu kupat pedas sedang...Bukan hanya karena saya kelaparan, tapi Blabak memang Republiknya Tahu Ketupat yang endang bambang...!!! Tahunya lembut, digoreng setengah matang, disajikan bersama ketupat yang dipotong kecil dan kol yang sudah dicelup air panas sebentar. Kuah kecap dan sambal kacangnya sedap betul....2 piring tahu ketupat maknyus, 2 es teh dan 2 kerupuk, total kerusakan hanya Rp 13.000.
Energi naik ke titik tinggi lagi. Tukang parkir membantu mencegat bis Semarangan dan kami numpang sampai terminal Magelang. Target selanjutnya Hotel Kledung Dieng, Jl. Parakan Wonosobo km 17.
Jam 13.05 bus beranjak keluar terminal. Sengaja kami duduk paling depan karena ga mau kebablasan lagi. Sampai di Secang, bus berbelok kiri meninggalkan ruas magelang Semarang, masuk jalur Temanggung. Berarti ke arah barat....wha...kami duduk dibelakang wind shield.Waduh..hot hot hot...Kira2 satu jam kemudian, bus sampai di pasar Parakan. Keranjang bambu berlapis pelepah pisang kering ditumpuk rapi disekitar jalan. Konon Parakan is the biggest tobacco trading di Indonesia.
Tea time at the market. Jadilah sopir bis meninggalkan kami terpanggang menghadap barat dan beliaunya mungkin meneguk es the. Saya nggak berani beranjak, karena bis penuh, juga nggak tahu berapa lama es teh timenya akan berlangsung.
15 menit kemudian bus bergerak.
Wah, pemandangan selepas Parakan tidak boleh dilewatkan. Jalan sempit, bus ngebut tapi pemandangan sungguh menawan meski sebagian dataran menguning karena rumput kering. Sundoro dan Sumbing terlihat berjajar dan bus akan menempuh celah diantaranya. Beberapa kubah masjid berkilau cantik diantara hamparan hijau desa dikejauhan. Chong Nim agak frustasi dengan kameranya kaena sulit meng-capture indah perbukitan itu sementara bus berguncang-guncang mulu. Public bus gheeto lohh...
Hampir jam 3 sore kami menjejak Hotel Parai, Kledung Dieng. Kebablasan lagi. Tapi hanya 100 meter. Keciilll...Dikanan kiri tanaman tembakau dan kentang membentang.
Kalo pemandangan bagusnya kayak gini, kebablasan sekilo pun dengan senang hati di lakoni deh...
Karena gunung ketutup kabut, saya nyamperin FO hotelnya aja. Parai Hotel memang berada pada prime spot, pas ditengah untuk melihat Sumbing dari teras depan dan Sundoro dari teras belakang. Sayangnya, taman disekitar hotel ga terawat. Pergola yang dirambati tanaman pada berantakan...bebungaan juga kurang terurus..ato karena hotel kurang laris ya..? sayang sekali...
Dari gazebo di taman belakang, kita bisa langsung menatap sosok jelita Sundoro, yang merupakan ”suami” si Sumbing. ...eh, kebalik ga ya? Itu yang diterangkan Bapak ramah yang berambut dan berjenggot kelabu..(itukah Pak Agus..? Halo Pak!!).
Naik turun bus beberapa kali ternyata cepet bikin perut laper!
Asiknya, dihalaman depan Parai sudah ada resto yang sajiannya tampak menggiurkan. Lengkap pula macamnya. Buntil, oseng pare yang hijau menawan, tempe tahu dan mendoan, gulai kambing, sop buntut, ca sayuran sampai sate ayam dan kambing semua ada. Tapi karena sudah masuk wilayah Wonosobo, jelas saya minta dibuatkan mie ongklok dengan tempe goreng kemul yang berlapis tepung dan daun bawang. Chong Nim lagi tergila-gila dengan sate. Saya mah ngga tertarik dengan sate jejadian (maksudnya yang udah jadi dan dipajang ginian. Sate ya harus daging mentah dibakar didepan hidung dengan asap bakaran yang aromanya aja bisa bikin nasi sebakul serasa menciut jadi sepiring..)
Mie ongklok datang dengan mangkok ukuran sedeng. Cukup untuk menenangkan perut yang keisi tahu kupat 3 jam sebelumnya. Kuah mie kental, bertabur potongan ayam, bawang merah goreng, kucai dan seledri. Harum dan waktu saya cicip, hmm.. manis sedikit gurih. Sambal hijau yang disertakan mencoba menetralisir rasa manis yang terlalu pekat untuk saya.
Usai menyantap mie ongklok, kami baru menyadari bahwa langit yang berkabut sudah berubah biru benderang. Matahari yang condong ke barat memancar terang kearah puncak Sumbing. Subhanallah.. cantiknya...Chong Nim bergegas mengambil kameranya dan kami menghambur kekebun tembakau persis di seberang jalan...klik..klik...berpacu dengan waktu sebelum mega menutup puncaknya lagi...
Hampir setengah lima sore ketika kami akhirnya meninggalkan Parai Hotel. Berganti bus dua kali, tepat setengah delapan malam kami sampai di Yogya lagi. Nyaris pas 12 jam tour package.
Total Biaya (ber-2):
Yogya – Blabak = Rp 16.000
Blabak – Tlatar = Rp 10.000
Tlatar - Ketep = Rp 10.000 (normalnya @ Rp 3000)
Ketep - Tlatar = Rp 6.000
Tlatar - Blabak = Rp 10.000
Blabak – Magelang = Rp 5.000
Magelang – Kledung = Rp 20.000
Kledung – Secang = Rp 15.000
Secang – Yogya = Rp 20.000
Total biaya angkutan ber-2 = Rp 112.000 + Rp 4000 (angkot balik karena kebablasan)
= Rp 116.000
Tiket theater = Rp 10.000
Tiket museum Ketep = Rp 6.000
Jipang = Rp 3.000
Tahu Kupat = Rp 13.000
Lunch 2 =Rp 25.000
Total makan ber 2 = Rp 57.000
Dengan mengucap basmallah, kita niatin deh naik ke Ketep dan Kledung-Temanggung dengan angkutan umum. Angkutan umum, boww...Itulah kenapa ga satu pun teman kantor yang melirik rencana saya. Sempat terpikir minta antar driver kampus aja..tapi, haiyah..mereka kan juga butuh libur.
Pikir saya, wah, paket 12 jam pp deh..mudah2an nyampe..ga nyampe tujuan pun, ga apa. Niat memang mo ajarin Chong Nim pake bis kok..hehehe..
Kabut masih pekat ketika jam 7 pagi kami melaju sepanjang ringroad barat menuju sub terminal Jombor diujung utara Yogya. Tak perlu lama menunggu, setelah menitip kendaraan, kondektur bis ekonomi jurusan Yogya Semarang sigap menggiring calon penumpang..wah, ga kalah dengan keneknya, si supir juga heboh nyetel Ari Lasso..(weh, jadi inget si mas mantan yang ngefans banget sama si Ari Lasso..)
Nuruti sms teman malam sebelumnya, kami punya 2 pilihan : turun terminal Muntilan, ganti angkudes arah Tlatar sejauh 10 km dan kemudian ganti lagi angkudes warna pink (pink...!! bener) untuk naik ke Ketep. Atau, dari jalan YK-Semarang turun stasiun Blabak, trus ambil angkudes kuning ke Tlatar, 11 km (nurut plang penunjuk jalan seh..), baru ganti dengan si miss pink ke Ketep. Tlatar Ketep sih cuma 5 km.
Secara Muntilan – Tlatar jalan lagi hancur (tahun lalu juga sudah babak belur ding..) maka saya maksa Chong Nim untuk pesan ke kondektur minta drop di Stasiun Blabak. Terbata-bata dia praktek Bahasa Indonesia dengan Pak Kondektur.
Hasilnya? Kami kebablasan berkil-kilo, sampe hampir nyampe kota Magelang. Bukan salah Chong Nim seh, tapi Kondekturnya kelupaan! Dan saya ngga ngerti stasiun Blabak tu dimana (stasiun kereta, ya?). Later on, meski saya celingukan, tetep aja si stasiun ga ketemu. Walhasil, balik deh kita naik angkot ke ”stasiun Blabak” yang ternyata ga jauh dari Pabrik Kertas Blabak yang namanya saya kenal waktu di SD dulu....
Sungguh menyenangkan naik angkudes ke Tlatar bersama ibu2 yang baru dari pasar. Seorang ibu membawa serinjing penuh belanjaan berisi sawi putih dan selada air yang seikatnya Rp 500 itu. Mereka menyebutnya ”jembak” dan biasa dipakai untuk pecel, urab ataupun lodeh. Chong Nim pun bercerita, dia biasa memasak water crest ini untuk soup. (oh..selada air bisa di sup, to?). Melihat muka saya yang napsu terhadap sayuran segar itu, maka si ibu sebelah pun menyarankan kita untuk mampir di wholesale market sayuran dipasar dekat Tlatar. Next time deh..
Ada juga ibu yang kasih saran agar kami mampir ke Kedungkayang, yang ada air terjun, dan terusin jalan ke Selo. Tapi kalo naik angkudes, harus estafet...hmm..layak dicoba juga suatu hari nanti.
Kira-kira setengah jam kemudian, kami sampai pertigaan Tlatar. Rindang karena ada pohon beringin ditengah jalan. Sudah ada satu Pinky yang nunggu, dan lagi dipel dan di lap sama drivernya. Namanya Mas Tris. Karena pagi cuma sempat ngopi, saya pun mampir ke toko kecil di samping kecamatan, cari coklat batangan sembari menunggu si Mas Tris bebersih dan nunggu penumpang laen. Perut dah mulai kukuruyukkk...Eh, liat rice crisp alias jipang rasa jeruk manis buatan Bu BANDINI Gadingan Banyubiru, saya langsung pindah haluan. Coklat ganti Jipang deh. 1 pak cuma Rp 3000 isi 16 potong dobel. Enam belas potong jipang tebel!!! Rasanya aduhai renyah betul. Dan sedikit manis. (sekarang nyesel deh..kok Cuma beli 1 pak..). Kayaknya produk ini terbatas deh peredarannya. Tapi jipang daerah Magelang Temanggung (ingat waktu KKN dulu) memang layak dipoedjiken. Buliran rice crisp-nya kecil-kecil , padat dan agak mengkilap. Beda dengan jipang warna warni yang sering dijajakakan di pasar malem alun-alun. Buliran berasnya tampak utuh. Tapi begitu digigit..eh..gembos. Rasanya pun ga ada. Sepa.
Berhubung nunggu 15 menit ga ada tanda2 penampakan penumpang lain, Mas Tris tawarkan untuk antar kami berdua dengan sedikit kompensasi: Rp 10.000. Tarif normal per person sih Rp 3000 sahaja. Okee....tariiikkk....si Pinky melaju tenang di aspal. Mas Tris tersenyum bangga penuh cinta pada si angkot yang saya puji ”mulus” ini. Ditengah jalan, seorang Bapak petani tetangga Mas Tris mencegat mobil dan menaikkan beberapa jerigen besar warna biru. Entah apa isinya. Seterusnya, dia asik bercerita dengan Chong Nim yang saya yakin..pasti ga paham. Saya sih asik duduk di depan ngobrolin anaknya Mas Tris yang kelas 4 SD dan tetangganya yang pada suka carter mobilnya ke airport Yogya untuk anterin sodara yang kerja diluar pulau ato luar negeri.
Dus, sampai lah di Ketep. Rame padet singset riuh rendah...yahh...kabut pun menutup seluruh cakrawala. Maka, usai melihat theater selama 20 menit yang berisik saking banyaknya penonton..kami pun meninggalkan Ketep. Catch another pink lady dan meluncur turun ke Tlatar lagi. Kali ini bareng 2 petani yang membawa cabai merah sekarung, tomat segar serinjing dan 2 ikat super besar sawi hijau. Sungguh segar bau sayuran ini. Tomat sekilo Rp 1400, dan sawi hijau Rp 900. Semua mau ke pasar whole sale yang disebut ibu tadi pagi.
Jarum jam pas berhimpit di angka 12 ketika kami sampai di stasiun Blabak lagi. Lunch time. Pas depan stasiun ada warung kecil: Tahu Kupat Blabak. 2 piring penuh tahu kupat pedas sedang...Bukan hanya karena saya kelaparan, tapi Blabak memang Republiknya Tahu Ketupat yang endang bambang...!!! Tahunya lembut, digoreng setengah matang, disajikan bersama ketupat yang dipotong kecil dan kol yang sudah dicelup air panas sebentar. Kuah kecap dan sambal kacangnya sedap betul....2 piring tahu ketupat maknyus, 2 es teh dan 2 kerupuk, total kerusakan hanya Rp 13.000.
Energi naik ke titik tinggi lagi. Tukang parkir membantu mencegat bis Semarangan dan kami numpang sampai terminal Magelang. Target selanjutnya Hotel Kledung Dieng, Jl. Parakan Wonosobo km 17.
Jam 13.05 bus beranjak keluar terminal. Sengaja kami duduk paling depan karena ga mau kebablasan lagi. Sampai di Secang, bus berbelok kiri meninggalkan ruas magelang Semarang, masuk jalur Temanggung. Berarti ke arah barat....wha...kami duduk dibelakang wind shield.Waduh..hot hot hot...Kira2 satu jam kemudian, bus sampai di pasar Parakan. Keranjang bambu berlapis pelepah pisang kering ditumpuk rapi disekitar jalan. Konon Parakan is the biggest tobacco trading di Indonesia.
Tea time at the market. Jadilah sopir bis meninggalkan kami terpanggang menghadap barat dan beliaunya mungkin meneguk es the. Saya nggak berani beranjak, karena bis penuh, juga nggak tahu berapa lama es teh timenya akan berlangsung.
15 menit kemudian bus bergerak.
Wah, pemandangan selepas Parakan tidak boleh dilewatkan. Jalan sempit, bus ngebut tapi pemandangan sungguh menawan meski sebagian dataran menguning karena rumput kering. Sundoro dan Sumbing terlihat berjajar dan bus akan menempuh celah diantaranya. Beberapa kubah masjid berkilau cantik diantara hamparan hijau desa dikejauhan. Chong Nim agak frustasi dengan kameranya kaena sulit meng-capture indah perbukitan itu sementara bus berguncang-guncang mulu. Public bus gheeto lohh...
Hampir jam 3 sore kami menjejak Hotel Parai, Kledung Dieng. Kebablasan lagi. Tapi hanya 100 meter. Keciilll...Dikanan kiri tanaman tembakau dan kentang membentang.
Kalo pemandangan bagusnya kayak gini, kebablasan sekilo pun dengan senang hati di lakoni deh...
Karena gunung ketutup kabut, saya nyamperin FO hotelnya aja. Parai Hotel memang berada pada prime spot, pas ditengah untuk melihat Sumbing dari teras depan dan Sundoro dari teras belakang. Sayangnya, taman disekitar hotel ga terawat. Pergola yang dirambati tanaman pada berantakan...bebungaan juga kurang terurus..ato karena hotel kurang laris ya..? sayang sekali...
Dari gazebo di taman belakang, kita bisa langsung menatap sosok jelita Sundoro, yang merupakan ”suami” si Sumbing. ...eh, kebalik ga ya? Itu yang diterangkan Bapak ramah yang berambut dan berjenggot kelabu..(itukah Pak Agus..? Halo Pak!!).
Naik turun bus beberapa kali ternyata cepet bikin perut laper!
Asiknya, dihalaman depan Parai sudah ada resto yang sajiannya tampak menggiurkan. Lengkap pula macamnya. Buntil, oseng pare yang hijau menawan, tempe tahu dan mendoan, gulai kambing, sop buntut, ca sayuran sampai sate ayam dan kambing semua ada. Tapi karena sudah masuk wilayah Wonosobo, jelas saya minta dibuatkan mie ongklok dengan tempe goreng kemul yang berlapis tepung dan daun bawang. Chong Nim lagi tergila-gila dengan sate. Saya mah ngga tertarik dengan sate jejadian (maksudnya yang udah jadi dan dipajang ginian. Sate ya harus daging mentah dibakar didepan hidung dengan asap bakaran yang aromanya aja bisa bikin nasi sebakul serasa menciut jadi sepiring..)
Mie ongklok datang dengan mangkok ukuran sedeng. Cukup untuk menenangkan perut yang keisi tahu kupat 3 jam sebelumnya. Kuah mie kental, bertabur potongan ayam, bawang merah goreng, kucai dan seledri. Harum dan waktu saya cicip, hmm.. manis sedikit gurih. Sambal hijau yang disertakan mencoba menetralisir rasa manis yang terlalu pekat untuk saya.
Usai menyantap mie ongklok, kami baru menyadari bahwa langit yang berkabut sudah berubah biru benderang. Matahari yang condong ke barat memancar terang kearah puncak Sumbing. Subhanallah.. cantiknya...Chong Nim bergegas mengambil kameranya dan kami menghambur kekebun tembakau persis di seberang jalan...klik..klik...berpacu dengan waktu sebelum mega menutup puncaknya lagi...
Hampir setengah lima sore ketika kami akhirnya meninggalkan Parai Hotel. Berganti bus dua kali, tepat setengah delapan malam kami sampai di Yogya lagi. Nyaris pas 12 jam tour package.
Total Biaya (ber-2):
Yogya – Blabak = Rp 16.000
Blabak – Tlatar = Rp 10.000
Tlatar - Ketep = Rp 10.000 (normalnya @ Rp 3000)
Ketep - Tlatar = Rp 6.000
Tlatar - Blabak = Rp 10.000
Blabak – Magelang = Rp 5.000
Magelang – Kledung = Rp 20.000
Kledung – Secang = Rp 15.000
Secang – Yogya = Rp 20.000
Total biaya angkutan ber-2 = Rp 112.000 + Rp 4000 (angkot balik karena kebablasan)
= Rp 116.000
Tiket theater = Rp 10.000
Tiket museum Ketep = Rp 6.000
Jipang = Rp 3.000
Tahu Kupat = Rp 13.000
Lunch 2 =Rp 25.000
Total makan ber 2 = Rp 57.000
Sculpture on the Walk
Hari ini aku ada janji dengan June Lowe untuk melihat pameran seni patung modern Sculpture on the Walk. “Kamu naik kereta dari Perth Station platform 2, dan turun di Murdoch station yaa. Kereta berangkat jam 5.25 dan sampai di Murdoch st. jam 5.42. Aku dan Giz jemput jam 5.45 pm. Pembukaan jam 6 tepat.” pesan June melalui email minggu lalu.
Karena tidak ingin ketinggalan bus, maka aku bersiap jauh lebih awal. Meski transportasi di Perth secara umum sangat nyaman, tetapi hari Sabtu, Minggu dan juga public holidays selalu menyisakan kerepotan bagi orang yang hanya mengandalkan kendaraan umum seperti aku. Jumlah bus yang beroperasi sangat terbatas, dan waktu yang tertera di lembaran jadwal bus sering tidak di tepati karena laju bus juga sangat tergantung dari jumlah penumpang yang naik atau turun. Alhasil, aku pun harus mencatat betul jam berapa bis rute 21 akan lewat di stand dekat rumah, dan “berhasil” tiba di stasiun Perth jam 16. 15. Hm..”agak kepagian nih..,” dalam hati membatin.
Masih ada waktu sekitar 1 jam lebih untuk dihabiskan ditengah kota, di ruang lapang antara Commonwealth Building yang anggun dan Myers serta mall yang menderet barang-barang cantik dan mahal di pajangan. Jarum jam beringsut malas. Maklum, hari Minggu. Meski Perth sudah memasuki akhir musim panas, tetapi udara masih terasa sangat hangat. Gelap baru menebar di sekitar pukul 20.10.
Kafe dan coffee shop disekitar tampak di penuhi wajah-wajah elok yang bertukar cerita riang dengan pasangan ataupun sahabat sambil sesekali menyesap kopi dari cangkir. Harum cappucino mengambang ringan di udara. Burung-burung berkelebat, sesekali terbang rendah diantara lalu lalang pejalan kaki, dan hinggap di bangku-bangku yang tidak di duduki. Dan aku pun ikut larut bersama sebagian warga, yang menanti sore dengan sebuah novel paperback di tangan meski sebagian lainnya memilih untuk menghambur ke riuh music Latin di sisi lain gedung. Tak terasa..waktu akhirnya bergulir juga. Kereta berangkat 10 menit lagi.
Dimana ya, pamerannya?? Aku buka catatan kecil dari email terakhir yang June kirim. Oo..ini dia, City of Melville sedikit diluar jantung kota Perth.
Perth mungkin hampir mengejar beberapa kota Asia dalam hal kemacetan. Mobil dan bus, Jumat sore 13 Maret, merayap pelan. Wah, untung aku naik kereta. Anti macet…Jadi, tepat seperti instruksi June, 15 menit sebelum pukul 6 sore, aku duduk tenang menunggu Jun dan Giz, wanita politisi dari Partai Lingkungan. Angin menderu kencang di luar stasiun. Kaki-kaki melangkah bergegas – setengah berlari, memburu bis yang akan membawa penumpang pulang. Matahari sore masih bersinar cerah.
Ketika kami, June, Giz dan aku, sampai di park, pameran sedang dibuka oleh ibu walikota Melville. Acara pembukaan dipusatkan disisi danau. Beberapa botol anggur, beer, juga sirup apel berjajar dimeja dibawah rimbun cemara. Usai sambutan, pramusaji berkeliling menawarkan berbagai canapé dan snack. Fish fingers dengan mayonnaise dip, vegetarian spring roll dan samosa mini dengan saus asam manis serta bola cumi yang masih hangat menjadi santapan laris. Ketika aku mengambil sepotong spring roll dan mencelupkannya dalam mayonnaise dip, pramusaji tertawa dan berkomentar bahwa hari ini semua orang salah kaprah: spring rolls dicelup ke mayonnaise dan bola cumi di celup ke sweet chilli sauce. Hehehe… Dimeja-meja berselimut taplak hitam tersedia beberapa salad yang berisi potongan celery, Lebanese cucumber, capsicum dan beberapa macam sayur lain yang tidak aku tahu namanya.
Salah satu seniman pematung kontemporer itu adalah Gemma Stacey, yang merupakan sahabat Giz dan June. Sculpture karya-nya berjudul Lizzy, yang menyerupai kerangka kadal besar yang terbuat dari per truk dan jajaran mata bajak yang dibentuk menjadi ekor! Sangat unik. Karya Gemma tidak dijual karena akan dihadiahkan pada sahabatnya yang berulang tahun dalam waktu dekat. Namun beberapa karya yang memang akan dijual ataupun dilelang, di cantumkan harga yang bervariasi, mulai dari 800 sampai dengan 10.000 AUD, yang setara lebih dari 75 juta rupiah
Meski aku bukan pemerhati atau pun penikmat seni yang mampu memberikan apresiasi yang memadai, namun menikmati karya ditengah taman yang indah dan danau kecil ditengahnya, membuat sore cerah di akhir musim panas ini terasa sangat sempurna. Pukul 7, ketika matahari mulai beranjak jingga, bayang pepohonan tampak lembut memanjang jatuh di tanah. Bias warna hitam bayangannya, serta cahaya keemasan matahari sore berpadu kontras dengan hijau rerumputan. Indah dan tenang sekali. Pengunjung pameran berjalan pelan, bergerombol dan saling menyapa dengan suara rendah membincangkan dan memuji karya seni, dan harga, yang dipajang si empunya.
Musik dengan irama folk song juga ikut memeriahkan pembukaan pameran. Tiga pria dengan kostum putih yang bersulam benang warna warni dileher dan ujung lengan khas Eropa Timur mendendangkan musik rancak lewat dawai biola, flute, akordeon dan “hurdy gurdy” atau yang di sebut sebagai “rue la vie (?)”. Sangat unik, karena bentuknya seperti biola dengan leher pendek, tetapi alih-alih di gesek, dawai dimainkan dengan dipetik serta ada semacam pedal yang di putar di ujung “perut” biola. Keberadaan hurdy gurdy ini konon sudah merentang panjang dari abad 11. Instrument ini jarang muncul dalam permainan music, meski masih banyak dimainkan di pedesaan di Perancis.
Tak terasa jam bergulir menunjuk angka 8.30. Gelap mulai merambat, menyisakan saputan lembayung yang berkilau dipermukaan danau..Dan kami pun sekilas memeluk Gemma, membisikkkan selamat tinggal, dan mengucap salut kekaguman atas indah karyanya….
3 Minggu Pertama di Perth
The final thing I really regretted on the last minute I left Yogya adalah tidak kepikiran untuk membeli HP baru untuk mengganti edisi C55 yang udah soak banget batrenya. Sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa enggan beli HP baru. I thought that it will stay a bit longer, nah..ntar setelah sampai Perth, dan sedikit kumpulin uang, aku bisa beli HP baru yang sedikit mewah-lah. Masa seumur hidup HP Cuma C 25 dan C 55.
I was a bit thrifty dengan cara yang aneh. I just could not put the right things into higher priority as what always came across my mind was that I had to bring as much cash as possible on hand and avoid spending money unless for the very basic things that I could not live without. I simply thought that a mobile phone was not that important in the upcoming life cycle in Perth, but then I soon realize that it was really a stupid decision made by me since the HP connection could in fact easily affect my emotional status! I didn’t realize that I have put my life on a stupid gadget named Mobile Phone!
And it turned out that the next nightmare came so early. The airplane landed in Bali at 10 pm; meant that I had to wait the next one to Perth for 4 hours. What a boring thing to do. Bali was raining at the moment, and I was desperately strolling around looking for any public telephone I could use to contact anybody in Yogya, or in Jakarta. Ehm! It was really frustrating when I was stranded in the airport due to the flight delays, and what made it worse was that it happened on BOTH flights: Jogja – Bali with an hour delay, and Bali – Perth for another hour. I could not text anybody untuk ngilangin suntuk. Padahal di ujung Tangerang sana tuh..ada yang kelimpungan ga bisa tidur semalaman! Belakangan reportnya gitu sih… ngga tahu aslinya....
Usaha yang sia-sia tentu saja. Karena udah capek muter airport, jam 11 malam aku urusin check in, tarik koper kabin dan gendong laptop kayak ulet bantal, trus ke counter imigrasi untuk bayar fiscal yang ternyata…ehhh..gratis karena kartu sakti NPWP. Hebat ya. Kalo ngga gratis 2,5 juta je. Jadi sangu cash yang sejuta, masuk kantong lagi. Alhamdulillah.
Pusing liat orang hilir mudik, aku masuk ruang tunggu di gate berapa ngga tahu, yang jelas isinya orang Korea segala rupa. Karena liat beberapa bule di tempat yang agak jauh pada tiduran, gw ikut nekuk leher. Lama2 capek juga..kaki naik kursi..trus tengkurap deh. Tapi mana bisa tidur, orang berisik minta ampun. Sekitar jam 1 malam, orang2 Koreanya dah pada pergi. Ehh..ada pengumuman, pesawat ke Perth ditunda 1 jam, jadi fly jam 3 pagi. Duh..tambah boseeen dari ujung rambut sampe ujung kaki. Jadi merem lagi deh..eh, tahu-tahu..”Excuse, me..Are you waiting for the flight to Perth? We should move to the waiting room. Well, sorry to disturb you, but I am afraid that I you might miss the flight later..” 2 cewek bule yang habis surfing bangunin. Astagaaa…!!! Aku bener ketiduran!!! Sekitar udah sepiiii..Gosh! Untung aja dibangunin. Kalo enggak, haa…ngga kebayang deh. Kan ngga lucu kalo udah berjam-jam terdampar di Bali, akhirnya ketinggalan pesawat ke Perth. Duh…
On board.
Duluuu aku excited banget pengin ngerti kayak apa di dalam pesawat. Setelah tahu…ohh..ternyata naik kereta, atau bahkan bus-untuk jarak pendek, ternyata jaauuhhh lebih mengasyikkan. Bau pengap khas kabin pesawat menyergap. Begitulah. Jam 3 pagi pesawat mulai bergerak, dan take off mulus. Setelah mencapai ketinggian jelajah, 39.000 feet, supper keluar. Aneh juga, makan jam 03.30 pagi di pesawat. Kayak sahur aja. Jus jeruk, beef kwetiauw, sepotong cake, coklat kitkat kecil dan buah sekedarnya. Usai mealt time, flight attendant bagikan walkman kalo ada yang mau denger music atopun denger suara film di TV kecil yang nempel di sekat atas. Ngga napsu. Merem. Ngelamun ajalah…3,5 hours of flying, lebih awal 1 jam dari Bali, 2 jam dari Jakarta.
PERTH
Sabtu, 17 January 2009 jam 07.30 mendarat di Perth. Hati terasa sunyi. Here I come. Dengan menyeret koper sana sini, sampai di counter pemeriksaan, semua bawaan di buka. Meski ga bawa barang yang dilarang – kerajinan dengan biji2an, pelepah pisang, makanan tanpa pengemasan a la pabrik dll - selalu aja terasa keder dan merasa terintimidasi. Seperti ketika ada razia pengendara kendaraan oleh polisi, tetep aja kaget meski semua surat dan kondisi kendaraan lengkap. “This is only a random sampling checking”, si ibu officer bilang. Ah ah..kenapa harus aku yang kena random sampling? Ketika koper besar dibuka…o..oo…frame foto aku dan Mas di PH pecah. Beberapa serpihan kaca menggores foto. Aduh..duhh..duh. Mungkin karena koper dilempar2 di bagasi, dan aku Cuma melapisinya dengan baju-baju. Yahh..officer ngasih kantong plastic agar pecahan kaca ngga berantakan aja.
Keluar bandara dijemput Aris dan anak2, Hasna (11th) dan Nafi (8th). Perasaan asing masih melingkupi hati. Mungkin karena aku datang di musim yang salah, Perth tampak sangat kering, gersang dan tandus. Lain ketika aku ke Sydney yang dulu. Meski was was, tapi Sydney kelihatan sangat cantik di awal Oktober.
Aris dan Rumi baik sekali. Aris ada di Perth dari akhir 2004, ambil Ph.D untuk Teknik Mesin, dan Rumi mulai Januari 2007 ambil Ph.D untuk Food Technology. Aris dosen TM UMY dan istrinya di Farmasi UGM, keduanya kuliah di Curtin Uni of Technology. They treat me like an old friend. Kamar Hasna aku jajah. Kebetulan anak2 libur. Sarapan hari pertama, nasi goreng. Hmm…sorenya Pak Darisman, juga dari TM UMY dan Ph.D Curtin, sekeluarga dengan 2 Ibu dari Palembang datang. Reriungan bahas masalah bisnis tempe industry yag dijalanin bu Darisman. Tempe plastikan yang di Yogya Rp 1500 dijual di Perth 3 dollar (Rp 22.500). Laris manis. Dan karena Bu Darisman dan anak2 go back to Indo for good per 3 Pebruari 2009, maka customers pada minta stock tempe sebanyak2nya. Bu Dar is an amateur tempe maker. Ketika mo ikut suaminya ke Perth, dia dadakan kursus bikin tempe ma mbah2 dekat rumah. Ternyata malah bisa jadi sumber dana utama buat S3nya Pak Dar kalo beasiswa telat!!
Udara panas menyengat, tapi kalo diluar rumah, angin selalu kencang. Suhu 30an, meski sehari sebelumnya sempat menanjak ke 42 degree. Matahari terik. Mata mulai sakit karena nahan silau, dan ngga punya sunglasses. Bodonya lagi, di Indo ngga kepikiran beli kacamata minus yang kacanya bisa berubah gelap kalo ada di luar ruang. Ah…
Meski ngga seberapa jauh beda panas dengan di Yogya, rupanya tubuh perlu some more time untuk penyesuaian. Perut sebah dan rasa capek
terus2an menyerang. Hasilnya adalah badan lemes, perut terasa penuh tapi lapar dan ngga bisa BAB. Haha..tapi setelah 3 hari things were back to normal. Cuma selera makan belum sepenuhnya pulih.
Hari ke 3 di Aris, Senin pagi, aku mulai ke kampus, urus segala keperluan, registrasi, dan belajar naik bus. Gagap dan sibuk nanya sana sini. Sore janjian ketemu bu Sulfa, dosen UM Makasar yang 6 bulan lalu mulai program Ph.D di ECU. Ini hal yang biasanya paling sulit. Dengan sistem baru, yang sebenarnya jauh lebih convenient, kita malah geragapan karena ngga ngerti harus gimana. Juga panic karena kalo naik bis jalur berapa, lewat mana, turun mana. Ada peta jalur yang akan dilalui bus, tapi kalo kita ngga ngerti jalan sama sekali, peta means nothing. Street Directory should be the new Bible of anybody, and I dint have the idea of how using it. So, I just told the driver where to get off, da ternyata salah!! Terpaksa bu Sulfa muter nyari sana sini. Hehehe..
5 hari di Aris untuk urus beberapa hal admin yang mendasar mengingat rumahnya yang relative dekat dengan city, hari Kamis pindah ke rumah Willy di Midvale – Midland. Haiyaahh..jauh..Untuk ke kampus, naik bis dulu dari depan rumah ke Midland train station (15 menit), trus sambung kereta ke Perth Main Station (25 menit), sambung jalan ke Wellington Bus Station (10 menit) dan terakhir, naik bus 886, 887 ato 889 ke ECU Mt. Lawley (20) menit. Sebenarnya Pak Kees pernah ingetin tentang jarak yang jauh, tapi waktu itu aku pikir I will be able to manage it.
It’s nice berada di rumah Willy. Sangat bersih dan rapi. Bak display museum. Willy lives alone. She got 3 children and all are living in their own houses. 2 has got married and the youngest one remains single.
Perfect, right? Tapi ternyata jarak yang jauh bikin kelelahan juga untuk pulang pergi. Living with Willy enabled me to enjoy lots of things Australian usually do; strolling along the streets and park every morning with the dog Milly, having meals in very typical Australian style, watching Australian Open almost every night and of course, improving English proficiency. Mana Willy gratiskan akomodasi dan makan! Even, dia sudah siapkan amunisi dengan segala macam bumbu Asia sachetan. Juga ada rice cooker.
Tapi setelah ditimbang-timbang jaraknya yang jauh, dan resiko kuliah yang selesai 20.30 malam, apalagi ternyata semua kuliahku sore (!) aku putuskan cari room yang lebih dekat. Hari jumat ke kampus, ada banyak iklan. Catat no telponnya dong. Senin pagi aku telpon pemilik, namanya Twee yang mau sewakan 2 kamar all in. Fully furnished and the fee includes gas, water and electricity. No internet. The other number that I contacted namanya Jenny. Internation Students Accomodation. Selasa sore boleh visit tempatnya.
Rencananya sih, making an appointment to see the house some time on Monday or Tue, tapi Twee kerja sampai malam. Malah dia tawarkan saat itu juga untuk jemput aku dan bu Sulfa, karena it was public Holiday.
So, here am I now. Meski sewa sedikit lebih tinggi dari yang lain (110 – 140) dan aku discharge 150/week all ini, yah..not bad lah. Apalagi Twee, imigran Vietnam yang seusia tante, bukan tipe orang yang sulit diajak kompromi. Dia cenderung empathetic meski lebih sering ugal-ugalan (hehe). Hidup keras yang dihadapi Twee sejak kanak2 dan masa lalu yang sulit membentuk karakter Twee yang cenderung temperamental. So far, seminggu di sini, aku merasa kerasan aja. Yang jelas terasa, she is longing for a family life. Mungkin itu value yang hilang, dan tidak bisa dapatkan lagi. Dia Cuma tinggal berdua dengan Kinh (19th) anak cowok dari pernikahannya yang pertama. Migrated ke Australia 12 tahun lalu, Twee kerja apa saja tanpa bekal bahasa maupun pendidikan yang memadai. Mulai dari cleaning service sampai butuh tambang dijalani. Kerja kerasnya bertahun-tahun bisa diwujudkan rumah. Sekarang Twee kerja di toko donat franchise Amerika di domestic airport Perth. Jadi tiap hari Twee pulang bawa donut! Sampai aku bosen makannya. Padahal kalo di airport, donat dan kopi bisa sampai 7 dollar. Hehehe…
Trips
Thanks to Bu Wendy dan pak Kees yang sudah arrange banyak sekali hal untuk membuat aku merasa comfortable di Perth. Begitu datang, teman2 Bu Wendy dan Pak Kees rang Aris dan Willy, tawarkan ketemu, undang kerumah, atau jalan jalan lihat kota Perth.
Tawaran pertama yang aku ambil, trip ke King’s Park dan Fremantle dengan Caroline. King’s Park ada disisi Swan River, sungai utama yang membelah South dan North Perth, dan dibagian tepi sungai yang paling dekat, dibangun jembatan Narrow Bridge. Beberapa minggu lalu King’s Park terbakar sebagian dan seluruh Perth sedih karenanya. Dari King’s Park, Perth city bisa dilihat bagus.
Fremantle ada ditepi laut dan penuh anak muda main surfing, parasut atopun other water sports. Kita makan siang di Fremantle, dengan Fish and Chips. Potongan besar daging ikan dibalut tepung, digoreng kering (whaa..persis mendoan) dan disajikan dengan French fries. Serunya, pembeli antri pilih menu seperti di resto fastfood macam KFC, pilih, bayar, terus dikasih “gadget” seukuran telapak tangan. Tadinya aku pikir mainan anak2, tapi ternyata itu pager. Setelah bayar dan terima gadget itu, kita cari tempat duduk di teras yang menghadap boats karena angin lautnya terasa nyaman pas hari panas. 10 menit kemudian, pager tuit tuit dan it means that we had to take the meals di pick up counter. Hehehe..saking banyaknya pengunjung, kali. Hal unik lain, fish and chips dibungkus dengan 2 lembar kertas kosong seukuran Koran. Tidak ada piring. Praktis juga untuk yang pengin makan pas dipinggir pantai. Usai makan, jalan sedikit ke Fremantle market untuk beli keju. Ada toko keju kecil, namanya Mouse Trap, yang jual keju yang kadang sulit dicari di kota. Buat Willy, aku beli keju Fontana dari Denmark. Entah apa bedanya dengan yang lain. Tapi karena Caroline beli, aku ikutan aja.
Setengah empat sore, kita ngebut balik lagi ke city karena Caroline janjian dengan temannya nonton movie: The Slumdog Millionaire. Dan aku ikutan. Hm, a nice day.
Trip 2
Hari Sabtu janjian dengan Willy untuk ke rumah Terry, anak sulungnya di Pickering Brook, Bickley, kira2 setengah jam driving from Willy’s house kearah bukit. A very warm day. Terry got a very nice house dengan cellar untuk menyimpan olahan2 limun, manisan, selai buatan sendiri. Terry juga piara ayam, bebek, tanam tomat, parsley, timun zucchini dan macam2 jeruk. Juga ada beberapa pohon, termasuk Maple, yang ditanam untuk dinikmati elok daunnya ketika autumn. Bagus sekali.
Nggak sangka, Terry ajak kita ke rumah mertuanya di orchard, kebun buah. Mertua Terry imigran Italy, dan hampir seluruh tetangganya juga dari Italy. Alhasil, bukit2 yang tadinya merupakan tanah pertanian yang dihadiahkan pemerintah untuk mantan tentara yang usai Perang Dunia I – dan ternyata mereka merasa tidak cocok dengan farming, akhirnya menjadi milik imigran Itali. Mereka tata bukit2 dengan landscape yang sama dengan tanah air air mereka nun jauh di Italy sono.
They grow any fruits di garden seluas 34 hectares. Apples, peach, oranges, nectarine, pear, plum sampe buah kesemek bergilir musim panen. Bulan ini mereka baru selesai panen peach, dan bulan depan musim panen apel. Winter nanti giliran panen jeruk. Sistem pemeliharaan dan pengairan sungguh rapi jali, dengan pipa pralon yang ditanam untuk mengairi seluruh tanaman merata. Meski bukan pertanian organic, disini penggunaan pestisida sangat minim. Hanya ada beberapa botol mirip aqua yang diberisi larutan – mungkin pestisida-yang digantung di beberapa titik. Usia tanaman pun rata2 hanya 10 tahunan sebelum ditebang dan diganti tanaman baru. Hm..dengan pemeliharaan yang secermat ini, tidak heran bila seluruh ranting tanaman penuh digelayuti buah.
Keluarga Sylvia – kedua orang tua, Gina dan Lou, adik Sylvia Dany serta pamannya Robert – berempat bahu membahu merawat orchard. Mereka memetik sendiri seluruh panen, mengemasnya dalam kardus untuk dibawa ke wholesale market dan juga di setor ke supermarket di city, serta mengolah sebagian untuk jam dan limun. Untuk standard mutu, setiap tahun (kalo ngga salah), petugas dari Dept of Agriculture menginspeksi kebersihan dan kelayakan perkebunan serta rumah pengolahan mereka. Maka, aku pun kegirangan memetik apel dan plum, dan langsung menikmatinya dibawah pohon. Kress….manis sekali…!!!!
I was a bit thrifty dengan cara yang aneh. I just could not put the right things into higher priority as what always came across my mind was that I had to bring as much cash as possible on hand and avoid spending money unless for the very basic things that I could not live without. I simply thought that a mobile phone was not that important in the upcoming life cycle in Perth, but then I soon realize that it was really a stupid decision made by me since the HP connection could in fact easily affect my emotional status! I didn’t realize that I have put my life on a stupid gadget named Mobile Phone!
And it turned out that the next nightmare came so early. The airplane landed in Bali at 10 pm; meant that I had to wait the next one to Perth for 4 hours. What a boring thing to do. Bali was raining at the moment, and I was desperately strolling around looking for any public telephone I could use to contact anybody in Yogya, or in Jakarta. Ehm! It was really frustrating when I was stranded in the airport due to the flight delays, and what made it worse was that it happened on BOTH flights: Jogja – Bali with an hour delay, and Bali – Perth for another hour. I could not text anybody untuk ngilangin suntuk. Padahal di ujung Tangerang sana tuh..ada yang kelimpungan ga bisa tidur semalaman! Belakangan reportnya gitu sih… ngga tahu aslinya....
Usaha yang sia-sia tentu saja. Karena udah capek muter airport, jam 11 malam aku urusin check in, tarik koper kabin dan gendong laptop kayak ulet bantal, trus ke counter imigrasi untuk bayar fiscal yang ternyata…ehhh..gratis karena kartu sakti NPWP. Hebat ya. Kalo ngga gratis 2,5 juta je. Jadi sangu cash yang sejuta, masuk kantong lagi. Alhamdulillah.
Pusing liat orang hilir mudik, aku masuk ruang tunggu di gate berapa ngga tahu, yang jelas isinya orang Korea segala rupa. Karena liat beberapa bule di tempat yang agak jauh pada tiduran, gw ikut nekuk leher. Lama2 capek juga..kaki naik kursi..trus tengkurap deh. Tapi mana bisa tidur, orang berisik minta ampun. Sekitar jam 1 malam, orang2 Koreanya dah pada pergi. Ehh..ada pengumuman, pesawat ke Perth ditunda 1 jam, jadi fly jam 3 pagi. Duh..tambah boseeen dari ujung rambut sampe ujung kaki. Jadi merem lagi deh..eh, tahu-tahu..”Excuse, me..Are you waiting for the flight to Perth? We should move to the waiting room. Well, sorry to disturb you, but I am afraid that I you might miss the flight later..” 2 cewek bule yang habis surfing bangunin. Astagaaa…!!! Aku bener ketiduran!!! Sekitar udah sepiiii..Gosh! Untung aja dibangunin. Kalo enggak, haa…ngga kebayang deh. Kan ngga lucu kalo udah berjam-jam terdampar di Bali, akhirnya ketinggalan pesawat ke Perth. Duh…
On board.
Duluuu aku excited banget pengin ngerti kayak apa di dalam pesawat. Setelah tahu…ohh..ternyata naik kereta, atau bahkan bus-untuk jarak pendek, ternyata jaauuhhh lebih mengasyikkan. Bau pengap khas kabin pesawat menyergap. Begitulah. Jam 3 pagi pesawat mulai bergerak, dan take off mulus. Setelah mencapai ketinggian jelajah, 39.000 feet, supper keluar. Aneh juga, makan jam 03.30 pagi di pesawat. Kayak sahur aja. Jus jeruk, beef kwetiauw, sepotong cake, coklat kitkat kecil dan buah sekedarnya. Usai mealt time, flight attendant bagikan walkman kalo ada yang mau denger music atopun denger suara film di TV kecil yang nempel di sekat atas. Ngga napsu. Merem. Ngelamun ajalah…3,5 hours of flying, lebih awal 1 jam dari Bali, 2 jam dari Jakarta.
PERTH
Sabtu, 17 January 2009 jam 07.30 mendarat di Perth. Hati terasa sunyi. Here I come. Dengan menyeret koper sana sini, sampai di counter pemeriksaan, semua bawaan di buka. Meski ga bawa barang yang dilarang – kerajinan dengan biji2an, pelepah pisang, makanan tanpa pengemasan a la pabrik dll - selalu aja terasa keder dan merasa terintimidasi. Seperti ketika ada razia pengendara kendaraan oleh polisi, tetep aja kaget meski semua surat dan kondisi kendaraan lengkap. “This is only a random sampling checking”, si ibu officer bilang. Ah ah..kenapa harus aku yang kena random sampling? Ketika koper besar dibuka…o..oo…frame foto aku dan Mas di PH pecah. Beberapa serpihan kaca menggores foto. Aduh..duhh..duh. Mungkin karena koper dilempar2 di bagasi, dan aku Cuma melapisinya dengan baju-baju. Yahh..officer ngasih kantong plastic agar pecahan kaca ngga berantakan aja.
Keluar bandara dijemput Aris dan anak2, Hasna (11th) dan Nafi (8th). Perasaan asing masih melingkupi hati. Mungkin karena aku datang di musim yang salah, Perth tampak sangat kering, gersang dan tandus. Lain ketika aku ke Sydney yang dulu. Meski was was, tapi Sydney kelihatan sangat cantik di awal Oktober.
Aris dan Rumi baik sekali. Aris ada di Perth dari akhir 2004, ambil Ph.D untuk Teknik Mesin, dan Rumi mulai Januari 2007 ambil Ph.D untuk Food Technology. Aris dosen TM UMY dan istrinya di Farmasi UGM, keduanya kuliah di Curtin Uni of Technology. They treat me like an old friend. Kamar Hasna aku jajah. Kebetulan anak2 libur. Sarapan hari pertama, nasi goreng. Hmm…sorenya Pak Darisman, juga dari TM UMY dan Ph.D Curtin, sekeluarga dengan 2 Ibu dari Palembang datang. Reriungan bahas masalah bisnis tempe industry yag dijalanin bu Darisman. Tempe plastikan yang di Yogya Rp 1500 dijual di Perth 3 dollar (Rp 22.500). Laris manis. Dan karena Bu Darisman dan anak2 go back to Indo for good per 3 Pebruari 2009, maka customers pada minta stock tempe sebanyak2nya. Bu Dar is an amateur tempe maker. Ketika mo ikut suaminya ke Perth, dia dadakan kursus bikin tempe ma mbah2 dekat rumah. Ternyata malah bisa jadi sumber dana utama buat S3nya Pak Dar kalo beasiswa telat!!
Udara panas menyengat, tapi kalo diluar rumah, angin selalu kencang. Suhu 30an, meski sehari sebelumnya sempat menanjak ke 42 degree. Matahari terik. Mata mulai sakit karena nahan silau, dan ngga punya sunglasses. Bodonya lagi, di Indo ngga kepikiran beli kacamata minus yang kacanya bisa berubah gelap kalo ada di luar ruang. Ah…
Meski ngga seberapa jauh beda panas dengan di Yogya, rupanya tubuh perlu some more time untuk penyesuaian. Perut sebah dan rasa capek
terus2an menyerang. Hasilnya adalah badan lemes, perut terasa penuh tapi lapar dan ngga bisa BAB. Haha..tapi setelah 3 hari things were back to normal. Cuma selera makan belum sepenuhnya pulih.
Hari ke 3 di Aris, Senin pagi, aku mulai ke kampus, urus segala keperluan, registrasi, dan belajar naik bus. Gagap dan sibuk nanya sana sini. Sore janjian ketemu bu Sulfa, dosen UM Makasar yang 6 bulan lalu mulai program Ph.D di ECU. Ini hal yang biasanya paling sulit. Dengan sistem baru, yang sebenarnya jauh lebih convenient, kita malah geragapan karena ngga ngerti harus gimana. Juga panic karena kalo naik bis jalur berapa, lewat mana, turun mana. Ada peta jalur yang akan dilalui bus, tapi kalo kita ngga ngerti jalan sama sekali, peta means nothing. Street Directory should be the new Bible of anybody, and I dint have the idea of how using it. So, I just told the driver where to get off, da ternyata salah!! Terpaksa bu Sulfa muter nyari sana sini. Hehehe..
5 hari di Aris untuk urus beberapa hal admin yang mendasar mengingat rumahnya yang relative dekat dengan city, hari Kamis pindah ke rumah Willy di Midvale – Midland. Haiyaahh..jauh..Untuk ke kampus, naik bis dulu dari depan rumah ke Midland train station (15 menit), trus sambung kereta ke Perth Main Station (25 menit), sambung jalan ke Wellington Bus Station (10 menit) dan terakhir, naik bus 886, 887 ato 889 ke ECU Mt. Lawley (20) menit. Sebenarnya Pak Kees pernah ingetin tentang jarak yang jauh, tapi waktu itu aku pikir I will be able to manage it.
It’s nice berada di rumah Willy. Sangat bersih dan rapi. Bak display museum. Willy lives alone. She got 3 children and all are living in their own houses. 2 has got married and the youngest one remains single.
Perfect, right? Tapi ternyata jarak yang jauh bikin kelelahan juga untuk pulang pergi. Living with Willy enabled me to enjoy lots of things Australian usually do; strolling along the streets and park every morning with the dog Milly, having meals in very typical Australian style, watching Australian Open almost every night and of course, improving English proficiency. Mana Willy gratiskan akomodasi dan makan! Even, dia sudah siapkan amunisi dengan segala macam bumbu Asia sachetan. Juga ada rice cooker.
Tapi setelah ditimbang-timbang jaraknya yang jauh, dan resiko kuliah yang selesai 20.30 malam, apalagi ternyata semua kuliahku sore (!) aku putuskan cari room yang lebih dekat. Hari jumat ke kampus, ada banyak iklan. Catat no telponnya dong. Senin pagi aku telpon pemilik, namanya Twee yang mau sewakan 2 kamar all in. Fully furnished and the fee includes gas, water and electricity. No internet. The other number that I contacted namanya Jenny. Internation Students Accomodation. Selasa sore boleh visit tempatnya.
Rencananya sih, making an appointment to see the house some time on Monday or Tue, tapi Twee kerja sampai malam. Malah dia tawarkan saat itu juga untuk jemput aku dan bu Sulfa, karena it was public Holiday.
So, here am I now. Meski sewa sedikit lebih tinggi dari yang lain (110 – 140) dan aku discharge 150/week all ini, yah..not bad lah. Apalagi Twee, imigran Vietnam yang seusia tante, bukan tipe orang yang sulit diajak kompromi. Dia cenderung empathetic meski lebih sering ugal-ugalan (hehe). Hidup keras yang dihadapi Twee sejak kanak2 dan masa lalu yang sulit membentuk karakter Twee yang cenderung temperamental. So far, seminggu di sini, aku merasa kerasan aja. Yang jelas terasa, she is longing for a family life. Mungkin itu value yang hilang, dan tidak bisa dapatkan lagi. Dia Cuma tinggal berdua dengan Kinh (19th) anak cowok dari pernikahannya yang pertama. Migrated ke Australia 12 tahun lalu, Twee kerja apa saja tanpa bekal bahasa maupun pendidikan yang memadai. Mulai dari cleaning service sampai butuh tambang dijalani. Kerja kerasnya bertahun-tahun bisa diwujudkan rumah. Sekarang Twee kerja di toko donat franchise Amerika di domestic airport Perth. Jadi tiap hari Twee pulang bawa donut! Sampai aku bosen makannya. Padahal kalo di airport, donat dan kopi bisa sampai 7 dollar. Hehehe…
Trips
Thanks to Bu Wendy dan pak Kees yang sudah arrange banyak sekali hal untuk membuat aku merasa comfortable di Perth. Begitu datang, teman2 Bu Wendy dan Pak Kees rang Aris dan Willy, tawarkan ketemu, undang kerumah, atau jalan jalan lihat kota Perth.
Tawaran pertama yang aku ambil, trip ke King’s Park dan Fremantle dengan Caroline. King’s Park ada disisi Swan River, sungai utama yang membelah South dan North Perth, dan dibagian tepi sungai yang paling dekat, dibangun jembatan Narrow Bridge. Beberapa minggu lalu King’s Park terbakar sebagian dan seluruh Perth sedih karenanya. Dari King’s Park, Perth city bisa dilihat bagus.
Fremantle ada ditepi laut dan penuh anak muda main surfing, parasut atopun other water sports. Kita makan siang di Fremantle, dengan Fish and Chips. Potongan besar daging ikan dibalut tepung, digoreng kering (whaa..persis mendoan) dan disajikan dengan French fries. Serunya, pembeli antri pilih menu seperti di resto fastfood macam KFC, pilih, bayar, terus dikasih “gadget” seukuran telapak tangan. Tadinya aku pikir mainan anak2, tapi ternyata itu pager. Setelah bayar dan terima gadget itu, kita cari tempat duduk di teras yang menghadap boats karena angin lautnya terasa nyaman pas hari panas. 10 menit kemudian, pager tuit tuit dan it means that we had to take the meals di pick up counter. Hehehe..saking banyaknya pengunjung, kali. Hal unik lain, fish and chips dibungkus dengan 2 lembar kertas kosong seukuran Koran. Tidak ada piring. Praktis juga untuk yang pengin makan pas dipinggir pantai. Usai makan, jalan sedikit ke Fremantle market untuk beli keju. Ada toko keju kecil, namanya Mouse Trap, yang jual keju yang kadang sulit dicari di kota. Buat Willy, aku beli keju Fontana dari Denmark. Entah apa bedanya dengan yang lain. Tapi karena Caroline beli, aku ikutan aja.
Setengah empat sore, kita ngebut balik lagi ke city karena Caroline janjian dengan temannya nonton movie: The Slumdog Millionaire. Dan aku ikutan. Hm, a nice day.
Trip 2
Hari Sabtu janjian dengan Willy untuk ke rumah Terry, anak sulungnya di Pickering Brook, Bickley, kira2 setengah jam driving from Willy’s house kearah bukit. A very warm day. Terry got a very nice house dengan cellar untuk menyimpan olahan2 limun, manisan, selai buatan sendiri. Terry juga piara ayam, bebek, tanam tomat, parsley, timun zucchini dan macam2 jeruk. Juga ada beberapa pohon, termasuk Maple, yang ditanam untuk dinikmati elok daunnya ketika autumn. Bagus sekali.
Nggak sangka, Terry ajak kita ke rumah mertuanya di orchard, kebun buah. Mertua Terry imigran Italy, dan hampir seluruh tetangganya juga dari Italy. Alhasil, bukit2 yang tadinya merupakan tanah pertanian yang dihadiahkan pemerintah untuk mantan tentara yang usai Perang Dunia I – dan ternyata mereka merasa tidak cocok dengan farming, akhirnya menjadi milik imigran Itali. Mereka tata bukit2 dengan landscape yang sama dengan tanah air air mereka nun jauh di Italy sono.
They grow any fruits di garden seluas 34 hectares. Apples, peach, oranges, nectarine, pear, plum sampe buah kesemek bergilir musim panen. Bulan ini mereka baru selesai panen peach, dan bulan depan musim panen apel. Winter nanti giliran panen jeruk. Sistem pemeliharaan dan pengairan sungguh rapi jali, dengan pipa pralon yang ditanam untuk mengairi seluruh tanaman merata. Meski bukan pertanian organic, disini penggunaan pestisida sangat minim. Hanya ada beberapa botol mirip aqua yang diberisi larutan – mungkin pestisida-yang digantung di beberapa titik. Usia tanaman pun rata2 hanya 10 tahunan sebelum ditebang dan diganti tanaman baru. Hm..dengan pemeliharaan yang secermat ini, tidak heran bila seluruh ranting tanaman penuh digelayuti buah.
Keluarga Sylvia – kedua orang tua, Gina dan Lou, adik Sylvia Dany serta pamannya Robert – berempat bahu membahu merawat orchard. Mereka memetik sendiri seluruh panen, mengemasnya dalam kardus untuk dibawa ke wholesale market dan juga di setor ke supermarket di city, serta mengolah sebagian untuk jam dan limun. Untuk standard mutu, setiap tahun (kalo ngga salah), petugas dari Dept of Agriculture menginspeksi kebersihan dan kelayakan perkebunan serta rumah pengolahan mereka. Maka, aku pun kegirangan memetik apel dan plum, dan langsung menikmatinya dibawah pohon. Kress….manis sekali…!!!!
First Day in Perth
..and finally, the plane landed at Perth Int'l Airport on Sat morning, January 17, 2009.
Subscribe to:
Posts (Atom)