The final thing I really regretted on the last minute I left Yogya adalah tidak kepikiran untuk membeli HP baru untuk mengganti edisi C55 yang udah soak banget batrenya. Sebenarnya bukan tanpa alasan kenapa enggan beli HP baru. I thought that it will stay a bit longer, nah..ntar setelah sampai Perth, dan sedikit kumpulin uang, aku bisa beli HP baru yang sedikit mewah-lah. Masa seumur hidup HP Cuma C 25 dan C 55.
I was a bit thrifty dengan cara yang aneh. I just could not put the right things into higher priority as what always came across my mind was that I had to bring as much cash as possible on hand and avoid spending money unless for the very basic things that I could not live without. I simply thought that a mobile phone was not that important in the upcoming life cycle in Perth, but then I soon realize that it was really a stupid decision made by me since the HP connection could in fact easily affect my emotional status! I didn’t realize that I have put my life on a stupid gadget named Mobile Phone!
And it turned out that the next nightmare came so early. The airplane landed in Bali at 10 pm; meant that I had to wait the next one to Perth for 4 hours. What a boring thing to do. Bali was raining at the moment, and I was desperately strolling around looking for any public telephone I could use to contact anybody in Yogya, or in Jakarta. Ehm! It was really frustrating when I was stranded in the airport due to the flight delays, and what made it worse was that it happened on BOTH flights: Jogja – Bali with an hour delay, and Bali – Perth for another hour. I could not text anybody untuk ngilangin suntuk. Padahal di ujung Tangerang sana tuh..ada yang kelimpungan ga bisa tidur semalaman! Belakangan reportnya gitu sih… ngga tahu aslinya....
Usaha yang sia-sia tentu saja. Karena udah capek muter airport, jam 11 malam aku urusin check in, tarik koper kabin dan gendong laptop kayak ulet bantal, trus ke counter imigrasi untuk bayar fiscal yang ternyata…ehhh..gratis karena kartu sakti NPWP. Hebat ya. Kalo ngga gratis 2,5 juta je. Jadi sangu cash yang sejuta, masuk kantong lagi. Alhamdulillah.
Pusing liat orang hilir mudik, aku masuk ruang tunggu di gate berapa ngga tahu, yang jelas isinya orang Korea segala rupa. Karena liat beberapa bule di tempat yang agak jauh pada tiduran, gw ikut nekuk leher. Lama2 capek juga..kaki naik kursi..trus tengkurap deh. Tapi mana bisa tidur, orang berisik minta ampun. Sekitar jam 1 malam, orang2 Koreanya dah pada pergi. Ehh..ada pengumuman, pesawat ke Perth ditunda 1 jam, jadi fly jam 3 pagi. Duh..tambah boseeen dari ujung rambut sampe ujung kaki. Jadi merem lagi deh..eh, tahu-tahu..”Excuse, me..Are you waiting for the flight to Perth? We should move to the waiting room. Well, sorry to disturb you, but I am afraid that I you might miss the flight later..” 2 cewek bule yang habis surfing bangunin. Astagaaa…!!! Aku bener ketiduran!!! Sekitar udah sepiiii..Gosh! Untung aja dibangunin. Kalo enggak, haa…ngga kebayang deh. Kan ngga lucu kalo udah berjam-jam terdampar di Bali, akhirnya ketinggalan pesawat ke Perth. Duh…
On board.
Duluuu aku excited banget pengin ngerti kayak apa di dalam pesawat. Setelah tahu…ohh..ternyata naik kereta, atau bahkan bus-untuk jarak pendek, ternyata jaauuhhh lebih mengasyikkan. Bau pengap khas kabin pesawat menyergap. Begitulah. Jam 3 pagi pesawat mulai bergerak, dan take off mulus. Setelah mencapai ketinggian jelajah, 39.000 feet, supper keluar. Aneh juga, makan jam 03.30 pagi di pesawat. Kayak sahur aja. Jus jeruk, beef kwetiauw, sepotong cake, coklat kitkat kecil dan buah sekedarnya. Usai mealt time, flight attendant bagikan walkman kalo ada yang mau denger music atopun denger suara film di TV kecil yang nempel di sekat atas. Ngga napsu. Merem. Ngelamun ajalah…3,5 hours of flying, lebih awal 1 jam dari Bali, 2 jam dari Jakarta.
PERTH
Sabtu, 17 January 2009 jam 07.30 mendarat di Perth. Hati terasa sunyi. Here I come. Dengan menyeret koper sana sini, sampai di counter pemeriksaan, semua bawaan di buka. Meski ga bawa barang yang dilarang – kerajinan dengan biji2an, pelepah pisang, makanan tanpa pengemasan a la pabrik dll - selalu aja terasa keder dan merasa terintimidasi. Seperti ketika ada razia pengendara kendaraan oleh polisi, tetep aja kaget meski semua surat dan kondisi kendaraan lengkap. “This is only a random sampling checking”, si ibu officer bilang. Ah ah..kenapa harus aku yang kena random sampling? Ketika koper besar dibuka…o..oo…frame foto aku dan Mas di PH pecah. Beberapa serpihan kaca menggores foto. Aduh..duhh..duh. Mungkin karena koper dilempar2 di bagasi, dan aku Cuma melapisinya dengan baju-baju. Yahh..officer ngasih kantong plastic agar pecahan kaca ngga berantakan aja.
Keluar bandara dijemput Aris dan anak2, Hasna (11th) dan Nafi (8th). Perasaan asing masih melingkupi hati. Mungkin karena aku datang di musim yang salah, Perth tampak sangat kering, gersang dan tandus. Lain ketika aku ke Sydney yang dulu. Meski was was, tapi Sydney kelihatan sangat cantik di awal Oktober.
Aris dan Rumi baik sekali. Aris ada di Perth dari akhir 2004, ambil Ph.D untuk Teknik Mesin, dan Rumi mulai Januari 2007 ambil Ph.D untuk Food Technology. Aris dosen TM UMY dan istrinya di Farmasi UGM, keduanya kuliah di Curtin Uni of Technology. They treat me like an old friend. Kamar Hasna aku jajah. Kebetulan anak2 libur. Sarapan hari pertama, nasi goreng. Hmm…sorenya Pak Darisman, juga dari TM UMY dan Ph.D Curtin, sekeluarga dengan 2 Ibu dari Palembang datang. Reriungan bahas masalah bisnis tempe industry yag dijalanin bu Darisman. Tempe plastikan yang di Yogya Rp 1500 dijual di Perth 3 dollar (Rp 22.500). Laris manis. Dan karena Bu Darisman dan anak2 go back to Indo for good per 3 Pebruari 2009, maka customers pada minta stock tempe sebanyak2nya. Bu Dar is an amateur tempe maker. Ketika mo ikut suaminya ke Perth, dia dadakan kursus bikin tempe ma mbah2 dekat rumah. Ternyata malah bisa jadi sumber dana utama buat S3nya Pak Dar kalo beasiswa telat!!
Udara panas menyengat, tapi kalo diluar rumah, angin selalu kencang. Suhu 30an, meski sehari sebelumnya sempat menanjak ke 42 degree. Matahari terik. Mata mulai sakit karena nahan silau, dan ngga punya sunglasses. Bodonya lagi, di Indo ngga kepikiran beli kacamata minus yang kacanya bisa berubah gelap kalo ada di luar ruang. Ah…
Meski ngga seberapa jauh beda panas dengan di Yogya, rupanya tubuh perlu some more time untuk penyesuaian. Perut sebah dan rasa capek
terus2an menyerang. Hasilnya adalah badan lemes, perut terasa penuh tapi lapar dan ngga bisa BAB. Haha..tapi setelah 3 hari things were back to normal. Cuma selera makan belum sepenuhnya pulih.
Hari ke 3 di Aris, Senin pagi, aku mulai ke kampus, urus segala keperluan, registrasi, dan belajar naik bus. Gagap dan sibuk nanya sana sini. Sore janjian ketemu bu Sulfa, dosen UM Makasar yang 6 bulan lalu mulai program Ph.D di ECU. Ini hal yang biasanya paling sulit. Dengan sistem baru, yang sebenarnya jauh lebih convenient, kita malah geragapan karena ngga ngerti harus gimana. Juga panic karena kalo naik bis jalur berapa, lewat mana, turun mana. Ada peta jalur yang akan dilalui bus, tapi kalo kita ngga ngerti jalan sama sekali, peta means nothing. Street Directory should be the new Bible of anybody, and I dint have the idea of how using it. So, I just told the driver where to get off, da ternyata salah!! Terpaksa bu Sulfa muter nyari sana sini. Hehehe..
5 hari di Aris untuk urus beberapa hal admin yang mendasar mengingat rumahnya yang relative dekat dengan city, hari Kamis pindah ke rumah Willy di Midvale – Midland. Haiyaahh..jauh..Untuk ke kampus, naik bis dulu dari depan rumah ke Midland train station (15 menit), trus sambung kereta ke Perth Main Station (25 menit), sambung jalan ke Wellington Bus Station (10 menit) dan terakhir, naik bus 886, 887 ato 889 ke ECU Mt. Lawley (20) menit. Sebenarnya Pak Kees pernah ingetin tentang jarak yang jauh, tapi waktu itu aku pikir I will be able to manage it.
It’s nice berada di rumah Willy. Sangat bersih dan rapi. Bak display museum. Willy lives alone. She got 3 children and all are living in their own houses. 2 has got married and the youngest one remains single.
Perfect, right? Tapi ternyata jarak yang jauh bikin kelelahan juga untuk pulang pergi. Living with Willy enabled me to enjoy lots of things Australian usually do; strolling along the streets and park every morning with the dog Milly, having meals in very typical Australian style, watching Australian Open almost every night and of course, improving English proficiency. Mana Willy gratiskan akomodasi dan makan! Even, dia sudah siapkan amunisi dengan segala macam bumbu Asia sachetan. Juga ada rice cooker.
Tapi setelah ditimbang-timbang jaraknya yang jauh, dan resiko kuliah yang selesai 20.30 malam, apalagi ternyata semua kuliahku sore (!) aku putuskan cari room yang lebih dekat. Hari jumat ke kampus, ada banyak iklan. Catat no telponnya dong. Senin pagi aku telpon pemilik, namanya Twee yang mau sewakan 2 kamar all in. Fully furnished and the fee includes gas, water and electricity. No internet. The other number that I contacted namanya Jenny. Internation Students Accomodation. Selasa sore boleh visit tempatnya.
Rencananya sih, making an appointment to see the house some time on Monday or Tue, tapi Twee kerja sampai malam. Malah dia tawarkan saat itu juga untuk jemput aku dan bu Sulfa, karena it was public Holiday.
So, here am I now. Meski sewa sedikit lebih tinggi dari yang lain (110 – 140) dan aku discharge 150/week all ini, yah..not bad lah. Apalagi Twee, imigran Vietnam yang seusia tante, bukan tipe orang yang sulit diajak kompromi. Dia cenderung empathetic meski lebih sering ugal-ugalan (hehe). Hidup keras yang dihadapi Twee sejak kanak2 dan masa lalu yang sulit membentuk karakter Twee yang cenderung temperamental. So far, seminggu di sini, aku merasa kerasan aja. Yang jelas terasa, she is longing for a family life. Mungkin itu value yang hilang, dan tidak bisa dapatkan lagi. Dia Cuma tinggal berdua dengan Kinh (19th) anak cowok dari pernikahannya yang pertama. Migrated ke Australia 12 tahun lalu, Twee kerja apa saja tanpa bekal bahasa maupun pendidikan yang memadai. Mulai dari cleaning service sampai butuh tambang dijalani. Kerja kerasnya bertahun-tahun bisa diwujudkan rumah. Sekarang Twee kerja di toko donat franchise Amerika di domestic airport Perth. Jadi tiap hari Twee pulang bawa donut! Sampai aku bosen makannya. Padahal kalo di airport, donat dan kopi bisa sampai 7 dollar. Hehehe…
Trips
Thanks to Bu Wendy dan pak Kees yang sudah arrange banyak sekali hal untuk membuat aku merasa comfortable di Perth. Begitu datang, teman2 Bu Wendy dan Pak Kees rang Aris dan Willy, tawarkan ketemu, undang kerumah, atau jalan jalan lihat kota Perth.
Tawaran pertama yang aku ambil, trip ke King’s Park dan Fremantle dengan Caroline. King’s Park ada disisi Swan River, sungai utama yang membelah South dan North Perth, dan dibagian tepi sungai yang paling dekat, dibangun jembatan Narrow Bridge. Beberapa minggu lalu King’s Park terbakar sebagian dan seluruh Perth sedih karenanya. Dari King’s Park, Perth city bisa dilihat bagus.
Fremantle ada ditepi laut dan penuh anak muda main surfing, parasut atopun other water sports. Kita makan siang di Fremantle, dengan Fish and Chips. Potongan besar daging ikan dibalut tepung, digoreng kering (whaa..persis mendoan) dan disajikan dengan French fries. Serunya, pembeli antri pilih menu seperti di resto fastfood macam KFC, pilih, bayar, terus dikasih “gadget” seukuran telapak tangan. Tadinya aku pikir mainan anak2, tapi ternyata itu pager. Setelah bayar dan terima gadget itu, kita cari tempat duduk di teras yang menghadap boats karena angin lautnya terasa nyaman pas hari panas. 10 menit kemudian, pager tuit tuit dan it means that we had to take the meals di pick up counter. Hehehe..saking banyaknya pengunjung, kali. Hal unik lain, fish and chips dibungkus dengan 2 lembar kertas kosong seukuran Koran. Tidak ada piring. Praktis juga untuk yang pengin makan pas dipinggir pantai. Usai makan, jalan sedikit ke Fremantle market untuk beli keju. Ada toko keju kecil, namanya Mouse Trap, yang jual keju yang kadang sulit dicari di kota. Buat Willy, aku beli keju Fontana dari Denmark. Entah apa bedanya dengan yang lain. Tapi karena Caroline beli, aku ikutan aja.
Setengah empat sore, kita ngebut balik lagi ke city karena Caroline janjian dengan temannya nonton movie: The Slumdog Millionaire. Dan aku ikutan. Hm, a nice day.
Trip 2
Hari Sabtu janjian dengan Willy untuk ke rumah Terry, anak sulungnya di Pickering Brook, Bickley, kira2 setengah jam driving from Willy’s house kearah bukit. A very warm day. Terry got a very nice house dengan cellar untuk menyimpan olahan2 limun, manisan, selai buatan sendiri. Terry juga piara ayam, bebek, tanam tomat, parsley, timun zucchini dan macam2 jeruk. Juga ada beberapa pohon, termasuk Maple, yang ditanam untuk dinikmati elok daunnya ketika autumn. Bagus sekali.
Nggak sangka, Terry ajak kita ke rumah mertuanya di orchard, kebun buah. Mertua Terry imigran Italy, dan hampir seluruh tetangganya juga dari Italy. Alhasil, bukit2 yang tadinya merupakan tanah pertanian yang dihadiahkan pemerintah untuk mantan tentara yang usai Perang Dunia I – dan ternyata mereka merasa tidak cocok dengan farming, akhirnya menjadi milik imigran Itali. Mereka tata bukit2 dengan landscape yang sama dengan tanah air air mereka nun jauh di Italy sono.
They grow any fruits di garden seluas 34 hectares. Apples, peach, oranges, nectarine, pear, plum sampe buah kesemek bergilir musim panen. Bulan ini mereka baru selesai panen peach, dan bulan depan musim panen apel. Winter nanti giliran panen jeruk. Sistem pemeliharaan dan pengairan sungguh rapi jali, dengan pipa pralon yang ditanam untuk mengairi seluruh tanaman merata. Meski bukan pertanian organic, disini penggunaan pestisida sangat minim. Hanya ada beberapa botol mirip aqua yang diberisi larutan – mungkin pestisida-yang digantung di beberapa titik. Usia tanaman pun rata2 hanya 10 tahunan sebelum ditebang dan diganti tanaman baru. Hm..dengan pemeliharaan yang secermat ini, tidak heran bila seluruh ranting tanaman penuh digelayuti buah.
Keluarga Sylvia – kedua orang tua, Gina dan Lou, adik Sylvia Dany serta pamannya Robert – berempat bahu membahu merawat orchard. Mereka memetik sendiri seluruh panen, mengemasnya dalam kardus untuk dibawa ke wholesale market dan juga di setor ke supermarket di city, serta mengolah sebagian untuk jam dan limun. Untuk standard mutu, setiap tahun (kalo ngga salah), petugas dari Dept of Agriculture menginspeksi kebersihan dan kelayakan perkebunan serta rumah pengolahan mereka. Maka, aku pun kegirangan memetik apel dan plum, dan langsung menikmatinya dibawah pohon. Kress….manis sekali…!!!!
No comments:
Post a Comment