Friday, April 3, 2009

Elok nian Sindoro Sumbing..

Gara2 komporan teman tentang menawannya liku Kledung Pass Temanggung - Wonosobo maka saya menggeret Chong Nim, Chinese Language Consultant kampus, yang anak istri mertua kemenakannya ber-10 dari Singapore mau nggrudug Yogya Desember nanti.

Dengan mengucap basmallah, kita niatin deh naik ke Ketep dan Kledung-Temanggung dengan angkutan umum. Angkutan umum, boww...Itulah kenapa ga satu pun teman kantor yang melirik rencana saya. Sempat terpikir minta antar driver kampus aja..tapi, haiyah..mereka kan juga butuh libur.
Pikir saya, wah, paket 12 jam pp deh..mudah2an nyampe..ga nyampe tujuan pun, ga apa. Niat memang mo ajarin Chong Nim pake bis kok..hehehe..

Kabut masih pekat ketika jam 7 pagi kami melaju sepanjang ringroad barat menuju sub terminal Jombor diujung utara Yogya. Tak perlu lama menunggu, setelah menitip kendaraan, kondektur bis ekonomi jurusan Yogya Semarang sigap menggiring calon penumpang..wah, ga kalah dengan keneknya, si supir juga heboh nyetel Ari Lasso..(weh, jadi inget si mas mantan yang ngefans banget sama si Ari Lasso..)

Nuruti sms teman malam sebelumnya, kami punya 2 pilihan : turun terminal Muntilan, ganti angkudes arah Tlatar sejauh 10 km dan kemudian ganti lagi angkudes warna pink (pink...!! bener) untuk naik ke Ketep. Atau, dari jalan YK-Semarang turun stasiun Blabak, trus ambil angkudes kuning ke Tlatar, 11 km (nurut plang penunjuk jalan seh..), baru ganti dengan si miss pink ke Ketep. Tlatar Ketep sih cuma 5 km.

Secara Muntilan – Tlatar jalan lagi hancur (tahun lalu juga sudah babak belur ding..) maka saya maksa Chong Nim untuk pesan ke kondektur minta drop di Stasiun Blabak. Terbata-bata dia praktek Bahasa Indonesia dengan Pak Kondektur.

Hasilnya? Kami kebablasan berkil-kilo, sampe hampir nyampe kota Magelang. Bukan salah Chong Nim seh, tapi Kondekturnya kelupaan! Dan saya ngga ngerti stasiun Blabak tu dimana (stasiun kereta, ya?). Later on, meski saya celingukan, tetep aja si stasiun ga ketemu. Walhasil, balik deh kita naik angkot ke ”stasiun Blabak” yang ternyata ga jauh dari Pabrik Kertas Blabak yang namanya saya kenal waktu di SD dulu....

Sungguh menyenangkan naik angkudes ke Tlatar bersama ibu2 yang baru dari pasar. Seorang ibu membawa serinjing penuh belanjaan berisi sawi putih dan selada air yang seikatnya Rp 500 itu. Mereka menyebutnya ”jembak” dan biasa dipakai untuk pecel, urab ataupun lodeh. Chong Nim pun bercerita, dia biasa memasak water crest ini untuk soup. (oh..selada air bisa di sup, to?). Melihat muka saya yang napsu terhadap sayuran segar itu, maka si ibu sebelah pun menyarankan kita untuk mampir di wholesale market sayuran dipasar dekat Tlatar. Next time deh..

Ada juga ibu yang kasih saran agar kami mampir ke Kedungkayang, yang ada air terjun, dan terusin jalan ke Selo. Tapi kalo naik angkudes, harus estafet...hmm..layak dicoba juga suatu hari nanti.


Kira-kira setengah jam kemudian, kami sampai pertigaan Tlatar. Rindang karena ada pohon beringin ditengah jalan. Sudah ada satu Pinky yang nunggu, dan lagi dipel dan di lap sama drivernya. Namanya Mas Tris. Karena pagi cuma sempat ngopi, saya pun mampir ke toko kecil di samping kecamatan, cari coklat batangan sembari menunggu si Mas Tris bebersih dan nunggu penumpang laen. Perut dah mulai kukuruyukkk...Eh, liat rice crisp alias jipang rasa jeruk manis buatan Bu BANDINI Gadingan Banyubiru, saya langsung pindah haluan. Coklat ganti Jipang deh. 1 pak cuma Rp 3000 isi 16 potong dobel. Enam belas potong jipang tebel!!! Rasanya aduhai renyah betul. Dan sedikit manis. (sekarang nyesel deh..kok Cuma beli 1 pak..). Kayaknya produk ini terbatas deh peredarannya. Tapi jipang daerah Magelang Temanggung (ingat waktu KKN dulu) memang layak dipoedjiken. Buliran rice crisp-nya kecil-kecil , padat dan agak mengkilap. Beda dengan jipang warna warni yang sering dijajakakan di pasar malem alun-alun. Buliran berasnya tampak utuh. Tapi begitu digigit..eh..gembos. Rasanya pun ga ada. Sepa.

Berhubung nunggu 15 menit ga ada tanda2 penampakan penumpang lain, Mas Tris tawarkan untuk antar kami berdua dengan sedikit kompensasi: Rp 10.000. Tarif normal per person sih Rp 3000 sahaja. Okee....tariiikkk....si Pinky melaju tenang di aspal. Mas Tris tersenyum bangga penuh cinta pada si angkot yang saya puji ”mulus” ini. Ditengah jalan, seorang Bapak petani tetangga Mas Tris mencegat mobil dan menaikkan beberapa jerigen besar warna biru. Entah apa isinya. Seterusnya, dia asik bercerita dengan Chong Nim yang saya yakin..pasti ga paham. Saya sih asik duduk di depan ngobrolin anaknya Mas Tris yang kelas 4 SD dan tetangganya yang pada suka carter mobilnya ke airport Yogya untuk anterin sodara yang kerja diluar pulau ato luar negeri.

Dus, sampai lah di Ketep. Rame padet singset riuh rendah...yahh...kabut pun menutup seluruh cakrawala. Maka, usai melihat theater selama 20 menit yang berisik saking banyaknya penonton..kami pun meninggalkan Ketep. Catch another pink lady dan meluncur turun ke Tlatar lagi. Kali ini bareng 2 petani yang membawa cabai merah sekarung, tomat segar serinjing dan 2 ikat super besar sawi hijau. Sungguh segar bau sayuran ini. Tomat sekilo Rp 1400, dan sawi hijau Rp 900. Semua mau ke pasar whole sale yang disebut ibu tadi pagi.

Jarum jam pas berhimpit di angka 12 ketika kami sampai di stasiun Blabak lagi. Lunch time. Pas depan stasiun ada warung kecil: Tahu Kupat Blabak. 2 piring penuh tahu kupat pedas sedang...Bukan hanya karena saya kelaparan, tapi Blabak memang Republiknya Tahu Ketupat yang endang bambang...!!! Tahunya lembut, digoreng setengah matang, disajikan bersama ketupat yang dipotong kecil dan kol yang sudah dicelup air panas sebentar. Kuah kecap dan sambal kacangnya sedap betul....2 piring tahu ketupat maknyus, 2 es teh dan 2 kerupuk, total kerusakan hanya Rp 13.000.

Energi naik ke titik tinggi lagi. Tukang parkir membantu mencegat bis Semarangan dan kami numpang sampai terminal Magelang. Target selanjutnya Hotel Kledung Dieng, Jl. Parakan Wonosobo km 17.

Jam 13.05 bus beranjak keluar terminal. Sengaja kami duduk paling depan karena ga mau kebablasan lagi. Sampai di Secang, bus berbelok kiri meninggalkan ruas magelang Semarang, masuk jalur Temanggung. Berarti ke arah barat....wha...kami duduk dibelakang wind shield.Waduh..hot hot hot...Kira2 satu jam kemudian, bus sampai di pasar Parakan. Keranjang bambu berlapis pelepah pisang kering ditumpuk rapi disekitar jalan. Konon Parakan is the biggest tobacco trading di Indonesia.

Tea time at the market. Jadilah sopir bis meninggalkan kami terpanggang menghadap barat dan beliaunya mungkin meneguk es the. Saya nggak berani beranjak, karena bis penuh, juga nggak tahu berapa lama es teh timenya akan berlangsung.
15 menit kemudian bus bergerak.

Wah, pemandangan selepas Parakan tidak boleh dilewatkan. Jalan sempit, bus ngebut tapi pemandangan sungguh menawan meski sebagian dataran menguning karena rumput kering. Sundoro dan Sumbing terlihat berjajar dan bus akan menempuh celah diantaranya. Beberapa kubah masjid berkilau cantik diantara hamparan hijau desa dikejauhan. Chong Nim agak frustasi dengan kameranya kaena sulit meng-capture indah perbukitan itu sementara bus berguncang-guncang mulu. Public bus gheeto lohh...

Hampir jam 3 sore kami menjejak Hotel Parai, Kledung Dieng. Kebablasan lagi. Tapi hanya 100 meter. Keciilll...Dikanan kiri tanaman tembakau dan kentang membentang.
Kalo pemandangan bagusnya kayak gini, kebablasan sekilo pun dengan senang hati di lakoni deh...
Karena gunung ketutup kabut, saya nyamperin FO hotelnya aja. Parai Hotel memang berada pada prime spot, pas ditengah untuk melihat Sumbing dari teras depan dan Sundoro dari teras belakang. Sayangnya, taman disekitar hotel ga terawat. Pergola yang dirambati tanaman pada berantakan...bebungaan juga kurang terurus..ato karena hotel kurang laris ya..? sayang sekali...

Dari gazebo di taman belakang, kita bisa langsung menatap sosok jelita Sundoro, yang merupakan ”suami” si Sumbing. ...eh, kebalik ga ya? Itu yang diterangkan Bapak ramah yang berambut dan berjenggot kelabu..(itukah Pak Agus..? Halo Pak!!).

Naik turun bus beberapa kali ternyata cepet bikin perut laper!
Asiknya, dihalaman depan Parai sudah ada resto yang sajiannya tampak menggiurkan. Lengkap pula macamnya. Buntil, oseng pare yang hijau menawan, tempe tahu dan mendoan, gulai kambing, sop buntut, ca sayuran sampai sate ayam dan kambing semua ada. Tapi karena sudah masuk wilayah Wonosobo, jelas saya minta dibuatkan mie ongklok dengan tempe goreng kemul yang berlapis tepung dan daun bawang. Chong Nim lagi tergila-gila dengan sate. Saya mah ngga tertarik dengan sate jejadian (maksudnya yang udah jadi dan dipajang ginian. Sate ya harus daging mentah dibakar didepan hidung dengan asap bakaran yang aromanya aja bisa bikin nasi sebakul serasa menciut jadi sepiring..)

Mie ongklok datang dengan mangkok ukuran sedeng. Cukup untuk menenangkan perut yang keisi tahu kupat 3 jam sebelumnya. Kuah mie kental, bertabur potongan ayam, bawang merah goreng, kucai dan seledri. Harum dan waktu saya cicip, hmm.. manis sedikit gurih. Sambal hijau yang disertakan mencoba menetralisir rasa manis yang terlalu pekat untuk saya.

Usai menyantap mie ongklok, kami baru menyadari bahwa langit yang berkabut sudah berubah biru benderang. Matahari yang condong ke barat memancar terang kearah puncak Sumbing. Subhanallah.. cantiknya...Chong Nim bergegas mengambil kameranya dan kami menghambur kekebun tembakau persis di seberang jalan...klik..klik...berpacu dengan waktu sebelum mega menutup puncaknya lagi...

Hampir setengah lima sore ketika kami akhirnya meninggalkan Parai Hotel. Berganti bus dua kali, tepat setengah delapan malam kami sampai di Yogya lagi. Nyaris pas 12 jam tour package.


Total Biaya (ber-2):

Yogya – Blabak = Rp 16.000
Blabak – Tlatar = Rp 10.000
Tlatar - Ketep = Rp 10.000 (normalnya @ Rp 3000)
Ketep - Tlatar = Rp 6.000
Tlatar - Blabak = Rp 10.000
Blabak – Magelang = Rp 5.000
Magelang – Kledung = Rp 20.000
Kledung – Secang = Rp 15.000
Secang – Yogya = Rp 20.000

Total biaya angkutan ber-2 = Rp 112.000 + Rp 4000 (angkot balik karena kebablasan)
= Rp 116.000

Tiket theater = Rp 10.000
Tiket museum Ketep = Rp 6.000
Jipang = Rp 3.000
Tahu Kupat = Rp 13.000
Lunch 2 =Rp 25.000

Total makan ber 2 = Rp 57.000

No comments:

Post a Comment