Friday, April 3, 2009

Sculpture on the Walk










Hari ini aku ada janji dengan June Lowe untuk melihat pameran seni patung modern Sculpture on the Walk. “Kamu naik kereta dari Perth Station platform 2, dan turun di Murdoch station yaa. Kereta berangkat jam 5.25 dan sampai di Murdoch st. jam 5.42. Aku dan Giz jemput jam 5.45 pm. Pembukaan jam 6 tepat.” pesan June melalui email minggu lalu.

Karena tidak ingin ketinggalan bus, maka aku bersiap jauh lebih awal. Meski transportasi di Perth secara umum sangat nyaman, tetapi hari Sabtu, Minggu dan juga public holidays selalu menyisakan kerepotan bagi orang yang hanya mengandalkan kendaraan umum seperti aku. Jumlah bus yang beroperasi sangat terbatas, dan waktu yang tertera di lembaran jadwal bus sering tidak di tepati karena laju bus juga sangat tergantung dari jumlah penumpang yang naik atau turun. Alhasil, aku pun harus mencatat betul jam berapa bis rute 21 akan lewat di stand dekat rumah, dan “berhasil” tiba di stasiun Perth jam 16. 15. Hm..”agak kepagian nih..,” dalam hati membatin.

Masih ada waktu sekitar 1 jam lebih untuk dihabiskan ditengah kota, di ruang lapang antara Commonwealth Building yang anggun dan Myers serta mall yang menderet barang-barang cantik dan mahal di pajangan. Jarum jam beringsut malas. Maklum, hari Minggu. Meski Perth sudah memasuki akhir musim panas, tetapi udara masih terasa sangat hangat. Gelap baru menebar di sekitar pukul 20.10.

Kafe dan coffee shop disekitar tampak di penuhi wajah-wajah elok yang bertukar cerita riang dengan pasangan ataupun sahabat sambil sesekali menyesap kopi dari cangkir. Harum cappucino mengambang ringan di udara. Burung-burung berkelebat, sesekali terbang rendah diantara lalu lalang pejalan kaki, dan hinggap di bangku-bangku yang tidak di duduki. Dan aku pun ikut larut bersama sebagian warga, yang menanti sore dengan sebuah novel paperback di tangan meski sebagian lainnya memilih untuk menghambur ke riuh music Latin di sisi lain gedung. Tak terasa..waktu akhirnya bergulir juga. Kereta berangkat 10 menit lagi.

Dimana ya, pamerannya?? Aku buka catatan kecil dari email terakhir yang June kirim. Oo..ini dia, City of Melville sedikit diluar jantung kota Perth.
Perth mungkin hampir mengejar beberapa kota Asia dalam hal kemacetan. Mobil dan bus, Jumat sore 13 Maret, merayap pelan. Wah, untung aku naik kereta. Anti macet…Jadi, tepat seperti instruksi June, 15 menit sebelum pukul 6 sore, aku duduk tenang menunggu Jun dan Giz, wanita politisi dari Partai Lingkungan. Angin menderu kencang di luar stasiun. Kaki-kaki melangkah bergegas – setengah berlari, memburu bis yang akan membawa penumpang pulang. Matahari sore masih bersinar cerah.
Ketika kami, June, Giz dan aku, sampai di park, pameran sedang dibuka oleh ibu walikota Melville. Acara pembukaan dipusatkan disisi danau. Beberapa botol anggur, beer, juga sirup apel berjajar dimeja dibawah rimbun cemara. Usai sambutan, pramusaji berkeliling menawarkan berbagai canapé dan snack. Fish fingers dengan mayonnaise dip, vegetarian spring roll dan samosa mini dengan saus asam manis serta bola cumi yang masih hangat menjadi santapan laris. Ketika aku mengambil sepotong spring roll dan mencelupkannya dalam mayonnaise dip, pramusaji tertawa dan berkomentar bahwa hari ini semua orang salah kaprah: spring rolls dicelup ke mayonnaise dan bola cumi di celup ke sweet chilli sauce. Hehehe… Dimeja-meja berselimut taplak hitam tersedia beberapa salad yang berisi potongan celery, Lebanese cucumber, capsicum dan beberapa macam sayur lain yang tidak aku tahu namanya.

Salah satu seniman pematung kontemporer itu adalah Gemma Stacey, yang merupakan sahabat Giz dan June. Sculpture karya-nya berjudul Lizzy, yang menyerupai kerangka kadal besar yang terbuat dari per truk dan jajaran mata bajak yang dibentuk menjadi ekor! Sangat unik. Karya Gemma tidak dijual karena akan dihadiahkan pada sahabatnya yang berulang tahun dalam waktu dekat. Namun beberapa karya yang memang akan dijual ataupun dilelang, di cantumkan harga yang bervariasi, mulai dari 800 sampai dengan 10.000 AUD, yang setara lebih dari 75 juta rupiah

Meski aku bukan pemerhati atau pun penikmat seni yang mampu memberikan apresiasi yang memadai, namun menikmati karya ditengah taman yang indah dan danau kecil ditengahnya, membuat sore cerah di akhir musim panas ini terasa sangat sempurna. Pukul 7, ketika matahari mulai beranjak jingga, bayang pepohonan tampak lembut memanjang jatuh di tanah. Bias warna hitam bayangannya, serta cahaya keemasan matahari sore berpadu kontras dengan hijau rerumputan. Indah dan tenang sekali. Pengunjung pameran berjalan pelan, bergerombol dan saling menyapa dengan suara rendah membincangkan dan memuji karya seni, dan harga, yang dipajang si empunya.

Musik dengan irama folk song juga ikut memeriahkan pembukaan pameran. Tiga pria dengan kostum putih yang bersulam benang warna warni dileher dan ujung lengan khas Eropa Timur mendendangkan musik rancak lewat dawai biola, flute, akordeon dan “hurdy gurdy” atau yang di sebut sebagai “rue la vie (?)”. Sangat unik, karena bentuknya seperti biola dengan leher pendek, tetapi alih-alih di gesek, dawai dimainkan dengan dipetik serta ada semacam pedal yang di putar di ujung “perut” biola. Keberadaan hurdy gurdy ini konon sudah merentang panjang dari abad 11. Instrument ini jarang muncul dalam permainan music, meski masih banyak dimainkan di pedesaan di Perancis.

Tak terasa jam bergulir menunjuk angka 8.30. Gelap mulai merambat, menyisakan saputan lembayung yang berkilau dipermukaan danau..Dan kami pun sekilas memeluk Gemma, membisikkkan selamat tinggal, dan mengucap salut kekaguman atas indah karyanya….

No comments:

Post a Comment