Eastern Monday. Hari Paskah. Senin.
Tadi pagi ada kejadian kecil yang mengharukan. Ketika aku menaiki escalator menuju Wellington bus station yang bersebelahan dengan Perth Main Station, terlihat di lantai bawah seorang opsir berjalan dengan semangat, bersama seorang wanita yang memeluk lengannya kirinya. Sementara tangan kiri sang wanita menghela tali yang melingkar pada leher anjing Labrador coklat muda.
Apa yang aneh? Tidak ada. Sampai aku sadari kedua orang itu berdiri di belakangku ketika aku sedang mengecek jadwal kedatangan bis yang akan aku tumpangi ke kampus. Aku bergeser sedikit. Si opsir mendekat ke arah jadwal, dan memastikan bahwa bis rute 889 akan datang jam 10 tepat. Beberapa menit lagi. “Aahh..you are a hero. Thank you so much”, wanita itu berucap kegirangan. Si opsir pun berlalu.
Dan aku baru menyadari ternyata wanita ini buta. Dan Labrador coklat itulah mitra-nya. Di belakang leher Labrador tergantung tulisan, terbaca jelas dari jarak 5 meter: Don’t distract me. I’m working. Sesaat kemudian, bis datang, dan si anjing sigap bangkit dari duduknya, dengan PD “menyeret” pemiliknya tepat ke depan pintu, berhenti sebentar di depan sopir agar si pemilik berbicara dan kemudian “menempatkan” tuannya di kursi yang lapang. Bukan main pintarnya.
Seperti warga barat lainnya, orang Australia memang tergila-gila dengan anjing. Hampir di setiap rumah memiliki seekor. Waduh, terus aku gimana, nih…kalo main ke rumah mereka? Sudah pasti si doggy akan menghadang di depan dan menyampaikan “salam.”
Secara pribadi, sebenarnya aku ngga keberatan untuk berdekatan dengan piaraan berkaki empat ini. Malah kadang kepingin punya seekor puppy yang berbulu lebat dan bermata jenaka. Namun karena aku tumbuh dikalangan yang muslim yang jelas mengharamkan air liur anjing, maka ketika tiba2 deketan dengan anjing beneran..eh..self-defence-ku langsung menyeruak..dan aku terbirit menjauh.
Tentu saja ini membuat kaget teman yang mengundangku kerumahnya. Bener, aku ngga bermaksud menyinggung perasaannya, dan dia pun tidak bermaksud membuatku “berdosa”. Anjing adalah anjing, just like other ordinary animal, dan dia bukan makhluk pendosa.Kini aku pun belajar lebih melonggarkan toleransi, meski ini mungkin tidak cocok dengan pendapat orang lain. Ketika ada teman mengundang, dan dia mengatakan punya anjing, maka aku pun membalas sikap manisnya dengan mengatakan bahwa aku ingin berkenalan dengan doggy-nya. Sungguh mereka senang.
Dan aku pun sudah menyiapkan diri dari rumah, dengan celana dan baju lengan panjang. Entah terkena air liur si doggy atau tidak, korbankan saja sedikit tenaga untuk membersihkan diri dan mencuci baju sesuai dengan syariatnya. Apalagi, bebersih yang extra kayak gini, toh tujuan akhirnya juga bagus. Makin bersih, makin bagus, kan? Dan itu juga berbonus “menyenangkan” hati teman yang berusaha menghormati kepercayaan kita.
No comments:
Post a Comment