Sunday, April 5, 2009

Yamaha Biru Bapakku

Bapak memang suka dolan, meski hanya dengan mengayuh sepeda, karena motor yang dibeli dalam kondisi gres – untuk pertama kalinya dalam sejarah keluargaku – baru masuk ke putaran perjalanan tanggal 31 Mei 1981. Senin Wage. Ini aku ingat betul, karena saking senengnya punya motor bebek baru, Yamaha V 81, aku menulis hari besar kedatangan sepeda motor itu dibalik pintu yang memisahkan rumah tinggal kami dengan kandang ayam dengan menggunakan kapur tulis putih! Tulisan itu tertinggal disana selama 26 tahun, sampai akhir 2007, saat pintu dibongkar karena dibangun dinding kamar mandi. Meski demikian, semua kakak adikku ingat catatan penting ini.

Aku ngga tahu berapa harga motor itu. Mestinya sangat mahal untuk bapak ibukku, karena mereka menjaganya bak benda pusaka. Itulah kenapa setiap sore menjelang malam, motor masuk peraduannya: dibelakang gebyok dalam rumah, dan rodanya di rantai. Membayangkan ada maling menyusup malam2, menidurkan seisi rumah dengan ilmu sirep, dan menggondol Yamaha V 81 adalah kengerian yang paling dahsyat! Membayangkan saja sudah bikin seluruh persendian ngilu, gemetar serasa mau copot!

Trus, apa saja yang sudah dijalani si motor pujaan hati? Multi fungsi! Jelas, motor itu mengantar Bapak ke tempat mengajarnya di SD Ngrombo 1 yang berjarak 20 kilo dari rumah. Biasanya, adikku yang saat itu masih kecil banget akan berlari keluar begitu mendengar suara derum motor bapak di kejauhan ketika siang hari Bapak pulang mengajar. Karena halaman cukup luas dan sudah diplester, maka adikku akan mencegat motor dihalaman, naik di boncengan, dan Bapak akan memutari pelataran sebelum membawa motor naik ke teras rumah.

Motor itu juga yang mengantar Bapak kesawah, mengunjungi keluarga, antar jemput siapa saja, bahkan sesekali dipinjam tetangga atau kerabat. Dan, setiap jumat sore motor itu dikendarai Bapak, dengan mengangkut accu besar dibelakang – dan aku yang memegangi accu – menuju kios yang melayani “stroom accu” di Delanggu, 15 menit perjalanan dari rumah. Kenapa? Yah, karena TV Sharp hitam putih di rumah Mbah kan hanya bisa menyala dengan tenaga accu – karena belum ada listrik - dan agar si Mbah dan tetangga bisa menikmati tontonan Ketoprak tradisional dengan jelas – tanpa gambar yang meliuk ataupun warna kelabu memudar, maka kekuatan accu harus terjamin. 2 hari setelah diantrikan untuk di stroom, accu dijemput pulang. Dengan Yamaha V 81 tentu saja, dan si Mbah sudah sumringah menunggu accu dirumah. Tetangga pun ikut bahagia dan tersenyum lega.

Ketika panen padi tiba, dan saat itu belum ada mesin perontok bulir padi, motor mengambil alih pekerjaan. Tangkai padi dikeluarkan dari karung-karung, diserakkan dihalaman membentuk lingkaran besar dan Yamaha V81 itulah yang menggilas lingkaran, menyisakan tumpukan merang batang padi yang sudah bersih dari bulirnya.

Sampai kini motor itu masih berfungsi, meski ibarat manusia, di usia renta dia didera banyak penyakit…mulai dari busi ngadat, starter macet, rantai patah, kabel gas putus, lampu mati, spion pecah ataupun bunyi kelotokan yang entah dimana sumbernya. Bapak tetap setia, namun semakin susah payah menggenjot pedal starternya, karena hampir tidak mungkin menghidupkan motor dengan 4 atau 5 hentakan starter. Itupun tangan harus sigap memutar handle gas. Alhasil, motor meraung hebat persis anak muda berkampanye..

ps: aku coba googling image Yamaha V81...ternyata ga ada! udah di-loakin semua kalee...

No comments:

Post a Comment