Saturday, May 16, 2009

An Escape to Toodyay Part 2

Professor yang petani

Terletak di lereng bukit, farm yang dikelola Bridget dan Anne menghadap lembah dimana “The Metropole of Toodayay” berada. Rupanya Toodyay memang terletak di cekungan, dikelilingi bukit2 coklat yang konon berubah menjadi padang hijau begitu musim hujan tiba. Satu hal yang aku ingat sekarang, ketika KKN di Temanggung bertahun-tahun yang lalu, tim-ku sempat berkunjung ke salah satu base-camp KKN teman lain sesama kecamatan Jumo, yang juga terletak di cekungan. It was a full moon at the time, dan masih lekat di pelupuk mata, rumah2 kayu yang diterangi sinar bulan. Gosh!! Subhanallah..cantiknya.

Kalau saja aku ke Toodyay pas musim dingin, mungkin gambaran country di Little house on the Prairie akan sama, kali yaaa…Toodyay juga dilewati jalur kereta api yang menghubungkan Perth dengan Adelaide. Hm..West Coast to East Coast. Ini agenda yang udah aku simpan untuk liburan tahun depan, meski harga tiket kereta ini lebih mahal ketimbang tiket pesawat pulang ke Jakarta dan waktu tempuhnya 2 hari. Hihi... Semoga terkabul! Amin amin.

Balik ke farm. Karena bertani cuma sekedar menyalurkan hobby, Bridget dan Anne tidak lantas mengelola “tiny” farm-nya yang 30 hektar itu dengan manajemen ala pro. 30 hektar dan itu termasuk tiny untuk ukran Australian farm. Tapi..yah, biar petani amatir pun ternyata mereka juga beli traktor untuk memanen, menebar benih, olah tanah dll. Ada segunng kecil pasir mineral, dan juga 2 tumpukan besar zak berisi manure (pupuk kandang) organic. Ya, ini lahan pertanian organic dan di sertifikasi.



Anne kasih instruksi cara jalanin traktor

Apa yang ditanam?
Diujung farm, Anne sedang “ndeder”..opo sih, bahasa Indonesianya.. menumbuhkan (?) puluhan polybag kayu cendana. Sebagian besar tanaman memang pohon Olive jenis tertentu (aku lupa..!!), yang berwarna hijau dan ungu tua. Ini bukan jenis yang di-pickled dan digunakan untuk irisan Pizza itu, tapi jenis yang diambil minyaknya. Kebetulan mereka baru selesai panen akhir April yang lalu. Masih tersisa sedikit di pohon. Aku memetik sebutir. Hmm..bentuknya tidak seperti Kalamata Olives yang untuk pizza dan berbentuk lonjong seperti melinjo. Yang mereka tanam ini lebih menyerupai Cherry hitam. Warna kayak jamblang/duwet. Ungu dengan daging putih keunguan. Rasanya…..weekkkss..pahiiittt…!!!

Olive. Cantik tapi pahit..

Dibawah pohon banyak berceceran shell/tempurung biji olive sisa burung2. Seperti Bapakku yang musuhan dengan burung2 emprit menjelang panen padi, petani olive bermusuhan dengan kanguru yang memakan tanaman, dan burung Twenty Eight-aneh namanya- yang berbulu hijau mengkilap, dan hobi menyantap olive. Tapi berhubung keduanya merupakan hewan yang di lindungi, apa boleh buat. Lagian, mana tega sih membasmi kanguru yang bertampang bloon dan burung twenty eight yang bulu hijaunya sungguh kemilau? Eh ya, ketika kami datang dan pulang, kami melewati belasan kanguru yang bengong di semak2 seberang farm. Dari kejauhan mereka tenang "duduk" pada ekornya. Hihi..lucu banget.

Tapi perang damai (halah..mana ada..) dengan kanguru tetap berlangsung. Maka garis demarkasi pun di buat: pagar kawat direntang sekeliling farm sebagai penangkal laju kanguru, dan kelambu di selimutkan di tiap pohon dan disangkutkan pergola besi untuk mencegah burung menyerbu olive. Ngga kebayang biayanya berapa deh. Tapi ini kepaksa dilakukan karena burung udah enggak mempan dihalau dengan cara hi-tech. Apaan tuh…? Tahun lalu mereka menggantungkan compact disk bekas diranting2 olive. Dan ternyata burung menjauh….!! Bisa jadi mereka merasa kalah pinter ngeliat disk, bisa jadi juga keder karena kilatan disk yang terkena matahari. Tapi ternyata itu Cuma bertahan setahun. Tahun berikutnya, twenty eight sudah hafal dengan tipu muslihat professor berdua ini. Jadi tetep..serbuuu…..!!


Kelambu yang dibuka usai panen

Pohon yang ditanam Bridget masih termasuk olive muda, semua dibawah 10 tahun. Olive merupakan pohon dengan usia produksi yang paling tua, bahkan bisa ratusan tahun! Untuk mengairinya, selang2 sudah ditanam dalam tanah, dan penyiraman dilakukan dengan sistem spray, bukan dip (tetesan). Sumber air di dapat dengan mengebor tanah kira2 100 kaki. Air tanah di farm itu, katanya, sedikit asin.

Olive trees

Dasar petani-nya professor, jadi ketika dirumah, mereka juga rajin surfing internet, dan membaca buku pertanian. Meski, sekali lagi, mereka bilang tidak tertarik untuk membesarkan farm mereka for business purpose. Hanya ada 3 toko organic yang mereka setori produk setelah mereka mengambil secukupnya untuk konsumsi sendiri.

Almond. Habis di foto, tak petik trus..dimakan. Batoknya keras, boww..

Aih, di farm-pun aku sempat2nya di ajarin liat 1 jenis weed/gulma. Mirip daun untuk lalapan..hihi. Kalo masih muda berwarna hijau, kalo udah tua berubah jadi purple. Namanya? Kalau di South Australia namanya Salvation Jane. Cantik, ya. Di WA, namanya Paterson Curse. Lho..kok kebalikan dg dang di SA? Di tempat lain, namanya …Bluebell. Ah..udah lupa lagi. Nama memang susah diinget dan bikin bingung ya.. ya..???

Namaku Darsi. Di ECU dipanggil Sri (sebel, ndesoo..). Di rumah, di panggil Endang (yeah..lumayan). Di Yogya, banyak teman memanggil Baby (kereen). Si mantan panggilnya Fah, Bu Eko panggilnya Jie, Pak Jati panggilnya Tante, anak2 Sinologi panggilnya Laoshi, mahasiswa kelasku panggilnya Miss, Dheti panggilnya Bu, Pak Endro panggilnya Yu..Pak Darja panggilnya Jeng, PakBerli panggilnya Mbak, Dede n Bu Martin panggilnya Bulik Minyi, Andi Godzilla panggilnya Dear! Eh, masih ada, Novi BHK sering panggil aku Darling. . Ada yang mau kasih nama baru buat aku..Cinta, misalnya?? Halah. Mabok!!

Perth, 16 Mei 09

An Escape to Toodyay

Halah, baca judulnya pasti pada bingung. Toodyay? Gimana baca-nya?

Gampang..mesky kelyatan ruwet dengan “y”, tapy ternyata mudah di ucapkan. Bacanya: Tuji. Hehehe..Memang nama-nama tempat yang berasal dari Bahasa Aborigin suka bikin dahi berkerut. Banyak konsonan, dan namanya panjang. Susah di inget, susah di ucapka, sulit pula di tulis.Satu tempat yang kita lewati ketika ke Toodyay adalah Gidgegannup. Tuh kan, kesrimpet lagi bacanya.

Anywaybusway, aku lagi nggak mau membahas tentang nama2 Aborigin. Tapi aku mo certain tentang sweet escape ke rumah Bridget di Toodyay, hampir 100 km arah timur laut kota Perth.
Dengan melewati highway yang membelah semak dan pohon eucalyptus-disebut gum tree, Pak Kees, mantan volunteer di Language Center UMY, menyetir mobil dengan tenang. Perth masih terjebak dalam musim kering yang parah, konon terburuk dalam 15 tahun terakhir. Udara musim gugur bulan Mei masih hangat dengan kisaran suhu 10 – 25. Di sepanjang jalan, kiri kanan hanya di dominasi semak-semak dengan daun jarum, vegetasi asli tanah Wester Australia (WA) yang gersang dan tandus. Di sejumlah tempat ada pohon eucalyptus tua dengan kulit yang mengelupas, atau semacam pinus. Tapi semua berdaun kecil, ataupun daun jarum.Sulitnya air memang jadi problem jamak di WA. Ann sempat mengatakan, curah hujan hanya sekita 800 mm pertahun. Tidak heran di hampir semua rumah, dibangun kilang besar penampung air hujan. Denga atap rumah yhg mirip seng, air hujan yang mengalir di talang, diteruskan ke pipa menuju kilang penampungan. Diluar kilang juga disediakan pompa untuk mengalirkan kembali air ke dalam rumah, untuk keperluan rumah tangga, termasuk air minum. Bisa langsung diminum, meski sebagian orang lebih suka merebusnya dulu.
Sepanjang 100 km, seingatku, cuma ada 2 atau 3 ‘perkampungan” kecil dengan deli-shop, semacam mini market yang juga menyediakan pom bensin kecil di depannya. Hmm..kalo mau keluar kota, harus bener2 siap dengan bensin dan kondisi mobil yang sehat. Sekalinya mogok ato kehabisan bensin..hah..siapa yang mau tolongin?Selain semak, kadang dikejauhan juga ada beberapa farm dengan biri2 yang bulunya genduutt.. Tapi kebanyakan juga merupakan tanah kosong..benar2 kosong dengan bukit2 coklat di kejauhan. Lebih kering ketimbang ngeliat bukit2 gundul di sekitar jalan Tol Tembalang di Semarang.

Bukit yang agak subur di sekitar Toodyay

Menjelang makan siang, sampailah kami di rumah Bridget, yang tinggal berdua dengan sister-nya Anne, dan Ebony, anjing hitam putih berbulu panjang yang pintar sekali menangkap bola tenis yang kita sepak2.. Lucu.

Bridget adalah seorang Professor Education yang meski sudah pension, tapi masih me-review disertasi Ph.D dan Doctor. Sedang Ann, yang bahasa Ingrris logat Scottish-nya sulit aku pahami, adalah Doktor bidang Science. Anehnya, setelah pension, mereka berdua malah terjun sebagai petani Olive dan membuat Organic Olive Oil, juga menanam beberapa jenis buah dan sayur untuk konsumsi sendiri dan di pasarkan sistem word of mouth. Kecil2an aja.
Jadilah Jumat siang kemarin (15/05) kami disambut segelas teh hangat dengan almond dan walnut dari farm mereka sendiri. Juga ada manisan Queans (?), semacam kesemek, dan buah peach kering..lagi2 dari farm sendiri.

Almond dan tang pengupas. Fresh from garden dan dimakan mentah

Sudah menjadi kebiasaan kalo bertamu di keluarga Barat, mereka akan menunjukkan seluruh ruangan dirumahnya. Setelah mengelilingi kebun sayuran di sekitar rumah – yang berpagar kawat, supaya nggak diterobos kanguru (!!!) yang hobinya memangsa tanaman – maka kami pun mendapat hadiah in-house tour. Karena dibangun di atas tanah merah dan berbatu, rumah mereka dibikin rumah panggung. Well, rumah tua di Perth sebenarnya memang semuanya rumah panggung dg jenis timber Jarrah. Living room mereka terletak di luar, tanpa dinding. Untuk menghalau dingin, mereka menggunakan lembaran plastic tebal yang bisa digulung keatas setelah zipper-nya di buka. Jadi dari pondok itu, pemandangan bukit bisa di nikmati dari segala sisi rumah.


Bridget, Wendy and Kees in the living room

Lunch time!

Makan siang pun semuanya di siapkan dari kebun sendiri. Kalopun ga punya sayuran di kebun – seperti wortel, mereka hanya membelinya di kios produk local. Untuk makan siang, mereka sudah menyiapkan dinner bread, roti tawar gandum yang kasar (bikin sendiri juga), dengan sayuran kukus (eggplant-terong, Lebanese cucumber-ketimun, wortel, buncis, rocket leaves) dan daging kalkun yang di rebus dan diiris tipis. Dessert-nya es krim vanili dengan selai apricot. Hmm..enaakk..dan kenyang!
Bridget's house. Living room di ujung kanan
Usai makan siang, kita meluncur ke farm, kira2 30 minutes of driving dengan melewati “the Metropole Area” of Toodyay, kata Anne sambil ketawa ngeliat aku yang bengong dengan Metropolisnya. Kota keciill banget, dengan bangunan kuno dan tempak sederhana dari luar, dan sepiii. Belakangan aku cek di buku saku, penduduk kota metropolis ini cuma 800 orang! Kami berhenti sebentar dan Bridget menuju kotak pos-nya. Bagi para pemilik rumah dan pondok di kawasan semak belukar (bush-land) seperti Bridget, memang tidak ada fasilitas pak pos yang akan mengantar mail mereka ke depan pintu. Jadi mereka harus sedia sendiri kotak pos di kota terdekat, dan mengeceknya secara rutin. Tapi sambungan telepon dan internet tetap bisa diperoleh dirumah.


Metropole of Toodyay

Sambung ke bagian 2 ya..

Friday, May 8, 2009

Thursday, May 7, 2009