Terletak di lereng bukit, farm yang dikelola Bridget dan Anne menghadap lembah dimana “The Metropole of Toodayay” berada. Rupanya Toodyay memang terletak di cekungan, dikelilingi bukit2 coklat yang konon berubah menjadi padang hijau begitu musim hujan tiba. Satu hal yang aku ingat sekarang, ketika KKN di Temanggung bertahun-tahun yang lalu, tim-ku sempat berkunjung ke salah satu base-camp KKN teman lain sesama kecamatan Jumo, yang juga terletak di cekungan. It was a full moon at the time, dan masih lekat di pelupuk mata, rumah2 kayu yang diterangi sinar bulan. Gosh!! Subhanallah..cantiknya.
Kalau saja aku ke Toodyay pas musim dingin, mungkin gambaran country di Little house on the Prairie akan sama, kali yaaa…Toodyay juga dilewati jalur kereta api yang menghubungkan Perth dengan Adelaide. Hm..West Coast to East Coast. Ini agenda yang udah aku simpan untuk liburan tahun depan, meski harga tiket kereta ini lebih mahal ketimbang tiket pesawat pulang ke Jakarta dan waktu tempuhnya 2 hari. Hihi... Semoga terkabul! Amin amin.
Balik ke farm. Karena bertani cuma sekedar menyalurkan hobby, Bridget dan Anne tidak lantas mengelola “tiny” farm-nya yang 30 hektar itu dengan manajemen ala pro. 30 hektar dan itu termasuk tiny untuk ukran Australian farm. Tapi..yah, biar petani amatir pun ternyata mereka juga beli traktor untuk memanen, menebar benih, olah tanah dll. Ada segunng kecil pasir mineral, dan juga 2 tumpukan besar zak berisi manure (pupuk kandang) organic. Ya, ini lahan pertanian organic dan di sertifikasi.
Anne kasih instruksi cara jalanin traktor
Apa yang ditanam?
Diujung farm, Anne sedang “ndeder”..opo sih, bahasa Indonesianya.. menumbuhkan (?) puluhan polybag kayu cendana. Sebagian besar tanaman memang pohon Olive jenis tertentu (aku lupa..!!), yang berwarna hijau dan ungu tua. Ini bukan jenis yang di-pickled dan digunakan untuk irisan Pizza itu, tapi jenis yang diambil minyaknya. Kebetulan mereka baru selesai panen akhir April yang lalu. Masih tersisa sedikit di pohon. Aku memetik sebutir. Hmm..bentuknya tidak seperti Kalamata Olives yang untuk pizza dan berbentuk lonjong seperti melinjo. Yang mereka tanam ini lebih menyerupai Cherry hitam. Warna kayak jamblang/duwet. Ungu dengan daging putih keunguan. Rasanya…..weekkkss..pahiiittt…!!!
Olive. Cantik tapi pahit..
Dibawah pohon banyak berceceran shell/tempurung biji olive sisa burung2. Seperti Bapakku yang musuhan dengan burung2 emprit menjelang panen padi, petani olive bermusuhan dengan kanguru yang memakan tanaman, dan burung Twenty Eight-aneh namanya- yang berbulu hijau mengkilap, dan hobi menyantap olive. Tapi berhubung keduanya merupakan hewan yang di lindungi, apa boleh buat. Lagian, mana tega sih membasmi kanguru yang bertampang bloon dan burung twenty eight yang bulu hijaunya sungguh kemilau? Eh ya, ketika kami datang dan pulang, kami melewati belasan kanguru yang bengong di semak2 seberang farm. Dari kejauhan mereka tenang "duduk" pada ekornya. Hihi..lucu banget.
Tapi perang damai (halah..mana ada..) dengan kanguru tetap berlangsung. Maka garis demarkasi pun di buat: pagar kawat direntang sekeliling farm sebagai penangkal laju kanguru, dan kelambu di selimutkan di tiap pohon dan disangkutkan pergola besi untuk mencegah burung menyerbu olive. Ngga kebayang biayanya berapa deh. Tapi ini kepaksa dilakukan karena burung udah enggak mempan dihalau dengan cara hi-tech. Apaan tuh…? Tahun lalu mereka menggantungkan compact disk bekas diranting2 olive. Dan ternyata burung menjauh….!! Bisa jadi mereka merasa kalah pinter ngeliat disk, bisa jadi juga keder karena kilatan disk yang terkena matahari. Tapi ternyata itu Cuma bertahan setahun. Tahun berikutnya, twenty eight sudah hafal dengan tipu muslihat professor berdua ini. Jadi tetep..serbuuu…..!!
Kelambu yang dibuka usai panen
Pohon yang ditanam Bridget masih termasuk olive muda, semua dibawah 10 tahun. Olive merupakan pohon dengan usia produksi yang paling tua, bahkan bisa ratusan tahun! Untuk mengairinya, selang2 sudah ditanam dalam tanah, dan penyiraman dilakukan dengan sistem spray, bukan dip (tetesan). Sumber air di dapat dengan mengebor tanah kira2 100 kaki. Air tanah di farm itu, katanya, sedikit asin.Olive trees
Dasar petani-nya professor, jadi ketika dirumah, mereka juga rajin surfing internet, dan membaca buku pertanian. Meski, sekali lagi, mereka bilang tidak tertarik untuk membesarkan farm mereka for business purpose. Hanya ada 3 toko organic yang mereka setori produk setelah mereka mengambil secukupnya untuk konsumsi sendiri.
Almond. Habis di foto, tak petik trus..dimakan. Batoknya keras, boww..
Aih, di farm-pun aku sempat2nya di ajarin liat 1 jenis weed/gulma. Mirip daun untuk lalapan..hihi. Kalo masih muda berwarna hijau, kalo udah tua berubah jadi purple. Namanya? Kalau di South Australia namanya Salvation Jane. Cantik, ya. Di WA, namanya Paterson Curse. Lho..kok kebalikan dg dang di SA? Di tempat lain, namanya …Bluebell. Ah..udah lupa lagi. Nama memang susah diinget dan bikin bingung ya.. ya..???
Namaku Darsi. Di ECU dipanggil Sri (sebel, ndesoo..). Di rumah, di panggil Endang (yeah..lumayan). Di Yogya, banyak teman memanggil Baby (kereen). Si mantan panggilnya Fah, Bu Eko panggilnya Jie, Pak Jati panggilnya Tante, anak2 Sinologi panggilnya Laoshi, mahasiswa kelasku panggilnya Miss, Dheti panggilnya Bu, Pak Endro panggilnya Yu..Pak Darja panggilnya Jeng, PakBerli panggilnya Mbak, Dede n Bu Martin panggilnya Bulik Minyi, Andi Godzilla panggilnya Dear! Eh, masih ada, Novi BHK sering panggil aku Darling. . Ada yang mau kasih nama baru buat aku..Cinta, misalnya?? Halah. Mabok!!

