Saturday, May 16, 2009

An Escape to Toodyay

Halah, baca judulnya pasti pada bingung. Toodyay? Gimana baca-nya?

Gampang..mesky kelyatan ruwet dengan “y”, tapy ternyata mudah di ucapkan. Bacanya: Tuji. Hehehe..Memang nama-nama tempat yang berasal dari Bahasa Aborigin suka bikin dahi berkerut. Banyak konsonan, dan namanya panjang. Susah di inget, susah di ucapka, sulit pula di tulis.Satu tempat yang kita lewati ketika ke Toodyay adalah Gidgegannup. Tuh kan, kesrimpet lagi bacanya.

Anywaybusway, aku lagi nggak mau membahas tentang nama2 Aborigin. Tapi aku mo certain tentang sweet escape ke rumah Bridget di Toodyay, hampir 100 km arah timur laut kota Perth.
Dengan melewati highway yang membelah semak dan pohon eucalyptus-disebut gum tree, Pak Kees, mantan volunteer di Language Center UMY, menyetir mobil dengan tenang. Perth masih terjebak dalam musim kering yang parah, konon terburuk dalam 15 tahun terakhir. Udara musim gugur bulan Mei masih hangat dengan kisaran suhu 10 – 25. Di sepanjang jalan, kiri kanan hanya di dominasi semak-semak dengan daun jarum, vegetasi asli tanah Wester Australia (WA) yang gersang dan tandus. Di sejumlah tempat ada pohon eucalyptus tua dengan kulit yang mengelupas, atau semacam pinus. Tapi semua berdaun kecil, ataupun daun jarum.Sulitnya air memang jadi problem jamak di WA. Ann sempat mengatakan, curah hujan hanya sekita 800 mm pertahun. Tidak heran di hampir semua rumah, dibangun kilang besar penampung air hujan. Denga atap rumah yhg mirip seng, air hujan yang mengalir di talang, diteruskan ke pipa menuju kilang penampungan. Diluar kilang juga disediakan pompa untuk mengalirkan kembali air ke dalam rumah, untuk keperluan rumah tangga, termasuk air minum. Bisa langsung diminum, meski sebagian orang lebih suka merebusnya dulu.
Sepanjang 100 km, seingatku, cuma ada 2 atau 3 ‘perkampungan” kecil dengan deli-shop, semacam mini market yang juga menyediakan pom bensin kecil di depannya. Hmm..kalo mau keluar kota, harus bener2 siap dengan bensin dan kondisi mobil yang sehat. Sekalinya mogok ato kehabisan bensin..hah..siapa yang mau tolongin?Selain semak, kadang dikejauhan juga ada beberapa farm dengan biri2 yang bulunya genduutt.. Tapi kebanyakan juga merupakan tanah kosong..benar2 kosong dengan bukit2 coklat di kejauhan. Lebih kering ketimbang ngeliat bukit2 gundul di sekitar jalan Tol Tembalang di Semarang.

Bukit yang agak subur di sekitar Toodyay

Menjelang makan siang, sampailah kami di rumah Bridget, yang tinggal berdua dengan sister-nya Anne, dan Ebony, anjing hitam putih berbulu panjang yang pintar sekali menangkap bola tenis yang kita sepak2.. Lucu.

Bridget adalah seorang Professor Education yang meski sudah pension, tapi masih me-review disertasi Ph.D dan Doctor. Sedang Ann, yang bahasa Ingrris logat Scottish-nya sulit aku pahami, adalah Doktor bidang Science. Anehnya, setelah pension, mereka berdua malah terjun sebagai petani Olive dan membuat Organic Olive Oil, juga menanam beberapa jenis buah dan sayur untuk konsumsi sendiri dan di pasarkan sistem word of mouth. Kecil2an aja.
Jadilah Jumat siang kemarin (15/05) kami disambut segelas teh hangat dengan almond dan walnut dari farm mereka sendiri. Juga ada manisan Queans (?), semacam kesemek, dan buah peach kering..lagi2 dari farm sendiri.

Almond dan tang pengupas. Fresh from garden dan dimakan mentah

Sudah menjadi kebiasaan kalo bertamu di keluarga Barat, mereka akan menunjukkan seluruh ruangan dirumahnya. Setelah mengelilingi kebun sayuran di sekitar rumah – yang berpagar kawat, supaya nggak diterobos kanguru (!!!) yang hobinya memangsa tanaman – maka kami pun mendapat hadiah in-house tour. Karena dibangun di atas tanah merah dan berbatu, rumah mereka dibikin rumah panggung. Well, rumah tua di Perth sebenarnya memang semuanya rumah panggung dg jenis timber Jarrah. Living room mereka terletak di luar, tanpa dinding. Untuk menghalau dingin, mereka menggunakan lembaran plastic tebal yang bisa digulung keatas setelah zipper-nya di buka. Jadi dari pondok itu, pemandangan bukit bisa di nikmati dari segala sisi rumah.


Bridget, Wendy and Kees in the living room

Lunch time!

Makan siang pun semuanya di siapkan dari kebun sendiri. Kalopun ga punya sayuran di kebun – seperti wortel, mereka hanya membelinya di kios produk local. Untuk makan siang, mereka sudah menyiapkan dinner bread, roti tawar gandum yang kasar (bikin sendiri juga), dengan sayuran kukus (eggplant-terong, Lebanese cucumber-ketimun, wortel, buncis, rocket leaves) dan daging kalkun yang di rebus dan diiris tipis. Dessert-nya es krim vanili dengan selai apricot. Hmm..enaakk..dan kenyang!
Bridget's house. Living room di ujung kanan
Usai makan siang, kita meluncur ke farm, kira2 30 minutes of driving dengan melewati “the Metropole Area” of Toodyay, kata Anne sambil ketawa ngeliat aku yang bengong dengan Metropolisnya. Kota keciill banget, dengan bangunan kuno dan tempak sederhana dari luar, dan sepiii. Belakangan aku cek di buku saku, penduduk kota metropolis ini cuma 800 orang! Kami berhenti sebentar dan Bridget menuju kotak pos-nya. Bagi para pemilik rumah dan pondok di kawasan semak belukar (bush-land) seperti Bridget, memang tidak ada fasilitas pak pos yang akan mengantar mail mereka ke depan pintu. Jadi mereka harus sedia sendiri kotak pos di kota terdekat, dan mengeceknya secara rutin. Tapi sambungan telepon dan internet tetap bisa diperoleh dirumah.


Metropole of Toodyay

Sambung ke bagian 2 ya..

No comments:

Post a Comment