Monday, July 20, 2009

Mudik Winter 09: Makan = Bukan Sekedar Membuat Perut Kenyang (Part 3)

Naik kendaraan, mobis, bus, kereta, pesawat…apapun, selalu membuat perut keroncongan. Aku ngga ngerti bagaimana hal ini bisa diterangkan, tapi sepertinya ada korelasi yang aneh. Bagaimana mungkin cuma duduk2 aja dalam kendaraan – atau melek setengah merem, ngelamun, baca buku, kegiatan yang nyaris tanpa mengeluarkan energy yang berarti itu - membuat perut bisa sedemikian lapar?

Dan ketika perut sudah terlalu capek berteriak minta diisi, giliran rasa mual memaksa aku menahan napas sesekali. Sabaar..bentar lagi nyampe. Dan begitu sepotong ayam goreng tepung, scrambled egg, nasi putih hangat dan segelas coca cola terhidang di depan mata..wuahh…serbuuu…!!

Tapi…apa sih enaknya makan sendirian? Lauk yang paling enak kan…teman makan! Jadilah suatu Sabtu siang aku dan Dheti mampir di food court Giant setelah Dheti lepas dari “uler keket” antrian nonton Transformer 2. Tadinya aq pengin Bakso Babat, tapi petugas bilang, babat belum matang. Pliss deehh..udah jam 1 siang, gitu lohh. Alhasil, pesanlah kita semangkok bakso komplit , semangkok sop Konro dan 2 botol teh dingin serta segelas air jeruk panas sebagai pengganjal perut sambil menunggu Transformer beraksi.

Bakso datang dengan aroma sedap yang khas. Sedikit cicip ahh…hmm. Ternyata ngga ada yang istimewa. Biasa banget. Ga apa. Tapi yang bikin kesel…sendok garpunya. Hiyaa…kenapa? Sendok dan garpu terbuat lempeng yang saaangat tipis, sehingga sisi pegangan sendok terasa mau melukai jari ketika digunakan untuk memotong bakso. Aku paksain dan..eh..sendoknya peyot..!! Tuingg…gw pikir gw udah bisa menyamai aksi Dedy Corbuzier yang bisa membuat sendok melengkung. Wah.. hebat banget nih. Heheh..tapi kalo sendoknya peyot, gimana makan bakso-nya? Jadi gw minta tukar sepasang yang baru dengan pesan khusus: minta yang bergagang tebal! Dan mereka ngga punya. Ouch…Ngga kebayang kalo yang makan disini anak2. Haduuh..bahaya!!

Pengalaman dengan foodcourt di Giant Bekasi membuat aq rada2 males ke foodcourt lagi. Nah, ketika nyampai di Yogya, dan jeng Indah berbaik hati meng-organize eating out ke Pondok Cabe, gw semangat banget.

Pondok Cabe 2 Jl. Simanjuntak Yogya

Siapa bilang wong Jogja cuma suka rasa manis? 3 atau 4 tahun terakhir, Yogya seolah di sesaki dengan warung pedas. Mulai dari oseng mercon dekat PKU yang melegenda hingga warung tenda dan non-tenda Serba Sambal yang kini sudah menggurita dimana-mana. Serba sambal tidak melaju sendirian, masih ada Cabe Nusantara, Dapur Sambal, Super Pedas sampai Penyetan Banyuwangi berlomba ‘menghajar’ pemangsa2 sambal yang kelaparan. Klik deh di http://www.ayojajan.com/ dan pilih pedas-pedasmu…!!



Pondok Cabe 2 dibalut interior kayu sederhana. Kehangatan ditebarkan lewat lampu bohlam kekuningan, dan bukan neon. Penataan ruangnya lumayan menyenangkan meski tidak terlalu artistik. Menuju ke meja dan bangku, di sebelah kanan di-display-kan menu yang berupa bahan yang siap bakar. Berbagai olahan ayam, ikan, pepes, juga jeroan sapi serta sambal dan lalapan di tata beralas daun pisang. Di seberang display, satu set peralatan music berjajar. Main hall berbentuk lingkaran dengan focal-point air mancur kecil yang dikelilingi beberapa set meja kursi. Main hall ini ‘dilingkari’ lantai kayu yang lebih tinggi untuk tatanan meja lesehan.

Untuk yang tidak mendapat tempat di bawah, pengunjung bisa menempati set meja kursi di lantai atas yang dihubungkan dengan tangga kayu. . Tapi buat aku..hm, ngga enak deh. Ngeliat ke bawah malah pusing…Wastafel dan toilet terhitung bersih meski cenderung basah. Handuk tangan di wastafel juga terasa lembab dan tidak diganti dengan yang kering.

Makanan? Menu cukup ekstensif, tapi untuk ber-8, kami ngga pesan terlalu banyak. Hanya nasi putih, 2 mie goreng untuk tante dan Arifah, sate empal, pepes jamur, garang asem ayam dan pepes ikan. Rasa masakan cukup STD, kecuali mi goreng..loh..kok lumayan enak, meski buat aku, mie-nya terlalu berair. Sambelnya…? Hoaahhhh…pedes! Colek dikit lagi ah…hoah-hoah. Tambah pedess banget. Tahu-tahu ada yang berbunyi ngiingg.. heheh, pedesnya bikin telinga berdenging..Dengan tambahan minum lemon tea dan jus-jus-an, total kerusakan Rp 98.000 sahaja. Sangat pocket-friendly.

Nasi Timbel Baraya Sunda, depan Merapi View Jakal

Usai contreng sana contreng sini..hmm..makan apa ya? Nyontreng kan butuh banyak tenaga, buat mikir, mana yaa..pasangan capres-cawapres paling tajir..Jadi laper, kan?! Maka, dengan kelingking masih belepotan tinta pemilu, aq ma tante ngaciir ke Jakal. Lumayan jauh lohh dari Karangkajen. Dalam hati aq berharap banyak: semoga ngga tutup pliss..daann…begitu nyampai di sana..horeee..bukaaa!!

Semangat deh tante order paket nasi timbel dengan ayam bakar dan es gedubrak (eh, bener ngga sih, ini..?). Aq pesan paket dengan pepes kembung, tahu dan tempe goreng. Sayang, ikan asinnya kosong.


Baraya Sunda sebenarnya lebih beken dengan Es Cendol Si Geboy-nya yang memang endaang banget. Mungkin ini signature-drink nya. Cuma karena aku ngga suka dengan minuman bersantan aja, maka es lemon tea selalu jadi andalanku.

Hidangan datang dengan beralaskan piring anyaman bamboo (ato rotan?) tipis berlapis daun pisang. Nasi digulung dalam daun pisang, harum dan hangat. Pepes ikan kembungnya empuk dan tasty, ayam bakarnya sedap. Meski semua enak, seperti biasanya, tapi aq rasa yang paling juara adalah tahu gorengnya yang kering diluar lembuut di dalam..hihi..kayak iklan wafer aja. Side dish favorit kami yang lain, empal daging yang empuk dan juicy. Pas buka puasa kantor, beberapa tahun lalu, kami pernah menyerahkan urusan bukber pada Baraya Sunda ini. Dengan harga paket, waktu itu @ Rp 22.000 teman2 bilang…enaaakk. Mau lagi doong..hahaha..

Kalo es cendol si Geboy gampang kita temukan nagkring di gerobak depan supermarket, es Gedubrak kayaknya Cuma disediakan di Baraya Sunda. Disajikan dalam “mangkok berkaki” ukuran sedang, beberapa potong buah, melon, semangka, juga jeli kenyal warna hijau kuning merah, dan tentu saja cendol, disiram kuah santan manis. Legit namun segar.

Total kerusakan..ngga tahu lah. Di bayarin ma tante. Tapi seingatku, paket nasi timbel ayam Rp 14.000 dan timbel dengan kembung Rp 8500 sahaja. Info tambahan, yang mo tahu no telp pemiliknya, Mbak Ita, kontak Bu Nina yaa..Nomor Bu Nina..hm, tanyain ke kantorku. Kalo nyari Beby, liwat hotline yee..pasti ketemu deh. Walah..ni mulai ngelantur lagi deh.

Cukup sekian review Baraya Sunda.

Tamansari Foodcourt, Ambarukmo Plaza

Indah, Erni dan aneka juice

Karena Mariska dan bu Mary missed acara “Mondok Cabe”, maka Minggu, 12 July kita sepakat reriungan lagi. Secara menyatukan selera tu susah, maka EO-nya (lagi2 Bu Indah turun tangan nih) bertitah via sms: Tamansari Amplaz, 12.30, ladies..!! Ngacir-lah gw kesana dengan perut yang setengah penuh. Paginya udah sarapan dengan botok buatan Buke, siihh…

Terkumpul ber 7, bener ajah..order makanan ngga pake pola banget deh. Andalan aq selalu Mie Ayam Nusantara: Mie Komplit porsi sedang. Selaluuuu…sama. Aq memang a loyalist. Setingkat di bawah bakmi GM (harganya juga beda booww..), mie-nus selalu jadi my first choice. Kaldu mie-nus yang ringan dan cenderung tawar, matching banget untuk di seruput mengiringi mie tipis dengan taburan ayam serta jamur merang yang tampil bersih dan gurih. Ini bedanya dengan mie pasar baru, yang di lidah aq, menimbulkan ‘tabrakan’ rasa kaldu dan mie yang terlalu kuat. Untuk mie-nus jamur, paling cocok disandingkan dengan pangsit rebus deh..Pangsit yang berisi udang terasa lembut dan selaras dengan tekstur mie. Kalo dengan bakso, baik goreng maupun rebus, hm…sepertinya terlalu kenyal untuk padanan. Daaannn…janganlah di rusak komposisi rasa yang ringan dan segar ini dengan saus tomat ato cabai. Haduuh..jatuh berdebam deh. Ga usah, lah.

Sayangnya, pas kita makan di foodcourt, mangkok mie-nus ngga boleh ikutan nangkring di foodcourt. Policy dari pengelola, mungkin, untuk melindungi tenant yang ada dalam foodcourt. Ya sudah, mi-nus ku terpaksa di nikmati dalam styro-box berlapis kertas lilin. Huhuhu…
Pesanan Indah dan Dewi, entah apa namanya, semacam nasi goreng dengan fillet ayam berlapis tepung roti yang digoreng kering dan disajikan di atas hotplate. Rasanya? Entahlah. Aq ga cicipi. Susah juga menebak enak enggak-nya. Lha wong enak ato ngga enak, Dewi and Indah selalu habisin makanannya sihh…hihihi. Mariska? Momon ini selalu punya pilihan yang lebih cerdas. Kali ini dia ngorder Cakwe yang di masak dengan paprika merah hijau serta potongan ayam. Enaakk…?? Pastinya, iya. Gw ngga cicip juga. Lain kali wae.

Best of all, semua makanan itu di nikmati bareng orang2 istimewa: sahabat. Dan rasanya..whuahh…ruarr biasa!!
Sebagian foto, credits to
http://www.ariep.multiply.com/ (pondok cabe), aprilia (bakso) dan http://www.tripod.com/ (nasi timbel)

Thursday, July 16, 2009

Mudik Winter 09: From Purwokerto With Mendoan (Part 2)

Naik kereta api..tuut..tuut..tuut…siapa hendak ikut….

Dari semua moda transportasi, kereta api memang meninggalkan kesan indah yang terpatri di benak gw. Masih inget ketika kecil, Bapak selalu menyebut sate dekat rel kereta, di stasiun Delanggu, yang paling joss..!! Lohh..apa hubungannya dengan naik kereta api, yaa…? Ngga ada..!! Kebetulan aja si cucu penjual sate ini dulu pindah ke sekolahku di SMP 2 Wonosari. Gw inget, anak cewek, bongsor, keriting n kulitnya putih..kesekolah naik vespa….haiyahhh..kok malah ngelantur. Apaan sih..

Ok. Gw suka naik kereta apai karena 2 alasan : pertama, gw ngga mabuk. Kedua, rute Jakarta – Yogya menyuguhkan pemandangan indah antara Brebes – Purwokerto. Kereta kan bisa nembus jalan2 yang sulit..dan kita tetap tenang didalamnya. Nggak banting2 kayak kalo dalam bus.
Jadilah gw, untuk ke sekian kalinya, seret kopor segede bagong ke Gambir, naik Taksaka pagi ke Yogya. Duduk di sebelah gw kali ini, cewek manis yang kuliah di UII. Yang mengejutkan, dia dulu juga pernah ikut student exchange ke Perth, dan sekolah di Stephen School…tempat ngajarnya Bu Wendy dan Bu Caroline!! Bu Caroline inilah yang pernah ajak gw muter2 ke King’s Park ketika awal2 gw di Perth dulu…hah. What a small world!!

Sudah jauh2 hari gw rencanain, kalo mudik nanti gw kudu ke Purwokerto. Silaturahim ke Permadi dan anak istri, ketemu Adit and Andy, dan niat gw mulia banget nih…berterima kasih. Hohoho..bener.

Etape 2: Yogya Purwokerto

Naik bis Efisensi yang resik. Another 4,5 hours on the road. Menjelang masuk Purwokerto, jalan agak menanjak. Kanan kiri tebing dengan pepohonan, dan lhoo..kok banyak orang berjajar – jongkok dan duduk di pinggir jalan? Si adik ABG yang duduk di sebelah bilang, mereka peminta-minta, yang menunggu pengguna jalan melemparkan uang. Kasihan, tapi kok gitu siihh…?
Purwokerto menjelang malam. Sedikit letih di jalan, dan Permadi jemput di terminal. Usai check in di Dinasti, bagus loh.., mandy dan makan malam dulu dong. Gurameh bakar, ca kangkung, mi goreng..dan mendoan panas. Maaakk…enak!! Malam ditutup dengan putar2 kota yang lumayan lengang, dengan jalan yang jauh lebih lebar ketimbang jalan2 di Yogya.

4 July 2009

Amerika sedang merayakan kemerdekaan. Gw ngga peduli n ngga nonton TV. Sabtu pagi di awali dengan kunjungan ke obyek wisata terbaru di Purwokerto: Rumah Mayangsari…hahahah…!!! Ngga mau di bilang ndesoo..(padahal pengin), gw lewati deh sesi foto disono, langsung tancap gas ke Baturraden.Meski udah dengar Baturaden (single r) sejak kecil, baru kali ini gw benar2 bisa menjejakkan kaki. Ternyata..cantik banget!! Bersih dan rapi. Gw ngga habis2 berdecak kagum. Karena bersih dan rapi menjadi hal yang langka di obyek wisata kita, melihat Baturraden yang tertata gw kayak orang kalap foto2 deh…

The happy family of Permadi

Tiket masuk seharga Rp 5000, wajar untuk ongkos pengelolaan kawasan. Teringat kecelakaan tragis di hari Lebaran kedua, beberapa tahun lalu, ketika serombongan pengunjung terpelanting ke dasar sungai yang berbatu saat mereka meniti jembatan gantung, maka dengan sedikit masygul gw menapaki tangga ke atas sungai. Untunglah di Ground Zero itu sekarang sudah dibangun jembatan beton bercat oranye, kontras dengan warna jernih air terjun kecil di depan dan hijau hutan yang membingkai belakangnya.
Ground Zero. Musibah menyedihkan di hari ke dua Lebaran.

Dari atas jembatan, batu2 dibawah sungai bawah sana terlihat mengerikan. Pantas saja, putusnya jembatan gantung 3 atau 4 tahun lalu menelan belasan korban tewas karena terhantam batu. Innalillahi…Disisi kanan sungai, dibawah jembatan, seorang laki2 duduk berjongkok. Dia akan melompat ke air terjun kalau ada yang melemparkan uang….hiiyyy..ngeri sekali.
Money-chaser-nya duduk di kanan, sambil maen handphone!

Mending pindah aja deh, naik ke Pancuran 3, yang berupa kolam air hangat dengan 3 pancaran air panas. Banyak bapak2 menawarkan jasa pijat refleksi, sambil duduk di pinggir kolam, bahu dan kaki di pijat. Tapi gw ngga mau karena kaki masih bengkak2. Jadi cukup celup2 dan foto2 aja deh..Untuk masuk ke kawasan ini, tiket Rp 5000 harus di beli lagi.
me and dani

Masih ada pancuran 7 kalo kita mau naik lagi ke atas. Tapi karena gw ada janji dengan Mia dan Aida, gw batal aja deh. Sepiring mendoan lagi, sate ayam dan es the menjadi pelengkap kunjungan ke Baturraden. Balik ke mobil, banyak pedagang menawarkan bonsai cemara dan agloanema merah. Bagi pengunjung, ada tulisan peringatan, untuk berhati2 agar tidak tertipu beli tanaman palsu. Hah…? Rupanya banyak beredar bonsai palsu dari plastic atau karet…juga Agloanema merah, yang daunnya bisa luntur…hahahah..ada2 aja.

Makan siang dengan Aida, Mia dan Unik. Memory Garden, Purwokerto. Resik dengan tanaman yang rimbun di sekitar gubug. Bandeng bakarnya enak. Tapi nila-nya berasa aneh dan ngga segar. Kaki ayam yang di tumis dengan sayuran dan jamur, juga ca kangkung..boleh juga. Trims buat Mia dan Aida yang traktir gw dengan rapelan gaji sebagai dosen baru Unsoed..!! Sedap bener deh.

Balik hotel, gw menghuni kamar deluxe, bow..luaasss..didepan kolam renang. Tapi apalah daya, wong gw ga bisa renang. Jadi..yaa..nonton Mr. Bean di kamar aja deh.

Malemnya, ketemu Adit and Andy. Haaha..meski udah sering YM-an, baru kali ini bener2 baru kopdar. Curhat ala YM lanjuutt..sambil muter kota Purwokerto yang mulai dijejali anak2 muda yang malam minggu-an. Mendarat di kafe..Meteor (duh..lupa namanya), 2 nasi goreng daging asap dan juice dibagi bertiga. Menyenangkan sekali. Ternyata menemukan kawan yang baik itu ngga sulit sama-sekali.

5 Juli 2009

Happy Birthday to me….!!! plok..plok..plokk...tepuk tangaann..Teringat Mr. Bean yang meloncat2 kegirangan di film-nya yang edisi Christmas. Tapi gw ga punya kaos kaki untuk di tengok. Ga punya box hadiah untuk di buka. Tapi punya teman2 yang saaangat baik untuk di syukuri. Sinterklas ga mungkin datang ..Jadi gw telpon Mia aja untuk temani gw sarapan di hotel.

Permadi dan anak dan mama-nya datang jelang siang. Hari ini ke Musem BRI deh. Museum BRI menyimpan koleksi uang kuno, alat2 perbankan dari jaman baheula, sampai dengan catatan sejarah perbangkan Indonesia yang di dirikan R. Wiryaatmaja. Pakaian beliau pun masih utuh tersimpan.

Museum BRI

Menurut Permadi, ketika museum ini akan didirikan, seluruh BRI cabang dikirimi surat himbauan untuk menghibahkan koleksi mereka masing2 untuk disatukan. Maka terkumpullah mesin hitung, mesin ketik, brankas besi, koin, uang kertas, catatan bersejarah dari seluruh pelosok, dan disatukan di museum ini. Hebatnya, uang kertas jaman Belanda, dan uang coin jaman majapahit juga masih ada lohh..

Mesin hitung uang koin

Mungkin yang Permadi bilang benar: Kita hanya mengunjungi museum 2x, pertama, ketika diajak Bapak ke museum. Kedua, ketika mengajak anak ke musem. That’s all…hahaha..


Waktu merambat cepat. Setelah belanja mendoan mentah, dan makan siang dengan soto Sokaraja, gw meninggalkan Purwokerto. Tapi, seperti Jenderal McArthur, gw juga bilang : I shall return….!!! Habis..gw blom sempat cicipi pecel dengan bunga kecombrang

Lanjut ke etape 3: Makan di Yogya
ini fotonya. Cerita nyusul yah..


Mudik Winter 09: Mimpi Yang Harus Usai (Part 1)

PULANG. Selalu membuat hormone endorphine melonjak, mengirimkan sinyal rasa senang ke seluruh sel tubuh. Karen Armstrong dalam Prophet Muhammad mendefinisikan perjalanan berhaji sebagai perjalanan pulang. Bahagia yang tak terlukiskan. Kecuali Harry Potter yang selalu suntuk setiap kali ada school break dan harus ke Pivot Drive, sepertinya ngga ada yang ngga girang ngebayangin pelukan sahabat dan kerabat serta keriuhan gosssiiippp..plus makanan enak yang bahkan baru dengar namanya aja udah membuat jakun naik turun..(eh, emang gw punya jakun..?).


Akhirnyiaahh…23 Juni 2009 bergulir juga. Jetstar JQ 114. Perth ETD 11.00. Jakarta ETA 14.30.


Ngobrol ngalor ngidul dengan Pak Kees and Bu Wendy di Perth airport ditemani 2 cangkir coklat panas dan teh cammomile cukup menjalarkan rasa hangat ditengah terpaan angin selatan yang dingin menggigit. Pening semalaman yang aku rasa sedikit terlupa. Perut kosong benar2 cuma terisi segelas kopi dan krim di rumah, dan secangkir teh di bandara. Sedikit lemas tapi legaa, aku melangkah dan memulai proses check in. Lancarr…hmm awal yang baik.


Kebaikan berikutnya, meski penumpang Jetstar berjubel-maklum banyak yang memanfaatkan tiket promo-ternyata kursi di sebelahku kosong!! Jadi ruang duduk pesawat A320 yang sempit terasa sedikit melegakan. Di sebelah gw seorang bapak muda denga istri dan 2 anak cowok usia dibawah 10 tahunan yang duduk di seberang lorong. Si Istri ini..haduh, tinggi dan cakeep banget. Taruhan, pasti dia seorang model. Cara dia meletakkan hand bag-nya yang Luis Vuitton asli bow..haduh. .manis sekalee.


Sedikit delay, akhirnya JQ 115 mengudara. Lebih pelit ketimbang LCC (Low Cost Carrier) kita yang masih memberikan sepotong roti bantal buat gigit2an, Jetstar bener2 cuma kasih sebotol air mineral 500 ml untuk penerbangan siang yang 4,5 jam itu. Sandwich, snack, permen..apapun..kalo kepingin, ya beli. Selimut, headphone, bantal, film..heheh..sewa! Layaknya anak Indonesia yang pinter berhemat, gw cuma siul2 ajah sepanjang jalan..heheh..dan sibuk membayangkan 2 hari kedepan, dimana gw udah reservasi hotel di Mangga Dua dan menetapkan niat untuk jadi wisatawan soliter di Jakarta.


Etape 1: Secuil Jakarta


Check in di hotel jam 4 sore, gw langsung menyantap nasi dan ayam goreng yang tadi dibeli di aiport. Lapaaarr banget. Tapi makan dikit ajaa, karena kudu nyisain ruang untuk mi ayam, ato soto babat, ato nasi goreng..apa ajalah malam nanti. Rakus-nya mulai membabi buta nih. Bahokay..!!


Maka, usai mandi, jam 7 petang gw mulai melipir jalan sekitar Ibis. Di seberang hotel ada pasar kagetan yang riuh rendah dengan pedagang CD bajakan, baju harian, gelang kalung batu dan beads, juga sate ayam…Walah, baru berapa meter aja, body gw yang harum mewangi (emang kuntilanak..?) udah berganti aroma asap panggangan sate ayam!!! Rugi deh gw tadi semprot2 EDT Hillary Duff ..


Didepan Mangga Dua mall ada gerobak..hahh..apa itu?? Gw kucek2 mata. Unmistakable sight..mi ayam kampung dengan botol saus gede cap Gentong!! Gw lewat depannya dan wuahh..harum kuah beraroma sawi hijau dan minyak bawang bikin bulu kuduk merinding..tapi ngga tega mo mampir krn penuh dengan tukang ojek. Agak takut juga..(wah, udah ketularan bule yang suka parno nih..). Ini menyiksa diri ..


Gw terus jalan ngider ga ngerti arah. Di ujung perempatan dekat stasiun Kota, ada warong tenda Lamongan. Ha..tandaslah semangkuk sop kaki sapi, secentong nasi dan 2 gelas es the (eh, gelas yang pertama kesenggol ga sengaja dan tumpah..!!). 4 bungkus kerupuk semi-udang gw jinjing pulang buat teman ngopi besok pagi.


Hari kedua gw bangun dengan kepala yang makin pening. Panadol terpaksa harus beraksi. Pilih hotel di Mangga Dua memang harus nanggung resiko bersedia melek semalaman, karena meski berada di lt.17, tapi berisiknya kereta di stasiun Kota cukup mengganggu. Sampe larut malam, lagi…


Hari ini gw asli jadi wisatawan neh. Sebelum jam 12 gw di jemput Pak Eddy Effendi, dan maksi di Bakmi Gadjah Mada. Akhirnya kesampain juga makan mi ayam..meski bukan kampung. Hihi..selera gw emang kampungan banget. Tapi bakmi GM memang endang gulindang. Pangsit rebus and gorengnya juga te-o-pe banget. Nih gw ngga cuma makan neh..tapi ngerampok pak Eddy..hahahah. Trims banyak, Pak Eddy.


Museum Nasional

Tertariknya gw ke museum ini sebenarnya bukan karena koleksinya sih..tapi lebih karena pilar2nya yang megah, yang sering muncul di halaman mode Femina. idiihh..Tapi agak memalukan juga, kalo ke negara lain aja kita kunjungin museum, kok di negara sendiri malah blom pernah. Okkidokki..jadi gw paksain kaki susuri ruangan satu persatu.


Tiket masuk Cuma Rp 750,00. Ampuuuunn…kenapa sih ga dibikin paling ngga 10xnya? Biaya perawatan musem kan mahal sekali..


Nah, bener kan. Atmosfir khas musem yang kusam dan lawas, meski tidak begitu berdebu, terasa agak menyesakkan dada. Meski langit2 tinggi, pintu besar dan ruang terasa lapang, namun sekat2 antar ruang membuat aliran jalan bagi pengunjung terasa membingungkan dan ruwet, sehingga pengunjung bisa saja “bertabrakan” ketika pindah dari satu ruang ke ruang lain. Tembok2 tebal dan tinggi bercat putih dengan pintu..seingatku..berwarna biru keabuan yang memudar serta lantai tegel polos abu dan kembang menegaskan keberadaan bangunan yang sudah melewati pergantian abad. Pilar besar yang dibagian bawahnya ditata dengan patung2 batu –sayang-tidak banyak keterangan tertulis disana-tetap kelihatan cantik, secantik gambar yang muncul diantara halaman mode Femina. Sayang aku ngga bisa ambil foto, karena tunduk pada peraturan baku yang berlaku: Dilarang Memotret.


4 anak usia TK dengan ibunya kelihatan bersemangat mendengar penjelasan dari petugas.
“Ada pertanyaan, adik2?”
Satu gadis kecil dengan poni menunjuk patung “Itu kenapa kepalanya hilang?”
Yang lainnya merapa plat kuningan yang bertulis huruf Jawa kuno “Ini bacanya apa?”


Begitu masuk..koleksinya banyaaakkk..banget. Pengelompokan koleksi musem sedang dibenahi karena saat ini juga sedang dilakukan pemindahan2 koleksi ke gedung baru yang terletak disamping musem lama. Meski arsitektur bangunan –dari luar- kelihatan serupa, tapi kondisi dan tata ruang dalam gedung baru jelas jauh lebih bagus.


Digedung lama ini, gw nyusuri sebagian besar koleksi, mulai dari koleksi artefak, patung dan gerabah kuno dan keramik Cina, koleksi sumbangan dari Thailand, koleksi kain dan perhiasan sangat tua dari seluruh Indonesia, miniatur rumah adat..entah apa lagi gw ngga ingat. Luar biasa..banyak dan sangat berharga. Pasti tidak cukup 1 hari untuk mengagumi seluruh kekayaan yang ada disini..Terpaksa musem baru ngga gw tengok. Cuma lewati selasarnya saja yang berdinding kaca.


Tapi haus dan panas membuat gw agak pening lagi. Celakanya, kantin sudah tutup jam 2 dan tidak ada air minum tersedia..Tidak ada jalan lain, gw harus meninggalkan museum, ketimbang pingsan karena dehidrasi.


Sebotol aqua dari penjual pinggir jalan menjadi penyegar. Usai ngobrol ngalor ngidul lagi (kok gw ngobrol terus sihh..?) dengan penjual air minum, seorang polisi muda, dan penjual rujak dan riuh menertawakan 2 truk polisi yang dikerjain komandannya, gw ayun langkah menuju Monas yang ada di seberang museum.


Monumen Nasional



Monas..akhirnya ku datang juga..

Panas terik. Gw jalan sendirian. Beberapa kelompok polisi sedang duduk istirahat. Ada yang ramah menyapa “Sore, Bu.” Truk dengan gulungan kawat berduri diparkir disana sini. This is the face of Jakarta. Mungkin harus selalu ada polisi yang standby disana untuk mengantisipasi keadaan yang bisa saja berubah tiba2.


Gulungan kawat berduri. Tiang lampunya bagus yaa..?

Jujur, aku agak berdebar mendekati Monas. Rasanya begitu jauh namun dekat. Gimana sih..? Anak sekolah selalu mengidentikkan Jakarta dengan Monas. Study tour di SD SMP SMA selalu mencantumkan Monas. Tapi aku blom pernah ikut study tour ke Jakarta. Why…?? Gw tukang mabok beraat. Mana mungkin naik bis dari Solo ke Jakarta?? Nah, sekarang, mumpung udah bisa mengongkosi diri dengan fasilitas yang lebih baik, gw bulatkan tekad: MONAS, HERE I COME…!!! Jalan kaki…jelas ngga mabok!



Motret Monas dengan my OWN camera loohhh..

Tiket terusan masuk Monas Rp 15 ribu. Tapi karena gw udah ngga bisa naik ke puncaknya (loket untuk tiket ke puncak tutp jam 3 sore), maka gw cuma beli tiket masuk ke cawan Monas plus naik kereta kelinci muterin kompleks. Tapi ngeliat antrian yang audzubillah..hah..lupain aja deh, si kelinci ini. Sekilas gw lihat antrian di depan lift ke puncak, juga sesak. Lift cuma muat untuk 11 orang.

Impian semasa sekolah: Foto dibawah Monas!! Gw di Jakarte!!

Ada apa dalam cawan? Dilantai bawah, 4 dindingnya berisi diorama sejarah Indonesia. Mulai dari jaman nenk moyangku yang orang pelaut..sampai pada perjuangan kemerdekaan. Bagian ini kurang lebih sama dengan diorama di museum angkatan udara Yogya. (udah kesana belom..? ayolah kesana..gw nangis liat potongan pesawat-nya Adi Sumarmo yang terbelah di Ngotho, sebelahnya Karangkajen..hiks..hikss..).

Dalam Monas

Balik ke Monas. Di cawan lengkungnya, hanya ada ruang kosong dengan “body” dasar tugu ditengah. 4 sisinya terpahat tulisan teks proklamasi, sisi lainnya gambar peta Indonesia, lambag Pancasila, dan ..apa ya, semacam hiasan serupa pintu. Sayang tidak ada penjelasan.
Selayaknya Jakarta berterima kasih pada Sutiyoso, karena di foto memperlihatkan betapa mengenaskan kondisi Monas sebelumnya, hingga baru di era Sutiyoso bangunan cantik ini di benahi. Sayang..sampah tetap bertebaran di tangga luar Monas. Sekelompok Bapak Ibu (guru..?) beristirahat di tangga, ngobrol sembari makan kacang tanah dan membuang kulitnya..bertebaran dimana-mana.

Monas .. dulu...
Sebelum petang merambat, gw udah berdiri berdesakan di Transjakarta dari depan museum, balik lagi ke hotel. Turun di halte stasiun Kota, gw jalan kaki lagi, dan mampir di warung nasi goreng. Bungkus 1 nasgor pedas special buat nanti malam.

Nashor superduper pedas, krupuk, pangsit GM. ga nyambung..

Usai mandi..hahah..si nasgor emang benar2 pedasss…huah huah. Ada pangsit GM sisa tadi siang. Tapi ternyata ngga nyambung banget deh dengan nasgor, yang jodonya memang dengan krupuk warna warni..

Dan mulailah malam panjang kedua..ditingkah deru kereta Stasiun Kota..lageee.. ku cendili..

loyo n blom mandy

Pasar Pagi Mangga Dua

Bangun pagi dengan kaki yang mulai bengkak. Wisata Jakarta diakhiri dengan kulakan scarf titipan bu Sulfah. Ketemu jodoh dengan penjual, xiao jie asal Pangkal pinang yang rame banget…yang pernah mukim juga di Taiwan. Klop lah. Diskon gila dikasih setelah nego yang heboh dengan bahasa Mandarin. Hahahahah…Alhamdulillah..

Penutup etape 1: Seret kopor ke stasiun dan berdiri sepanjang kereta ekonomi AC, tiket 4500, dari Kota sampai Bekasi…!!! Kaki bengkak gw udah segede gajah…!!

Lanjut ke etape 2: Purwokerto