Naik kendaraan, mobis, bus, kereta, pesawat…apapun, selalu membuat perut keroncongan. Aku ngga ngerti bagaimana hal ini bisa diterangkan, tapi sepertinya ada korelasi yang aneh. Bagaimana mungkin cuma duduk2 aja dalam kendaraan – atau melek setengah merem, ngelamun, baca buku, kegiatan yang nyaris tanpa mengeluarkan energy yang berarti itu - membuat perut bisa sedemikian lapar?
Dan ketika perut sudah terlalu capek berteriak minta diisi, giliran rasa mual memaksa aku menahan napas sesekali. Sabaar..bentar lagi nyampe. Dan begitu sepotong ayam goreng tepung, scrambled egg, nasi putih hangat dan segelas coca cola terhidang di depan mata..wuahh…serbuuu…!!
Tapi…apa sih enaknya makan sendirian? Lauk yang paling enak kan…teman makan! Jadilah suatu Sabtu siang aku dan Dheti mampir di food court Giant setelah Dheti lepas dari “uler keket” antrian nonton Transformer 2. Tadinya aq pengin Bakso Babat, tapi petugas bilang, babat belum matang. Pliss deehh..udah jam 1 siang, gitu lohh. Alhasil, pesanlah kita semangkok bakso komplit , semangkok sop Konro dan 2 botol teh dingin serta segelas air jeruk panas sebagai pengganjal perut sambil menunggu Transformer beraksi.Bakso datang dengan aroma sedap yang khas. Sedikit cicip ahh…hmm. Ternyata ngga ada yang istimewa. Biasa banget. Ga apa. Tapi yang bikin kesel…sendok garpunya. Hiyaa…kenapa? Sendok dan garpu terbuat lempeng yang saaangat tipis, sehingga sisi pegangan sendok terasa mau melukai jari ketika digunakan untuk memotong bakso. Aku paksain dan..eh..sendoknya peyot..!! Tuingg…gw pikir gw udah bisa menyamai aksi Dedy Corbuzier yang bisa membuat sendok melengkung. Wah.. hebat banget nih. Heheh..tapi kalo sendoknya peyot, gimana makan bakso-nya? Jadi gw minta tukar sepasang yang baru dengan pesan khusus: minta yang bergagang tebal! Dan mereka ngga punya. Ouch…Ngga kebayang kalo yang makan disini anak2. Haduuh..bahaya!!

Pengalaman dengan foodcourt di Giant Bekasi membuat aq rada2 males ke foodcourt lagi. Nah, ketika nyampai di Yogya, dan jeng Indah berbaik hati meng-organize eating out ke Pondok Cabe, gw semangat banget.
Pondok Cabe 2 Jl. Simanjuntak Yogya
Siapa bilang wong Jogja cuma suka rasa manis? 3 atau 4 tahun terakhir, Yogya seolah di sesaki dengan warung pedas. Mulai dari oseng mercon dekat PKU yang melegenda hingga warung tenda dan non-tenda Serba Sambal yang kini sudah menggurita dimana-mana. Serba sambal tidak melaju sendirian, masih ada Cabe Nusantara, Dapur Sambal, Super Pedas sampai Penyetan Banyuwangi berlomba ‘menghajar’ pemangsa2 sambal yang kelaparan. Klik deh di http://www.ayojajan.com/ dan pilih pedas-pedasmu…!!
Pondok Cabe 2 dibalut interior kayu sederhana. Kehangatan ditebarkan lewat lampu bohlam kekuningan, dan bukan neon. Penataan ruangnya lumayan menyenangkan meski tidak terlalu artistik. Menuju ke meja dan bangku, di sebelah kanan di-display-kan menu yang berupa bahan yang siap bakar. Berbagai olahan ayam, ikan, pepes, juga jeroan sapi serta sambal dan lalapan di tata beralas daun pisang. Di seberang display, satu set peralatan music berjajar. Main hall berbentuk lingkaran dengan focal-point air mancur kecil yang dikelilingi beberapa set meja kursi. Main hall ini ‘dilingkari’ lantai kayu yang lebih tinggi untuk tatanan meja lesehan.
Makanan? Menu cukup ekstensif, tapi untuk ber-8, kami ngga pesan terlalu banyak. Hanya nasi putih, 2 mie goreng untuk tante dan Arifah, sate empal, pepes jamur, garang asem ayam dan pepes ikan. Rasa masakan cukup STD, kecuali mi goreng..loh..kok lumayan enak, meski buat aku, mie-nya terlalu berair. Sambelnya…? Hoaahhhh…pedes! Colek dikit lagi ah…hoah-hoah. Tambah pedess banget. Tahu-tahu ada yang berbunyi ngiingg.. heheh, pedesnya bikin telinga berdenging..Dengan tambahan minum lemon tea dan jus-jus-an, total kerusakan Rp 98.000 sahaja. Sangat pocket-friendly.
Nasi Timbel Baraya Sunda, depan Merapi View Jakal
Usai contreng sana contreng sini..hmm..makan apa ya? Nyontreng kan butuh banyak tenaga, buat mikir, mana yaa..pasangan capres-cawapres paling tajir..Jadi laper, kan?! Maka, dengan kelingking masih belepotan tinta pemilu, aq ma tante ngaciir ke Jakal. Lumayan jauh lohh dari Karangkajen. Dalam hati aq berharap banyak: semoga ngga tutup pliss..daann…begitu nyampai di sana..horeee..bukaaa!!
Semangat deh tante order paket nasi timbel dengan ayam bakar dan es gedubrak (eh, bener ngga sih, ini..?). Aq pesan paket dengan pepes kembung, tahu dan tempe goreng. Sayang, ikan asinnya kosong.

Baraya Sunda sebenarnya lebih beken dengan Es Cendol Si Geboy-nya yang memang endaang banget. Mungkin ini signature-drink nya. Cuma karena aku ngga suka dengan minuman bersantan aja, maka es lemon tea selalu jadi andalanku.
Hidangan datang dengan beralaskan piring anyaman bamboo (ato rotan?) tipis berlapis daun pisang. Nasi digulung dalam daun pisang, harum dan hangat. Pepes ikan kembungnya empuk dan tasty, ayam bakarnya sedap. Meski semua enak, seperti biasanya, tapi aq rasa yang paling juara adalah tahu gorengnya yang kering diluar lembuut di dalam..hihi..kayak iklan wafer aja. Side dish favorit kami yang lain, empal daging yang empuk dan juicy. Pas buka puasa kantor, beberapa tahun lalu, kami pernah menyerahkan urusan bukber pada Baraya Sunda ini. Dengan harga paket, waktu itu @ Rp 22.000 teman2 bilang…enaaakk. Mau lagi doong..hahaha..
Kalo es cendol si Geboy gampang kita temukan nagkring di gerobak depan supermarket, es Gedubrak kayaknya Cuma disediakan di Baraya Sunda. Disajikan dalam “mangkok berkaki” ukuran sedang, beberapa potong buah, melon, semangka, juga jeli kenyal warna hijau kuning merah, dan tentu saja cendol, disiram kuah santan manis. Legit namun segar.
Total kerusakan..ngga tahu lah. Di bayarin ma tante. Tapi seingatku, paket nasi timbel ayam Rp 14.000 dan timbel dengan kembung Rp 8500 sahaja. Info tambahan, yang mo tahu no telp pemiliknya, Mbak Ita, kontak Bu Nina yaa..Nomor Bu Nina..hm, tanyain ke kantorku. Kalo nyari Beby, liwat hotline yee..pasti ketemu deh. Walah..ni mulai ngelantur lagi deh.
Cukup sekian review Baraya Sunda.
Tamansari Foodcourt, Ambarukmo Plaza
Karena Mariska dan bu Mary missed acara “Mondok Cabe”, maka Minggu, 12 July kita sepakat reriungan lagi. Secara menyatukan selera tu susah, maka EO-nya (lagi2 Bu Indah turun tangan nih) bertitah via sms: Tamansari Amplaz, 12.30, ladies..!! Ngacir-lah gw kesana dengan perut yang setengah penuh. Paginya udah sarapan dengan botok buatan Buke, siihh…
Terkumpul ber 7, bener ajah..order makanan ngga pake pola banget deh. Andalan aq selalu Mie Ayam Nusantara: Mie Komplit porsi sedang. Selaluuuu…sama. Aq memang a loyalist. Setingkat di bawah bakmi GM (harganya juga beda booww..), mie-nus selalu jadi my first choice. Kaldu mie-nus yang ringan dan cenderung tawar, matching banget untuk di seruput mengiringi mie tipis dengan taburan ayam serta jamur merang yang tampil bersih dan gurih. Ini bedanya dengan mie pasar baru, yang di lidah aq, menimbulkan ‘tabrakan’ rasa kaldu dan mie yang terlalu kuat. Untuk mie-nus jamur, paling cocok disandingkan dengan pangsit rebus deh..Pangsit yang berisi udang terasa lembut dan selaras dengan tekstur mie. Kalo dengan bakso, baik goreng maupun rebus, hm…sepertinya terlalu kenyal untuk padanan. Daaannn…janganlah di rusak komposisi rasa yang ringan dan segar ini dengan saus tomat ato cabai. Haduuh..jatuh berdebam deh. Ga usah, lah.
Sayangnya, pas kita makan di foodcourt, mangkok mie-nus ngga boleh ikutan nangkring di foodcourt. Policy dari pengelola, mungkin, untuk melindungi tenant yang ada dalam foodcourt. Ya sudah, mi-nus ku terpaksa di nikmati dalam styro-box berlapis kertas lilin. Huhuhu…
Pesanan Indah dan Dewi, entah apa namanya, semacam nasi goreng dengan fillet ayam berlapis tepung roti yang digoreng kering dan disajikan di atas hotplate. Rasanya? Entahlah. Aq ga cicipi. Susah juga menebak enak enggak-nya. Lha wong enak ato ngga enak, Dewi and Indah selalu habisin makanannya sihh…hihihi. Mariska? Momon ini selalu punya pilihan yang lebih cerdas. Kali ini dia ngorder Cakwe yang di masak dengan paprika merah hijau serta potongan ayam. Enaakk…?? Pastinya, iya. Gw ngga cicip juga. Lain kali wae.
Pesanan Indah dan Dewi, entah apa namanya, semacam nasi goreng dengan fillet ayam berlapis tepung roti yang digoreng kering dan disajikan di atas hotplate. Rasanya? Entahlah. Aq ga cicipi. Susah juga menebak enak enggak-nya. Lha wong enak ato ngga enak, Dewi and Indah selalu habisin makanannya sihh…hihihi. Mariska? Momon ini selalu punya pilihan yang lebih cerdas. Kali ini dia ngorder Cakwe yang di masak dengan paprika merah hijau serta potongan ayam. Enaakk…?? Pastinya, iya. Gw ngga cicip juga. Lain kali wae.
Best of all, semua makanan itu di nikmati bareng orang2 istimewa: sahabat. Dan rasanya..whuahh…ruarr biasa!!
Sebagian foto, credits to
http://www.ariep.multiply.com/ (pondok cabe), aprilia (bakso) dan http://www.tripod.com/ (nasi timbel)
http://www.ariep.multiply.com/ (pondok cabe), aprilia (bakso) dan http://www.tripod.com/ (nasi timbel)
Dear Our Lovely Customer
ReplyDeleteSalam Sejahtera kami sampaikan semoga dalam menjalankan aktifitas kita senantiasa mendapatkan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa. Amin.
Terimakasih kami ucapkan, atas posting yang sangat menarik ini. Pringsewu Restaurant Group (Pringgading, Pringsewu, Pringjajar, Kabayan, Mie Pasar Baru) selalu berkomitmen untuk memberikan yang terbaik untuk konsumennya. Oleh karenanya, masukan, saran serta kritik akan kami jadikan sebagai alat untuk memacu kami untuk semakin baik lagi kedepannya. Sekali lagi atas nama manajemen, kami ucapkan terimakasih, dan salam hangat dari keluarga besar Pringsewu Restaurant Group.
Salam
Manajemen
Pringsewu Restaurant Group