Thursday, July 16, 2009

Mudik Winter 09: From Purwokerto With Mendoan (Part 2)

Naik kereta api..tuut..tuut..tuut…siapa hendak ikut….

Dari semua moda transportasi, kereta api memang meninggalkan kesan indah yang terpatri di benak gw. Masih inget ketika kecil, Bapak selalu menyebut sate dekat rel kereta, di stasiun Delanggu, yang paling joss..!! Lohh..apa hubungannya dengan naik kereta api, yaa…? Ngga ada..!! Kebetulan aja si cucu penjual sate ini dulu pindah ke sekolahku di SMP 2 Wonosari. Gw inget, anak cewek, bongsor, keriting n kulitnya putih..kesekolah naik vespa….haiyahhh..kok malah ngelantur. Apaan sih..

Ok. Gw suka naik kereta apai karena 2 alasan : pertama, gw ngga mabuk. Kedua, rute Jakarta – Yogya menyuguhkan pemandangan indah antara Brebes – Purwokerto. Kereta kan bisa nembus jalan2 yang sulit..dan kita tetap tenang didalamnya. Nggak banting2 kayak kalo dalam bus.
Jadilah gw, untuk ke sekian kalinya, seret kopor segede bagong ke Gambir, naik Taksaka pagi ke Yogya. Duduk di sebelah gw kali ini, cewek manis yang kuliah di UII. Yang mengejutkan, dia dulu juga pernah ikut student exchange ke Perth, dan sekolah di Stephen School…tempat ngajarnya Bu Wendy dan Bu Caroline!! Bu Caroline inilah yang pernah ajak gw muter2 ke King’s Park ketika awal2 gw di Perth dulu…hah. What a small world!!

Sudah jauh2 hari gw rencanain, kalo mudik nanti gw kudu ke Purwokerto. Silaturahim ke Permadi dan anak istri, ketemu Adit and Andy, dan niat gw mulia banget nih…berterima kasih. Hohoho..bener.

Etape 2: Yogya Purwokerto

Naik bis Efisensi yang resik. Another 4,5 hours on the road. Menjelang masuk Purwokerto, jalan agak menanjak. Kanan kiri tebing dengan pepohonan, dan lhoo..kok banyak orang berjajar – jongkok dan duduk di pinggir jalan? Si adik ABG yang duduk di sebelah bilang, mereka peminta-minta, yang menunggu pengguna jalan melemparkan uang. Kasihan, tapi kok gitu siihh…?
Purwokerto menjelang malam. Sedikit letih di jalan, dan Permadi jemput di terminal. Usai check in di Dinasti, bagus loh.., mandy dan makan malam dulu dong. Gurameh bakar, ca kangkung, mi goreng..dan mendoan panas. Maaakk…enak!! Malam ditutup dengan putar2 kota yang lumayan lengang, dengan jalan yang jauh lebih lebar ketimbang jalan2 di Yogya.

4 July 2009

Amerika sedang merayakan kemerdekaan. Gw ngga peduli n ngga nonton TV. Sabtu pagi di awali dengan kunjungan ke obyek wisata terbaru di Purwokerto: Rumah Mayangsari…hahahah…!!! Ngga mau di bilang ndesoo..(padahal pengin), gw lewati deh sesi foto disono, langsung tancap gas ke Baturraden.Meski udah dengar Baturaden (single r) sejak kecil, baru kali ini gw benar2 bisa menjejakkan kaki. Ternyata..cantik banget!! Bersih dan rapi. Gw ngga habis2 berdecak kagum. Karena bersih dan rapi menjadi hal yang langka di obyek wisata kita, melihat Baturraden yang tertata gw kayak orang kalap foto2 deh…

The happy family of Permadi

Tiket masuk seharga Rp 5000, wajar untuk ongkos pengelolaan kawasan. Teringat kecelakaan tragis di hari Lebaran kedua, beberapa tahun lalu, ketika serombongan pengunjung terpelanting ke dasar sungai yang berbatu saat mereka meniti jembatan gantung, maka dengan sedikit masygul gw menapaki tangga ke atas sungai. Untunglah di Ground Zero itu sekarang sudah dibangun jembatan beton bercat oranye, kontras dengan warna jernih air terjun kecil di depan dan hijau hutan yang membingkai belakangnya.
Ground Zero. Musibah menyedihkan di hari ke dua Lebaran.

Dari atas jembatan, batu2 dibawah sungai bawah sana terlihat mengerikan. Pantas saja, putusnya jembatan gantung 3 atau 4 tahun lalu menelan belasan korban tewas karena terhantam batu. Innalillahi…Disisi kanan sungai, dibawah jembatan, seorang laki2 duduk berjongkok. Dia akan melompat ke air terjun kalau ada yang melemparkan uang….hiiyyy..ngeri sekali.
Money-chaser-nya duduk di kanan, sambil maen handphone!

Mending pindah aja deh, naik ke Pancuran 3, yang berupa kolam air hangat dengan 3 pancaran air panas. Banyak bapak2 menawarkan jasa pijat refleksi, sambil duduk di pinggir kolam, bahu dan kaki di pijat. Tapi gw ngga mau karena kaki masih bengkak2. Jadi cukup celup2 dan foto2 aja deh..Untuk masuk ke kawasan ini, tiket Rp 5000 harus di beli lagi.
me and dani

Masih ada pancuran 7 kalo kita mau naik lagi ke atas. Tapi karena gw ada janji dengan Mia dan Aida, gw batal aja deh. Sepiring mendoan lagi, sate ayam dan es the menjadi pelengkap kunjungan ke Baturraden. Balik ke mobil, banyak pedagang menawarkan bonsai cemara dan agloanema merah. Bagi pengunjung, ada tulisan peringatan, untuk berhati2 agar tidak tertipu beli tanaman palsu. Hah…? Rupanya banyak beredar bonsai palsu dari plastic atau karet…juga Agloanema merah, yang daunnya bisa luntur…hahahah..ada2 aja.

Makan siang dengan Aida, Mia dan Unik. Memory Garden, Purwokerto. Resik dengan tanaman yang rimbun di sekitar gubug. Bandeng bakarnya enak. Tapi nila-nya berasa aneh dan ngga segar. Kaki ayam yang di tumis dengan sayuran dan jamur, juga ca kangkung..boleh juga. Trims buat Mia dan Aida yang traktir gw dengan rapelan gaji sebagai dosen baru Unsoed..!! Sedap bener deh.

Balik hotel, gw menghuni kamar deluxe, bow..luaasss..didepan kolam renang. Tapi apalah daya, wong gw ga bisa renang. Jadi..yaa..nonton Mr. Bean di kamar aja deh.

Malemnya, ketemu Adit and Andy. Haaha..meski udah sering YM-an, baru kali ini bener2 baru kopdar. Curhat ala YM lanjuutt..sambil muter kota Purwokerto yang mulai dijejali anak2 muda yang malam minggu-an. Mendarat di kafe..Meteor (duh..lupa namanya), 2 nasi goreng daging asap dan juice dibagi bertiga. Menyenangkan sekali. Ternyata menemukan kawan yang baik itu ngga sulit sama-sekali.

5 Juli 2009

Happy Birthday to me….!!! plok..plok..plokk...tepuk tangaann..Teringat Mr. Bean yang meloncat2 kegirangan di film-nya yang edisi Christmas. Tapi gw ga punya kaos kaki untuk di tengok. Ga punya box hadiah untuk di buka. Tapi punya teman2 yang saaangat baik untuk di syukuri. Sinterklas ga mungkin datang ..Jadi gw telpon Mia aja untuk temani gw sarapan di hotel.

Permadi dan anak dan mama-nya datang jelang siang. Hari ini ke Musem BRI deh. Museum BRI menyimpan koleksi uang kuno, alat2 perbankan dari jaman baheula, sampai dengan catatan sejarah perbangkan Indonesia yang di dirikan R. Wiryaatmaja. Pakaian beliau pun masih utuh tersimpan.

Museum BRI

Menurut Permadi, ketika museum ini akan didirikan, seluruh BRI cabang dikirimi surat himbauan untuk menghibahkan koleksi mereka masing2 untuk disatukan. Maka terkumpullah mesin hitung, mesin ketik, brankas besi, koin, uang kertas, catatan bersejarah dari seluruh pelosok, dan disatukan di museum ini. Hebatnya, uang kertas jaman Belanda, dan uang coin jaman majapahit juga masih ada lohh..

Mesin hitung uang koin

Mungkin yang Permadi bilang benar: Kita hanya mengunjungi museum 2x, pertama, ketika diajak Bapak ke museum. Kedua, ketika mengajak anak ke musem. That’s all…hahaha..


Waktu merambat cepat. Setelah belanja mendoan mentah, dan makan siang dengan soto Sokaraja, gw meninggalkan Purwokerto. Tapi, seperti Jenderal McArthur, gw juga bilang : I shall return….!!! Habis..gw blom sempat cicipi pecel dengan bunga kecombrang

Lanjut ke etape 3: Makan di Yogya
ini fotonya. Cerita nyusul yah..


No comments:

Post a Comment