Saturday, September 12, 2009

Sederhana, dan secukupnya saja...

Gemas, dan bosan. Itu yang aku rasakan tiap kali pulang ke rumah dan mendapati sayur bening bayam, atau botok teri daun melinjo, oseng kacang panjang dan makanan ndeso lainnya. Bahkan awal minggu ketika lalu aku mengirim pesan singkat kerumah, rutin - meski ngga terlalu sering - menanyakan kabar dan iseng disertai tanya standar “dirumah masak apa neh untuk buka”, jawaban yang aku dapat masih ‘begitu aja’: Ibuk bikin sayur jantung pisang, perkedel kelapa, ta’jil tape dan pisang goreng. Ngga usah beli, semua dari kebun…Halaahh..

Semangat swadesi kecil-kecilan ini seperti sudah lebur dalam darah Bapak Ibuku. Tidak cukup hanya dengan mengandalkan gaji Bapak yang guru SD, dengan 6 anak yang semua harus sekolah, kebun dan sedikit sawah menjadi tumpuan kedua dalam tambal menambal kebutuhan harian kala itu. Beras dan belut didapat dari sawah, sayur dari kebun, telur dari ayam piaraan sendiri.

Kini, alhamdulillah, semua anak sudah selesai sekolah dan mandiri. Bapak pun sudah 13 tahun pensiun mengajar di SDnya. Tapiii..kenapa mereka tetap saja tidak berubah, tetap super hemat? Ibuk masih dengan ‘hobi’ lamanya selama puluhan tahun: tanam bayam, kacang panjang, terong, cabai dan petik daun pisang untuk ditukar tempe. Bapak tetap sibuk dengan gali lubang sana sini untuk tanam pisang dan pohon melinjo. Tidak ada yang berubah meski tidak ada lagi yang ‘menggerogoti’ pendapatannya.

Bulan puasa pun tidak pernah menjadi istimewa dengan acara buka bersama yang serba enak dan banyak. Rupanya Bapak sudah cukup kenyang menonton tayangan wisata kuliner di TV saja, sehingga tidak perlu ikut berburu untuk mencicip. “Sudah bisa bayangkan rasanya”, selalu begitu komentar Bapak.

Meski sering kesal karena ‘capek’ makan sayuran dari kebun, tapi tak urung ada kagum yang sangat atas keteguhan hati mereka untuk selalu hidup sederhana. Secukupnya saja, kata Ibuk berulang kali. Sesekali sate kambing – kemewahan tertinggi mereka – boleh juga, hanya bila ada anak atau cucu pulang ke rumah.

Menengok kebiasaan buka bersama saya sendiri dengan teman-teman, ahh..ada sebersit rasa malu. Tidak afdol rasanya kalau tidak buk-ber dengan menu yang beragam, dan melimpah, di resto yang cozy atau rumah makan bersuasana kampung. Aku yang memang asli, tumbuh dan sekolah didesa, tiba-tiba menjelma jadi anak kota yang ikut heboh mencari 'resto bersuasana desa'. Sayur bening bayam dan tempe goreng yang aku benci di rumah, tiba-tiba jadi terasa enak sekali di rumah makan. Hahaha..

Aneh…kenapa ngga mending pulang aja, ya. Teman bilang, ngga apalah, puasa kan cuma setahun sekali. Bukber kan cuma sebulan empat kali..Toh ibuk pesan, apa-apa itu secukupnya saja. Jangan berlebihan. Cukup 4x sebulan…

No comments:

Post a Comment