Monday, November 2, 2009

Oleh oleh made in Australia dong...

“Mbak, hari ini jadwalnya cari oleh2 ke CBD,” seorang teman yang juga mau mudik 3 minggu lagi mengirim pesan singkat di ponsel.

“Ngga ah, trims. Aku bawain pesenan chips, coklat dan keju aja. Dari Coles.” Coles adalah salah satu swalayan besar di Australia yang sering memberikan harga murah untuk produk-produk tertentu.

Ketika mengetik jawaban ini, terbayang wajah sumringah teman yang Juni lalu, waktu aku mudik, bilang “Smoked cheese-nya enaak banget. Di Yogya ga ada yang jual.”

“Yee..masa oleh2 kok kayak gitu sih?” Makanan, maksudnya. Kok bukan souvenir ato t-shirt.

Urusan oleh2 ini ternyata memang cukup bikin ribet, terutama buat aku. Gimana ngga ribet kalo tiap kali ketemu teman selalu yang di ucap “Eh, pulang ya? Mana oleh2nya?” Mungkin sekedar basa-basi, tapi juga ada sedikit harapan bahwa dia pengin di anggap special sehingga berhak untuk saya pikirkan ketika membeli oleh-oleh. Tapi karena ketika saya berangkat saja mereka bahkan tidak mengucap salam, ketika pulang kok ada yang serius memaksa minta oleh-oleh ya? Jadi untuk golongan teman yang ini saya cukup ucapkan “Oleh-olehnya slamet..!!”

Hmm..siapa sih yang ngga seneng terima oleh-oleh? Aku pun suka. Dapat barang gratisan (ih..sadis), apalagi kalo kebetulan dapat yang special syukur-syukur dapat yang mahal. Kan rejeki nomplok. Tapi kalau aku dikasih oleh-oleh beli kodian..yahh..bukannya itu hal yang mubadzir buat pemberi dan penerima? Perhitungannya, ngga cucuk deh antara uang yang dibelanjakan dengan kepuasan batiniah yang diharapkan menyertai transaksi oleh-oleh. Salah-salah malah bikin bête. Apalagi kalo yang diberikan berupa oleh-oleh semilyard umat: tasbih, gantungan kunci, gunting kuku..haahh..jari kita cuma ada 20 dan punya gunting kuku lebih dari 10 dan aku bukan kolektor, hmm..buat apa ya?

Frankly speaking, aku sulit menempatkan souvenir kecil-kecil itu sebagai pengingat kegembiraan bertemu teman lagi. Seneng nerimanya karena dapat gratisan tapi tidak pernah seterusnya berpikir, misalnya, “Wah, ini gunting kuku istimewa sekali karena dibawa dari Belanda.” Gunting kuku, ya kembali ke fungsi orisinilnya sebagai penggunting kuku biasa saja. Tapi kalo oleh-olehnya mahal, parfum, lukisan, poster…hmm..nilai memorinya dibawa dong. Kan barang istimewa tuh..

Asyiknya berperkara dengan oleh-oleh adalah ketika si pemberi dan penerima sama-sama senang melakukannya. Tapi kalau sudah terasa membebani , waah..aku juga ngga mau memaksakan diri deh. Kebetulan saja keluargaku bukanlah tipe yang senang dengan keributan oleh-oleh. “Sampai dirumah selamat. Itu yang paling bagus,” begitu selalu Ibu bilang. Bener..hehehe. Jadilah untuk tetangga, setiap habis bepergian, kita belikan saja beberapa kilo buah dan kue untuk dibagi sebagai tanda syukur “Mas Slamet” itu.

Tetapi buat sebagian teman lain, berburu oleh-oleh ini justru menjadi kegembiraan yang luar biasa. Memberikan oleh-oleh ke semua orang yang dikenal adalah kewajiban, sebagai tanda syukur dan perwujudan semangat berbagi pada orang lain yang ngga seberuntung dia. Tak heran ketika ada seorang kerabat jauh, sepulang dari mengikuti kunjungan kerja suaminya ke Malaysia, dengan suka cita bagi-bagi belasan miniature Petronas Tower setinggi 20 centi yang minta ampun beratnya itu. Bagus sih. Tapi aku juga terbengong-bengong berpikir berapa biaya excess-bagagge yang mesti dia bayarkan, ya?

Pernah melihat belanjaan teman, aku jadi geli sendiri. Belum lagi berpikir berapa banyak dollar yang mesti dikuras dari kantong untuk setumpuk t-shirt, topi, sandal, baju anak, gantungan kunci, dompet kulit, boneka kanguru dan koala, tas motif aborigin, tatakan gelas, jam pajangan, nampan, serbet motif bunga, tempat pena…haduuuuhh..bisa kelebihan bagasi juga nih.

Dan oleh-oleh yang aku beli..? Ini dia.

Gambar apa yang anda lihat? Yaakkk..kalo kamu belum minum bir, beginilah kamu ngeliat wajah wanita tua...

Tapii..setelah 6 botol bir menggelontor kerongkongan, haaahhh...pandangan jadi terang benderang deh. Semua keliatan bening cling....



Ngomong-ngomong tentang oleh-oleh, banyak teman keukeuh bilang beigin:
“Aku ngga mau beli yang made in China Mbak. Harus yang asli made in Australia.”

Hmmm…masih tentang oleh-oleh produk lokal yang ASLI, Phil, teman yang sudah mukim di Australia selama hampir 50 tahun pun di lain kesempatan nyeletuk “Made in Australia? Are you kidding? I was made in Britain!”

Heheheh..

No comments:

Post a Comment