Thursday, December 17, 2009

Another Walk in the Cloud (Part 2)

Candi Cetho dan kebun teh

Seorang ibu yang kami tanya memberi petunjuk: terus aja,nanti sampai pasar kemuning belok kiri. Dari pasar Kemuning ini,jarak tempuh kecandi cetha cuma 5 km. Pemandangannya…? Waaa..kebun the yang membentang di seluruh perbukitan! Tapi pengemudi harus waspada betul, jalan sempit, curam menanjak dan bahkan di beberapa titik,kelokan terjal berbentuk nyaris U dengan lebar jalan yang passs untuk 2 mobil. Tiga tahun lalu,ketika kantorku mengadakan ladies’ trip..whaa..seisi mobil berteriak2 ngeri..Aku malah sesekali merem saking takutnya. Hiiyy..horror banget deh. Sowan ke Cetho untuk kali kedua, napas tetap belum bisa normal ketika mobil mulai dihadang tikungan2 tajam. Keringet dingin membanjir deeeehh..Di pinggir jalan yang sempit banget tuh, kok ya anak2 muda tuh berani bergerombolan nongkrong diatas motor, ato pacaran, ato makan bakso pikulan sembari menikmati indahnya hamparan tanaman teh…. Jangan pacaran disini ah. Asik sih,tapi..hah. Serem.


Setelah tanjakan tegaklurus yang terakhir..tadaaaa….gapura bentar penanda area masuk kompleks candi muncul begitu saja dihadapan kita. Tiket Rp. 2500 saja, dan siap mendaki. Menurut satu2nya papan keterangan yang ada, candi Cetho diperkirakan dibangun abad 14-15, dan keberadaannya dilaporkan ilmuwan Belanda di tahun 1842. Secara keseluruhan, ada 13 teras yang bersusun semakin tinggi ke belakang. Kompleks candi inimenghadap barat. Hmm…berarti menghadap gunung merapi dong; karena beby tinggal di delanggu- dimana matahari terbit dari balik Lawu dan tenggelam di balik Merapi Merbabu.


Berada di ketinggian 1400 dpl, bukit-bukit dengan kebun teh dibawah menyuguhkan pemandangan yang sungguh spektakuler. Indaaaahhh banget. Ga sia-sia deh sport jantung di sepanjang jalan mendaki kalo di puncaknya kita temukan tempat secantik ini.


Ketika aku berkunjung 3 tahun lalu, pengunjung masih di perbolehkan masuk tempat pemujaan tertinggi. Bisa jadi juga karena kami berkunjung pas dihari Nyepi 2006, maka gerbang dibuka sepanjang hari. Ketika itu umat hindu seputaran candi duduk atau tiduran bergerombol di pendopo2 kecil, berdiam di hari suci. Namun ketika kami berkunjung kemarin, teras tertinggi di kunci.


Dibelakang candi, ada sendang atau mata air kecil yang juga di sucikanoleh umat Hindu. Sayang, tempat ini kotor penuh lumut dan rumput, meski tetap saja digunakan. Taburan bunga mawar dibak air berpinggiran batu, sesaji, dan sebaran uang koin mestinya memiliki makna khusus. Tapi lagi2, tidak ada keterangan apaun tentang mata air yang bernama sendang Pundi sari tersebut.


Kondisi sendang tampak sangat kontras dengan kebersihan taman saraswati di sampingnya. Patung Saraswati yang cantik berwarna kuning berdiri ditengah pelataran. Pengunjung diharuskan melepas sepatu.


Candi Sukuh


Tak terasa waktu sudah bergulir ke pukul setengah satu siang. Kami bergegas balik ke parkiran dan mengarahkan kemudi ke candi Sukuh. Tidak ada petunjuk sama sekali dimana arah candi sukuh jika kita turun dari Cetho. Jadi ikutin aja jalan utama.Ketika sampai pertigaan yang sama besarnya, nah loh..bingung lagi. Terpaksa kembali bertanya kepada penduduk.


Mendung menggelayut ketika kami sampai si candi yang beken dengan ikon porno-nya. Rupanya gerbang pertama untuk memasuki candi juga dikunci. Namun pengunjung bisa melihat relief lingga dan yoni di lantai gerbang. Seorang pemandu wisata terlihat bersemangat sekali menceritakan seluk beluk candi. Tapi baru saja kami menapaki bagian luar, eeh…hujan turun deras. Berhamburanlah semua ke bawah pohon untuk berlindung. Ketika baju nyaris kuyup dan tidak ada tanda akan segera reda, dengan sedih kami tinggalkan candi sukuh. Ngga ada payung juga…


Sebelum pulang, kami mampir di Sukuh Cottage, yang hanya beberapa ratus meter di bawah candi. Menyeruput susu jahe dan cappuccino dan menyantap tempe tahu goreng sambil menatap jauh lembah dan bukit dibalik tirai air hujan….adakah yang lebih indah? Sayang, ketika matahari semakin condong kebarat, kami pun harus beranjak…


Shall return! Bersama orang tercinta melewatkan senja disini…haduh..merinding deh ngebayanginnya. Tante Anif bilang: yang mo honeymoon..cepet booking cottage ini…!!!

Foto lainnya bisa dilihat di lihat di address berikut:

http://www.facebook.com/album.php?aid=170479

Another Walk in the Cloud: Candi Cetho-Sukuh (Part 1)

Desember tahun ini kita ‘diberkahi’ dengan 3 long weekend. Asyiikk….!! Tapi long weekend hampir selalu menghasilkan jalanan yang sesak dengan kendaraan berplat luar kota, tempat wisata yang penuh dijejali pengunjung, dan suasana hiruk pikuk dimana-mana.

Ketimbang emosi meninggi karena padatnya wisatawan, kami bertiga sepakat untuk luangkan hari Minggu 13 December kemarin meluncur ke kaki gunung Lawu aja deh. Ke Tawangmangu yang kondang dengan air terjun serta sate kelinci dan landaknya itu? Yee..tetooottt..tebakan anda salah! Kita mo ke candi! Klo candi yang lain macem Borobudur dan Prambanan mah…panas! Tapi kita mo ke candi Cetho dan Sukuh yang dibangun di pinggang gunung Lawu. Beda juga dengan kompleks Candi Pandawa di Dieng yang terletak di cekungan, sehingga pandangan ‘terbentur’ bebukitan, candi jagoan kita ni terletak di ketinggian; dengan duduk-duduk diteras candi aja, pemandangan yang sungguh mengagumkan terhampar seluas cakrawala..Adeem, sunyi, sepi.


Eeeng iiing eeenngg…jam 9.30 kita tinggalin Yogya yang mulai gerah. Dibutuhkan 2 jam untuk menempuh jarak Solo-Yogya, dan 1 jam untuk ‘mendaki’ wilayah Karanganyar, arah T awangmangu. Sengaja kita skip makan pagi karena lewat Klaten nanti, ada pilihan pengisi perut yang ngebayanginnya aja udah bikin jakun naik turun: sop ayam Barokah di sisi alun2, nasi tumpang koyor, ayam bakar Pak Widodo, ato sop ayam Pak Min yang beken dengan gecok brutu-nya. Pak Min ini belakangan gencar buka cabang di Yogya. Nantinya, kami ternyata juga menemukan cabang Pak Min di Kartosuro (ato Solo, ya?).


Karena alun-alun kota ‘padat merayap’ dengan pegawai Pemda yang berolahraga menyambut HUT Kab. Klaten, kami putuskan untuk makan di warung Pak Min samping stadion Trikoyo, dekat SMA 1 . Dedengkot lemak dan kolesterol semua ditawarkan oleh Pak Min. Wah..kita kudu waspada nihh. Jadilah,kita pesen 2 mangkok sop jeroan uritan (baca: ga ngaruh…!!) dan 1 sop daging. Sop disajikan dengan cepat. Isian berupa potongan jeroan dan telur muda yang dibelah jelas bikin Beby dan tante ngeces-ngeces tak tertahan lagi. Sedikit taburan daun bawang dan seledri meruapkan harum soto. Cicipin..hmm..mengejutkan: rasanya ga terlalu istimewa; cenderung plain ajah. Kok bisa ya? Padahal warung ini penuh pengunjung, termasuk peserta olahraga dari alun2 tadi. Psstt, jangan bilang siapa2...aku lebih jagoin Barokah !! Soal harga, Klaten memang raja murah. 3 mangkok sop dan nasi pisah, 2 tahu goreng, 1 tempe, 3 the panas dan 2 kerupuk kampung, cuma 32 ribu..!!!


Lanjuttt…meluncur ke Solo.


Bosen lewat main road yang itu2 aja, mobil kita belokkan lewat jalan desa Pakis dan Baki,yang nantinya akan tembus kawasan Solo Baru. Kita lewatin aja plang resto Bale Padi yang diceritain Arie di www.ariep.multiply.com dan kita hanya sempat dadah-dadah aja dengan Tengkleng Mbak Diah, Es Masuk dikanan jalan, pusat serabi Notosuman serta restoran Kusuma Sari dikiri jalan jelang masuk pusat kota Solo. Hehehe…semua jajanan enak,nuwun sewu, dadah dulu nggih…


Jalanan di kota Solo lumayan nyaman karena pas hari libur, pertokoan di daerah Coyudan dan sekitarnya yang sering jadi titik macet, pada tutup. Bagoesss….!! Lancar deh kita melaju sepanjang jalan utama yang membentang lurus sepanjang 10an kilometer dari Kartasura sampai bundaran Gladag,belok kiri dan serong kanan melewati Pasar Gede dan terus melewati Bengawan Solo,masuk Karanganyar. Nah, mulai disini kami hanya mengandalkan plang penunjuk jalan arah Tawangmangu.


Berkendara dengan mengandalkan plang penunjuk arah merupakan hal yang tricky. Setidaknya ada 3 perkara yang bikin kami senewen berurusan dengan plang ini.

Pertama, plang biasanya dipasang tinggiii di atas jalan. Bener..dari jauh udah keliatan akan ada penunjuk di depan. Tapi plang itu keciiill…dan tulisannya imyuuut kayak semyuutt dan ngga bisa dilihat sekilas, apalagi dari kejauhan!! Huadohh..pengendara bermata sehat aja mesti sampe memicing,apalagi Beby yang rabun jauh gini…alhasil sepanjang jalan Beby dan tante melotot habis2an kayak mata bagong deh. Sebeel…

Kedua, plang penunjuk arah hanya difungsi kan di satu sisi. Ketika kami melewati beberapa persimpangan otw naik ke cetho,ada plang penunjuk arah; tapi ketika kami turun danmelewati persimpangan yang sama, kami ngga selalu ingat apakah harus belok kanan, kiri atau lurus, padahal tidak ada penanda yang mudah diingat…hayoo..gimana dong? Plang kemana? Lupain aja dehhh..

Ketiga, plang penunjuk jalan kok minim banget yaa? Banyak persimpangan ga pake penunjuk lagi..hahah..dan kami memang kesasar hingga harus nanya penduduk. Bayar TPR pun mesti berkali2. Huuuu….gimana sih,hukumnya pemungutan TPR tu..karena kami kesasar jalan ke arah air terjun, padahal kami cuma cari jalan keluar untuk bisa ke candi. Dan harus bayar TPR yang ke air terjun! Piye to, iki? Huufffttt….


Untungnya…duka nestapa karena salah jalan itu terobati dengan indahnya panorama di kaki gunung Lawu. Selepas kota Solo, jalanan sungguh rapijali dan bersih berseri. Berbelok kiri dari jalan utama pas di pertigaan Karangpandan berbentuk huruf Y yang memisahkan arah Cetho-Sukuh-air terjun Jumog dengan serongan ke kanan arah Tawangmangu, jarak tempuh ke candi dan ke tawangmangu sebanding: tertera 12 km.

lanjut ke Part 2 yahh....