Thursday, December 17, 2009

Another Walk in the Cloud: Candi Cetho-Sukuh (Part 1)

Desember tahun ini kita ‘diberkahi’ dengan 3 long weekend. Asyiikk….!! Tapi long weekend hampir selalu menghasilkan jalanan yang sesak dengan kendaraan berplat luar kota, tempat wisata yang penuh dijejali pengunjung, dan suasana hiruk pikuk dimana-mana.

Ketimbang emosi meninggi karena padatnya wisatawan, kami bertiga sepakat untuk luangkan hari Minggu 13 December kemarin meluncur ke kaki gunung Lawu aja deh. Ke Tawangmangu yang kondang dengan air terjun serta sate kelinci dan landaknya itu? Yee..tetooottt..tebakan anda salah! Kita mo ke candi! Klo candi yang lain macem Borobudur dan Prambanan mah…panas! Tapi kita mo ke candi Cetho dan Sukuh yang dibangun di pinggang gunung Lawu. Beda juga dengan kompleks Candi Pandawa di Dieng yang terletak di cekungan, sehingga pandangan ‘terbentur’ bebukitan, candi jagoan kita ni terletak di ketinggian; dengan duduk-duduk diteras candi aja, pemandangan yang sungguh mengagumkan terhampar seluas cakrawala..Adeem, sunyi, sepi.


Eeeng iiing eeenngg…jam 9.30 kita tinggalin Yogya yang mulai gerah. Dibutuhkan 2 jam untuk menempuh jarak Solo-Yogya, dan 1 jam untuk ‘mendaki’ wilayah Karanganyar, arah T awangmangu. Sengaja kita skip makan pagi karena lewat Klaten nanti, ada pilihan pengisi perut yang ngebayanginnya aja udah bikin jakun naik turun: sop ayam Barokah di sisi alun2, nasi tumpang koyor, ayam bakar Pak Widodo, ato sop ayam Pak Min yang beken dengan gecok brutu-nya. Pak Min ini belakangan gencar buka cabang di Yogya. Nantinya, kami ternyata juga menemukan cabang Pak Min di Kartosuro (ato Solo, ya?).


Karena alun-alun kota ‘padat merayap’ dengan pegawai Pemda yang berolahraga menyambut HUT Kab. Klaten, kami putuskan untuk makan di warung Pak Min samping stadion Trikoyo, dekat SMA 1 . Dedengkot lemak dan kolesterol semua ditawarkan oleh Pak Min. Wah..kita kudu waspada nihh. Jadilah,kita pesen 2 mangkok sop jeroan uritan (baca: ga ngaruh…!!) dan 1 sop daging. Sop disajikan dengan cepat. Isian berupa potongan jeroan dan telur muda yang dibelah jelas bikin Beby dan tante ngeces-ngeces tak tertahan lagi. Sedikit taburan daun bawang dan seledri meruapkan harum soto. Cicipin..hmm..mengejutkan: rasanya ga terlalu istimewa; cenderung plain ajah. Kok bisa ya? Padahal warung ini penuh pengunjung, termasuk peserta olahraga dari alun2 tadi. Psstt, jangan bilang siapa2...aku lebih jagoin Barokah !! Soal harga, Klaten memang raja murah. 3 mangkok sop dan nasi pisah, 2 tahu goreng, 1 tempe, 3 the panas dan 2 kerupuk kampung, cuma 32 ribu..!!!


Lanjuttt…meluncur ke Solo.


Bosen lewat main road yang itu2 aja, mobil kita belokkan lewat jalan desa Pakis dan Baki,yang nantinya akan tembus kawasan Solo Baru. Kita lewatin aja plang resto Bale Padi yang diceritain Arie di www.ariep.multiply.com dan kita hanya sempat dadah-dadah aja dengan Tengkleng Mbak Diah, Es Masuk dikanan jalan, pusat serabi Notosuman serta restoran Kusuma Sari dikiri jalan jelang masuk pusat kota Solo. Hehehe…semua jajanan enak,nuwun sewu, dadah dulu nggih…


Jalanan di kota Solo lumayan nyaman karena pas hari libur, pertokoan di daerah Coyudan dan sekitarnya yang sering jadi titik macet, pada tutup. Bagoesss….!! Lancar deh kita melaju sepanjang jalan utama yang membentang lurus sepanjang 10an kilometer dari Kartasura sampai bundaran Gladag,belok kiri dan serong kanan melewati Pasar Gede dan terus melewati Bengawan Solo,masuk Karanganyar. Nah, mulai disini kami hanya mengandalkan plang penunjuk jalan arah Tawangmangu.


Berkendara dengan mengandalkan plang penunjuk arah merupakan hal yang tricky. Setidaknya ada 3 perkara yang bikin kami senewen berurusan dengan plang ini.

Pertama, plang biasanya dipasang tinggiii di atas jalan. Bener..dari jauh udah keliatan akan ada penunjuk di depan. Tapi plang itu keciiill…dan tulisannya imyuuut kayak semyuutt dan ngga bisa dilihat sekilas, apalagi dari kejauhan!! Huadohh..pengendara bermata sehat aja mesti sampe memicing,apalagi Beby yang rabun jauh gini…alhasil sepanjang jalan Beby dan tante melotot habis2an kayak mata bagong deh. Sebeel…

Kedua, plang penunjuk arah hanya difungsi kan di satu sisi. Ketika kami melewati beberapa persimpangan otw naik ke cetho,ada plang penunjuk arah; tapi ketika kami turun danmelewati persimpangan yang sama, kami ngga selalu ingat apakah harus belok kanan, kiri atau lurus, padahal tidak ada penanda yang mudah diingat…hayoo..gimana dong? Plang kemana? Lupain aja dehhh..

Ketiga, plang penunjuk jalan kok minim banget yaa? Banyak persimpangan ga pake penunjuk lagi..hahah..dan kami memang kesasar hingga harus nanya penduduk. Bayar TPR pun mesti berkali2. Huuuu….gimana sih,hukumnya pemungutan TPR tu..karena kami kesasar jalan ke arah air terjun, padahal kami cuma cari jalan keluar untuk bisa ke candi. Dan harus bayar TPR yang ke air terjun! Piye to, iki? Huufffttt….


Untungnya…duka nestapa karena salah jalan itu terobati dengan indahnya panorama di kaki gunung Lawu. Selepas kota Solo, jalanan sungguh rapijali dan bersih berseri. Berbelok kiri dari jalan utama pas di pertigaan Karangpandan berbentuk huruf Y yang memisahkan arah Cetho-Sukuh-air terjun Jumog dengan serongan ke kanan arah Tawangmangu, jarak tempuh ke candi dan ke tawangmangu sebanding: tertera 12 km.

lanjut ke Part 2 yahh....

No comments:

Post a Comment