Tuesday, January 19, 2010

Brongkos haochi shengjing bing..enak gila!

Prolog

Entah karena udah bosen dengerin aku tiap hari ngomyang-ngomong setengah sadar setengah engga-tentang brongkos Bu Padmo yang konon yahud banget di pasar bawah jembatan Krasak; atau karena kasian liat mukaku yang tampak memelas ‘sad-looking darsi ‘ dengan sinar mata yang selalu tampak kelaparan, maka terjadilah percakapan berikut di rumah Novi laoshi di Minomartani:

(Catatan: Skenario di adaptasi berdasar daya fantasi darsi. Versi orisinil dalam bahasa Jawa Kromo dan ngoko)

Scene 1. Minomartani

Novi: Wah..ibuk masak brongkosnya banyak banget. Sepanci gede. (Sambi ingak inguk panci, masih bingung bedain brongkos dan rawon)

Ibunya Novi: Ya iyyalah..kan banyak tamu hari ini. (belagak Iron Chef, pake martil buat nggeprak bawang--hancur semeja-mejanya)

Novi: Wah, pasti ada sisa (tetelan) ya? (tuingg…ingat the hungry-looking Darsi). Buk, besok boleh bawa seplastik buat bu Darsi?

Ibu: Ooh..boleh-boleh. Bu Darsi ngidam ya? Anak keberapa?? (gubraaks, red.)

Novi: Yeee…ibuk. Masa blom tau sih. Bu Darsi tu kan…gini. ..pssshh..psshh..%%&()&….@
$%&)%$%....

(mulai deh, nggosip di dapur..). Jadi scenario langsung di potong. Off the record.

Scene 2. Kampus, lt. 2 SAC

Senin siang, aku yang nyampe di kantor dengan pandangan klemun-klemun a.k.a berkunang-kunang karena kepanasen dan jengkel dengan laptop yang tambah error, dikejutkan oleh bungkusan gendut dalam kresek hitam. Rawon buatan Novi laoshi de mama!

Radarku langsung bekerja mendeteksi tanda2 kelesatannya. (sori ‘yet’nya blom idup juga). Hmm…patut di curigai nih. Di permukaan, tampak selapis lemak kekuningan. Bagoesss..brongkos tanpa lemak, mana enaak? Biji2 kacang tolo tampak berjejalan dengan rawit merah dan tahu pong yang lembut kulitnya. Ada potongan tulang iga dengan daging dan telur pindang utuh. Gawat. Lethal combination deh, bikin perutku langsung dangdutan ga karuan.

Jam 4.15 aku dan erni meluncur turun ke parkiran. Belum juga nyampe, mba Ana panggil-panggil , “Buuu..brongkosnya ketinggalan.!!” Halah, piye to iki, saking napsunya, kok malah ketinggalan. Hihihi…

Scene 3. Karangkajen

Sampai rumah, peralatan tempur segera di siapkan. Langkah pertama, rebus bayam dan petik kemangi. Darsi sedang berusaha memangsa banyak sayuran. Langkah kedua, nodong Mbak Tinah minta nasi. Darsi ngga punya beras, ngga bisa masak nasi. Kalo laper, suka minta maem ke bu kos. Langkah ketiga, angetin si brongkos dong…

Scene 4. Makaan.

Begitu di tuang ke wajan cekung, isi brongkos bergelimpangan: lengkap. Tahu kulit yang dipotong segitiga, kacang tolo, telur, iga yang ada uratnya..wuiihh.


Suapan pertama...hmm..enak.
Suapan kedua...lhooo..kok masih enak juga.
Suapan ketiga..waduh..gimana nih..kok makin enak.
Heheh..doyan, ternyata.
Tau2 kok udah mau habis. Lha reviewnya mana....?
Hiii...lupa. Saking enak.
Jadi suapan akhir banyak ngga langsung ditelan bulat2...di endapkan dulu dimulut untuk di kaji rasa-nya. Cieee...

Scene 5 Review

Brongkos ini punya tone manis yang Jogja bangeet dengan rasa lengkuas yang cukup kuat. Kaldunya legit dengan bumbu yang merasuk dalam isian. Harum daun salam samar tercium. Gurih dan pedesnya betul-betul pas, meski menurutku, sedikit tambahan garam akan membuat rasa kaldu makin nendang. Iyyalah, Drsi suka asin! Hanya karena aku ngga cukup akrab dengan kluwak, maka nutty-nya bumbu klukak tidak terjejak. Urat sapinya empuk dan ngga a lot sama sekali, sedang telurnya terasa ‘kenyil-kenyil’ karena cukup lama dimasak. Nyesap kuah yang masuk dalam tahu kulit..ouu..haochi shengjing bing! Emang kadang sayur yang dimasak sehari sebelumnya tu lebih enak kok ya, karena bumbu udah lebih merasuk dalam kaldu dan isian. Uenaak tenaan. Makasih ya,Vie..

Epilog

Gencarnya warta tentang makanan sering membuat kita ikut heboh mencari-cari warung ato resto yang menyajikan 'masakan rumahan' dan melupakan masakan ibuk yang terhidang di meja makan kita sendiri. Padahal, meski ibu kita bukan koki jempolan,tiap rumah keknya pada punya masakan jawara. Ibuku ngga pinter masak sih, tapi kalo bikin gulai kambing..whaaa..haochi de bu de liao. Saking topnya, kita selalu rehab gulai yang di beli dari warung, tambah bumbu ini dan itu, dan jadilah gulai kambing ala buk’e. Hidup BUK’EEEE…!!!

Mo cicipin. Boleehh. Yuk kerumahku. Monggooo….!!

No comments:

Post a Comment