Thursday, February 4, 2010

Balik Perth...Ga naik Angkot Terbang Lagee (Part 1)

Akhir Januari 2010.


Tanggal kian merambat mendekati angka 2 Pebruari. Hmmph… 2 bulan bersantai dengan teman, keponakan2 kecilku dan sesekali kopi darat dengan dia yang tercinta rasanya cepaat banget berlalu. Membayangkan Perth dengan hawa panas menyengat, dan semester baru yang akan segera mulai, jejalan tugas dan jurnal yang harus dibaca membuat langkah kian sereeet aja. But the show must go on…!!!!


Pekayon. Selasa pagi, jam 02. 30, bangun tidur ku terus masak air. Sembari nunggu air panas, tiduran lagi aahhh. Semalam udah pesan taksi untuk jemput jam 03.30. Jadilah jam 4 subuh, ku udah rapi jali dan wangi, nangkring di Bus Damri yang siap melaju ke airport. Untung aku datang ke pool pagian, karena sebelum jam 4 bus udah penuh nuh! Sengsara banget nih hidup di Jakarta. Sebelum pagi buta aja kendaraan juga udah antri di pintu tol.


Satu jam kemudian, bus udah masuk kompleks bandara. Sibuk dimana-mana. Check in dan proses imigrasi butuh kira2 1 jam. Hausss banget, karena dari rumah Cuma sempat minum seteguk air putih. Ada vending machine Nescafe, tapi ketika aku bongkar seluruh kantong..wah..ga ada 5 ribuan sementara mesin ga mau terima lembar ribuan bernominal lebih kecil. Yo wwis lah. Nunggu boarding aja dan mengharap minuman di pesawat.


06.30. Boarding time. Wah, Garuda tepat waktu banget. Terakhir kali naik Garuda setahun lalu, aku masih menyimpa kesal karena delay 2x; 1 jam di Yogya dan delay 1 jam lagi di Bali sebelum akhirnya tinggal landas ke Perth jam 3 pagi! Setahun terakhir ini Cuma kuat naik di pesawat Low Cost Carrier alias angkot terbang – Jetstar Lion Batavia, melangkah ke kabin Garuda terasa begitu melegakan. Apalagi, Bulan yang udah nyampe Perth duluan sempat sms “dapat makan 2x!!”; wahh..hebat nih.


Ga berapa lama, burung besi Airbus 300-800 mulai menanjak. Jus buah dalam cup 100 ml dibagikan. Tengok ke jendela kiri, samar2 gedung jangkung Jakarta terbungkus kabut, sehingga hanya terlihat puncaknya berjajar di kejauhan, sementara di latar belakangnya, langit pagi yang berwarna abu merekahkan larik-larik cahaya kuning dan jingga. Weleh..ternyata cantik juga. Sayang sekali aku dapet seat yang pas dibelakang sayap. hikss.. :-(

 


Sejenak kemudian, pemandangan berganti dengan keindahan bukit dan gunung. Hmm..mungkin itu daerah Puncak, dimana 2 hari sebelumnya aku habiskan akhir pekan dengan kekasih dan keluarganya.





Ketika pesawat mencapai ketinggian jelajah, pramugari/a langsung sigap membagikan menu makan pagi, berupa potongan melon dan pepaya, yoghurt krim, roti dan mentega anchor dalam pack kecil serta omelette yang dikukus dengan jamur shiitake dan tomat. Perutku yang dari semalam hanya terisi 5 butir bakso kuah langsung dangdutan. Dan..happpp…secuil roti pertama masuk mulut disusul dengan yang berikutnya. Habis! Setelah itu, potongan telur yang ternyata didalam ada isiannya yang berwarna gelap. Bukan daging, bukan rumput laut, juga bukan ikan. Entah apa. Habis juga. Enak sih. Kalo ngga malu ma sebelah, mestinya minta tambah…hihihi. Terakhir, beberapa potong melon berpindah ke perut. Walhasil, Cuma papaya (ga doyaan) dan yoghurt krim (gga muaat) yang aku angsurkan kembali kepada pramugari yang memungut nampan. Hmm..tenaang sekarang. Eh…ternyata sarapan milik sebelah dikembalikan nyaris utuh! Dia hanya menyuap buah dan roti. Mungki beliau vegetarian. Whhaaaa…..mbok ya di kasih ke aku, gitu lho.



Trus ngapain lagi dong? Aha…ternyata di depan hidung, ada touch screen. Emang sedari tadi yang terpampang hanya peta Asia Tenggara Australia dan panah yang menunjukkan arah tujuan pesawat. Rupanya ada tulisan kecil START, yang begitu di ketuk ringan maka fitur2 yang bisa kita pilih untuk melewatkan waktu akan terpampang. Ada biografi, music, film pendek, dokumentari dan movie. Nahh..ini dia. Aku ketuk di film New Release dan Blockbuster. Tapi ternyata blockbuster tidak tersedia untuk penerbangan domestic Jakarta Denpasar. Ya sudah. Nonton the Queen-nya Hellen Mirren sajalah.
Sambung ke Part 2 yaakkk



No comments:

Post a Comment