Thursday, February 4, 2010

Balik Perth...Gak Naek Angkot Terbang Lagee (Part 2)

Sesuai jadwal, pesawat berhenti dulu di Bali selama 40 menit. Penumpang diminta masuk ruang tunggu.

Usai transit dan numpang pipis di bandara Ngurah Rai, kita balik lagi ke pesawat. Kami yang tadi turun dengan meninggalkan tas kabin di locker, dan dikasih plat kecil panjang sesuai nomor kursi, diminta untuk mengembalikan plat dan boarding lagi. Lanjutin perjalanan deh. Denpasar - Perth berjarak 3,5 jam penerbangan. Taxi dan take off mulus, ga berapa lama, aroma makan siang mulai memenuhi ruang kabin. Sedap…kali ini pramugari menawarkan pilihan; ayam dengan kentang ato nasi denga daging sapi. Siang itu ternyata paketan nasi dengan daging sapi jadi pemenang. Ga bule ga local, banyakan pada milih nasi. Jadi deretanku yang di nomor seat 20an udah ngga kebagian. Terpaksa deh….makan kentang goreng dengan ayam yang di ungkep, buncis, wortel dan irisan labu kuning manis. Huhuhu..pikirku, sebelum bener2 masuk ke Perth, sekaliiii aja makan nasi lagi. Haah..agak kuciwa, tapi apa boleh buat. Mendingan aku dikasih indomi goreng pake cabe rawit deeh..hihih.

Makan siang terlalu manis dan neq. Salad kentang dan tuna terlihat ‘seadanya’, potongan kentang rebus, sejumput selada dan sesendok kecil cabikan daging tuna kalengan. Qiqiqi..namanya juga kelas Yankee. Terpaksa, sambal ABC sachet aku buka untuk memberi rasa. Dessertnya tart dengan saus berry merah.

Sisa perjalanan aku habiskan dengan menonton “Berbagi Suami”. Kemewahan yang dulu hanya dinikmati kelas bisnis, kini turun ke ekonomi. Bagoess….Lumayan membunuh waktu, hingga tak terasa pesawat sudah melayang di atas daratan benua Australia. Kulongok kebawah lewat jendela, dan sejauh mata memandang hanya terlihat kotak2 kecoklatan diseling dengan lingkaran2 coklat muda dengan pinggiran putih. Mungkin daerah pertambangan denga open-cut disana-sini. Garing. Bedaaa banget dengan hamparan hijau kebiruan yang selalu membuat aku selalu berlaku norak, dengan jeprat-jeprat saat pesawat mulai menukik keatas meninggalkan Yogya. Bandingin dehh.
Seidaknya ada 5 gunung terekam di gambar. Merapi Merbabu, Sindoro Sumbing, dan 1 gunung di kejauhan..mungkin Telomoyo atau Ungaran.






Meski udara cerah, proses turunnya pesawat lumayan menakutkan juga. Seperti turun anak tangga yang ga keliatan, pesawat terasa seperti meloncat-locat. Jendela yang ga boleh di tutup memaksa mataku untuk terus melirik kebawah..ngerri..hiiyy..Aku yang penakut mencengkeram lenga kursi erat sembari berdoa selamat..(halah..kalo lagi gini aja ingat berdoa. Hihihi…). Parahnya lagi, perut tiba-tiba terasa mual. Sekitar 10 menit terombang ambing, akhirnya pesawat bisa stabil lagi. Wheww…syukur deh, makanan di lambung blom sampai loncat keluar lagi meski rasa neq masih terbawa hingga masuk ruang tunggu.


Sekarang..nahh..ini dia proses ‘declare’ barang bawaan. Kopor mesti dibongkar. Perangkat dapur dari kayu, lolos. Kopi, bumbu instan, jamu kunyit asam sachet semua terawangin di bawah scanner. Lolos. Kerupuk ikan, kacang telur juga ok. Tapi eehh..kerupuk udang..lhoo..kok di ambil. Petugas mengecek beberapa kali, ada kandungan entah apa yang ga bisa di bawa. Yahh..yo wis lah. Di belakangku, seorang ABG menyerahkan Tupperware yang berisi martabak manis terbungkus plastic berlapis-lapis. Petugas menebak-nebak, “mmh..Ambon?” yang dijawab ddengan “No, it’s not Bika Ambon” dan mereka tertawa bersama. Lolos juga..hehehe..


And here am I now. Balik lagi ke Perth, bersiap dihadang tugas kuliah 1 semester penuh. Whaa…JIA YOUUU….

No comments:

Post a Comment