Sunday, February 21, 2010

Untunglah “Jawa” jauh dari Jakarta

Akhir pekan di penghujung Januari. Keluarga si Mas sudah reservasi satu villa di daerah Cibodas.

Aku yang selama ini hanya mendengar dan membayangkan betapa indahnya kawasan Puncak – sehingga semua orang kaya Jakarta seolah berlomba menumbuhkan bangunan villa di sana – semakin ngga sabar menunggu Sabtu pagi di hari yang di sepakati. Sengaja terbang dari Yogya kamis pagi agar Sabtu bisa ber-weekend-ria.

“Hueheheh..Mbak, Mbak..udah gede blom pernah tahu Puncak”, si Mas meledek 'kekatrokan-ku'. Memang. Meski mengaku penggemar travelling, aku agak anti berwisata ke daerah Jakarta, kecuali ke KBR yang nota bene memang di luar Jakarta.


Cibodas, Puncuk. Nunggu sunrise dar teras villa. Tapi..ketutup juga ma villa tetangga..hueheheh

“Berarti belum pernah ke Ancol dan TMII juga?”. Aku menggeleng. Cuma Monas dan Museum Nasional yang “beruntung” aku kunjungi ketika mampir Jakarta OTW mudik Yogya Juni 2009 lalu.

“Kasian amat…” si Mas menyuarakan keprihatinan yang dalam. Halah...

Predikat “hiyy…serem” rupanya memang terlanjur kuat melekat di benakku, dan aku memang tidak berusaha menghapusnya. Kebetulan, berulang kali aku ke Jakarta, selalu saja kondisi panas, macet, pandangan galak, muka acuh tak acuh dan sederet ketidaknyamanan selalu menghadang. Itulah kenapa, aku yang lahir di Klaten, sekolah di Solo, kuliah dan bekerja di Yogya tidak pernah berpikir untuk tinggal di Jakarta. Kesana pun hanya sekedar menyelesaikan urusan kerja, atau menengok adik. Itupun akhirnya banyakan cuma ngendon di rumah, ato keluar malam berburu makan di sekitar kompleks rumahnya. That’s all.

Sabtu pagi, meluncurlah kami ke TKP. Sebuah villa di dekat kebun raya Cibodas. Keluar Jakarta melewati tol, kendaraan melaju lancar. Asyik nih, pikirku. Jalanan mulai menanjak. Kemacetan, yang konon sudah menjadi tradisi jalanan di Puncak tiap akhir pekan, ngga keliatan tanda2nya …sampai..kira2 satu jam kemudian mobil mulai mengurangi kecepatan.

Lho lho…ada apa ini ya?

Ohh..itu dia. Entah mulai di kawasan mana, di lajur sebelah kanan kami, ratusan mobil berderet mengarah pulang Jakarta. Weehh…entah berapa kilo, tapi dari arah kami, kendaraan relative lancar meski merayap. Yang sebelah…hufftt..macetnyaaa..ngga ketulungan, mengular lenggak lenggok. Belum lebaran kok macetnya pemudik udah mulai yaa...?

“Ya, gitulah mbak, kalo besok kita pulang pagian, paling juga kena macet gitu,” Si Mas mencoba jadi pemandu yang baik, melihat aku yang terbengong bloon sekaligus takjub melihat kemacetan yang berkilo-kilo panjangnya.

Melewati masjid At-Taawun yang selalu muncul di salah satu stasiun TV saat adzan manghrib berkumandang, aku melayangkan pandang kekiri. Bukit di kejauhan masih berselimut kabut, mengkotraskan warna hijau daun the dengan kelabu putih yang sungguh elok..Ah, ya ya..Puncak memang teramat indah.

Tapiiii….nah ini dia.

Vila, hotel, penginapan, warung, restoran dan ratusan bahkan mungkin ribuan bangunan yang berjejal memadati setiap jengkal tanah apalagi yang berpemandangan indah, sungguh membuat bukit-bukit tak lagi elok dinikmati. Duhhh…Apalagi, dem i mendapat bentang pandang yang luas, banyak sekali bangunan beton yang menyembol sana sini. Mata lelah yang inginnya mendapatkan peneduh dengan memandang hamparan hutan terpaksa harus pasrah terbentur pondok2 bernilai ratusan juta milik orang-orang Jakarta. Belum lagi membayangkan resiko longsoran …hiyy…

Kasihan banget orang Jakarta yak. Ga punya gunung selain Puncak. Hihihi…Untuk ngadem ke gunung yang terdekat aja mesti rela berjejalan. Trus gimana mo nyegerin pikiran, kalo berangkatnya udah bersungut-sungut, eh..pulangnya malah tambah kusut? Is it a getaway? wekekek...

Tak urung terucap lega, karena Dieng dan Candi2 favoritku di Karanganyar Solo, jauh dari Jakarta. Tidak ada macet berkepanjangan (pulangnya, kami harus ikut mengekor antrian hingga hampir 2 jam!!) dan bentang alam yang luar biasa bisa dinikmati hanya dengan duduk di gerbang candi.
Candi Cetha, Karanganyar. Jaauuuhhhh...dari Jakarta
Baturaden. Indah kaaannn???

Alhamdulillah…Jakarta jauuhh dari Dieng, dari Karanganyar, dari Ketep, dari Baturaden…gunung2 indah itu.
Ni foto diambil ketika kita kejebak macet OTW pulang Jakarta. Tama iseng minta di beliin mainan karet yang bisa di 'ulet-ulet' bentuk ikan. Capek ngulet-ulet, ketiduran deeh. Si Ayah sibuk ngemil gemblong....nyam nyam enaak..

No comments:

Post a Comment