Thursday, April 29, 2010

Third Age University for the Third Age Generation


Ki-ka: Kees, Bulan, Betty, Wendy and Norman

Tidak banyak orang tua yag sanggup berkarya di usia senja. Bapakku yang lewat usia 75 dan Ibu yang hampir mencapai 70, dan alhamdulillah kondisi kesehatan mereka sangat baik, di anggap luar biasa oleh banyak orang. Bapak masih rutin ke sawah tiap pagi dan sore sementara ibuk selalu menyibukkan diri dengan menanam sayuran di sekitaran rumah. Tetangga yang pengin sayuran gratis, tinggal petik dan mengacungkannya ke ibuku “Mbaaah…bayem nggiiihh”. Hahahah..teriakan tetangga yang sering aku kangenin.

Menjadi tua, dan menghabiskan waktu senja dengan duduk di kelilingi anak cucu bukanlah impian orang2 tua yang aku lihat, dan sebagian aku kenal, di Australia ini. Banyak diantara mereka yang ingin terus berkarya, atau paling tidak membuat hiburan dengan cara aktif. Alih-alih duduk di depan TV dan mengunggu anak cucu berkunjung, generasi tua ini memilih pergi berkeliling dengan naik van berkeliling, dan berkemah di suatu tempat. Kadang berhenti di satu kota, berdiam beberapa hari, sebelum melanjutkan perjalanan. Grey Nomads, begitu mereka biasa di sebut.

Lain lagi yang dilakukan Kees dan Wendy. Kees yang tahun ini memasuki usia 72 awal April kemarin berangkat ke Palembang, “hanya” untuk bisa membantu orang yang ingin belajar bahasa Inggris. Sepuluh tahun lalu mereka sudah berada di Palembang, menjadi relawan dari Australian Volunteer International.

Willy, kakak Kees yang tinggal di Perth, pada hari2 tertentu mengayuh sepeda dari rumahnya untuk menjadi volunteer di rumah sakit di Midland, sedikit di luar kota. Sementara teman gereja mereka yang lain, Pak Keith, menjadi relawan sopir bus bagi para manula dari nursing house a.k.a panti wredha. Norman dan Betty, meski mereka sudah di atas 80 tahun, masih rajin mengorganisir acara makan siang di Rainbow Club, kelompok orang-orang yang memiliki kelainan mental.

Apakah kondisi fisik mereka begitu sehat dan kuat? Tentu saja tidak sesehat yang lebih muda. Tangan Willy selalu tremor. Tangan kanan Betty sedemikian lemah karena sakit. Norman mulai terjangkit pikun lazimnya manula yang lain. Kees belum lama ini malah menjalani operasi mata, dan operasi kanker di hidung. Tapi dengan keadaan yang sungguh “seadanya” itu, mereka bersemangat membantu orang lain yang mereka rasa “lebih malang dari kami”.

Apakah mereka masuk golongan orang kaya di Perth? Tidak. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan tabungan dana pensiun, atau sebagian mendapat tunjangan dari pemerintah, sebesar 250 dollar per minggu, setara dengan 2 juta. Banyak? Enggak juga, karena biaya hidup minimum di Australia memang 1000-2000 dolar perbulan. Sekedar pembanding, living cost yang diberikan oleh AusAid pada mahasiswa Indonesia tahun 2010 ini sebesar 2000 AUD/bulan

Tapi sekali lagi, ini masalah sikap mental yang sudah tertanam dalam diri, bahwa menjadi beban orang lain adalah hal yang memalukan. Usia tua dan fisik renta bukan alasan untuk menyurutkan langkah. Subhanallah semangatnya....sering aku sampe geleng2 kepala melihat mereka yang gigih bertahan pada prinsip ini.

Bagusnya, pemerintah Australia memberikan dukungan kuat serta memfasilitasi para lansia untuk mengembangkan kemandirian ini.  Sekarang Betty dan Norman, yang keduanya mantan guru bahasa Inggris, bahkan ikut masuk universitas lagi! Usia 80 tahun plus plus tidak membuat mereka kehilangan semangat belajar. Para lansia di fasilitasi oleh UWA untuk mendapatkan Extended Education. Dengan hanya membayar fee yang kecil, mereka mendapatkan booklet berisi bahan ‘kuliah’ dan mendapatkan kuliah beneran loh di universitas! Kemarin aku sempat melirik jadwal mereka. Topiknya bervariasi, mulai dari music, ilmu umum, problem solving puzzle bahkan karya satra dari Shakespeare.

Betty dan Norman pun rutin belajar di depan computer, dan karena cuma berdua di rumah, mereka membagi work station sendiri-sendiri. Dan saling berkirim email untuk bertemu dan makan siang bersama di teras di belakang rumah!

Pasti bukan apple to apple comparison kalo aku bandingkan keadaan ini dengan kondisi para tetua-ku. Tapi bukan hal yang tidak mungkin buat kita yang muda, untuk menularkan semangat Betty Norman, atau Kees Wendy Willy untuk tetangga dan orang tua kita, kan? Kalo jadwal tetua kita sudah di plot untuk pengajian setiap minggu pagi, masih ada minggu sore atau akhir pekan lain untuk diskusi dengan mereka tentang perjuangan Raden Patah, atau Jayabaya, atau mengajak mereka berwisata ke kraton dan sesudahnya kita membantu mereka membuat report…??

Atau jangan2 malah kita yang tidak siap untuk meng-upgrade tetua kita sendiri, karena kita merasa mereka bawel dan banyak maunya.. C’mon, mates! Belum terlambat untuk menambah nilai bakti kita kaann...??

Saturday, April 24, 2010

The taste that's in our blood


Akhirnya usai juga acara ngunduh mantu makan siang dg teman2 ISA-ECU (Indonesian Students Association at ECU). Capek? Pastii. Seneng? Luar biasa. It’s awesome! Ga sia2 aku nyicil belanja 3 hari berturut2 (halahh..) Menu andalanku berhasil menghibur oknum2 kelaparan yang udah kangen masakan ndeso: lodeh terong dan tahu, teri goreng telur, empal basah dan sambal terasi mentah dengan potongan ayam goreng dan brown onion (yang naudzubillah min dzalik pedasnyaa..heheheh). Untuk snacknya, aku belain bikin pangsit goreng isi ayam.


Alhamdulillah sumbangan side dish dan snack tentengan dari teman2 semua juga tak kurang sedap. Pengobat lapar yang sungguh mujarab. Ada angsio kakap merah dan capcay dari Pak Rahmat, kerupuk udang dari Bulan, risoles dari Hendry, cake coklat dari Putri, masih ada lagi macam2 buah, chips dan juices. Yang ini mah..dari raknya Wollies ato Coles, supa terbesar di Ou-zi. Hehehe.

Ngomongin tentang masakan Indonesia ngga ada matinye deh. Bu Wendy dan Pak Kees, November lalu juga menyelenggarakan makan siang untuk gereja mereka. 65 anggota jemaat, semuanya mengaku puas dengan kelezatan makanan Indonesia yang di sajikan, diantaranya lodeh (lagii), mi goreng dan lumpia.  Konon semuanya habis ludes!

Sayangnya cerita keindahan rasa masakan kita ini jarang ditampilkan dengan baik oleh resto-resto Indonesia di luar negeri.

Di Taipei, meski ada Pondok Mutiara yang tergolong enak (dan mahal..hihihi), tapi kalah popular dengan warung Indonesia yang ada di sekitaran stasiun kereta Taoyuan, sedikit di luar Taipei. Enak juga sih, cuma..kawasan di belakang stasiun kereta sering di anggap daerah nyerempet bahaya. Warung2 sederhana itu hampir semuanya di lengkapi dengan karaoke dan music dangdut yang kenceeeng! Warung makan juga ngga cuma sedia makan minum, tapi juga bir, obat2 kuat, dan ..hihi..teman2nya obat kuat deh, golongan ke arah "ituuu..."  hiks.  Pengunjungnya? Yaaa..orang kita juga sih. Ato mereka yang dari Negara tetangga dan kerja di kawasan industri di Taoyuan juga. Mudah2an sekarang udah berubah, karena keadaan itu yang aku lihat 7 taun silam.

Di Sydney, aku pernah mampir ke sebuah kantin Indonesia di daerah UNSW Kingsford saking udah ngidam banget sama ayam goreng. Ah..senangnya ketika ayam goreng lengkuas yang kering kekuningan tersaji dengan nasi putih mengepul, di satu malam Spring 2005. Pas bulan Ramadhan pula! Sekalian waktu itu aku pesan capcay kuah. Nhaa..ini lagi, capcay kuahnya yang berasa “ngga Indonesia banget deh”.

Di Perth, beberapa resto Indonesia buka dengan mengusung misi authentic cuisine. Aku pernah coba Indonesia Indah, Batavia dan Bintang Fajar di Albany Highway. Dari ketiganya, Bintang Fajar berada di urutan teratas untuk rasa yang mendekati otentik. Sayangnya, BF ini keliatan kumuh dengan kertas tisu dan sampah plastik berceceran, ngga sebersih Batavia yang mengusung genre masakan Jatim. Aku pernah coba tongseng kambing di Batavia. Sayang..taste-nya agak meleset dari harapan. Ataukah rasa daging kambingnya beda dengan kambing di tanah air?

Beberapa hari lalu, David, seorang teman Singapore yang termimpi2 masakan Indonesia sejak berkunjung ke Lembang dan menikmati sop buntut disana, mengajak  ke Sparrow di Northbridge. Semangkok sop buntut, ikan bakar dan cah buncis dengan ayam giling. Es cendol dan orange juice menjadi pelengkap.

Sop buntut datang dengan aroma yang lumayan. Dicicip sesendok….waduh..aku membatin. Ngga cocok dengan harapan nih. Aromanya berasa aneh banget. Ngga ada bau sedap, yang ada kok malah rasa masakan yang aku ngga kenal ya? Ya sudah, sisihkan dulu, cicip ikan bakar. Aku berharap mendapat ikan bakar segar dengan sambal kecap dan potongan rawit. Di Perth gampang banget dapet itu semua. Tapi apa boleh buat, sekali lagi harus kecewa. Yang aku dapat potongan ikan beku bertepung (battered fish), yang di kayak di oven bentar dan di guyur kecap asin. Waakkss…kecewa lagi deh. Sedang ca buncisnya tampil hijau cantik dengan ayam giling yang kemerahan. Lumayan, tapi udah ngga ada kriuknya. Es cendol sedap meski pakai santan instant. Tapi orange juice nya cuma berupa juice yang biasa di jual di Woolworth dan di tuang di gelas. Itu aja. Hikss..hiks..

Pantaslah June dan Giz yang jatuh cinta pada masakan Indonesia ketika berkunjung ke Bali dan Jakarta, ngga pernah mau di ajak ke resto Indonesia. Mereka bilang: the taste is weird!

Jadi sebenarnya masalahnya apa sih?

Menurutku, issue kebersihan it hal yang udah ngga boleh di tawar lagi. Yang kedua, rasa masakan, seharusnya tidak perlu dikompromikankan, sekalipun alasannya adalah untuk berdamai dengan selera orang Barat. Lihat saja,  India dan Timur Tengah punya aroma masakan yang jauh lebih kuat dari masakan Indonesia, tapi toh masakan mereka tetep di suka. Ketika bahan makanan dari berbagai negara sudah berlalu lalang ke dapur antar benua,  lidah pecinta makanan di berbagai belahan dunia sekarang ini sudah siap untuk bertualang dengan  rasa yang otentik. Kalo memang khasnya masakan Indonesia itu pedas cabai, kenapa enggak di tampilkan serupa? Toh pengunjung sudah ‘mempersiapkan diri’ untuk di hajar sambal atau lada. Atau, paling ngga, asisten restoran bisa membantu memilihkan menu yang sesuai. Yang ketiga, ciri khusus resto Indonesia yang perlu di tampilkan dengan display yang cantik, hangat, dan 'mengundang' (haiyah..). Batik, boleh. Wayang golek, cakep. Wayang kulit yang ditata berjajar, monggo, tapi ingak ingak..penataannya yang bener dooong. Ada sebuah resto Vietnam yang aku sukaa banget liatnya. Di balik kaca bening pembatas dg jalan, di jajar pohon bambu kuning. kesannya jadi suejuk, tapi ngga singup, gitu. Banyakan resto Indo memang pasang hiasan batik, tapi maksimal jadi taplak or hiasan dinding. Mo masuk aja, keknya udah serius n berat banget. Kenapa ngga sewa jasa interior designer sih? Blom lagi, kalo di kelas kantin nih, tempelan stiker macem2 calling cards murah...jhiaaa.....udah ngga jaman lagi hiasan stikeeerrr!!!

Omong2…asisten resto Sparrow yang melayani kami itu ternyata malah ngga bisa berbahasa Indoesia sama sekali. :-)

Note:
Image diambil dari google. mo minta ijin andaru resto, di klik linknya kok ga muncul yak? malah adanya profil abg di friendster. hihihi..

Thursday, April 15, 2010

Media and the importance of being just in its way of reporting (a sample of blog-writing assignment)



The recent presidential visit of President of Republic Indonesia Susilo Bambang Yudhoyono, commonly known as SBY, to his Australian counterpart PM Kevin Rudd has grabbed the attention of mass media in both countries. Not only that they positively highlighted potential development in bilateral cooperation resulted from the presidential meetings, but also the gifts exchanged at the end of the visit as SBY presented a packet of ‘civet coffee’ while Rudd showed his appreciation through a wooden guitar with the president’s initial name curved on it.

The coffee gift became a topic of debate as media reported that the the Australian Quarantine and Inspection Service insisted on performing a screening test on the memento according to the standard operating procedure of the department. A foreign affairs editor of ABC described that the choice of gift “has raised a few eyebrows” while Sydney Morning Herald reported that the gift “has caused a fair bit of chatter” and “risked breaching Australia's quarantine rules” due to the hygiene issue. Moslem Community of Australia also voiced their opinion on the appropriateness of consuming coffee that has passed through an animal digestive and excrementing process concerning on the ‘halal’ status of the product.

Presenting a bag of civet coffee to an Indonesian would not cause such a big fuss as civet coffee is widely known for its exclusive and special qualities, while in some other countries the appreciation of the same product might be based on different standard. The case above illustrates how media plays a vital role in constructing people’s opinion upon a particular incident. A just reporting (of media) could in fact avoid arbitration due to social and cultural contradictions. There are at least 2 approaches need to be taken into account in news making . First, that media should refer to the ideology it represents in news making, and second, that media should demonstrate a goodwill in its reporting.

What kind of ideological practice carried out in the reporting of the presidential gift exchange? Croteau and Hoynes (2003, p. 160) assert that “the key is the fit between images and words in a specific media text and ways of thinking about, even defining, social and cultural issue.” In viewing an occurrence, public rely largely on the way media presents the information. Sociologist Stuart Hall highlights, as quoted by Croteau and Hoynes (p. 168), media “re-present” and involved in the process of creating a particular meaning from an existing fact, or “making things mean”. Knowing that a report could have such a powerful impact, media should consider the assumption or concept that will be established in the reader’s mind upon acquiring the information. In the case of the coffee gift mentioned above, for example, SMH and ABC have attempted to help its reader making informed judgments by supplying them with ample information on how the coffee is valued and highly recognized in both local and international market rather than exaggerating the fact that it is collected through a unique process. This is the responsibility of media that they need to help readers defining the issue properly, as a part of ‘fitting’ the information that accommodate cultural sensitivity. Thus the presentation of the information is perceived as explanative and informative rather than offensive.

The good practice indicated in the discussion of the coffee gift is demonstrated when dealing with the proportion of news coverage that does not exceed the importance the main issues related to the visit. Although as indicated in the news that the examination process may cause inconveniences, both media did not exaggerate the controversy. At this point, both SMH and ABC did not merely promoting controversial perspectives, while in many other cases, media often takes this way that often result in message and image distortion. This is why media is sometimes being criticized as a source of problem (Croteau & Hoyness, 2003, p. 160-162).

In summary, the approach employed by media to present an information is very important in constructing the image developing in public’s mind. As there are a lot of perspectives in viewing a particular issue (Gamson, Croteau, Hoynes & Sasson, 1992), media has the responsibility in disseminate the truth value of the facts and information in just and proper way and demonstrates good practices in helping the public to digest what Roland Barthes said as ‘denotative’ and ‘connotative’ meaning of an information.

References

Croteau, D & Hoynes, W.(2003). Media society: Industries, images and audiences. London: Sage Publications, pp. 159-168

Gamson, W. A. , Croteau, D., Hoynes, W. & Sasson, T. (1992) Media images and the construction of reality. In Annual Review of Sociology, vol. 18, pp. 373-393

Sturken, M & Cartwright, L. (2004). Practices of looking. New York: Oxford UP., pp. 16-30

Image:
http://www.luxurylaunches.com/other_stuff/kopi_luwak_the_worlds_most_highpriced_coffee.php

Online sources:

http://www.smh.com.au/national/change-with-a-few-rough-edges-20100312-q45r.html

http://www.abc.net.au/news/stories/2010/03/12/2844292.htm

http://www.aussiemuslims.com/forums/showthread.php?p=403226

http://www.mediaindonesia.com/read/2010/03/09/128164/15/1/Presiden-Yudhoyono-Terima-Penghargaan-dari-Australia

Thursday, April 8, 2010

JJS ke Kings Park


Setelah berhari-hari di hajar monster assignment, dadakan Rabu pagi aku pengiin keluar rumah. Assignment udah submit selasa sore. Lumayan ada waktu buat lepasin diri dari cengkeraman jurnal dan textbook. Akhir pekan ngga akan bisa, karena Rabu depan ada ujian.

Setelah rundingan dengan Bulan, kita putuskan untuk menangkap senja (maksudnya, foto2…getu) di King’s Park. Letak kota Perth kayak Semarang deh, dengan bukit Mt. Eliza di belakang dan bagian luar kota Perth berbatas dengan laut. Lautnya sendiri ngga keliatan dari kota, tapi kalo mo keluar dikit, ada banyak pantai yang beken, seperti Fremantle, Cottlesloe (konon ada area nudis-nya loh. hihihi..), Mandurah, Rockingham, dan juga City beach.

Kings Park gampang di capai dari kota. Naik rute 37 yang bisa di cegat (halah, istilahnya..) dari bus stand sepanjang George terrace, ngga sampai 10 menit udah nyampe Fraser Avenue yang mengarah ke Kings Park Botanical Garden. Sepanjang sisi fraser Avenue, pohon2 eucalyptus tinggi tegak berjajar. Di bawah pohon2 ini ditanam plakat nama orang yang menanamnya. Hampir semuanya memang di tanam tahun 1929. Pantesan, tinggi2 banget. Udara cerah di penuhi cahaya matahari sore dan harum eucalyptus yang menguar. Sementara di sisi kiri, gedung2 tinggi di kawasan CBD North Perth tampak mulai menyalakan lampu2. Asik banget deh buat jalan jalan. Dan wajib foto2. Heheh. Ketika kami di sana, ada serombongan pengantin sedang mengambil gambar pre-wedding. Cantik.

Kota Perth terbagi menjadi 2 kawasan besar, sebelah utara Swan River, yang merupakan kawasan Central Business District dan kawasan selatan, South Perth yang merupakan kompleks perumahan dan apartemen elit. UWA masih masuk di daerah selatan yang kawasannya orang tajir ini. Iyyalaahh…!! Sementara daerah pemukiman yang biasa2 ajah kemudian menyebar keluar kota, di sebut daerah suburb. Di luar kota lagi, di lingkar 200-300 km, di sebut daerah outskirt-lahan pertanian, farm, cattle paddock/peternakan ada di kawasan ini. Daerah paling luar yang berbatasan dengan gurun di sebut outback area.

Kembali ke King’s Park. Menurut buku Tourists’ Information guide, luas park ini mencapai 400an hektar dan merupakan kawasan taman botani denga ragam tumbuhan asli Australia. Yang paling beken tentu saja randu alas Boab tree dan macam2 banksia. Berada dibukit kecil, dengan berdiri di salah satu jogging tracknya saja, kita udah bisa menyapukan pandangan ke seluruh penjuru kota. Tempat wajib kunjung di sini tentu saja War-Memorial dengan api yang menyala terus. War memorial ini merupakan monument kepahlawanan tentara Australia yang berperang ke Gallipoli Turky di jaman PD II. Setiap tanggal 25 April-ANZAC day-disini diselenggarakan upacara, yang berlangsung sebelum matahari terbit. Bis kota pun ikut beroperasi mulai jam 2 atau 3 subuh.

Di dekat War memorial, ada kolam yang ditengahnya di pasang obor yang terus menyala. Di sekitar kolam ini di pahat nama tentara yang jasanya terbilang istimewa, dan mereka di anugerahi Victoria Cross (aduhh..bener ngaa ya? Coba ntar aku cek lagi). Orang terakhir yang menerimanya adalah tentara muda yang menyelamatkan nyawa seorang interpreter di Afghanistan satu atau dua tahun lalu.

Aku dan Bulan akhirnya cuma bisa berangan kapan yaahh Semarang punya taman cantik di Candi, atau Gombel, ato Srondol..hihi. Yogya sekarang kayaknya lagi nge-trend dengan wisata gunung purba Nglanggeran. Tapi aku blom pernah kesana. Besok Juni kalo aku mudik, aku sempatin deh kesana. Trus ntar tak certain. Okeee...????

Korean bbq di Arirang


Ihwal kepincutnya aku terhadap Arirang bermula dari kebiasaan ndesit-ku, yakni suka celingukan liat kanan kiri ketika jalan-jalan. Untung kaki ngga pernah kesandung biarpun mata jelalatan kemana-mana. Kok bisa? Iya dong...Perth punya trotoar yang lebar dan rata, udah gitu ngga di sesaki lapak penjual sih (uh, emang Malioboro?) meski sesekali ada juga meja kursi berpayung yang di pasang di depan kafe-kafe yang hip. Tapi,  sumpah, aku blom pernah nabrak tu meja kursi kok. Kalo nabrak cowo ganteng yang duduk dikafe maaahh…seriiing…hehhe, maunya!


Di salah satu sesi celingukan, aha…mata terpaku pada Charlie Sheen plang ‘Arirang’ warna merah dengan gambar nyala api kecil. Korean barbeque, gitu katanya. Dua set lampu kelip2 kekuningan yang biasanya di pasang di pohon natal tuh di cantel dibalik kaca besar yang membatasi dengan jalan. Lampu ini di ulir bentuk jantung. Sederhana saja.

Berhubung bus-stand tempat aku nunggu rute 21 ada di depan Arirang, jelas aja aku sering ngeces karena aroma bbqnya sering samar2 kecium dari luar…udah gitu, pas sebelahan ma Arirang ni ada kios kebab Turki yang keknya asik pulak…mhh..slurrrp..clegux..

Maka demikianlah yang terjadi di suatu Rabu petang. Usai bikin kaki gempor karena ketinggalan bis – sehingga harus turun gunung dari King’s Park ke Arirang di Barrack street CBD sejauh kira-kira dua kilo – aku dan Bulan sudah ngejejer di depan pintu kedai untuk di cariin tempat duduk. Arirang ngga gitu ramai. Tengah minggu gini sih. Tapi justru ini waktu yang bagus buat kami yang udik, untuk belajar pake sumpit dan bakar2 ala Korea.

Meski ada the special of the day, akhirnya kamu putusin ngambil yang regular ajah. Hehehe..sekalian lengkap ada lalapan, sambel trasi,  dan nasinya, getu loh..hayuk hayuk pilih apa dong?

Hmm..Bibimbab laahhh. Ada pilihan ayam ato beef. Sekilas ngeliat, keknya memang ngga ada pork yang di tawarkan. Ato emang pork ngga biasa di pake di masakan Korea? Embuh..

Ga pake lama, minum kami, lemon squash datang. Disusul rombongan cawan dan mangkok kecil: nasi, miso soup, soybean sauce, kentang yang dipotong kecil, acar timun jepang, taoge, saus encer warna coklat (kyk kecap asin tapi ngga asin tuh, apa ya?) dan temtu saja kimchi. Dua piring besar yang turut rombongan ini berisi selada Romaine yang renyah dan selada keriting, dan sepiring lagi berisi tumpukan kecil beef yang udah diiris tipis, 2 iris bawang Bombay, 2 potong jamur shiitake, sedikit wortel dan tomat. Yah, meja kecil jadi sesak deh dengan 12 cawan kecil, 4 mangkok kecil, 2 piring besar dan 2 gelas minum. Weks.

Gadis cilik di sebelah tersenyum melihat kami. “This is very hot. My tongue was burnt..hihihi..,” bisiknya ramah sambil menunjuk ‘lobang’ yang tertutup lempeng alumunium di tengah mejaku.

Seorang waiter kemudian datang menjinjing semacam ember berisi bara briket, yang kemudian di tempatkan di lobang meja. Selanjutnya dia menutup bara dengan ‘saringan’ berlubang-lubang kecil untuk meletakkan daging yang mo di panggang. Karena ngga mau salah, aku bilang ma waiter untuk di ajarin dulu. Sekalian dia ingetin tombol2 untuk ngecilin api. Wokelah, gampang!

Daging udah mendesis matang. Menurut ‘rumus’ yang tadi di tulis di buku menu, daging ditaruh di atas selada, tambahkan kimchi, acar, sejumput nasi trus di lipat dan happp…! Okeh, ikutin prosedur yang bener. Pake sumpit, ambil daging, kimchi, acar timun, sedikit soybean sauce, tapi kok..lohh..ngga bisa ngegulungnya pake sumpit. Wadoh, piye iki? Daun seladanya kan keras. Lagian, nggulungnya pake sumpit, piyee…? Di rumah, Thuy sering pake sumpit untuk gulung2 masakan Vietnam, tapi aku selalu gagal niruin. Pasti tangan yang maju. Lha ini di rumah makan je. Sentuh makanan dengan tangan jadi ‘prohibited’. Kikikik…

Yo wis. Ketimbang ribet, akhirnya aku sumpitin satu2 wae. Tetep bertahan no finger licking! Meski masih agak bingung juga. Ni daging di celup saus baru di gulung, atokan daging di gulung dulu baru di celup saus, trus dimakan? Embuh…

Gimana rasanya? Sodara-sodara, rasanya….maknyus!! Dagingnya lembut dengan sedikit lemak di pinggir. Bumbunya manis gurih meresap. Iyalah, kan tipis banget. Bulan bilang, sekilas rasa bumbu dendeng, tapi minus ketumbar. Acar timun, taoge, dan kimchinya enak, padahal aku biasanya ngga suka kimchi lho. Yang keluaran toko suka aneh rasanya, asem banget, dan ada bau sengak. Yang ini, karena home-made, jadi enak . Manis asamnya pas. Merah tapi ngga pedas.

Kapan-kapan bolehlah kembali ke Arirang. Tapi agak lama yah? Bisa kena kanker nanti. Berdua, habis 53 AUD. Hihihi….

Saturday, April 3, 2010

Bye DVD player-ku…


Ini kejadian udah beberapa minggu lalu sih, tapi baru sekarang sempet2in nulis. Gini ceritanya.
Pada suatu pagi yang cerah (summer, gitu loh)..HP bunyi…didiiidd..didiiid. SMS. Dari Mario, Masku di rumah. Ni kakak tukang males balas sms. Biasanya setelah 3 ato 4 hari, kadang seminggu kemudian, sms yang aku kirim baru di jawab. Dah gitu, sms yang aku tulis blahh..blahh..blah..sering cuma di jawab “ho’oh”, ato “ok”, ato “apik”. ..ggrrgghhhh…mangkel ga sih? Apanya yang apik? Wong aku udah lupa kapan kirim sms n isine opo. Huuuhhuuu.

Tapi sms pagi itu dikit beda. Meski sama ngeselinnya. Tapi tumben agak panjang. Mario nulis:

“DVD-mu neng omah ilang, di jupuk uwong”

Gubraakkkss…!! Oalaahh…sekalinya dapet sms ‘normal’ wae kok ya isine kayak gini?

Mikir sebentar. Ohh, ni pasti maksudnya DVD player yang aku taruh di rumah. DVD player tipis selebar buku tulis yang entah merk nya apa. Lupa.

Player ini aku dapet sebagai door-prize pas RKT kampus, bulan April 2007. Itu juga setelah melalui tahap protes keras pada Tuhan Yang Maha Esa. Hihihi…Habis, kesel banget. RKT kan cuma di adain setaun sekali. Nah, RKT 2006, teman kantor PPB semuaaaa dapet door prize. Inget betul aku (inget dengan getem2 dendam!). Masa, Bu Maryam dapat door-prize tabungan Bank Muamalat (cmiiw), Bu Eko dapet emergency lamp, Pak Jati dapet kemeja (cmiiw), Pak Roy dapet buku tulis, ada juga yang dapet setrika, bahkan Pak Pri, kalo ga salah dapet gula pasir 10 kilo! Bu Susi yang ngga dapet door prize pun di kasih prize-nya Bu Ama, water dispenser! Lha akyuuuu….? Huk huk…kan pengin juga, biarpun cuma permen cecak di bungkus kertas krep yang gampang luntur clemong2 ituww. Ngga dapet! Ohh..aku jadi ngerasa di anak tirikan bener…

Maka genderang protes aku tabuh. Njuk karepe piyeee ikiii….??? Nomor undian langsung aku tandai dengan gambar tengkorak dan botol racun. Ngga hoki blassss….!

Tapi..aih…ternyata Tuhan Maha Mendengar!

RKT tahun berikutnya, aku kok mimpi liat buke. Tenin. Pertanda bagus? Embeerr karena jebul door-prize yang aku dapet malah lebih keren…tadaa..DVD player, bow….!! Tambahin ah pujiannya, Maha Baik, Maha Pangerten…Jadilah kegiatan di kost ga cuma nonton tipi, tapi aku mulai beli2 CD dan DVD bajakan. Qiqiqi. Tom and Jerry dan Tintin. Masa Cuma itu…? Yang lainnya..hush..psstt!!

Setelah punya laptop, si player mulai terlupa. Malah kemudian aku bungkus dengan gabus n kardusnya sekalian. Belakangan, player aku bawa pulang ke rumah. Lumayan bikin buke excited nonton rekaman kegiatan dan foto2 waktu berhaji.

Tapi sekarang si player pergi. Hiks. Yo wis lah. Mungkin yang ngambil kepingin nonton CD Iqra. Hueheheh…..semoga begitu.

Friday, April 2, 2010

Aku Cinta Indonesia……!!!!

Hari Rabu. Jam 3 sore.  Perth tengah ‘membara’ dengan suhu 35 derajat. Aku termangu menunggu bis ke kampus di bus stand dekat rumah. Sorang lelaki paruh baya menghampiri. Aku menengok dan menyapa ‘hi’.

“Assalamualaikum, are you from Indonesia?” balasnya.

“Ouh, waalaikum salam,”. Kaget juga. Hihi... Kaget karena dia menyapa dengan salam, dan kaget karena dia nebak aku dari Indonesia. Padahal biasanya orang mengira aku dari Malaysia. Kok bisa ya? Padahal cara berpakaianku  kan "Indonesia banget". Tapi ternyata teman Indonesia pun banyak yang mengira aku dari Malaysia. hohoho...Ini pasti karena wajahku mirip Manohara, yang tahun lalu gabur dari Malaysia, trus bawa trend jilbab yang aku pake ini...

"They way you wear your hijab is very..very Indonesia," jawabnya. Nah loo..bener, kan?
Belakangan dia menyodorkan kartu nama. Namanya Istenad. Rupanya dia imigran yang datang ke Australia 4 tahun lalu.

“I came as a refugee. I am from Iraqi. Come here with my wife and kids. It was horrible in Baghdad. My other family are still there”.

Suaranya pelan. Pandangannya terlihat pahit mengenang tanah di negeri para nabi itu.

“I worked as a journalist, I producer programs in TV, I become director. Now I work as at pizza shop”, tuturnya dengan bahasa Inggris yang terpatah2. Masih banyak cita yang ingin di kejarnya. Belajar Bahasa Inggris, mengambil kursus seni, rencana pindah ke state yang lain….

Ada juga student di kelasku, bernama Zaidah, yang merupakan politisi yang di asingkan dari negaranya sendiri, Zimbabwe. Wanita tangguh blasteran Zimbabwe Inggris ini sekarang berjilbab. Ketika aku bertemu dia pertama kali, sungguh sekelas terdiam mendengarkan bagaimana dia bertutur tentang perjuangannya melawan rezim Robert Mugabe (ya..nama ini pertama kali aku dengar dari guru sejarah SMP, puluhan tahun lalu). Hingga kini dia tidak bisa kembali ke Zimbabwe, dan terpaksa meninggalkan anak dan keluarganya disana. Seorang teman yang lain datang beserta anak istrinya dari Sudan. Sudah 9 tahun di Perth, dan masih kebingungan karena ingin ganti pekerjaan.

Selalu perih melihat mereka yang harus meninggalkan tanah air yang terkoyak perang.

Pernah aku tanya Thuy-landlordku-perihal perang Vietnam yang diingatnya semasa dia kanak2. Thuy sekarang 43. Tapi dia enggan bercerita, dan hanya mengatakan “My parents sent me to my grandma in the village. My parents stayed in Hanoi”. Sementara teman Thuy yang kebetulan berkunjung kerumah sempat menyahut “I go to Pulau Galang..you know that..in Indonesia, before we come to Australia..”

Duh, sedihnya cerita tentang perang.

Tapi kini mereka semua sudah mendapatkan Permanent Residence-nya di Australia.

Dengan jumlah penduduk yang hanya di kisaran 22 juta, Australia memang masih terasa “kosong”. Ini data yang di kutip dari Australian Bureau of Statistics:

On 2 April 2010 at 06:11:49 PM (Canberra time), the resident population of Australia is projected to be:

22,293,115

This projection is based on the estimated resident population at 30 September 2009 and assumes growth since then of:

• one birth every 1 minute and 46 seconds,

• one death every 3 minutes and 42 seconds,

• a net gain of one international migrant every 1 minute and 46 seconds leading to

• an overall total population increase of one person every 1 minute and 10 seconds

Ngga heran maka Australia jadi negara ‘jujugan’ biarpun jauhnya ampyuun deh, dari negara2 Arab dan Sub Saharan sono. Untuk urusan pertumbuhan penduduk secra keseluruhan di tahun 2009, kebetulan Perth memang paling nanjak, di angka 3,2% dan Darwin 3,1%. Iyyalahh…secara geografis, ni 2 kota kan paling dekat dengan tetangga-tetangga.

Perth memang terasa ‘kurang Barat’ di banding Eastern States. Paling ngga, itu yang aku rasa ketika mengunjungi Sydney dan Brisbane. Tapi dengan multikulturalisme ini, aku justru ngerasakan keramahan yang lebih menyenangkan di banding kedua kota besar Brisbane dan (apalagi) Sydney. Apakah karena memang bawaan kota besar? Mungkin juga. Keramahan Solo Jogja pasti juga beda dengan Jakarta yak?

Pertanyaan pun sering melayang ke aku: pengin ajukan PR?

Hmm…menarik juga.

Dulu aku pikir aku akan enteng ‘go international’ layaknya mimpi Agnes Monica. Hueheheh…tapi setelah benar2 menginjakkan kaki di tempat2 yang jauh dari rumah, hm..’bonding’ku dengan kampung malah jadi makin kuat. Dan kian mantap niat di dalam diri: “My folks need me, and I need them, and I am gonna do something for them..!!”. Mulia banget yak? Aminin dong…Alhamdulillah, sebentar lagi aku n adikku akan menghadiahi diri kami sendiri dengan nyekolahin 2 anak asuh sampe mereka lulus SMK. Semoga lancar…

Jadi PR? Biar untuk orang lain yang bener2 membutuhkan aja. I have my own space in my land, among my beloved ones.