“Assalamualaikum, are you from Indonesia?” balasnya.
“Ouh, waalaikum salam,”. Kaget juga. Hihi... Kaget karena dia menyapa dengan salam, dan kaget karena dia nebak aku dari Indonesia. Padahal biasanya orang mengira aku dari Malaysia. Kok bisa ya? Padahal cara berpakaianku kan "Indonesia banget". Tapi ternyata teman Indonesia pun banyak yang mengira aku dari Malaysia. hohoho...Ini pasti karena wajahku mirip Manohara, yang tahun lalu gabur dari Malaysia, trus bawa trend jilbab yang aku pake ini...
"They way you wear your hijab is very..very Indonesia," jawabnya. Nah loo..bener, kan?
Belakangan dia menyodorkan kartu nama. Namanya Istenad. Rupanya dia imigran yang datang ke Australia 4 tahun lalu.
“I came as a refugee. I am from Iraqi. Come here with my wife and kids. It was horrible in Baghdad. My other family are still there”.
Suaranya pelan. Pandangannya terlihat pahit mengenang tanah di negeri para nabi itu.
“I worked as a journalist, I producer programs in TV, I become director. Now I work as at pizza shop”, tuturnya dengan bahasa Inggris yang terpatah2. Masih banyak cita yang ingin di kejarnya. Belajar Bahasa Inggris, mengambil kursus seni, rencana pindah ke state yang lain….
Ada juga student di kelasku, bernama Zaidah, yang merupakan politisi yang di asingkan dari negaranya sendiri, Zimbabwe. Wanita tangguh blasteran Zimbabwe Inggris ini sekarang berjilbab. Ketika aku bertemu dia pertama kali, sungguh sekelas terdiam mendengarkan bagaimana dia bertutur tentang perjuangannya melawan rezim Robert Mugabe (ya..nama ini pertama kali aku dengar dari guru sejarah SMP, puluhan tahun lalu). Hingga kini dia tidak bisa kembali ke Zimbabwe, dan terpaksa meninggalkan anak dan keluarganya disana. Seorang teman yang lain datang beserta anak istrinya dari Sudan. Sudah 9 tahun di Perth, dan masih kebingungan karena ingin ganti pekerjaan.
Selalu perih melihat mereka yang harus meninggalkan tanah air yang terkoyak perang.
Pernah aku tanya Thuy-landlordku-perihal perang Vietnam yang diingatnya semasa dia kanak2. Thuy sekarang 43. Tapi dia enggan bercerita, dan hanya mengatakan “My parents sent me to my grandma in the village. My parents stayed in Hanoi”. Sementara teman Thuy yang kebetulan berkunjung kerumah sempat menyahut “I go to Pulau Galang..you know that..in Indonesia, before we come to Australia..”
Duh, sedihnya cerita tentang perang.
Tapi kini mereka semua sudah mendapatkan Permanent Residence-nya di Australia.
Dengan jumlah penduduk yang hanya di kisaran 22 juta, Australia memang masih terasa “kosong”. Ini data yang di kutip dari Australian Bureau of Statistics:
On 2 April 2010 at 06:11:49 PM (Canberra time), the resident population of Australia is projected to be:
22,293,115
This projection is based on the estimated resident population at 30 September 2009 and assumes growth since then of:
• one birth every 1 minute and 46 seconds,
• one death every 3 minutes and 42 seconds,
• a net gain of one international migrant every 1 minute and 46 seconds leading to
• an overall total population increase of one person every 1 minute and 10 seconds
Ngga heran maka Australia jadi negara ‘jujugan’ biarpun jauhnya ampyuun deh, dari negara2 Arab dan Sub Saharan sono. Untuk urusan pertumbuhan penduduk secra keseluruhan di tahun 2009, kebetulan Perth memang paling nanjak, di angka 3,2% dan Darwin 3,1%. Iyyalahh…secara geografis, ni 2 kota kan paling dekat dengan tetangga-tetangga.
Perth memang terasa ‘kurang Barat’ di banding Eastern States. Paling ngga, itu yang aku rasa ketika mengunjungi Sydney dan Brisbane. Tapi dengan multikulturalisme ini, aku justru ngerasakan keramahan yang lebih menyenangkan di banding kedua kota besar Brisbane dan (apalagi) Sydney. Apakah karena memang bawaan kota besar? Mungkin juga. Keramahan Solo Jogja pasti juga beda dengan Jakarta yak?
Pertanyaan pun sering melayang ke aku: pengin ajukan PR?
Hmm…menarik juga.
Dulu aku pikir aku akan enteng ‘go international’ layaknya mimpi Agnes Monica. Hueheheh…tapi setelah benar2 menginjakkan kaki di tempat2 yang jauh dari rumah, hm..’bonding’ku dengan kampung malah jadi makin kuat. Dan kian mantap niat di dalam diri: “My folks need me, and I need them, and I am gonna do something for them..!!”. Mulia banget yak? Aminin dong…Alhamdulillah, sebentar lagi aku n adikku akan menghadiahi diri kami sendiri dengan nyekolahin 2 anak asuh sampe mereka lulus SMK. Semoga lancar…
Jadi PR? Biar untuk orang lain yang bener2 membutuhkan aja. I have my own space in my land, among my beloved ones.
No comments:
Post a Comment