Akhirnya usai juga acara ngunduh
Alhamdulillah sumbangan side dish dan snack tentengan dari teman2 semua juga tak kurang sedap. Pengobat lapar yang sungguh mujarab. Ada angsio kakap merah dan capcay dari Pak Rahmat, kerupuk udang dari Bulan, risoles dari Hendry, cake coklat dari Putri, masih ada lagi macam2 buah, chips dan juices. Yang ini mah..dari raknya Wollies ato Coles, supa terbesar di Ou-zi. Hehehe.
Ngomongin tentang masakan Indonesia ngga ada matinye deh. Bu Wendy dan Pak Kees, November lalu juga menyelenggarakan makan siang untuk gereja mereka. 65 anggota jemaat, semuanya mengaku puas dengan kelezatan makanan Indonesia yang di sajikan, diantaranya lodeh (lagii), mi goreng dan lumpia. Konon semuanya habis ludes!
Sayangnya cerita keindahan rasa masakan kita ini jarang ditampilkan dengan baik oleh resto-resto Indonesia di luar negeri.
Di Taipei, meski ada Pondok Mutiara yang tergolong enak (dan mahal..hihihi), tapi kalah popular dengan warung Indonesia yang ada di sekitaran stasiun kereta Taoyuan, sedikit di luar Taipei. Enak juga sih, cuma..kawasan di belakang stasiun kereta sering di anggap daerah nyerempet bahaya. Warung2 sederhana itu hampir semuanya di lengkapi dengan karaoke dan music dangdut yang kenceeeng! Warung makan juga ngga cuma sedia makan minum, tapi juga bir, obat2 kuat, dan ..hihi..teman2nya obat kuat deh, golongan ke arah "ituuu..." hiks. Pengunjungnya? Yaaa..orang kita juga sih. Ato mereka yang dari Negara tetangga dan kerja di kawasan industri di Taoyuan juga. Mudah2an sekarang udah berubah, karena keadaan itu yang aku lihat 7 taun silam.
Di Sydney, aku pernah mampir ke sebuah kantin Indonesia di daerah UNSW Kingsford saking udah ngidam banget sama ayam goreng. Ah..senangnya ketika ayam goreng lengkuas yang kering kekuningan tersaji dengan nasi putih mengepul, di satu malam Spring 2005. Pas bulan Ramadhan pula! Sekalian waktu itu aku pesan capcay kuah. Nhaa..ini lagi, capcay kuahnya yang berasa “ngga Indonesia banget deh”.
Di Perth, beberapa resto Indonesia buka dengan mengusung misi authentic cuisine. Aku pernah coba Indonesia Indah, Batavia dan Bintang Fajar di Albany Highway. Dari ketiganya, Bintang Fajar berada di urutan teratas untuk rasa yang mendekati otentik. Sayangnya, BF ini keliatan kumuh dengan kertas tisu dan sampah plastik berceceran, ngga sebersih Batavia yang mengusung genre masakan Jatim. Aku pernah coba tongseng kambing di Batavia. Sayang..taste-nya agak meleset dari harapan. Ataukah rasa daging kambingnya beda dengan kambing di tanah air?
Beberapa hari lalu, David, seorang teman Singapore yang termimpi2 masakan Indonesia sejak berkunjung ke Lembang dan menikmati sop buntut disana, mengajak ke Sparrow di Northbridge. Semangkok sop buntut, ikan bakar dan cah buncis dengan ayam giling. Es cendol dan orange juice menjadi pelengkap.
Sop buntut datang dengan aroma yang lumayan. Dicicip sesendok….waduh..aku membatin. Ngga cocok dengan harapan nih. Aromanya berasa aneh banget. Ngga ada bau sedap, yang ada kok malah rasa masakan yang aku ngga kenal ya? Ya sudah, sisihkan dulu, cicip ikan bakar. Aku berharap mendapat ikan bakar segar dengan sambal kecap dan potongan rawit. Di Perth gampang banget dapet itu semua. Tapi apa boleh buat, sekali lagi harus kecewa. Yang aku dapat potongan ikan beku bertepung (battered fish), yang di kayak di oven bentar dan di guyur kecap asin. Waakkss…kecewa lagi deh. Sedang ca buncisnya tampil hijau cantik dengan ayam giling yang kemerahan. Lumayan, tapi udah ngga ada kriuknya. Es cendol sedap meski pakai santan instant. Tapi orange juice nya cuma berupa juice yang biasa di jual di Woolworth dan di tuang di gelas. Itu aja. Hikss..hiks..
Pantaslah June dan Giz yang jatuh cinta pada masakan Indonesia ketika berkunjung ke Bali dan Jakarta, ngga pernah mau di ajak ke resto Indonesia. Mereka bilang: the taste is weird!
Jadi sebenarnya masalahnya apa sih?
Menurutku, issue kebersihan it hal yang udah ngga boleh di tawar lagi. Yang kedua, rasa masakan, seharusnya tidak perlu dikompromikankan, sekalipun alasannya adalah untuk berdamai dengan selera orang Barat. Lihat saja, India dan Timur Tengah punya aroma masakan yang jauh lebih kuat dari masakan Indonesia, tapi toh masakan mereka tetep di suka. Ketika bahan makanan dari berbagai negara sudah berlalu lalang ke dapur antar benua, lidah pecinta makanan di berbagai belahan dunia sekarang ini sudah siap untuk bertualang dengan rasa yang otentik. Kalo memang khasnya masakan Indonesia itu pedas cabai, kenapa enggak di tampilkan serupa? Toh pengunjung sudah ‘mempersiapkan diri’ untuk di hajar sambal atau lada. Atau, paling ngga, asisten restoran bisa membantu memilihkan menu yang sesuai. Yang ketiga, ciri khusus resto Indonesia yang perlu di tampilkan dengan display yang cantik, hangat, dan 'mengundang' (haiyah..). Batik, boleh. Wayang golek, cakep. Wayang kulit yang ditata berjajar, monggo, tapi ingak ingak..penataannya yang bener dooong. Ada sebuah resto Vietnam yang aku sukaa banget liatnya. Di balik kaca bening pembatas dg jalan, di jajar pohon bambu kuning. kesannya jadi suejuk, tapi ngga singup, gitu. Banyakan resto Indo memang pasang hiasan batik, tapi maksimal jadi taplak or hiasan dinding. Mo masuk aja, keknya udah serius n berat banget. Kenapa ngga sewa jasa interior designer sih? Blom lagi, kalo di kelas kantin nih, tempelan stiker macem2 calling cards murah...jhiaaa.....udah ngga jaman lagi hiasan stikeeerrr!!!
Omong2…asisten resto Sparrow yang melayani kami itu ternyata malah ngga bisa berbahasa Indoesia sama sekali. :-)
Note:
Image diambil dari google. mo minta ijin andaru resto, di klik linknya kok ga muncul yak? malah adanya profil abg di friendster. hihihi..

No comments:
Post a Comment