Thursday, April 29, 2010

Third Age University for the Third Age Generation


Ki-ka: Kees, Bulan, Betty, Wendy and Norman

Tidak banyak orang tua yag sanggup berkarya di usia senja. Bapakku yang lewat usia 75 dan Ibu yang hampir mencapai 70, dan alhamdulillah kondisi kesehatan mereka sangat baik, di anggap luar biasa oleh banyak orang. Bapak masih rutin ke sawah tiap pagi dan sore sementara ibuk selalu menyibukkan diri dengan menanam sayuran di sekitaran rumah. Tetangga yang pengin sayuran gratis, tinggal petik dan mengacungkannya ke ibuku “Mbaaah…bayem nggiiihh”. Hahahah..teriakan tetangga yang sering aku kangenin.

Menjadi tua, dan menghabiskan waktu senja dengan duduk di kelilingi anak cucu bukanlah impian orang2 tua yang aku lihat, dan sebagian aku kenal, di Australia ini. Banyak diantara mereka yang ingin terus berkarya, atau paling tidak membuat hiburan dengan cara aktif. Alih-alih duduk di depan TV dan mengunggu anak cucu berkunjung, generasi tua ini memilih pergi berkeliling dengan naik van berkeliling, dan berkemah di suatu tempat. Kadang berhenti di satu kota, berdiam beberapa hari, sebelum melanjutkan perjalanan. Grey Nomads, begitu mereka biasa di sebut.

Lain lagi yang dilakukan Kees dan Wendy. Kees yang tahun ini memasuki usia 72 awal April kemarin berangkat ke Palembang, “hanya” untuk bisa membantu orang yang ingin belajar bahasa Inggris. Sepuluh tahun lalu mereka sudah berada di Palembang, menjadi relawan dari Australian Volunteer International.

Willy, kakak Kees yang tinggal di Perth, pada hari2 tertentu mengayuh sepeda dari rumahnya untuk menjadi volunteer di rumah sakit di Midland, sedikit di luar kota. Sementara teman gereja mereka yang lain, Pak Keith, menjadi relawan sopir bus bagi para manula dari nursing house a.k.a panti wredha. Norman dan Betty, meski mereka sudah di atas 80 tahun, masih rajin mengorganisir acara makan siang di Rainbow Club, kelompok orang-orang yang memiliki kelainan mental.

Apakah kondisi fisik mereka begitu sehat dan kuat? Tentu saja tidak sesehat yang lebih muda. Tangan Willy selalu tremor. Tangan kanan Betty sedemikian lemah karena sakit. Norman mulai terjangkit pikun lazimnya manula yang lain. Kees belum lama ini malah menjalani operasi mata, dan operasi kanker di hidung. Tapi dengan keadaan yang sungguh “seadanya” itu, mereka bersemangat membantu orang lain yang mereka rasa “lebih malang dari kami”.

Apakah mereka masuk golongan orang kaya di Perth? Tidak. Mereka kebanyakan hanya mengandalkan tabungan dana pensiun, atau sebagian mendapat tunjangan dari pemerintah, sebesar 250 dollar per minggu, setara dengan 2 juta. Banyak? Enggak juga, karena biaya hidup minimum di Australia memang 1000-2000 dolar perbulan. Sekedar pembanding, living cost yang diberikan oleh AusAid pada mahasiswa Indonesia tahun 2010 ini sebesar 2000 AUD/bulan

Tapi sekali lagi, ini masalah sikap mental yang sudah tertanam dalam diri, bahwa menjadi beban orang lain adalah hal yang memalukan. Usia tua dan fisik renta bukan alasan untuk menyurutkan langkah. Subhanallah semangatnya....sering aku sampe geleng2 kepala melihat mereka yang gigih bertahan pada prinsip ini.

Bagusnya, pemerintah Australia memberikan dukungan kuat serta memfasilitasi para lansia untuk mengembangkan kemandirian ini.  Sekarang Betty dan Norman, yang keduanya mantan guru bahasa Inggris, bahkan ikut masuk universitas lagi! Usia 80 tahun plus plus tidak membuat mereka kehilangan semangat belajar. Para lansia di fasilitasi oleh UWA untuk mendapatkan Extended Education. Dengan hanya membayar fee yang kecil, mereka mendapatkan booklet berisi bahan ‘kuliah’ dan mendapatkan kuliah beneran loh di universitas! Kemarin aku sempat melirik jadwal mereka. Topiknya bervariasi, mulai dari music, ilmu umum, problem solving puzzle bahkan karya satra dari Shakespeare.

Betty dan Norman pun rutin belajar di depan computer, dan karena cuma berdua di rumah, mereka membagi work station sendiri-sendiri. Dan saling berkirim email untuk bertemu dan makan siang bersama di teras di belakang rumah!

Pasti bukan apple to apple comparison kalo aku bandingkan keadaan ini dengan kondisi para tetua-ku. Tapi bukan hal yang tidak mungkin buat kita yang muda, untuk menularkan semangat Betty Norman, atau Kees Wendy Willy untuk tetangga dan orang tua kita, kan? Kalo jadwal tetua kita sudah di plot untuk pengajian setiap minggu pagi, masih ada minggu sore atau akhir pekan lain untuk diskusi dengan mereka tentang perjuangan Raden Patah, atau Jayabaya, atau mengajak mereka berwisata ke kraton dan sesudahnya kita membantu mereka membuat report…??

Atau jangan2 malah kita yang tidak siap untuk meng-upgrade tetua kita sendiri, karena kita merasa mereka bawel dan banyak maunya.. C’mon, mates! Belum terlambat untuk menambah nilai bakti kita kaann...??

1 comment: