“Gadis Singapura, senyummu menghias dunia”. Begitulah salah satu tagline yag pernah aku baca entah berapa tahun lalu. Berbalut batik khas motif bunga warna dasar biru atau ungu, dengan sanggul mungil, wajah gadis singapura yang di tampilkan benar2 mewakili perempuan yang ramah, tangkas dan cekatan.
Meski industri mode dan kosmetik telah menyulap seluruh gadis dunia untuk tampil serupa, tagline value yang pernah di entah per usahaan apa (SQ? cmiiw)ternyata tidak hanya slogan belaka. Setidaknya 3 wanita yang menemani perjalanku dengan Indah mengintip celah kota dalam waktu yang teramat singkat telah mampu membuat kami sungguh terpesona. Tidak hanya oleh keindahan kota, kelengkapan fasilitas serta kenyamanan wisata, tapi juga oleh keanekaragaman seni boga. Hmm…
Cerita Singapura di bagi 3 episode; pertama, wisata kota; kedua, wisata sekolah; ketiga, wisata boga. Setuju…?? Yuk..kita mulai perjalanan. Jangan lupa ntar klik fotonya di facebook, part 1, 2 dan 3 yah..
Singapore: Wisata Kota
Begitu seorang kawan di Perth “memperingatkan” bahwa pesawat ala angkot terbang yang aku tumpangi akan mendarat di Budget Terminal, Changi International Airport, hati sudah mulai kebat kebit. “Siap2 aja Mbak, terminal untuk Tiger tuh paling nyempiiil… Jauh dari T1 dan T2, ” begitu ujar Rendi. “Tapi ada kereta yang menghubungkan ke T2 trus ada MRT ke city,” tambahnya. Huadohh…jangan2 ni terminal 3 paling terbelakang, kumuh, gelap….huhuhuhu. Udah gitu,
Jadi rencana kilat aku susun. Beberapa hari sebelum berangkat, sambil berkutat dengan assignment terakhir yang bikin aku judeg aka mumet alias severe head aching, aku udah koordinasi dengan Indah: Rabu malam Indah sampai Changi dengan penerbangan dari Yogya, Kamis pagi kami akan ketemu di meeting point depan Takashimaya, Orchard Rd. Meski aku blom pernah menginjak Singapore, dan ngga punya gambaran sejauh apa jarak antara city dengan airport dan kepaksa akan menyeret luggage segede gaban, biarin deh akan kujalani..
Tapi teryata malang tak dapat di raih. Di tengah kepanikan menyusul berita terbenamnya kawasan Orchard Road karena ulah banjir, Fongfui, mantan volunteer pengajar Bahasa Mandarin kampusku mengabarkan permohonan cutinya di –oke-in oleh School Principal. Fengfui, yang notabene baru 3 hari diangkat sebagai Vice Principal di satu JHS di Singapore merelakan jam kerja-nya untuk menjemput dan menemani Indah dan aku. Untung tak dapat ditolak. Yippiii…alhamdulillah..
Maka ketika si macan mendarat pukul 3 pagi, betapa senangnya aku mendapati muka ngantuk Indah dan Fengfui menunggu di pintu keluar. Tentu saja bayanganku tentang terminal ekonomis ini salah total. Tetep mengkilap kok. Bahkan hari berikutnya, ketika aku berkesempatan menjelajah Terminal 3, mata ini terus saja terpukau dengan kemegahannya, sembari membatin keluhan klasik: ouh..Soetta-ku yang kian redup sahaja..
Keluar dari gemerlap T3, kami menyusur jalan yang sangat lebar dinaungi pohon trembesi (cmiiw) yang rindang dan body-nya di trim rapi. Ukuran jalan yang lebar, lurus, dengan pembatas yang bisa di pindahkan memang di sengaja, karena jalan itu bisa saja tiba2 di fugsikan sebagai..landasan pacu alias runway pesawat!!!
Target 1: Marina Barrage
Usai istirahat dan bebersih, jam 9 pagi kami mulai menyusur neighborhood sekitar apartemen Fongfui di Kampong Glam. Diawali dengan sarapan (cerita sarapan masuk part 3 yaa), kami menyusur pasar kecil dan Hawker’s Center terdekat. Hawker Center merupakan kompleks stalls dan eateries, warung kecil yang menjual aneka makanan. Mulai beroperasi jam 6 pagi, pasar dan Hawker center di penuhi penduduk Kampong Glam, yang merupakan perkampungan tua. Tak heran, mereka yang bersantai pagi itu pun kebanyakan para manula. Usai sarapan ‘kelas berat’, kami menyusur pasar. Di beberapa sudut, tertempel leaflet penyuluhan kebersihan. Bukan pasukan kuning yang dikerahkan untuk menjaga kebersihan, melainkan awareness raising program yang digalakkan. Himbauan melalui leaflet yang bertuliskan huruf Cina dan Inggris tertempel disertai nomor hotline departemen yang bersangkutan.
Pukul 10 pagi kami meluncur ke Marina Barrage (MB), semacam dam yang menjadi tumpuan sirkulasi dan suplai kebutuhan air Singapura. Tidak sekedar berwujud penampungan air dengan tanggul tradisional, Marina Barrage merupakan landmark yang di desain secara sempurna. Berbentuk melingkar menyerupai angka 9, MB menyuguhkan pemandangan indah pencakar langit di seberang perairan, termasuk gedung baru Marina Bay Sand Building yang mencuat dengan 3 menara yang puncaknya “dipersatukan” oleh atap berbentuk papan selancar dan menjadi rooftop garden. Tapi tempat yang paling menarik di MB adalah taman pintar yang mengemas pengetahuan tentang per-air-an melalui display interaktif. Gratis lagi!. Memasuki ruangan yang setengah gelap, pengunjung disambut sejarah pembangunan sistem per-air-an di Singapura. Tinggal geser layar 14 inches yang menempel di dinding, masing2 layar akan mengisahkan sejarah pembangunan sistem air ini menurut tahun yang tertera di panel bawah TV. Sementara lampu2 gantung berbentuk tetes air berwarna putih kebiruan memuat facts yang berkaitan dengan air, misal, informasi bahwa kebutuhan air per manusia adalah sebesar 50 liter perhari (masa iya? Perasaan…lebih deh). Atap bangunan ditanami rumput. Siang itu beberapa orang dewasa dan anak2 bermain layangan meski terik matahari menyengat. Sebegitu minimnya tanah di singapura, bahkan atap pun dijadikan kebun dan lapangan rumput.
Ya, Singapura tengah berupaya mengubah paradigma tentang air. Sumber air tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang perlu di keramatkan, tetapi lebih di pandang sebagai sumber kehidupan yang layak di sayang, dan karena itu perlu lebih ‘didekatkan’ kepada masyarakat. Dengan demikian, kesadaran untuk menjaga kelestarian air bisa di munculkan tanpa melalui pemaksaan. Mungkin Singapore juga gerah dengan predikatnya sebagai Fine City alias tukang denda yak..
Dari Marina Barrage, kami beralih ke Vivo City. Ke Vivo sebenarnya Cuma sekedar ‘menghibur diri’ ngeliatin toko2 saking ngga bisa ke Orchard yang tengah kerendam air. Hiks. Tapi dasar aku dan indah bukan tipe tukang belanja belanji, yah..Vivo City cuma jadi sarana bikin kaki gempor. Tapi lumayan ding, dapat beberapa pernik kecil, dan 4 lembar kartu bergambar lukisan air landmark Singapore I toko buku keren: Page One. Sayangnya, bola globe ukuran sedang yang aku kepingiiinnn…masih terlalu mahil untuk kantongku. 155 Sing dollar. Hufftt..yo wis. Seterusnya, ngendon di Banquet hall untuk makan siang.
Sebelum sore, kami mulai mencari-cari masjid. Di kampung Arab dekat Kampong Glam sih, ada 2 masjid yang tersohor, Masjid Sultan dan Masjid Fatimah. Tapi karena kami sudah sampe pertengahan jalan entah apa, Fongfui memacu mobil ke daerah Buit Merah. “I know, there’s a mosque there,” ujarnya yakin. Benar saja. Ketika lewat Silat Road, yang namanya ‘berbau’ Melayu, kubah putih dan lengkung jendela ala Mediterania muncul di sisi kiri jalan. Eh..tunggu..aku yang di jok belakang sempat menangkap tulisan kluwer2. Kok ngga Arab? Hmm..
Meski sedikit ragu, kami tetep memutar mencari tempat parkir. “but this is like Kampong Malay,” Fongfui berusaha menegaskan lagi. Ya udah. Jalan aja sampe di depan bangunan. Dan ternyata..tetooottt..kuil Sikh. Nah lo…nyasar deh kita. Habis juga bentuknya persis sis kubah masjid. Hihihi..Seorang Uncle akhirnya mengarahkan kita jalan ke masjid yang ‘benar’, dekat stasiun MRT. Dan tepat sekali. Hanya dengan sekali kebut, ketemu deh. Tunai sudah sholat dzuhur dan asyar. Oke..Jadi….lanjut ke Chinatown.
Target 2: Chinatown
Masuk Chinatown, mata dimanja bangunan yang sungguh kaya ragam dan warna, dan lestari keindahannya. Cantiiikk…! Tidak ada dinding kusam yang berjamur dan bau apak bangunan tua. Nah, yang suka belanja oleh2 selalu kalap deh kalo udah nyampai sini. Mulai dari yang agak mahal macam parfum dan batu2an wujud gelang kalung dan cincin, juga banyak souvenir kecil seperti magnet kulkas, ashtray, gantungan kunci, gunting kuku, piring pajangan, stempel batu yang di grafir….you name it, they have it.
Di jantung Chinatown ini terletak museum yang mengisahkan perjalanan terjal para imigran Cina di tanah Tumasik. Dengan membayar 10 dolar, kami di pandu langsung oleh Fongfui menyusuri bilik demi bilik, menyaksikan kehidupan keras para Sinkheh, ato lidah kita gampang menyebutnya sebagai Singkek, yang berarti Pendatang Baru. Bila kita kadang mendengar orang bilang “huh..dasar Singkek” dengan kesal karena beranggapan etnis tertentu dikenal pelit, maka cerita “Sinkheh” yang sesungguhnya amatlah tragis. Menyusuri museum China Heritage seakan masuk dalam kubangan duka kaum migran. Membaca kisah mereka satu persatu sangat menyayat hati. Jadii…jangan sebut ‘singkek’ dengan nada kesal lagi ya..?!! Didepan musem di pajang rickshaw dan patung wanita Samsui, labour woman yang menjadi buruh ketika mereka baru tiba dengan harapan bahwa tanah baru akan mengubah nasib jadi lebih baik.
This is the reason why I love museum.
No comments:
Post a Comment