PART 2
Usai menyantap makan pagi di Hawker Center, kami bertiga mulai tancap gas lagi. Penat seharian kemarin terbayar - meski belum lunas - dengan tidur nyenyak beberapa jam saja. Karena ngga bawa vitamin, bangun tidur jam 5, aku beringsut ke dapur. Meneguk segelas air putih dan sebutir obat flu. Kepala memang agak pening pas bangun. Mudah2an hari ini oke deh, harapku. Sayangnya, Indah mulai sedikit meriang. Kecapekan pastinya. Tapi tantangan pantang di lewatkan. Lanjuutt…
Mustafa Center
Mustafa Center di Little India is another tempat beken untuk belanja. Tapi kami cuma punya sedikit waktu karena siang nanti ada janji dengan Ibu Yeo. Kami pernah bertemu dengan beliau waktu Pak Yeo menjadi volunteer di kampus, menggantikan Fongfui.
Mustafa Center buka 24 jam! Buat penggila belanja tentu ini jadi tempat idaman buat menumpahkan pundi2 uang. Money changer tersebar dimana mana. Sayangnya, waktu benar2 mepet karena kami harus menempuh jarak yang lumayan ke bagian utara. So, kami cuma sempat masuk ke salah satu supermarket, bela beli coklat untuk oleh-oleh dan muruku – cemilan seperti mie kering dari tepung kacang dal, yang di campur dengan biji kacang polong dan daun kari kering. Kemripik renyah, dan enak juga. Kalau dulu waktu kecil suka ngemil AnakMas, nah..muruku ini mirip denga AnakMas. Warnanya kuning tua; yang edisi pedas warna oranye. Satu kantong 500 gr di jual 3 dolar.
Namanya juga kampung India. Macam2 makanan dan cemilan khas India semua ada. Tapi waktu bergulir terlalu cepat. Sebelas kurang seperempat kami meluncur meninggalkan Mustafa Center.
ITE College East
Ini sekolah apa mall sih, batinku. Habis, college ini keren banget. Di daerahnya orang kaya lagi. Beda dengan kawasan downtown dimana semua warga Singapura tinggal di apartmen ato condominium yang mahiil, rumah2 mewah dua atau 3 lantai berserakan di sekitar college. Anehnya, karena ada college baru itu, harga rumah di sekitarnya malah jadi anjlok. Haa….?? Aneh banget. Karena kalo di Yogya, begitu ada gedung sekolah di bangun di satu daerah, harga tanah dan rumah di sekitarnya jelas melambung karena bakalan jadi rame. Usut punya usut, ternyata anjloknya harga properti di sebabkan karena ITE College, semacam vocational school, tidak dianggap sebagai sekolah favorit. Belum lagi resiko ‘tetanggaan’ dengann anak2 sekolah second grade yang mungkin ada yang badung, dan bisa aja melempari rumah2 mewah itu. Walahhh…masa iya sih..???
Seperti apa sih ITE itu? Ibu Yeo membawa kami berkeliling, mulai dari kantin – meski menu ngga lengkap karena sedang musim libur - sampai oval di ujung kompleks sekolah. Eh, ada jogging track dan kolam renang keren loh…Di antara bangunan, ada taman2 yang tertata rapi jali. Sebagian memang garden sekolah, tapi bagian lainnya merupakan lab praktek siswa landscape. Di sisi lain bangunan, tersedia kardus2 besar sebagai tempat praktek siswa logistik saat mereka berlatih mengoperasikan forklift. Sementara di depan satu unit di dekat oval, satu ambulan terparkir di teras. Ambulan ini berfungsi sebagai tempat praktek bagi siswa jurusan nursing. Kalo sedang di pake praktek, ambulan ini sering ‘bergoyang-goyang”. Haaaa…..goyang…??? Husshhh..jangan mesum ah. Untuk “mendukung” kondisi riil yang mungkin buruk, saat simulasi, ambulan di set untuk berguncang2, pura2nya lewat bumpy road ato jalan zigzag! Hahaha..ada2 saja.
PART 3
Ga Cuma surga belanja, Singapore rupanya juga surga makanan endang gulindang!!! Lain dengan Cina ato di Taiwan, yang menurut lidahku makanannya mei you wei dao alias tanpa rasa, selera Singapore terasa dekat dan lekat dengan lidah kita.
Mengawali pagi, Fongfui menggiring kami ke kedai roti pratha di hawker center samping rumahnya. 3 potong roti pratha, adonan terigu dan telur dadar serta 3 potong lagi yang polos tanpa telur tersaji dari dapur kedai India muslim. 2 cawan kuah kari kambing kental nan sedap di sajikan sebagai pelengkap. Tak lupa juga secawan kecil gula putih kalo pengin mencocol roti dengan rasa manis. Sebagai dessert – halah, pagi2 ada dessert – kami mengambil sepiring putu mayam: bihun yang di sajikan dengan gula berpewarna oranye dan parutan kelapa muda. The tarik menutup makan pagi yang bikin kami terengah-engah kekenyangan!
Si Mas India pemilik kedai tampaknya kurang suka kalo makanannya di foto. Idih….dia yang berkumis baplang bak inspektur Vijay ngeliat tajam ke kamera waktu aku ambil gambar2, but didn’t say anything.
Tengah hari, meski blom terlalu lapar, kami memilih isi bahan bakar dulu. Sapa tau ntar tengah jalan lemes kelaparan . Pas di Vivo city, mampir lah kami di the Banquet, food court halal pertama. Saking udah declare sebagai halal foodcourt, maka makanan non-halal tidak boleh di bawa masuk!
Dari entrance, stall pertama menawarkan Yong tau fu, yang selalu aku suka. Etalase penuh dengan pilihan yong tau fu: kembang tahu tawar dan manis, macam2 fish cake, crab cake dan stick, daun ‘queen’s..errr..leaves?’, pare pahit isi adonan ikan, jamur2an, bokcoy, daging ikan, potongan cumi..walaahh..banyaak. Setelah mengambil 2 potong kembang tahu, tahu putih, baso ikan, baso cumi, cumi segar dan daun queen itu, kami menyerahkan pada attendant yang langsung memotong motong isian dan merebusnya dalam kuah mendidih. Semangkok besar yong tau fu berharga 4 dolar saja.
Menu kedua, kami pilih Hainan Chicken Rice. Nasinya pulen dan agak kering serupa ketan. Hainan rice chicken disajikan dengan sup kaldu, kondimen acar ketimun, soy sauce dan sambal yang....ngga pedas tuh. Bergeser sedikit, wahh..ada kway teow goreng. Ini mah salah satu signature dish nya Singapura. Harus cicipin dong. Benar saja. Kwayteow goreng di salah satu stall di Banquet sungguh tidak mengecewakan. Meski bukan yang terbaik yang aku cicip, kwayteow nya termasuk asik. Kenyalnya enak, dengan bubuhan kecap manis yang kuat, membuat warnanya cantik dan rasanya manis. Kalau saja ada garam bubuk di meja, aku pegin taburkan sedikit deh agar rasanya tambah mantabh! Ada beberapa ekor udang bergelimpangan…comot dong!
Menjelang sore di Chinese Heritage Museum, Fengfui mengumumkan: “Lidya invites us for dinner. What do you like to have tonight, Korean or Japanese?” Aku dan Indah cuma angkat bahu. Agak malu juga karena kami ngga bawa oleh2 apa2 untuk Lidya.
Jam 7 malam kami sudah menghadap meja dengan tungku menyala di tengah, di Bugis Junction mall yang guedee minta ampun. Korean bbq jadi pilihan. Karena resto buffet, kami pun ‘rajin’ wara-wiri memenuhi meja dengan beef dan chicken yang sudah di marinated, macam-macam seafood, sedikit sayuran (heheheh..susah amat makan sayur), juga kimchi, tentu saja. Sebagai cemilan awal, kami ambil sedikit french fries, chicken strips, chicken wings dan fried fishball. Meski lumayan mahal, tempat ini selalu ramai. Rombongan keluarga dan anak2 muda memenuhi hampir seluruh meja. Rupanya pelajar dapat harga konsesi. Lumayan kaann…Asiknya bbq-an gini, ngobrol, masak, makan di lakukan bersamaan. Tentu saja porsi ngobrolnya Cuma dikiit…banyakan sibuk cemplang cemplung dan hap..happ…nyaam nyam. Hihihihi..
Esok paginya, masih dengan rasa kenyang saking makan besar malam sebelumnya, Fogfui meng-iming2i aku dan Indah Mie Siam di hawker center belakang rumah. Mendung menggelayut. Udara sedikit gerah. Benernya ngga cocok untuk sarapan berat sekelas mie, tapi kalo ngga sekarang, kapan lagiii…???
Hawker center di belakang rumah ini beken dengan kopi susu-nya, yang bisa di pilih; evaporated ataukah condensed milk. Buat aku sih keduanya berasa sama. Karena Mie Siamnya sudah habis (hah..jam 9 pagi udah habis!), kami ganti haluan pesan mie rebus, lontong (sayur?), dan nasi lemak.
Beda dengan mie Jowo andalanku di Jogja, mie rebus Singapore ini berkuah kuning kental dengan rasa kunyit dan sedikit gurih kari. Isian dalam sepiring mie rebus lengkap: mie kuning hokkien, daging ayam, udang kecil, tahu goreng, cakwe dan tentu saja bawang merah goreng serta seledri dan potongan cabai. Enak juga sih, meski terlalu ‘hangat’ dan berat untuk sarapan di pagi yang gerah dan mendung. Nah..bener..ngga berapa lama, hujan deras mengguyur. Tapi ngga dingin sama sekali!
Nasi lemak alias nasi gurih, datang dengan ditemani telur ceplok, ayam goreng kering dengan lapisan tepung tipis dan sambal yang menor merahnya. Descent saja dari segi rasa. Pemberat terakhir yang kami santap, lontong sayur. Entah apa namanya. Potongan lontong yang gendut-bukan tipis panjang kayak lontong kita-teronggok di dasar piring, di temani fish-cake goreng, perkedel kentang yang gede juga, sebutir telur rebus dan sayuran kol serta buncis, terus di guyur kuah santan yang berasa seperti kuah sayur sambel-gorengnya Solo. Mantabf…!! Saking udah kenyang ampun2an itulah, ketika ketemu Ibu Yeo, kami hanya kuat mencicip es-es-an sajalah. Entah kenapa, rasa es-es-an ni agak monoton di lidah. Mungkin karena saking kekenyangan, tapi seandainya ada, aku akan memilih sop buah atau es rujak yang lebih nendang karena ada asam manis pedas asin di aduk jadi satu.
Terakhir sebelum check-in, Fongfui menggiring kami ke toko kue Bengawan Solo di T.3 Changi. Ini mah jagoan banget. Terkenang-kenang kelezatan sugee yang lebih lembut dari kue putri salju, serta nastar top markotop yang sempat ‘diperkenalkan’ Fongfui ketika main ke Yogya 3 tahun lalu, aku menenteng pulang 2 kaleng sugee rasa macadamia (kaleng pink) dan satu toples nastar. Enaaaakkkk bangett…!! Sapa yang mau ke Singapore, nitip doongg…
The End
No comments:
Post a Comment