Monday, September 27, 2010

Humpty Dumpty: Siapa sih?

Humpty Dumpty was a colloquial term used in fifteenth century England describing someone who was obese. This has given rise to various, but inaccurate, theories surrounding the identity of Humpty Dumpty. The image of Humpty Dumpty was made famous by the illustrations included in the 'Alice through the looking glass' novel by Lewis Carroll. However, Humpty Dumpty was not a person pilloried in the famous rhyme!

picture taken from posterx.net
Humpty Dumpty was in fact believed to be a large cannon! (Baby's note: Jadi ceritanya nih, meriam si Jagur Jakarat dan Kyai Setomo dan Nyai Setomi di Solo, punya kolega juga di Inggris yooo...) It was used during the English Civil War ( 1642 - 1649) in the Siege of Colchester (13 Jun 1648 - 27 Aug 1648). Colchester was strongly fortified by the Royalists and was laid to siege by the Parliamentarians (Roundheads). In 1648 the town of Colchester was a walled town with a castle and several churches and was protected by the city wall. Standing immediately adjacent the city wall, was St Mary's Church. A huge cannon, colloquially called Humpty Dumpty, was strategically placed on the wall next to St Mary's Church.

A shot from a Parliamentary cannon succeeded in damaging the wall beneath Humpty Dumpty which caused the cannon to tumble to the ground. The Royalists, or Cavaliers, 'all the King's men' attempted to raise Humpty Dumpty on to another part of the wall. However, because the cannon , or Humpty Dumpty, was so heavy ' All the King's horses and all the King's men couldn't put Humpty together again!'

Humpty dumpty sat on a wall,
Humpty dumpty had a great fall;
Threescore men and threescore more,
Could not place Humpty as he was before.

Source:

http://www.rhymes.org.uk/humpty_dumpty.htm

Passenger's Notes (1)

Duduk di kereta yang membawaku ke Perth CBD, mata jelalatan memperhatikan kanan kiri.



Ga ada yang menarik untuk di lihat sih. Kereta lagi kosong. heheheh....

Tapi..eh.eh, mata tertumbuk pada frame baru yang digantung dekat pintu; sebait tulisan dengan rima yang asik punya:

Little Miss Shaw
Sat on the floor
List’ning to Guns ‘n’ Roses
A couple passed by
They’re tripped by her thigh
And ended up on breaking their noses.

Dibawah tulisan yang dicetak mirip buku kanak-kanak - lengkap dengan gambar kartun little Miss Shaw dan gambar sepasang kakek nenek terjungkal kesandung kaki Miss Shaw yang terjulur menghalangi lorong - ada peringatan kecil2:

Every passenger deserves the right to have a comfortable journey.

Lain ketika, dalam perjalanan ke kampus, frame yang serupa aku temukan di bus, tepat di belakang driver. Begini bunyinya:

Humpty Dumpty run for the bus
Humpty Dumpty caused a great fuss
All passengers were forced to wait
Now thanks to Humpty, eveyone was running late

Lagi-lagi ada gambar kartun, si Humpty – pria gendut bertongkat dan bertopi tengah lari mengejar bus dengan mengepit tas kerja – yag disertai dengan tulisan kecil2 agar calon penumpang datang tepat waktu agar ngga ketinggalan bis.

Alih alih membuat tulisan besar-besar : DILARANG DUDUK DI LANTAI atau ANDA TERLAMBAT KAMI PECAT (hoo….hoo…), himbauan untuk publik disampaikan dengan cara yang fun, berseni, dan membuat bibir menarik segaris senyum.



Efektifkah? Saya tertarik untuk meakukan riset tentang pilihan bahasa berima seperti ini, suatu saat nanti. (hiks). Tapi kalo itu tidak efektif, tidak mungkin pula cara demikian akan tetap dipakai untuk menyampaikan himbauan pada publik.

Trus, 'halo apa kabar'  himbauan yang konvensional? Masiiihhh..masih adaaa. Tenang aja. nih buktinya:



Ngga bermimpi melakukan hal sama pada public transport kita, Kopata - Aspada -or Damri sihhh. Tapi layak juga sebenrnya kalo mo di coba di ruang-ruang tunggu.

Eh..omong2, siapa sih si Humpty Dumpty? Sambangi postingan berikutnya ya…?!!

Tuesday, September 21, 2010

Enchanted Tulips


TULIPS white and tulips red,
Sweeter than a violet bed!


Say, old Mother Bailey, say
Why your tulips look so gay,

Why they smell so sweet, and why
They bloom on when others die?


By the pixies' magic power
Do my tulips always flower,


By the pixies' magic spell
Do they give so sweet a smell!


Tulips, tulips, red and white,
Fill the pixies with delight!

Pixy women, pixy men,
Seek my tulips from the glen;


Midnight come, they may be heard
Singing sweet as any bird,


Singing their wee babes to rest
In the tulips they love best!
Enchanted Tulips and other Verses for Children (Keary, Maud)


A Fall Song


 
Golden and red trees
Nod to the soft breeze,
As it whispers, "Winter is near;"
And the brown nuts fall
At the wind's loud call,
For this is the Fall of the year.
Good-bye, sweet flowers!
Through the bright summer hours
You have filled our hearts with cheer
We shall miss you so,
And yet you must go,
For this is the Fall of the year.

Now the days grow cold,
As the year grows old,
And the meadows are brown and sere;
Brave robin redbreast
Has gone from his nest,
For this is the Fall of the year.

I do softly pray
At the close of day,
That the little children, so dear,
May as purely grow
As the fleecy snow
That follows the Fall of the year.

(Ellen Robena Field)

Tuesday, September 14, 2010

Yang tersisa dari Lebaran 1431H (4 - selesai)

dengan kel. P Dede, Konjen RI di Perth

Pesta lontong opor masih berlanjut di hari kedua Idul Fitri. Kali ini open house Konsulat Jenderal Indonesia. Bertempat di Wisma Indonesia di Applecross, Pak Konjen dan Ibu Ella yang cantiiik banget ramah menyambut warga Indonesia yang memadati kebun belakang kediamannya. Kalo teman-teman Indonesia di Tokyo mengagumi kecantikan ibu Dubes mereka yang baru, Bianca Adinegoro, yang mantan model ketika aku masih suka baca2 majalah Gadis …belasan tahun lalu *wuikkss…ketahuan ni, aku-nya udah tuwiirr..* maka yang di Perth juga punya bu Konjen yang tinggi semampai. Mantan model juga ya??

Usai salam-salaman, mulai dyeh kite2 mengekor antrian yang ketika kami datang masih belom seberapa panjang. Samar2 tercium harum kaldu yang sangat kurindu. Haaaa….unmistakable aroma of baksoooo!!! Ngantrilah aku di stall bakso. Melihat pentol-nya yang bulet2 polos berenang di kaldu yang mengepulkan uap panas, aduh duh, rasanya pengin mendekap panci sekompor-kompornya. Uh…kangen banget! Isi mangkok dengan sedikit bihun, irisan seledri, sambal dan bawang goreng, trus tuang kaldu dan tiga butir bakso. Jangan banyak2! Antrian belakang masih panjang euy….Menikmati bakso sambil hahahihi sana sini. Alhamdulillah. Sedap!

Masih laper tentu saja. Usai menandaskan isi mangkok (pstt, mangkoknya kecil!), dan menyapa teman2 sambil berucap maaf, aku dan dr. Fahmi mulai ngantri ronde kedua nih. Dr. Fahmi ni barusan berduka cita karena ditinggal mati oleh…… sel-sel yang udah disiapin di lab. Yah, semoga arwah sel-sel itu diterima disisinya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Begitu doa salah satu teman Mas Fahmi di fb.

Balik ke meja pesta. Ada mi kuning ditata bersanding dengan tahu dan potongan bakwan tanpa udang serta kol putih. Gosipnya tadi, ada yang bilang itu siomay. Loh, siomay kok ada mi-nya. Setelah deket, ohh..ada salad buah dengan dressing kacang, juga kaldu cair warna coklat yang berbumbu kacang juga. Kuambil tahu dan bakwan, trus disiram dengan bumbu kacang encer. Rasanya sedikit asam, ya..memang ada asam serit dan aroma daun salam yang kuat. Hmm..opo yo iki? Belakangan ada yang bilang itu ‘maksud dan tujuannya’ adalah bikin tahu gimbal. Lohhh…??? Tapi ga papa. Enak juga kok -)



Tambah siang, antrian makin panjang. Jadi ogah ngantri meja buffet utama. Ngelirik piring mbak sebelah sih, ada potongan daging kambing, telur bumbu merah, opor ayam dan kerupuk. Sutralah. Kemarin toh udah maem ketupat dan ubo-rampe. Jadi aku memilih bersalam-salaman aja, ngobras-ngobras, trus duduk di sudut tenda, cuci mata ngeliatin orang-orang berbaju bagus. Dari anak-anak undergraduate yang keren-keren dengan baju full-pressed body sampai dengan ibu-ibu Indonesia berkebaya yang menikah dengan warga Australia.

Eh, Sulfah my friend kemenong?

Sulfah memang membatalkan rencana ikut open house karena pengin bener2 punya private time dengan Shafwan. Keputusan yang tepat, karena Shafwan tampaknya kehilangan excitement khas anak2 ketika menunggu hari Lebaran. Ini memang tantangan buat ortu yang bawa anak2 ke luar negeri, dimana kemeriahan puasa dan Lebaran absen sama sekali. Pasti banyak sekali orang tua yang prihatin ngeliat anak2 kok menganggap puasa dan lebaran ‘biasa-biasa ajah’, sama sekali tidak istimewa. Sehari sebelum Lebaran, Shafwan sudah mencoba nego dengan ibunya, bisakah dia bolos ikut sholat karena sekolah akan adakan kuis berhadiah 1 dolar! Sebagai orang yang menghabiskan nyaris seluruh Lebaran dan puasa di Indonesia, dan teringat betapa menyenangkannya menunggu hari raya, pemintaan Shafwan tentu membuat kami sedih. Maka Sulfah pun ‘gerak cepat’ dengan mendampingi Shafwan 2 hari penuh, mengajak berenang, pergi makan, beli mainan dan sebagai reward-nya, Shafwan pun berkicau : “You are the best mom ever. You know that? This is the best Lebaran day!”

Happy Eid Mubarak Sulfah dan Shafwan, Met Lebaran teman2. Semua kata maaf diterima, dan akyu minta maaf juga untuk segala khilaf dan kata yang salah ucap.

Minal Aidin wal Faidzin.

Monday, September 13, 2010

Yang tersisa dari Lebaran 1431H (3)

Dini hari fitri, 1 Syawal 1431H. Beuhh..dingiiinn. Alarm HP masih aku set dengan waktu sahur. Jam 04.10. Meski udara dingin terasa menusuk tulang, mau ngga mau harus bangun dan bersiap mandi. Tahun lalu aku batal ikut sholat Ied karena ketinggalan bis! Mana Lebaran hari minggu dan tranportasi susah didapat. Hiks. Untung kali ini ada rombongan yang bsa ditebengin. Seperti juga sebelumnya, ada 3 tempat sholat Ied yang ‘terdekat’ dengan rumah. Pertama, Masjid Besar Perth di kawasan Chinatown Northbridge. Masjid ini jaraknya 30 menit naik bus dari stop dekat rumah. Kedua, komunitas Eid-in-the-Park menyelenggarakan shlat Ied di Kings Park. Sedikit lebih jauh lagi, tapi keknya menarik tuh. Ketiga, konsulat jenderal RI mengadakan sholat Ied di Embassy ballroom, Carlisle, yang jauuh banget. Tahu kan kami sholat kemana? Yak betul. Kings Park.


Mendekati lokasi, kendaraan di pandu oleh cowok2 berjubah dan berkafaye hitam putih atau merah putih. Wahh…serasa sholat di Abu Dhabi. Hihihi….kebayang pikiran iseng, berapa lama ya mereka rapat panitia?

Alhamdulillah, parkir mobil mengular sehingga kami harus berjalan agak jauh juga. Tapi cuaca sangat cerah. Angin sedikit kencang. Gapapa. Jalan cepat aja biar badan terasa hangat.



Semua orang terlihat berseri2: cowok2 bergamis dan kafaye menutup kepala, gadis2 berbaju panjang dengan kerudung melambai, anak2 berbaju baru warna warni hadoooohh….ganteng dan cantik2 skaleee…..Banyak juga muslim dari Afrika, tapi kulitnya ngga gelap sekali tuh. Satu gadis hitam duduk didepan shaf-ku. Wajahnya eksotik. Ku colek lengannya dan berkata, “Love, can I take your picture? You are so beautiful.” Dia tersenyum malu dan berpose melihat cameraku. Ya, dia cantik sekali.


Sholat didirikan pukul 08.30. Lantunan bacaan sholat dari imam bersaing dengan kicau burung liar dan jerit anak2. Seperti biasa, dan terjadi dimana mana. Sholat singkat, tapi khotbah panjang. Dari deretan kami, suara khatib timbul tenggelam oleh riuh jamaah yang merasa sudah tunai kewajibannya. Rameeee…hehehe.



Thanks to pengurus masjid Indonesia, yang selalu wanti2 jamaah untuk menutup mulut ketika khatib sedang berdoa. Tema khotbahnya tentang empathy. “When you do something, look into yourself, ask yourself, have you thought about the impact of what you are doing to the people around you, to your community?” Kurang lebih begitu kalimat yang aku tangkap dengan jelas.

Usai sholat dan khotbah banyak kelompok yang kembali ke mobil dan mengambil bekal piknik Lebaran mereka. Kelompok laki2 dipisahkan dengan kelompok2 perempuan. Alas duduk dibentangkan, makanan dihidangkan, doa syukur dipanjatkan, kata maaf diucapkan. Semacam halal bihalal atau arisan keluarga mungkin? Bisa jadi yang di ujung sana ada kelompok Bani Hussein, sampingnya Bani Alatas, sebelahnya lagi Bani Umar. Hehehe..ngawur dot co dot id. Bani kami? Pulang ke rumah Bani Syahabuddin. Ada Ibu Khairiyah yang sudah menyiapkan lontong, lodeh, rendang, sambal goreng hati dan kopi Aceh!!


Serbuuu…….!!!!

Yang tersisa dari Lebaran 1431H (2)

takbiran di Lake Macquarie, New Castle, Wollongong
Photo Credit: Hadi Zulfiqar/Moh. Sayuti

Malam Takbiran. Buat kita2 yang selalu merayakan Lebaran di tanah air, bisa di pastikan semua akan rindu dengan kemeriahan pesta mudik. Meski mudikku hanya sejengkal, dari Yogya ke Delanggu coret – naik motor ngga akan lebih dari 2 jam - tapi ada semangat yang sangat tidak biasa untuk berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara. Kami akrab sekali? Engga juga. Karena kami pun terhitung jarang berkomunikasi satu sama lain. Yang ada di kepala sama: kalo ngga ada berita khusus untuk di sampaikan, berarti mereka baik2 saja. Ngga sakit, ngga butuh cari utangan. Hehehhe. Komunikasi yang mangkus dan sangkil banget. Hayoo..masih ingat apa artinya?

Tinggal di antara orang yang tidak merayakan Lebaran jelas akan membuat kita merasa ada yang hilang. Tidak hanya mudik. Malam takbiran yang senyap jelas bukan-Lebaran-gue-banget. Maka, tanpa komando siapa2, siapapun yang merayakan Lebaran pasti akan memutar CD takbiran, ato takbiran Youtube, meski yang ini rakus bandwith. Hihihi. Untuk mendengar keagungan namaNya, kenapa harus peliit??

Lain lagi yang dilakukan Sayuti dan sekelompok teman di New Castle, Wollongong sana. Greget malam Lebaran diupayakan dengan mengorganisir warga pengajian kecilnya bertakbir keliling track dekat danau. Gelap, dingin dan angin kencang hanya terasa oleh orang tua, sementara anak2 udah pada ‘panas’ saking semangatnya berjalan keliling sambil memegang garden solar light! Allahu Akbar!

Sebenarnya aku ngga kangen2 banget dengan takbiran di rumah sih. Malah cenderung jadi suka bete pas malam Lebaran, karena loudspeaker biru di masjid sebelah rumah akan mengumandangkan takbir yang bukan main kerasnya, sepanjang malam, tanpa break sama sekali. Huuufffftttt…mata ngga akan bisa terpejam sejenakpun karena hingar bingarnya. Dan ketika harus sholat Ied dan silaturahim keesokan hari, mata pasti merah, badan loyo, kepala pening. Capeeek dyeeehh….!!

Puasa hari terakhir kami batalkan dengan teh panas, sup tahu daging sapi, lumpia buatan sendiri yan asyiiin, sayur lodeh, rendang dan sambal terasi. Set menu campur baur tanpa tema.





Setelah menelpon keluarga dirumah, selanjutnya masing2 kembali ke ritual tradisional yang biasa dilakukan di rumah sambil dengarkan laptop yang menyuarakan pukulan beduk. Sulfa beberes rumah, dan aku ngikutin berita mudik (hah..ngga bantu! What a friend!!). Serasa ikut mudik beneran.

Yang tersisa dari Lebaran 1431H (1)

ahaaa...barang buangan yang layak di pungut dari jalan

Belanja belanji menjelang idul Fitri ternyata bukan monopoli orang kita aja. Sehari sebelum Id, aku dan Sulfah – my temporary housemate - sengaja ngabuburit (halah, jam 11 siang) ke Mirabooka square Perth yang cuma beberapa menit driving dari kampus. Cuci mata di mall sekalian lirak lirik barang bekas sepanjang Morley dan Alexander Drive karena beberapa hari yang lalu ada ‘buangan masal’.

Naluri pemulung yang begitu kuat membuat Sulfa refleks menginjak pedal rem ketika radar kami mendeteksi bayangan rak buku kayu terselip diantara barang2 di depan salah satu rumah. Hmmm…jalanan sepi. Bagoess. Meski memungut barang2 yang diletakkan eks pemilik di depan rumah merupakan hal yang biasa, tapi kadang rada risih juga kalo nyeret2 harta karun temuan. Orang yang ngeliat sih benernya cuek2 ajah.

Setelah mengamankan mobil dibawah pohon, kami jalan balik, niat serius mengambil rak buku. Tapi ..olala..ternyata rak bukunya tu tersambung dengan meja guedeee dan laci2 yang lain. Sejenak intip sana sini barangkali masih ada yang bisa diselamatkan, akhirnya kami menyerah. Yahhh…cekikikan kami kembali ke mobil dengan tangan kosong. Tapi..eh..look..di ujung kelokan ada sofa faux leather warna hijau pucat! Masih bagus kayaknya. Tapi mau ditaruh dimana? Kamar sudah penuh sesak dengan hasil pulungan yang lain. Ya sudah, kita lanjut jalan ke Mirabooka.

Kamis siang itu tempat parkir terlihat sesak. Dan benar saja, begitu masuk square, troli2 penuh bersliweran. Wajah2 timur tengah dan kulit gelap dengan dress panjang dan kerudung beralu lalang. Gadis2 kecil digandengan ibunya bergegas keluar masuk toko2 baju. Waduh, sama dengan di kita juga ya…cuma disini ngga ada midnight sale, meski tulisan sale besar2an juga di pajang di toko2 perhiasan. Diamond 50% sale. Silahkan bapak2 yang ingin senangkan hati bini, atau cowok2 yang ingin melamarku, ada paket hemat hantaran maskain. Masa dari dulu ke dulu kok seperangkat alat sholat. Tambahin dong dengan seperangkat intan berlian, biar disayang mertua di Lebaran tahun depan…

Tidak jauh dari deretan toko bling-bling itu, ada toko halal meat. Siang itu pegawainya sibuk memotong, menimbang dan mengulurkan kantong2 daging kepada pelanggan. Seorang ibu Arab disebelahku meminta Chicken Polony – semacam daging olahan berbentuk sosis bulat panjang. Ini khas Turki ya? Entah bagaimana rasa, dan cara memasaknya. Mungkin dipakai untuk isian roti, atau topping pizza. Entah. Untuk aku sendiri, cukup setengah kilo daging sapi cincang dan sekilo daging kambing muda untuk persediaan, siapa tahu besok besok mendadak ngidam tongseng kambing .

Usai belanja daging dan ayam, kami menghampiri toko seberang lorong, beli sedikit buah dan cilantro untuk bikin sup buat buka hari terakhir puasa Ramadhan. Selanjutnya ke Woolworths supermarket andalan, meraih beberapa potong roti dan pie. Lebaran tetep kudu punya sediaan camilan . Dah, pulang yuk…

Ceritanya lanjut nanti lagi ya ke part 2.