takbiran di Lake Macquarie, New Castle, Wollongong
Photo Credit: Hadi Zulfiqar/Moh. Sayuti
Malam Takbiran. Buat kita2 yang selalu merayakan Lebaran di tanah air, bisa di pastikan semua akan rindu dengan kemeriahan pesta mudik. Meski mudikku hanya sejengkal, dari Yogya ke Delanggu coret – naik motor ngga akan lebih dari 2 jam - tapi ada semangat yang sangat tidak biasa untuk berkumpul dengan orang tua dan sanak saudara. Kami akrab sekali? Engga juga. Karena kami pun terhitung jarang berkomunikasi satu sama lain. Yang ada di kepala sama: kalo ngga ada berita khusus untuk di sampaikan, berarti mereka baik2 saja. Ngga sakit, ngga butuh cari utangan. Hehehhe. Komunikasi yang mangkus dan sangkil banget. Hayoo..masih ingat apa artinya?
Tinggal di antara orang yang tidak merayakan Lebaran jelas akan membuat kita merasa ada yang hilang. Tidak hanya mudik. Malam takbiran yang senyap jelas bukan-Lebaran-gue-banget. Maka, tanpa komando siapa2, siapapun yang merayakan Lebaran pasti akan memutar CD takbiran, ato takbiran Youtube, meski yang ini rakus bandwith. Hihihi. Untuk mendengar keagungan namaNya, kenapa harus peliit??
Lain lagi yang dilakukan Sayuti dan sekelompok teman di New Castle, Wollongong sana. Greget malam Lebaran diupayakan dengan mengorganisir warga pengajian kecilnya bertakbir keliling track dekat danau. Gelap, dingin dan angin kencang hanya terasa oleh orang tua, sementara anak2 udah pada ‘panas’ saking semangatnya berjalan keliling sambil memegang garden solar light! Allahu Akbar!
Sebenarnya aku ngga kangen2 banget dengan takbiran di rumah sih. Malah cenderung jadi suka bete pas malam Lebaran, karena loudspeaker biru di masjid sebelah rumah akan mengumandangkan takbir yang bukan main kerasnya, sepanjang malam, tanpa break sama sekali. Huuufffftttt…mata ngga akan bisa terpejam sejenakpun karena hingar bingarnya. Dan ketika harus sholat Ied dan silaturahim keesokan hari, mata pasti merah, badan loyo, kepala pening. Capeeek dyeeehh….!!
Puasa hari terakhir kami batalkan dengan teh panas, sup tahu daging sapi, lumpia buatan sendiri yan asyiiin, sayur lodeh, rendang dan sambal terasi. Set menu campur baur tanpa tema.
Setelah menelpon keluarga dirumah, selanjutnya masing2 kembali ke ritual tradisional yang biasa dilakukan di rumah sambil dengarkan laptop yang menyuarakan pukulan beduk. Sulfa beberes rumah, dan aku ngikutin berita mudik (hah..ngga bantu! What a friend!!). Serasa ikut mudik beneran.

No comments:
Post a Comment