Saturday, October 30, 2010

D dari belakang Driver (2)


Esplanade  Bus station (main)

Turun dari bis no. 20 yang tiap hari wara-wiri Morley bus station ke kampus, aku bergegas ke supermarket terdekat sebelum pintu mall terkunci. Ya, jam buka toko di Australia akan berakhir pukul 5 sore meski beberapa bulan terakhir ini, ada ekstensi, dimana supermarket besar seperti Coles dan Woolworths di suburb area boleh buka sampai jam 6 sore.

Cuma 15 menit di toko, aku kembali ke station dan naik bus 62 arah rumah. Dengan tiket elektronik mirip ATM, aku menempelkan smartrider card pada scanner. Tiit, OK. Driver menoleh dan menyapa setiap penumpang yang masuk bisnya dengan “Hi, how are you”, dan dijawab standar “Good, thank you”. Keramahan kecil yang menyenangkan hati.

Kai ini drivernya seorang wanita berusia kira-kira 50 tahun. Cantik dengan rambut ikal dan kuku tangannya di cat pink menyala. Lipstiknya pink muda.



Jam analog di station menunjuk pukul 17.50 tepat driver menutup pintu dan bus bergerak. Baru dua menit keluar terminal, anak abg yang duduk di belakangku mulai mengeraskan suara ipodnya. Heran, udah pake headphone, kok suaranya masih jedug-jedug kenceeng. Serentak semua penumpang menoleh ke anak laki2 ini, yang mencoba cuek dengan menggoyang-goyangkan kepala serta memandang keluar bus.

Di stop berikutnya, seorang calon penumpang melambai dan bus menepi. Setelah ber-hi-how are you, seorang ibu tua di kursi depan melaporkan polusi suara si anak abg. Driver menoleh kebelakang dan menegur keras

“Excuse me, please turn down your music.”

Si anak tetep cuek .

“Hey, you. Turn off your music.”

Lady driver itu berteriak sekali lagi.

Kali ini si abg terpaksa menyerah. Dia tahu bahwa si driver punya kuasa untuk menghentikan bus dan menyuruh dia keluar saat itu juga.

“Sorry”.

Suara musik menghilang. Bus berjalan seperti biasa.

Bukan sekali ini saja aku melihat ketegasan driver. Mereka tahu bahwa seluruh isi bus adalah tanggungjawabnya. Apabila ada penumpang yang merasa terganggu, dia akan mengadu pada driver, dan driver yang akan turun tangan menyelesaikan.

Pernah, suatu malam pulang dari kampus, aku naik bis menuju city sebelum transfer ke bis dengan rute melewati rumah. Di belakang, semua penumpang diam. Biasanya sih kalo bus penuh, selalu ada yang ngobrol meski dengan suara rendah. HT driver berkali-kali bunyi meski suaranya tidak jelas. Sepertinya, dia melaporkan sesuatu yang terjadi didalam bis.

Dan benar saja, begitu masuk main station, bis kami langsung dijemput beberapa orang petugas polisi Transperth. Seorang lelaki tua dan kumal terhuyung-huyung mabok diapit 2 polisi turun.

Untuk memastikan kelancaran tugas mereka, driver selalu dibekali alat komunikasi yang memadai, termasuk surveillance camera dan alat pendeteksi DNA kalo ada kasus yang meludah di dalam bis. Konon begitu. Eh, kok konon? Hihi..iya. Aku belum lihat alat itu kayak apa, dan aku tidak perhatikan dimana letak surveillance camera. Jadi apakah hal itu benar ada di bis atau tidak, yah..ngga tahu. Tapi aku ingat, di tahun 2009 pernah terjadi aksi protes yang menuntut pemerintah (atau pengelola?) alat transportasi publik untk lebih peduli pada keselamatan driver. Pasalnya, banyak kamera yang tidak berfungsi. Belum lagi driver harus menanggung resiko tinggi bila melewati daerah yang kurang aman di malam hari.

Sebaga pengguna sih, aku senang-senang saja naik bis umum. Dengan smart rider card, aku mendapat student concession. Lumayan hemat lah, dengan 75 cent untuk nge-bis ke kampus yang berjarak 30 menit, leat jalur muter-muter.  hehehe.

Perth Train Station

Yah, semoga suatu saat nanti semua kenyamanan itu juga bisa aku dapat di Yogya. Kalo melihat bis Patas  yang adem, bersih dan wangi, bukan tidak mungkin hal serupa juga akan menular ke bis kota. Semogaaa……..

Thursday, October 7, 2010

Food that I love to hate…and love to love dong…

Aneh. Banyak teman menyangka bahwa aku ngga suka makanan berikut karena lagi diet ketat *ih, fitnah*. Ato ngeledek dengan nerusin “ya eyalaaahh…ngga suka..kalo cuman sejimpit!”. Bo aboo…bukan begono. It's not about sinful pleasures at all, tapi memang karena my palate lebih easily-pleased *halah, Inggris mana iki* dengan yang gurih, asin dan pedas.

Mau tau apa aja yang ngga akan kulirik? *sok penting*

1. Coklat

http://aryzet.com/media/blogs/Home/coklat.jpg

Dueenggg…ngga doyan coklaaattt??? Ouw Mai Gaat!!!

Emang bener sih. Aku ngga suka ngemil coklat batangan. Bukan karena harganya, karena di Oz buanyaak coklat enyak-enyak, mulai dari Cadbury, Lindt, Ferrer Roche, dan Rafaelo, coklat baru yang bungkusnya putih strip merah itu, juga banyak coklat brand lokal yang top abis, kayak keluaran Margaret River Chocolate Factory.

Masalahnya, pertama, habis makan coklat sering berasa panas di diafragma, rongga antara perut dengan dada. Agak sesek, gitu. Kedua, kerongkongan jadi gatal. Kalo lagi serem, rasa gatal menjalar ke pangkal lidah. Kesel, kan. Enaknya ngga seberapa, tapi dehem2, batuk sama susah nafas tu ngga sebanding banget deh. And finally, rasanya yang maniss banget sama sekali tidak sexy untuk my tastebud. So, coret deh coklat batangan, biskuit coklat, cake coklat, choco drinks…dan semua yag mengandung unsur coklat2.

2. Es Krim



http://img195.imageshack.us/i/icecreamcake.jpg/

Lagi-lagi, dosa es krim terletak pada rasanya yang terlalu manisss! Lagian, habis makan es krim malah jadi haus. Piye to iki? Bukannya fungsi es itu untuk menyegarkan kerogkongan yang kering? Lha abis makan es kok malah harus digelontor dengan berliter-liter air? Aneh.

Meski ngga anti sama sekali, kalo lagi kepingin banget, satu scoop kecil aja udah lebih dari cukup deh, wong paling2 di dua ato tiga suapan terakhir esnya udah lumer saking banyakan di aduk2 doang. Hihihi…

Takut mahal? Yah, es krim Bula ato Cadbury juga kebeli wong cuma 5-6 dollar dah dapet 2 liter. Pernah beli satu tub untuk sediaan, sapa tahu tiba2 ngidam es krim. Eh, sampe membatu di freezer juga ngga di sentuh lagi. Hihihi…

3. Buah



Wah, celaka nih. Buah kan bagus untu kesehatan, lha kok malah disirikin? Iyyahhh..apa boleh buat. Rasa buah yang manis dan kecut ternyata ngga cocok untukku yang memang udah manis ini. Weks. Agak susah sih cari alasannya, tapi sekedar ngga suka buah aja, baik yang berair atopun yang lebih bertepung. Sudah dari dulu2, yang namanya apel, jeruk, mangga, pear, semangka, melon….jaraaang banget mampir di daftar menu-ku. Jangan tanya pisang dan pepaya. Dah pasti tak tinggal ngabur. Talak tiga! Tapi lampu hijau masih menyala untuk durian yaa. Welcome, si Petruk!

Jus buah? Alahhhh…sami mawon nasibnya. Makanya, aku sampe heran, kok ada orang yang sanggup makan siang dengan menu berat kok minumnya jus buah. Ckk..ckk..ck..

4. Cake , roti dan jajan pasar legit



http://kevinandamanda.com/recipes/images/best-chocolate-cake-buttercream-frosting/best-chocolate-cake-buttercream-frosting-11.jpg

Meski sesekali masih suka nyambangin potongan cheesecake (karena banyak creamnya, gituh), tapi in general aku masukin aja delicacies ini pada food love to hate. Lingkaran setannya tetep sama: manis manis.

Jadi boleh tenanglah kalo lewat toko kue yang majang kue2 cantik rupawan, dengan topping yang genit2, ato jajan pasar dengan rupa menor dan bungkusan yang bahenol. Lewaaattt….


http://farm3.static.flickr.com/2364/2071048524_e0888a6bf7.jpg


Trus, makanan yang aku suka apa dong?

Nah ini dia daftar santapan yang bisa membuatku manggut-manggut. Murah, meriah, dan kenyangnya engga menipu. Ni lidah kampung suka banget makanan yang bisa di adu dengan cabai rawit! Daaaannn...inilah daftar pemenangnyaaaa....*plok-plok-plok*

1. Kangkung!!!




Hahahah. Meski ngga suka buah, aku sanggup bersaing dengan kambing dan ulat untuk membabat daun2 hijau. My fave? Kangkung, labu siam, daun singkong, buncis, wortel, kol, bokcoy, beansprout aka taoge, kemangi, peas, bayam, terong, mentimun, walah..semua dyeh. Yang kurang suka meski doyan cuma bangsa kacang panjang, rebung dan daun melinjo wae.

Kenapa begini? Mungkiiin, karena aku tumbuh dikampung dengan kebun yang luas, dan tiap hari buk’e Cuma mengandalkan apa yang tumbuh di kebun untuk dimangsa sekeluarga *kasian, uler2 kebunku kurus2*, maka kebiasaan makan sehat ala buk'e terpelihara sampai anak cucunya dewasa.  Lumbung makan kami, yaaa..kebun. Everyday. Heheheh.

Sampai sekarang, rasanya sakaw deh kalo makan ngga pake sayur. Mending ngga pake lauk ketimbang kehilangan sayur.

2. Tahuuu


Photo credit http://farm3.static.flickr.com/2217/2352296905_fa239ed328_b.jpg

Rasanya semua teman tahu deh betapa tergila-gilanya aku sama snack berformalin *weks* ini. Banyak bule yang ngga suka karena teksturnya yang foamy, but who cares? Tahu pong yang di goreng kering sampai kulitnya kriuk, tahu bakso yang kenyal, tahu setip *tahu-bakso-versi-murahan-isi-kanji-doang* yang alotnya kayak penghapus pensil Staedler, tahu bacem yang hitam, tahu sutra yang lembut, ato kripik tahu yang renyah…aaahhh…semua ku cinta. Eh, satu aku yang ngga suka, tahu yang dijual di jajan pasar, bentuknya kotak ato bulat dengan isian telur puyuh itu! Ngga mau. Karena pernah dapet yang tahu *bekas* alias make-over dari tahu yang udah diolah, trus di dandanin lagi, kasih telur puyuh, dan dicetak bunga. Huh. Ngga segar. Malah kadang berasa basi *kalo mo cari untung jangan gitu dooongg*.

Coba liat lagi tahu yang menantang ini deh. Siapa yang ngga goyang dengkulnya?



3. Mie




Rasa mie yang gurih, teksturnya yang lembut dan kenyal *halah, kenyal lagi* dan olahannya yang biasa simpel dan segar membuat mie jadi makanan favoritku. Di anak tangga teratas, mi ayam! Mau mi ayam kampung dengan gerobak biru dan saus tomat sintetis itu, ato mi ala priyayi yang lebih bermartabat di resto dengan cincangan ayam yang bebas lemak dan kaldu yang bening, semua sama2 menggiurkan. *hiks, jadi inget Mi Edi di dekat kantor Mas Dedi* blushing-blushing.

Di anak tangga kedua *hihi, kayak weekly top chart di radio aja* bercokol mi Jowo yang berkuah keruh karena adukan telur. Enaak, panas, dan kenyang! Di deretan bontot, mi goreng deh, versi Jawa taopun Cina, sama boleh.

4. Mbeeekkkk……Daging kambing


Photo credit http://mainkebatam.files.wordpress.com/2009/01/sate-kambing.jpg

Hehehehhe. Nawarin aku sate kambing adalah kesalahan fatal! Karena pasti akan kubabat habiss!!! Mungkin ini *lagi-lagi* berkaitan dengan masa lalu ku. *ohh, sedihnya*. Saking kenalnya hanya kebun, kandang ayam, dan sawah, sate kambing adalah kemewahan tertinggi dimasa kecil dulu.Bau daging kambing yang dibakar di kedai sate di pintu masuk Pasar Tanjung selalu membangkitkan gairah yang meluap-luap *hedewww*. Sate Sarip, begitu nama bekennya.  It just sat on the pedestal of food chart. Opo meneh ikii….Saking begitu ningratnya kedudukan sate kambing, maka dia sering dijadikan nadzar. Dulu, kalo ada anak yang sakit, ibuk sering janjiin begini “cepet sembuh ya. Ntar kalo sembuh, diajak makan sate kambing!” Alamaaaakkkk……!!! Sembuhh bener!