Esplanade Bus station (main)
Turun dari bis no. 20 yang tiap hari wara-wiri Morley bus station ke kampus, aku bergegas ke supermarket terdekat sebelum pintu mall terkunci. Ya, jam buka toko di Australia akan berakhir pukul 5 sore meski beberapa bulan terakhir ini, ada ekstensi, dimana supermarket besar seperti Coles dan Woolworths di suburb area boleh buka sampai jam 6 sore.
Cuma 15 menit di toko, aku kembali ke station dan naik bus 62 arah rumah. Dengan tiket elektronik mirip ATM, aku menempelkan smartrider card pada scanner. Tiit, OK. Driver menoleh dan menyapa setiap penumpang yang masuk bisnya dengan “Hi, how are you”, dan dijawab standar “Good, thank you”. Keramahan kecil yang menyenangkan hati.
Kai ini drivernya seorang wanita berusia kira-kira 50 tahun. Cantik dengan rambut ikal dan kuku tangannya di cat pink menyala. Lipstiknya pink muda.
Di stop berikutnya, seorang calon penumpang melambai dan bus menepi. Setelah ber-hi-how are you, seorang ibu tua di kursi depan melaporkan polusi suara si anak abg. Driver menoleh kebelakang dan menegur keras
“Excuse me, please turn down your music.”
Si anak tetep cuek .
“Hey, you. Turn off your music.”
Lady driver itu berteriak sekali lagi.
Kali ini si abg terpaksa menyerah. Dia tahu bahwa si driver punya kuasa untuk menghentikan bus dan menyuruh dia keluar saat itu juga.
“Sorry”.
Suara musik menghilang. Bus berjalan seperti biasa.
Bukan sekali ini saja aku melihat ketegasan driver. Mereka tahu bahwa seluruh isi bus adalah tanggungjawabnya. Apabila ada penumpang yang merasa terganggu, dia akan mengadu pada driver, dan driver yang akan turun tangan menyelesaikan.
Pernah, suatu malam pulang dari kampus, aku naik bis menuju city sebelum transfer ke bis dengan rute melewati rumah. Di belakang, semua penumpang diam. Biasanya sih kalo bus penuh, selalu ada yang ngobrol meski dengan suara rendah. HT driver berkali-kali bunyi meski suaranya tidak jelas. Sepertinya, dia melaporkan sesuatu yang terjadi didalam bis.
Dan benar saja, begitu masuk main station, bis kami langsung dijemput beberapa orang petugas polisi Transperth. Seorang lelaki tua dan kumal terhuyung-huyung mabok diapit 2 polisi turun.
Untuk memastikan kelancaran tugas mereka, driver selalu dibekali alat komunikasi yang memadai, termasuk surveillance camera dan alat pendeteksi DNA kalo ada kasus yang meludah di dalam bis. Konon begitu. Eh, kok konon? Hihi..iya. Aku belum lihat alat itu kayak apa, dan aku tidak perhatikan dimana letak surveillance camera. Jadi apakah hal itu benar ada di bis atau tidak, yah..ngga tahu. Tapi aku ingat, di tahun 2009 pernah terjadi aksi protes yang menuntut pemerintah (atau pengelola?) alat transportasi publik untk lebih peduli pada keselamatan driver. Pasalnya, banyak kamera yang tidak berfungsi. Belum lagi driver harus menanggung resiko tinggi bila melewati daerah yang kurang aman di malam hari.
Sebaga pengguna sih, aku senang-senang saja naik bis umum. Dengan smart rider card, aku mendapat student concession. Lumayan hemat lah, dengan 75 cent untuk nge-bis ke kampus yang berjarak 30 menit, leat jalur muter-muter. hehehe.
Perth Train Station
Yah, semoga suatu saat nanti semua kenyamanan itu juga bisa aku dapat di Yogya. Kalo melihat bis Patas yang adem, bersih dan wangi, bukan tidak mungkin hal serupa juga akan menular ke bis kota. Semogaaa……..
No comments:
Post a Comment